
Hai reader jangan lupa kasih vote dan like nya sebanyak-banyaknya ya buat author, supaya aku terus semangat untuk menyelesaikan novel ini sampai END
Terima kasih 🤗😘
🌹Selamat Membaca🌹
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Kini ia sudah paham pikiran suaminya.
Ansel mengusap salah satu pipi Chalissa, tatapannya yang sendu namun tajam membuat bulu kuduk Chalissa merinding. Chalissa dapat melihat dengan jelas tatapan suaminya yang mendambakan dirinya. Pelan namun pasti pergerakan wajah Ansel yang mendekati istrinya membuat Chalissa membeku tak bisa bergerak kecuali menunggu wajah suaminya mendekatinya.
Suara tangis Killian memecah.
Ansel mendengus pasrah seolah tidak mau bersaing dengan anaknya. Ia membiarkan Chalissa menghampiri putranya dan menggendongnya.
"Anak mama udah bangun ya, kok bangunnya nangis sih, haaa... masih sakit ya abis imunisasi" suara Chalissa dengan nada memanjakan putranya.
"Sini sayang biar aku bawa dia keluar" Ansel berdiri dan menengadah tangannya untuk meraih putranya, "aduh anaknya siapa sih ini suka banget ganggu papa mamanya yang lagi asyik" sambil membenamkan wajahnya ke perut anaknya.
Seketika Chalissa mendelikkan matanya tak suka dengan ucapan suaminya "Sayang". Ansel hanya tertawa.
"Kamu mau tidurin Killian lagi sayang?" tanya Chalissa yang melihat suaminya akan membawa putranya keluar dari kamar.
"Enggak sayang, aku mau ajak dia main aja di luar. Kalau ditidurin lagi nanti malam dia jadi nyamuk pengganggu lagi" sambil terkekeh
"Ansel" Chalissa melotot.
"Ihh mama kok gak sopan ya sayang panggil-panggil nama papa" seolah Killian paham, ia memberi respon dengan mengeluarkan suara tawanya. "Ih anak papa ngerti ya" Killian kembali merespon dengan tawa kecilnya membuat Ansel semakin gemas.
* * *
Kini Ansel sudah membawa Killian bermain di lantai tiga. Chalissa dapat bernapas lega karena tingkah putranya membuat ia lolos dari suaminya. Pikirnya nanti malam berharap putranya itu akan bertingkah lagi. Saat mengingat kejadian tadi pun membuat Chalissa tersenyum geli, dia membayangkan bagaimana kalau nanti malam putranya bertingkah lagi, hal itu semakin membuatnya tersenyum geli.
Hari sudah menjelang sore. Chalissa yang sedang berada di dapur membantu bi Suti dan bi Nani memasak tersadar akan putranya yang belum mandi.
"Dek, kakak mau minta tolong dong" ucap Chalissa dengan suara yang keras saat melihat Rissa akan menaiki anak tangga.
Clarissa berhenti dan menoleh pada kakaknya yang berdiri di dapur sedang mencuci tangannya. "Minta tolong apa kak?"
"Kamu ke lantai tiga bilang ke kak Ansel kalau kakak mau mandiin Killian"
"Okay" lalu ia naik dengan langkah yang cepat.
"Bi, saya tinggal ya" pamit Chalissa
"Iya non. Terima kasih ya non sudah dibantu" ucap bi Nani dan Chalissa tersenyum ke arah bibinya.
"Sayang, aku yang mandiin Killian ya" pinta Ansel setelah memasuki kamar.
"Emang kamu bisa?" wajah Chalissa terlihat ragu.
"Ya sama kamu sayang" lalu membaringkan Killian.
Ini adalah kali pertama Ansel ikut memandikan putranya. Awal akan memandikan Killian, Ansel tidak berani memegangnya dulu. Apalagi Killian lumayan selalu ingin bergerak dan pergerakannya pun lumayan cepat.
"Aduh sayang pegang yang erat loh" bawel Ansel yang cemas takut-takut kalau Killian lolos dari pegangan istrinya.
"Tenang sayang, Killian pinter kok mandinya ya" ucap Chalissa mengajak Killian agar merespon sambil bermain. Killian yang merespon secara bergantian melihat ke arah mama dan papanya dan terlihat bayi berusia dua bulan itu memaparkan senyuman kecil di wajahnya membuat Ansel gemas dan ingin mencubit bayinya.
"Ini katanya kamu mau mandiin Killian" Chalissa mengarahkan bayinya pada Ansel.
Ansel tersenyum kecil yang mengukirkan keraguan namun ia ingin sekali mencobanya.
"Pelan-pelan aja gak apa-apa sayang" Chalissa menenangkan keraguan pada diri suaminya.
Dengan lembut dan hati-hati Chalissa menuntun suaminya untuk memandikan Killian. Killian berjingkrak seketika ketika papanya hendak mendekatkan wajahnya pada pipi anaknya. Seolah bayi kecil itu merasakan kegelian jika kulit wajah papanya menyentuh kulitnya.
"Killian senang ya dimandiin sama papa?" tanya Chalissa sambil mencebikkan bibirnya.
"Udah sayang takut dia masuk angin" titah Chalissa, lalu Ansel pun mengangkat bayinya.
Dengan telaten Chalissa melumuri minyak telon dan bedak pada tubuh Killian. Chalissa pun terlihat lihai saat akan memakaikan baju Killian.
"Kamu kenapa sayang serius amat lihatnya" Ansel tersenyum saat sadar kalau istrinya juga memperhatikan dirinya.
"Gak salah nih aku pilih kamu jadi mama anakku"
Chalissa terdiam dengan ucapannya suaminya. Kalimatnya seolahnya mencekal.
"Jadi malam itu..." ucap Chalissa sengaja tak melanjutkan kalimatnya.
"Ih apa sih sayang" timpal Ansel tak mau membahas kejadian yang sudah lewat.
"Sini anak papa sudah wangi, ganteng lagi kayak papanya ya" puji Ansel yang ujungnya juga memuji dirinya sendiri. Ia membawa Killian pada pangkuannya.
"Iya papa, aku kan mau ganteng ngalahin papa" balas Chalissa dengan menyamarkan suaranya seperti suara anak kecil.
"Jangan dong, kalau sudah besar gak apa-apa deh, tapi kalau sekarang jangan dulu ya biar gantengnya mama kamu cuma papa aja" canda Ansel membuat Chalissa memicingkan matanya.
Tak mau meresponi suaminya, Chalissa memilih menciumi putranya.
"Papanya gak sekalian nih diciumi juga" goda Ansel.
"Papannya belum mandi"
"Jadi kalau udah mandi boleh dicium ya?" senyumannya yang nakal membuat Chalissa kesal.
Chalissa meraih perlengkapan Killian dan berniat untuk merapikannya. Ia bergeser untuk berdiri meninggalkan suami dan anaknya. Namun tangan Ansel dengan cepat meraihnya.
"Mau ke mana sayang?"
"Mau menaruh ini" menunjukkan perlengkapan Killian.
"Abis itu mandi ya, biar wangi" titah Ansel yang memiliki maksud.
Chalissa mengerutkan keningnya dan memutar bola matanya ke sembarang arah.
* * *
"Mau buat apa kak?" Clarissa berdiri menyenderkan tubuhnya di meja pantry mini memperhatikan kakaknya mengaduk sesuatu di gelas.
"Teh hitam untuk kak Ansel"
"Ohh"
"Kamu mau dibuatkan dek?" tanya Chalissa memberi tawaran.
"Tapi cokelat hangat ya kak, boleh gak?" sedikit agak memohon.
"Tunggu ya"
"Makasih kakak cantik" puji Clarissa dengan wajah sok imutnya meskipun Clarissa memang gadis ABG yang imut.
Setelah selesai membuat teh hitam dan cokelat hangat. Chalissa beranjak dari dapur mini menuju ruang kerja Ansel dengan segelas teh hitam yang sudah dibuatnya.
"Makasih sayang" ucap Ansel selesai menutup telponnya.
"Assistenmu mau ke sini sayang?" tanya Chalissa sedikit menangkap perbincangan suaminya tadi dengan Harrys.
"Iya, tapi tenang cuma sebentar kok"
"Bukan masalah sebentar" Chalissa meluruskan maksudnya bertanya karena ia sudah dapat menebak maksud dari kalimat suaminya itu.
Ansel tertawa karena menduga kalau istrinya dapat membaca pikirannya.
"Sayang, aku ajak Hanny juga ya"
"Jangan sayang" tolak Ansel. Ia menarik tangan istrinya dan membawanya duduk di pangkuannya.
"Loh kenapa?"
"Aku cuma mau ngomongin kerjaan kok sama Harrys. Lagian tujuan kamu manggil Hanny karena maksud lain kan?" tebak Ansel yang sudah memprediksi pemikiran istrinya.
"Emang di kantor tadi gak ngomongin kerjaan?"
"Tadi ada beberapa kerjaan yang belum selesai" sambil memainkan jari-jari istrinya dan menciuminya.
"Oh. Trus kenapa kamu larang aku ajak Hanny?" Chalissa menarik tangannya dari genggaman Ansel.
"Karena aku tahu maksud kamu" ucap Ansel menolehkan tatapannya melihat wajah istrinya yang jaraknya sangat dekat dengannya.
"Apa?" merasa suaminya sok tahu.
"Sayang, kali ini Harrys tuh serius dengan perempuan lain. Kamu gak mau kan kalau Hanny akan mendapatkan harapan palsu pada Harrys?" kalimat Ansel membuat Chalissa tak mampu menjawabnya lagi. Ia sadar bahwa tindakannya mendekati Harrys dengan Hanny hanya akan membuat luka lagi bagi sahabatnya setelah sahabatnya pernah mengalami cinta bertepuk sebelah tangan.
"Benar sih kata kamu. Ya udah deh" turun dari pangkuan Ansel.
"Jangan pergi dulu dong sayang" pinta Ansel tak melepaskan genggamannya, malah menarik tangan Chalissa kembali dan membawa istrinya pada pangkuannya lagi.
CUP
Ansel mencium bibir istrinya dan Chalissa tak memiliki kesempatan untuk menolaknya, karena saat Ansel menariknya dengan kuat membuat Chalissa tak dapat mengimbangi kaki hingga ambruk di tubuh suaminya.
"Ih apaan sih sayang" setelah Chalissa berhasil melepaskan sentuhan bibir suaminya.
"Aku kangen sayang sama kamu" bisik Ansel di lehernya tepat di bawah dagu istrinya.
Ansel memegang dagu istrinya dan kembali mengarahkan bibir istrinya menyentuh bibirnya. Dengan hasrat yang tertahan, Ansel ******* bibir istrinya dengan lembut. Kali ini Chalissa tak tega menghentikan aksi suaminya yang kini mulai menyusupkan lidah untuk mengabsen bagian dalam mulutnya.
"Kak" panggil Clarissa bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.
"Oups sorry" suara Clarissa lagi dengan suara pintu yang tertutup dengan keras.
Dengan terbirit birit Ansel dan Chalissa menghentikan aksi mereka. Bahkan napas mereka pun tersengal-sengal. Mereka saling salah tingkah apalagi mungkin secara tidak gamblang Clarissa melihat aksi mereka, karena tubuh Chalissa membelakangi pintu.
Ansel menggaruk kepalanya, sedang Chalissa panik dan malu jika nanti bertemu adiknya.
"Tenang aja sayang, Clarissa gak lihat kok"
"Apanya gak lihat sih" kesal
"Ya dia gak lihat dengan jelas" ucap Ansel meskipun ia sendiri sebenarnya bakal malu saat melihat adiknya itu. Apalagi Clarissa bukan anak kecil lagi.
"Ya udah aku mau lihat Killian dulu"
"O iya Killian sama siapa sayang?" Ansel baru ingat akan keberadaan anaknya.
"Tidur"
"Hah. Kok kamu kasih tidur sih sayang?"
"Ya dia sendiri yang ngantuk"
"Wasalam deh nanti malam bakal ada nyamuk pengganggu lagi ini" sungut Ansel melihat Chalissa keluar dari ruangannya sambil tersenyum meledeknya.
*
*
*
*
*
Vote... vote... vote
Like... like... like... komen juga ya gaes 🤗
Happy Reading 😍