
1 minggu setelah pesta ulang tahun Chalissa.
Chalissa melangkah ke sebuah ruang tamu yang berada di lantai satu. Chalissa melihat ke dalam ruangkan yang hanya dibatasi kaca sebagai pengganti tembok. Ia membuka pintu ruangan itu dan melihat sosok wanita berdiri membelakanginya. Wanita tersebut berdiri dengan tegap mengamati deretan bingkai foto yang terpajang di dinding.
Menyadari suara pintu yang terbuka, Cindy membalikkan tubuhnya berhadapan dengan chalissa. Ada pancaran kecurigaan dari sorot mata Chalissa. Untuk apa Cindy datang menemuinya?
“Sepertinya kau sangat bahagia” ucap Cindy. “Rumahmu terlihat besar dan mewah. Aku tak menyangka dengan menyuruhmu datang ke Jakarta justru merubah hidupmu menjadi mewah” ucap Cindy lagi. Lalu ia duduk tanpa menunggu Chalissa mempersilakan dirinya.
“Untuk apa kau datang?” tanya Chalissa tanpa berkata sepatah kata lain.
Cindy mendengus dengan senyuman iri.
“Sepertinya kau sangat tidak menyukaiku. Bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku” ucap Cindy bertele-tele.
Chalissa menarik napas dan mengeluarkannya pelan sambil sejenak memejamkan mata.
“Kalau kedatanganmu karena ada yang ingin kamu katakan. Tolong segera katakan, aku harus mengurus anakku” Chalissa menatap Cindy tak suka.
“Bicara tentang anakmu, jujur aku penasaran. Aku penasaran kapan kau mengenal suamimu?” Cindy menatap Chalissa dengan tatapan penuh selidik. “terakhir kita bertemu, aku mengantarmu ke hotel itu. Dan jika diduga-duga, usia anakmu tak sangat tipis dari terakhir kita bertemu. Atau aku yang salah?”
Chalissa terdiam datar. Ia benar-benar malas menanggapi ucapan Cindy.
“Itu bukan urusanmu” jawab Chalissa mencoba tetap dengan ekspresi datar.
Cindy menghela napas.
“Kau pasti bingung dan bertanya-tanya akan hubunganku dengan kakakmu” Chalissa kaget, karena apa yang diucapkan Cindy benar adanya. “Keenan adalah pria yang baik. Tapi aku tidak mengenal apa itu cinta. Yang aku tahu, aku menginginkan Keenan. Jadi, tolong jangan jadi penghalang antara aku dan Keenan” ucap Cindy diakhir kalimat terdengar tegas.
“Kau tidak mencintai kakakku, untuk apa kau menginginkannya?”
“Aku tidak seberuntung dirimu Chalissa!” Chalissa mengerutkan dahinya, tak mengerti maksud perkataan Cindy.
“Kau pikir dalam kehidupanku mudah untuk tahu apa itu cinta? Jangankan tahu meyakininya saja aku tidak!” tatapan Cindy penuh dengan kebencian. Chalissa membalas tatapan Cindy dengan menerka arti tatapan itu.
“Aku tidak paham maksudmu”
“Ibuku bercerai dengan ayahku saat aku masih SMP. Ibuku tidak tahan dengan kemiskinan hidup bersama ayahku. Dia meninggalkanku, pergi bersama suami barunya yang adalah seorang pengusaha.” Cindy mulai menceritakan tentang hidupnya.
“Tidak lama kita selesai ujian, ayah meninggal. Ibu membawaku tinggal bersama suaminya, yang ternyata mengalami bangkrut” Cindy menahan kembali ceritanya, rasa sesak yang amat dalam membuatnya harus menghirup udara baru. Chalissa terdiam melihat ke dalam sorot mata Cindy yang terlihat sedang menahan sesuatu.
“Kau tahu” terlihat air matanya mulai penuh, “penampilanku yang bar-bar membuat ayah tiriku tertarik padaku” Cindy meremas tangannya, ia menundukkan kepalanya dan mengeluarkan air mata yang sudah tak tertahankan itu. Ingin rasanya Chalissa menghampiri wanita itu dan memeluknya. Tapi, ia menahannya dan mencoba untuk menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Cindy, meski ada pikiran yang mulai menerka ke mana kalimat itu akan berujung.
“Pria brengsek itu menjajal tubuhku tanpa sepengetahuan ibuku. Itu sangat menyakitkan” kini tatapan Cindy sangat dalam. Chalissa rasanya seperti tercekek.
“Tidak sampai di situ saja. Ketika rekan kerjanya datang berkunjung ke rumah, ternyata mereka menyukaiku dan memintaku pada pria brengsek itu. Itu adalah awal aku dijual. Ibuku tak berdaya, tak ada yang bisa ia lakukan. Aku benci, aku benci pada ibuku. Aku merasa ia tak pernah melahirkanku dengan cinta!”
“Aku pergi meninggalkan rumah itu. Aku masuk ke dalam club di mana sampai sekarang, tempat itu adalah rumahku. Ketika pria brengsek itu berbaring di ICU, aku datang menertawainya, aku tak peduli dengannya dan ibuku. Pria itu meninggal dan aku tidak peduli dengan kehidupan ibuku. Aku sudah tidak tahu dia di mana. Karena dia juga tidak peduli denganku.”
Mereka terdiam. Chalissa hanya terdiam melihat Cindy masih menangis meratapi kepedihannya.
“Aku tak seberuntung dirimu?” tiba-tiba kalimat itu terdengar lagi.
“Jadi itu alasanmu. Kau menjebakku” ucap Chalissa dengan tajam. Cindy mengangkat wajahnya dan melihat Chalissa.
Cindy paham dengan kalimat Chalissa.
“Aku hanya ingin membantumu keluar dari kemiskinanmu” jawab Cindy tanpa rasa bersalah.
Chalissa mendengus kesal. Lalu ia meremas tangannya pada bantal sofa yang berada pada pangkuannya. Chalissa memejamkan matanya kemudia ia kembali melihat ke arah Cindy dengan tatapan marah.
“Membantuku? Membantuku dengan cara menjerumuskanku? Apa begitu caramu membantu orang yang kesusahan karena miskin??” ucap Chalissa dengan pertanyaan-pertanyaan yang pebuh amarah.
“Bukankah kau tahu rasanya dilecehkan? Lalu kenapa, kenapa kau membiarkan orang lain harus ikut merasakannya?!!” Chalissa tak dapat menahan amarahnya.
“Aku begitu bodoh percaya padamu, yang aku anggap bisa menjadi teman. Tapi aku salah! Kau menipuku, Cindy! Dan kau tega melakukannya!” Chalissa berdiri. “Tolong keluar dari rumahku!” titah Chalissa penuh amarah.
Cindy berdiri. “Jangan pernah menghalangi hubunganku dengan Keenan” ucap Cindy. Ia berjalan keluar melewati Chalissa. “O iya, apa Ansel tahu kau sudah pernah tidur dengan pria lain” mata Chalissa melotot, ia mengepalkan tangannya. “Kau mau mengancamku?” tantang Chalissa. “Pergi” dengan suara yang sudah redam.
Cindy melangkah, tangannya membuka pintu yang terbuat dari kaca. “Jangan pernah mengancamku! Apalagi ancamanmu tak berlaku untukku. Tidak ada yang kurahasiakan dengan suamiku, termasuk saat aku menjebakku” ucap Chalissa sebelum Cindy keluar dari batas pintu.
***
“Apa? Dia mencoba mengancam!” kaget Hanny setelah mendengar semua cerita Chalissa.
Chalissa mengangguk.
“Han, sepertinya kak Keenan belum tahu akan pekerjaan Cindy” ucap Chalissa.
Hanny diam, ia mencoba mengingat. Ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya.
“Tapi dugaanku berbeda” ucap Hanny, “Maksudmu?” tanya Chalissa bingung.
“Waktu itu, saat aku bertemu dengan kak Keenan. Ia pernah cerita tentang kehidupan seseorang, seorang pria yang bimbang dengan perasaannya. Ada seorang wanita yang sudah baik padanya, wanita itu sudah banyak membantu pria itu dalam masa-masa sulitnya. Hingga pria itu menjadi sukses, dan pria itu baru tahu akan pekerjaan wanita itu. Itu sebabnya, pria itu jadi bimbang. Dan aku rasa, pria yang dimaksud oleh kak Keenan adalah dirinya sendiri.” Jelas Hanny.
“Apa kak Keenan pernah meminta Cindy untuk berhenti dari pekerjaannya?” tanya Chalissa.
Hanny mengangguk. “Lalu?” tanya Chalissa lagi.
“Dalam cerita kak Keenan. Pria itu semakin bimbang karena wanita itu sulit melepas pekerjaannya. Sepertinya, kesuksesan yang diraih kak Keenan tidak lepas dari bantuan dan dukungan Cindy. Itu sebabnya, kak Keenan jadi bimbang. Mungkin kak Keenan merasa berhutang budi juga” tutur Hanny.
Chalissa menjadi lemas. Ia bersandar pada sofa melipat tangannya di depan dadanya. Tatapannya terlihat sedang berpikir.
“Apa kak Keenan mencintai Cindy?” tanya Chalissa, Hanny diam lalu mengangkat kedua bahu pertanda ia tak tahu.
*****
Tiga hari kemudian.
Chalissa ingin sekali bertemu dengan Keenan. Dia ingin sekali memastikan hubungan kakaknya dengan Cindy.
Mereka sudah berada di sebuah restauran. Hari sabtu, Ansel menemani Chalissa untuk bertemu dengan Keenan.
Ansel, chalissa, Clarissa dan Killian sudah berada di dalam restauran. Mereka sedang memesan sebuah makanan. Tak lama pelayan pergi meninggalkan meja mereka, terlihat Keenan masuk ke dalam restauran.
Dari jauh Keenan tersenyum melihat keluarganya sudah menunggunya.
“Hallo jagoan kecil apa kabarmu?” sapa Keenan kepada Killian yang duduk dalam strolernya.
“Maaf sudah lama membuat kalian menunggu” imbuh Keenan. Ia menepuk bahu Ansel yang berada duduk di dekatnya.
“Kami juga belum lama sampai kak” jawab Chalissa.
Lalu Keenan mencubit gemas pipi adik bungsunya. “Auwww, kakak!” pekik Clarissa yang kemudian mencebikan bibirnya. Keenan hanya tersenyum puas melihat tingkah adiknya yang kesakitan karena ulahnya.
“kakak mau pesan apa? Kami tadi sudah pesan makanan” tawar Chalissa sambil menyerahkan buku menu makanan yang tersedia di tiap meja.
Sambil menunggu pesanan, mereka menghabiskan waktu berbincang-bincang. Hingga makanan datang mereka pun menyantapnya dengan suasana hangat.
“Kak, apa boleh ngobrol berdua sebentar” pinta Chalissa. Keenan diam sejenak, “Boleh” jawabnya.
Mereka memilih bangku lain yang tak jauh dari tempat mereka semula.
“Kau pasti mau membicarakan tentang Cindy” tutur Keenan sudah bisa menebak pikiran adiknya. Mulut Chalissa membulat, saat kakaknya dengan mudah menebak tujuannya.
Chalissa memberi anggukan pada ucapan Keenan.
“Apa benar kakak punya hubungan dengan Cindy?” Chalissa tak mau berlama-lama. Ia segera menanyakan pada inti pembicaraan mereka.
Keenan menatap sorot mata adiknya dengan lembut. Ada senyuman yang terpancar di wajahnya.
“Maaf, aku tak bermaksud ikut campur kak” Chalissa menundukkan kepalanya merasa tak enak pada Keenan.
“Kakak kenal sama Cindy sekitar 6 bulan, setelah kakak berada di Jakarta” Keenan berbicara sambil terus menatap Chalissa dengan intens. “Waktu itu, kakak sedang dikeroyok orang karena kakak dikira mencuri. Cindy datang menyelamatkan kakak. Dan dia membawa kakak ke tempat tinggalnya. Di kontrakannya, dia merawat kakak sampai pulih. Entah kenapa dia tidak merasa takut dan percaya pada kakak. Padahal, di kontrakan itu, dia seorang diri. Selanjutnya, Cindy juga banyak membantu kakak dalam keuangan. Dia mendukung kakak mulai dari mencari pekerjaan. Hingga sekarang kakak sudah bisa memiliki bengkel sendiri. Itu tidak lepas dari Cindy.” Cerita Keenan panjang lebar.
Chalissa tertegun mendengar cerita kakaknya. Dia terdiam tak mampu untuk berkomentar.
“Apa kamu keberatan kakak dekat dengan Cindy?” tanya Keenan memiringkan wajahnya untuk melihat wajah adiknya yang tertunduk.
Chalissa mengangkat wajahnya. Ia tersenyum menutupi kegusaran hatinya.
“Sepertinya, aku gak berhak untuk keberatan kak” ucap Chalissa.
Keenan diam, ia mencermati ekspresi adiknya. Ia tahu ada sesuatu yang ditutupi adiknya.
“Kamu adikku. Kalau kamu keberatan gak masalah.” Ucap Keenan.
“Apa…” Chalissa diam, saat tiba-tiba seorang wanita menghampiri mereka.
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍
Kalau kamu suka jangan lupa kasih like, komentar, follow favorit novel ini, dan vote seikhlasnya ya reader. terima kasih 🙏