
Ia pun memeluk tubuh istrinya dengan erat tanpa ada batas sehelai benang yang membatasi mereka.
Pagi ini Ansel dan Chalissa bangun agak siang. Ansel lebih dulu bangun dari tidurnya. Ia melihat kalau istrinya masih pulas dalam pelukannya.
Ansel masih mengingat kejadian semalam. Ia sungguh tak mengira kalau akan secepat ini bisa melakukan hubungan intim dengan istrinya. Ansel menciumi puncak kepala istrinya.
Tok.. tok... tokk...
Terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarnya.
Dengan pelan-pelan Ansel melepaskan pelukannya dari istrinya supaya istrinya tidak terbangun. Ia mengambil seluruh pakaiannya dan segera memakainya. Sebelum membuka pintu kamar, Ansel pun merapikan pakaian istrinya yang diletakkan di sisi ranjang saat ia terbaring.
CLEKKKK
"Ada apa bi?" tanya Ansel yang membuka pintu tidak lebar.
"Tuan besar dan nyonya datang, tuan" jelas bi Nani
"Ohh, sekarang ada di mana?" tanya Ansel berbalik
"Tuan dan nyonya menunggu di atas tuan dekat kolam renang"
"Baik bi, nanti saya akan menemui mereka" ungkap Ansel lalu ia menutup pintu kamarnya kembali dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat Ansel sedang mandi, Chalissa pun bangun dari tidurnya. Ia merasa tubuhnya agak sedikit lelah dan pegal. Sejenak ia terdiam mengingat kejadian semalam. Dilihatnya tubuhnya yang tertutup selimut, tanpa sehelai benang. Sebelum Ansel selesai dari mandinya, Chalissa dengan cepat mengenakan pakaiannya.
"Kamu sudah bangun?" suara Ansel yang baru keluar dari kamar mandi.
Jantung Chalissa mendadak bergetar. Tidak tahu mengapa tubuhnya menolak untuk mendekati suaminya. Ada perasaan malu dan bingung harus bersikap bagaimana kepada suaminya itu.
Ansel yang bisa membaca body language istrinya memilih untuk tidak banyak berinteraksi dulu dengannya.
"Mandilah, papa dan mama sedang ada di sini. Aku akan keluar menemui mereka dulu" jelas Ansel lalu keluar dari kamar.
* * * * *
Di lantai tiga terlihat Bu Myra dan pak Richard menikmati hangatnya matahari pagi yang menyingsing.
"Kau bangun juga Ans?!" teriak pak Richard saat melihat putranya berjalan mendekati mereka.
"Maaf pa, ma sudah menunggu lama" ucap Ansel lalu duduk di dekat mamahnya.
"Tumben sekali jam 9, kamu baru bangun Ans?!" tanya mamanya yang mendapati anaknya tidak pernah bangun siang.
"Mama seperti tidak pernah jadi pengantin baru!" tutur pak Richard sedikit meledek anaknya.
Bu Myra terkesiap mendengar ucapan suaminya. Ada perasaan kurang suka yang timbul dalam hatinya.
Orang tua dan anak itu sedikit asyik mengobrol. Mereka begitu senang dengan design rumah baru Ansel. Tak lama, Chalissa terlihat menghampiri mereka. Bu Myra yang lebih dulu melihat kehadiran Chalissa agak sedikit bingung harus bersikap bagaimana terhadap menantunya itu. Ia berpura-pura tidak melihat menantunya.
"Selamat pagi... Pa.. pa... Ma.. ma" sapa Chalissa yang terdengar ragu-ragu.
"Kami sudah mengganggu pagimu nak?" ucap Pak Richard seraya bertanya pada menantu perempuannya.
"Tidak pah" jawab Chalissa lirih
Chalissa merasa sedikit canggung. Dia juga merasa bingung untuk mulai berbincang dengan mamanya Ansel, dia merasa ada batas perasaan yang menghalanginya bersikap lebih dekat.
Ansel sangat memahami mamanya. Sebab itu, dia memulai perbincangan antara mama dan istrinya. Dikeluarkannya sebuah benda dari saku celananya.
"Apa ini Ans?" tanya Bu Myra menerima sebuah amplop.
Bu Myra dan pak Richard terperangah saat dilihatnya foto USG. Pandangan Bu Myra sebentar mengarah pada menantunya.
"Beberapa hari yang lalu Ansel menemani Chalissa untuk check up ke dokter kandungan ma" jelas Ansel
Sebenarnya ada perasaan senang saat melihat foto USG calon cucunya. Karena memang sudah lama ia mengharapkan kehadiran seorang cucu di masa tuanya. Dulu saat Monique menikah, dia mengharapkan anak perempuannya akan segera memberinya cucu. Tapi takdir belum memenuhi harapannya. Kini malah anak laki-lakinya yang sudah memberinya seorang cucu. Tapi Bu Myra begitu bingung memulainya.
"Berapa usianya Ans?!" tanya pak Richard dengan ekspresi layaknya seorang kakek yang ingin tahu tentang cucunya.
"8 minggu pa" ungkap Ansel
Ansel melihat mimik wajah mamanya yang berubah berseri. Meskipun mamanya hanya diam, tapi sorot matanya jelas menunjukkan ada kebahagian yang terpancar.
Bi Nani dan bi Suti terlihat membawa sarapan untuk majikannya. Setelah mereka lumayan lama berbincang, mereka pun tidak melewati sarapan bersama. Saat itu, Chalissa sudah tidak merasakan morning sickness lagi. Jadi dia lebih leluasa untuk menikmati sarapannya.
Menjelang siang pak Richard dan bu Myra berpamitan untuk melakukan kegiatan mereka lagi. Ansel dan Chalissa mengantar orang tua mereka hingga menaiki kendaraan yang dibawa oleh supir.
"Pa, ma hati-hati ya" ucap Chalissa sambil melebarkan senyum manisnya.
Pak Richard membalas senyumannya, begitupun dengan bu Myra yang tak dapat menghindar.
"Jaga kesehatanmu ya" ucap Bu Myra sambil memberi sentuhan kecil di bahu Chalissa, kemudian ia masuk ke dalam mobil.
Chalissa merasa senang dengan sentuhan kecil yang diberikan oleh Bu Myra.
* * * * *
"Apa kamu suka melihat-lihat tanaman di dinding itu?" ucap Ansel yang tiba-tiba sudah mengeratkan tangannya melingkar di pinggang Chalissa.
"Kamu bikin aku kaget" jawab Chalissa yang tersentak
Ansel hanya tersenyum. Tiba-tiba pria itu layaknya seperti merindukan seorang kekasih. Ia tidak mengendalikan dirinya mencium leher istrinya.
"Ans, kamu ngapain?" kaget Chalissa berusaha menghindar.
"Mencium leher istriku" jawab Ansel tanpa beban.
Sejenak Chalissa merasa ada kebanggaan tersendiri mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya. Tapi kemudian ia merasa apakah ucapan Ansel itu hanya sebuah hasrat yang dimiliki oleh seorang pria yang sedang dicumbu asmara.
"Kenapa diam? haaa" bisik Ansel
Chalissa tak membalas pertanyaan Ansel.
"Kamu gak suka aku memelukmu seperti ini ya??!" setelah mengucapkan kalimat itu, Ansel bermaksud untuk melepaskan eratannya.
"Ans" Chalissa segera menahan eratannya tangan suaminya di pinggangnya.
"Apa kau pernah merasa menyesal bertemu denganku?" tanya Chalissa yang membelakangi suaminya.
"Kenapa kau suka sekali sih memberi pertanyaan yang sulit kujawab?!!" jawab Ansel sambil bertanya.
Chalissa melepaskan eratan suaminya dan membalikkan tubuhnya hingga kini mereka berdiri saling berhadapan.
"Memang pertanyaanku memberatkanmu ya?" sungut Chalissa
Ansel memiringkan senyumannya. Ia kembali merangkul pinggang istrinya hingga dada mereka hampir menempel. Membuat jantung Chalissa berdetak berbeda.
"Kalau aku bilang menyesal bagaimana perasaanmu?" jawab Ansel yang justru membuat Chalissa merasa terjebak dengan pertanyaannya sendiri.
"Lalu, kalau aku bilang tidak menyesal. Bagaimana?" imbuh Ansel yang seketika bisa merubah wajah cemberut Chalissa.
"Jangan pernah bertanya hal-hal yang sulit untuk kujawab sayang. Kasih aku waktu untuk mengisimu di ruang hatiku ini" ucap Ansel sembari menyelipkan sebuah permintaan kepada istrinya, serta mengelus pipi istrinya.
"Sejak aku memutuskan akan menikahimu, sejak itulah aku berjanji akan membuatmu ada di dalam hatiku" ucap Ansel melanjutnya ungkapan hatinya.
"Lalu kamu sendiri bagaimana??" tanya Ansel ingin mengetahui isi hati istrinya.
Ansel menuntun tangan Chalissa agar melingkar di pinggangnya. Karena Ansel menebak Chalissa pasti tidak berani merangkul pinggangnya. Setelah kedua tangan Chalissa berpaut pada pinggangnya, Ansel melingkarkan tangannya pada pundak istrinya hingga tidak ada jarak antara mereka.
"Aa, aku..." ucap Chalissa bingung harus menjawab apa. Dia menghindari tatapan mata Ansel.
"Tidak perlu buru-buru untuk mencintaiku, sayang" kalimat itu langsung membuat Chalissa kembali melihat mata Ansel.
"Kenapa??!" tanya Chalissa seolah ada ketakutan di matanya.
CUP
Ciuman singkat yang tak dapat terhindari mendarat dengan cepat di bibir istrinya membuatnya tertegun.
"Kalau kau sudah mencintaiku juga tidak apa-apa. Katakan apa kau sudah mulai mencintaiku??" kata-kata Ansel membuat Chalissa bungkam.
"Hmmmm... Apa aku mulai membuatmu jatuh cinta?" tanya Ansel lagi dengan inti pertanyaan yang sama.
"Atau bayiku yang ada diperutmu sudah memaksamu untuk mencintaiku?" imbuhnya lagi sembari menebarkan senyuman yang membuat hati Chalissa terjamah.
"Aku tidak tahu Ans" jawab Chalissa abstrak.
Ansel tersenyum tipis, melekatkan tubuhnya memeluk Chalissa.
.
.
.
.
.
Happy Reading 😍
Semangat ya reader untuk mengikuti kisah Ansel dan Chalissa sampai mereka bisa saling jatuh cinta.
Jangan lupa berikan like dan vote kalian reader...
Dan Author berharap kalian juga mendukung author lewat komentar kalian di kolom komentar.
Terima kasih readerku 🙏