
Hari pertama di mana Killian tinggal di rumahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30, Hanny dan Harrys sudah pulang, sedangkan Bu Myra dan Monique yang memutuskan menginap sudah terlelap bersama Rissa juga.
Berbeda dengan Ansel dan Chalissa yang masih terjaga.
"Ada apa dengan Lian sayang?" tanya Ansel yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah mengantar Harrys dan Hanny ke bawah untuk pulang.
"Dia sedikit rewel" jawab Chalissa menimang-nimanh Lian.
"Mungkin dia lapar sayang" ucap Ansel, menebak alasan putranya itu jadi rewel.
"Tapi aku sudah memberinya ASI Ans, mungkin karena ini hari pertamanya di rumah jadi Lian masih beradaptasi" opini Chalissa
Ansel sejenak mencerna apabyang dikatakan istrinya, "Bukankah dia sudah biasa di kamar ini saat berada di dalam perutmu?" tanya Ansel masih terheran.
Lian kembali melengkingkan suaranya.
"Sini coba biar aku yang menidurinya" pinta Ansel menerima Lian dari gendongan Chalissa.
Berlahan Killian mulai terlelap. Melihat tingkah Lian yang manja pada papanya membuat Chalissa mencebikkan bibirnya.
"Kenapa tadi dia tidak berhenti menangis?" gerutu Chalissa menggaruk kepalanya.
Ansel terkekeh, "Mungkin karena beberapa jam dia tidak melihat papanya sayang" ucap Ansel menimang-nimang Killian.
"Baguslah, setidaknya aku bisa tidur" ungkap Chalissa, ia masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah melihat Killian terlelap, Ansel membaringkan putranya di dalam box ranjangnya. Bersamaan Chalissa pun baru keluar dari kamar mandi. Ansel melihat Chalissa mulai berbaring di tempat tidur. Ansel juga membaringkan tubuhnya di samping Chalissa, ia memiringkan tubuhnya menghadap istrinya yang tidur terlentang.
"Apa yang sedang kau pikirkan sayang?" tanya Ansel setelah mengamati wajah istrinya.
"Dugaanku benar Ans" ucap Chalissa tanpa menoleh ke arah suaminya.
Ansel mendekati tubuhnya pada Chalissa, "Dugaan apa?" penasaran.
"Kalau orang yang disukai oleh Hanny adalah Harrys, tapi sayang sekali" wajahnya berubah datar.
"Sayang kenapa?" timpal Ansel dengan cepat.
"Sepertinya Harrys tidak punya perasaan sama pada Hanny" lirih Chalissa, "Oh" singkat Ansel.
"Ya sudahlah tidur sayang" ucap Ansel, lalu ia menghembuskan napasnya dengan kasar, "aku lelah sekali hari ini" ia mengubah posisi tidurnya dengan terlentang.
"Kau sudah mau tidur?" tanya Chalissa melihat ke arah suaminya, ia merasa jengkel karena belum menyelesaikan obrolannya. "Menyebalkan sekali" lalu ia memiringkan tubuhnya membelakangi Ansel.
"Apa kau marah?" tiba-tiba suara Ansel terdengar dekat di telinga Chalissa membuatnya terperanjat. "Bukannya kau tadi sudah mau tidur" tutur Chalissa yang telah membalikkan tubuhnya, dan terkaget karena mendapati sebagian tubuh suaminya sudah menindihnya.
"Aku bertanya, kau marah?" ulang Ansel
"Tidak" jawab Chalissa singkat.
Ansel mendengus, sorot matanya sejenak beralih pada box bayinya kemudian beralih pada istrinya.
"Sebenarnya aku merindukanmu, tapi..." Ansel terdiam tak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa?" timpal Chalissa
"Hah sudahlah, ayo kita tidur besok aku akan ke kantor karena ada meeting penting" ucap Ansel, ia menjauhkan tubuhnya dari istrinya lalu memejamkan matanya.
"Kenapa dia tiba-tiba begitu" umpat Chalissa bingung. Ia pun mencoba memejamkan matanya.
Sedang Ansel yang sebenarnya belum lah tertidur. Malam itu, ia merasa hasratnya ingin sekali menyentuh istrinya. Namun itu ia urungkan mengingat istrinya baru saja melahirkan. Ia harus bersabar menunggu istrinya Melawati masa nifasnya.
* * * * *
Setelah dua bulan Ansel melakukan pekerjaan di rumah. Kini ia akan pergi ke kantor, karena ada meeting penting yang tak dapat diwakilkan oleh assistennya itu.
Ansel keluar dari kamar hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dia tersenyum saat dilihatnya istrinya sedang mengambilkan pakaian untuknya bekerja.
"Apa kamu sedang ada masalah memilih kemeja yang cocok untukku?" tanya Ansel pelan mengagetkan Chalissa, karena kini Ansel telah berdiri sambil melingkarkan tangannya dari belakangnya.
"Kau mau pakai yang mana?" tanya Chalissa
"Terserah kau saja sayang" ucap Ansel tak melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.
Karena mendapat jawaban seperti itu, Chalissa berpikir ingin sedikit bercanda dengan suaminya.
"Ya sudah pakai yang ini saja" mengambilkan pakaian tidur untuk suaminya.
Ansel tertawa pelan, "Kau ingin kita kembali tidur, atau kau sedang menggodaku?" sindir Ansel, ia membalikkan tubuh istrinya mengahadap dirinya.
Dengan cepat ia mengunci bibir istrinya dengan bibirnya. Chalissa terperangah, ia hendak mendorong Ansel. Namun dengan cepat Ansel mengurungkannya.
"Jangan mencoba menggodaku atau kau akan kuhabiskan" ancam Ansel dengan senyuman nakalnya.
Ternyata ancaman Ansel tak membuat Chalissa luntur. Justru dengan sengaja ia memberi ciuman singkat di bibir suaminya hingga Ansel yang terkejut dibuatnya. Kemudian Chalissa segera membelakangi suaminya lagi untuk mengambil pakaian kerja untuk suaminya.
"Ans, hentikan" titah Chalissa yang merasakan Ansel menciumi ceruk lehernya membuat kegelian di sana.
"Kau sudah membuatku mengalami kesulitan sayang" ucap Ansel mengatur napasnya yang memburu. Ia menyandarkan dagunya di atas pundak istrinya.
Dirasa Ansel sudah melonggarkan lengannya, Chalissa dengan cepat melarikan diri lalu pergi dari hadapan suaminya itu.
"Sial, dia sudah mengerjaiku" gerutu Ansel.
* * * * *
"Selamat pagi pak Ansel" salam Davina, ia berdiri ketika dilihatnya bosnya itu sudah datang.
"Davina 20 menit lagi segera bawa berkas untuk rapat ya" perintah Ansel.
"Baik pak" jawab Davina.
Davina dengan cepat segera menyiapkan berkas yang diminta bosnya untuk meeting.
"Saya ingin bertemu dengan Ansel" Davina menganga saat melihat wanita yang berdiri di depan mejanya.
"Maaf nona, tapi Pak Ansel sedang bersiap-siap untuk meeting" jelas Davina kepada Bellvania.
Tidak mengindahkan ucapan Davina, Bellvania malah menerobos masuk.
Mendengar suara hentakan sepatu, "Saya sudah menyuruhmu 20 menit lagi" ucap Ansel tanpa menoleh ke arah wanita yang kini berdiri di depan meja kerjanya.
Ansel terheran saat mendengarkan suara hentak sepatu lagi masuk dengan gerakan yang lebih cepat. Ia menolehkan wajahnya ke arah pintu, "Kau" ucapnya datar.
"Hai Sayang" sapa Bellvania tersenyum genit.
Ansel menatap Davina, "Maaf pak, nona Bellvania mendadak menerobos" gugup Davina.
"Keluarlah" ucap Ansel masih menatap Davina.
Ansel duduk di kursi kerjanya, ia menarik napas dan mengeluarkannya dengan kasar. "Ada apa?" tanyanya dingin.
Bellvania tersenyum getir, "Aku kira hari ini masih moment bahagiamu, karena aku dengar anakmu sudah lahir" ucap Bellvania. Wanita itu duduk berhadapan dengan Ansel tanpa mendapatkan ijin untuk duduk. Ia merenggangkan kursi yang didudukinya dari meja, dan duduk dengan centilnya.
"Sebentar lagi saya akan meeting. Katakan maksud kedatanganmu apa? tanya Ansel tanpa basa-basi, bahkan suaranya terdengar tegas dan lugas.
"Selamat atas kelahiran putramu" ucap Bellva.
"Baik terima kasih, kalau begitu kau boleh segera pergi" usir Ansel salah satu tangannya menunjuk ke arah pintu.
Bellvania tersenyum sinis dengan tatapan tidak suka, berbeda dengan Ansel yang tak menatap Bellvania.
CLEKKKK,
"Oww, maaf saya segera keluar" Harrys yang masuk tanpa mengetuk merasa kaget melihat kehadiran Bellvania di ruangan Ansel. Dengan cepat ia bermaksud akan menutup kembali pintu yang masih ia pegang.
"Harrys" Ansel spontan memanggil assistennya itu.
"Maaf nona, bisakah anda meninggalkan ruangan saya segera?" pinta Ansel bangkit dari duduknya.
Bellvania ikut berdiri dengan wajah kesal merasa direndahkan, "Hari ini kau bisa mengusirku, tapi tidak semudah itu kau mengusirku dari hidupmu, Ans!" ucap Bellvania yang terdengar agak mengancam. Lalu dengan langkah kasar ia meninggalkan ruangan Ansel. Saat melewati Harrys pun ia dengan sengaja menabrakkan tasnya menyentuh tubuh pria yang masih terdiam di dekat daun pintu itu.
"Waooww... hati-hati nona, tasmu bisa rusak" teriak Harrys sambil menahan tawanya.
"Apa dia bermaksud untuk merebutmu dari Chalissa?" tanya Harrys berdiri di depan meja Ansel.
Ansel mengangkat bahunya, tatapannya agak tak peduli dengan kehadiran Bellvania.
"Saya rasa, kau harus berhati-hati dengannya Pak Ansel" nasihat Harrys.
"Kenapa?" tanya balik Ansel
"Logikaku berpikir dia wanita yang tak akan mudah menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia mau" ucap Harrys kemudian mengangkat alisnya seolah memberi kode bahwa apa yang dikatakannya itu benar.
"Mungkin kau benar" singkat Ansel.
"Kau harus ingat dia adalah putri dari pengusaha licik juga yang tak akan berhenti sebelum memangsa lawannya. Bertahun-tahun kalian memadu kasih apa tidak membuatmu mengenal dia?!" sindir Harrys sambil terkekeh.
Sejenak Ansel terdiam memikirkan ucapan Harrys. Ada perasaan yang sedikit mengganggu pikirannya akan ucapan Bellvania yang sepertinya juga sangat terobsesi pada dirinya.
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍
Waduh gimana nih gaes kalau Bellvania belum move on dari Ansel????.... Kira-kira apa ya yang bakal dilakukan sama si Eneng Bellvania????... Ikuti terus ya gaes ceritanya, jangan lupa mana like dan komentnya... mana juga vote nya?? aduhhhhh, plis gaes kasih author koin atau point kalian seikhlasnya ya, Love you all 🤗♥️🙏