
Lissa tak punya pilihan. Dia mengganti pakaiannya. Di depan cermin, ia menangisi keputusannya. Mengapa dia terlalu naif untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang menggiurkan di kota besar. Andai saja, dia tidak gegabah dan menyelidiki tawaran dari Cindy lebih dulu. Mungkin dia tidak akan masuk dalam lubang buaya ini. Dia sudah membayangkan bahwa dia akan melihat setiap om om atau laki-laki buaya yang siap menerkamnya. Kakinya begitu berat melangkah keluar. Apalagi pakaian yang ia kenakan terbilang seksi. Meskipun sebenarnya di kota besar itu pakaian yang dikenakan Lissa tidak terbilang seksi.
Tiba-tiba suara kedoran pintu mengagetkannya
"Berapa lama lagi kau ada di dalam?"... saut suara dari balik pintu. Pria boss itu masih setia menunggunya.
krekk.. krekk - suara pintu terbuka.
Lissa nampak di depan pria si boss, ia nampak tersenyum licik. Kaki Lissa sangat berat untuk keluar dari ruang ganti.
Kemudian tangan pria si boss menarik tangan Lissa keluar dan mendekati Cindy.
"Bawa dia!".. perintah si boss
Cindy memegang tangan Lissa dan mengajaknya memasuki sebuah lorong. Kemudian berhenti di sebuah pintu. Sebelum masuk Cindy memberikan komando kepada Lissa.
"Di dalam ada tamu sepertinya mereka semua pengusaha. Tunjukkan profesionalismemu!"... ucapnya ketus
"Cind, please!".. suara Lissa memberat. Ia menahan tangannya untuk tidak masuk
Jangan macam-macam!!!".. tegas Cindy. Lalu mereka memasuki ruangan tersebut.
Nampak di dalam ruangan lima pria mapan dengan berjas mahal.
Cindy yang sudah terbiasa merasa tidak tabu. Dengan profesionalismenya Cindy melayani tamunya untuk minum bersama. Berbeda dengan Lissa. Wajah tegang, kaku, dan sangat dingin. Terlihat jelas kepanikan tersirat di matanya. Melihat ekspresi Lissa seperti itu. Para lelaki bisa menebak kalau Lissa adalah madu segar. Beberapa laki-laki berusaha genit dan menggodanya.
ARGHHHH... teriakannya menghempaskan tangan yang berusaha menyentuhnya.
"Heiii.. santai nona!".. balasan seorang lelaki meneriakinya
"Wah.. wah... sepertinya kau sangat segar ya... HAHAHA..." tawa lelaki yang lain. Suara tawanya sangat sumbang, tidak enak untuk di dengar.
"Kemarilah..." nampak lelaki yang lain lagi berdiri dari duduknya dan mendekati Lissa, kemudian ia memeluk Lissa.
"Le.. Lepaskan".. pria itu enggan melepaskan tangannya yang melingkar di pundak Lissa. "LEPASKAN!!!"... teriakan Lissa semakin menjadi
"Kau garang sekali nona"...
"Sudahlah, bawa saja dia. Sepertinya dia benar-benar nikmat"... sahut dari laki-laki lain.
Hanya satu pria yang masih terdiam tidak menjahili Lissa.
"Apa kau tidak berminat boss?? Sepertinya ini akan jadi permainan yang seru untukmu"... tutur seorang laki-laki berbicara kepada laki-laki yang masih terdiam itu.
Laki-laki itu memang bukan orang sembarangan yang bisa meniduri setiap wanita. Dia memang menikmati kebersamaannya dengan para rekan bisnisnya. Namun, ia tidak pernah sudi untuk memberikan tubuhnya pada setiap wanita.
Tidak ada respon dari laki-laki yang terus memilih diam itu. Akhirnya seorang laki-laki lain berniat bersenang-senang dengan Lissa. Dia terus menggoda dan menjahili Lissa. Hingga Lissa ketakutan.
"Stop! Biarkan dia"... laki-laki itu akhirnya mengeluarkan suaranya. Ia menghentikan kelakuan temannya. Dengan tatapan penuh selidik, lelaki tersebut terus memandangi Lissa. Lissa tak membalas pandangan itu, ia terus menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba, si boss memasuki ruangan tersebut dan memberi kode kepada Cindy. Cindy segera keluar. Sedangkan Lissa terus mematung di dalam ruangan itu. Hatinya terus berdoa, berharap tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya.
Tak lama Cindy kembali, dan mengajak Lissa keluar dari ruangan itu.
"Ayo".. ajak Cindy.
"Kita akan keluarkah".. jawab Cindy
"Tunggu! aku akan mengganti pakaianku dulu. Apakah kita akan pulang?".. tanya Lissa, ia berharap segera mengakhiri malam ini.
"Iya. Tapi aku harus pergi suatu tempat dulu".. jelasnya. "Kamu gak perlu mengganti pakaianmu!!"...
Wajah Lissa berubah, ia merasa menemukan angin segar.
* * * * *
"Sayang hari ini anniversary kita sebagai sepasang kekasih. Malam ini aku ingin memberi kejutan. Datanglah, aku ingin kita merayakan malam ini"
tok.. tok..
"Permisi pak, saya sudah mengatur apa yang anda minta".. ucap seorang pria bernama Harrys
"Bagus. Saya tidak mau malam ini menjadi failed!!"...
"Iya pak"
"Malam ini saya ingin menjadi malam berkesan. Saya melamar dia menjadi istriku".
* * * * *
"Untuk apa kita kemari Cind??!"... tanya Lissa merasa bingung.
"Kan tadi aku sudah bilang kita harus mampir dulu ke suatu tempat. Yah ini tempat yang kumaksud!"...
"Kau tidak merencanakan sesuatu kan Cind?"... Lissa begitu curiga
"Saya tamu tuan Franky di kamar vip".. ucap Cindy pada seorang resepsionis
"Nona Bellvania Gracela?".. sapa seorang bellboy yang sudah menunggunya sedari tadi. Wanita cantik itu hanya mengeringkan matanya mengiyakan pertanyaan itu. Kemudian seorang bell boy dengan cekatan mengantar wanita itu.
Mata Lissa tidak berhenti menatapi wajah cantik nona bernama Bellvania Gracela.
"Nona, karyawan kami akan mengantar anda ke kamar tuan Franky"...
Cindy segera mengikuti karyawan hotel, ia menarik tangan Lissa. Lissa beberapa kali menolak tarikan tangan Cindy. Hingga di dalam lift mereka terus berdebat. Lissa meminta Cindy kalau dia lebih baik menunggu di depan front office. Tapi Cindy menolak. Tiba di depan kamar yang dituju, Cindy meminta karyawan hotel untuk meninggalkan mereka.
Ting tong... Ting tong...
clekkk - Suara pintu kamar hotel terbuka.
Nampak seorang pria yang sepertinya sudah berusia 50 tahun. Cindy memasuki kamar tersebut dan mengajak Lissa masuk. Lissa terus menolak tapi Cindy pun tidak berhenti menariknya. Hingga Lissa akhirnya masuk. Terlihat Cindy sedang berbicara dengan pria paru baya tersebut dengan suara yang sangat pelan. Lissa terus mengamati mereka dari jarak 3 meter. Ia memegang tasnya dengan erat.
"Hallo nona Lissa"... pria tua tersebut mendekati Lissa dan mencoba melempar senyuman agar Lissa tidak panik. Kehadiran pria tersebut yang mendekati Lissa mengalihkan tatapannya dari Cindy. Entah kapan Cindy melangkahkan kakinya mendekati pintu, yang pasti Lissa sontak histeris.
"Cindy!!!"... teriaknya memanggil Cindy
Cindy melambaikan tangan manja dan wajah genitnya. "Bersenang-senanglah Lissa!"... Ia menutup pintu hotel tersebut.
Lissa semakin panik, wajahnya benar-benar kalut. Lama ia berdiri terpaku, terus mengawasi gerak gerik pria tua yang sedang sibuk mengambil sebuah wine. Kemudian ia menuangkan wine itu ke dalam dua gelas. satu gelas ia serahkan kepada Lissa. Namun Lissa menghempaskan tangan pria tua hingga gelas tersebut jatuh dari tangan pria tua itu. Sontak pria itu marah. Kemarahannya terlihat, Lissa begitu ketakutan kakinya sulit untuk bergerak. Ia terus memundurkan langkahnya hingga terjepit pada batas dinding.
"Aku sudah membayarmu untuk malam ini. Jadi malam ini kau harus membuatku senang".. pria tersebut menunjukkan senyum mesumnya
"Jangan mendekatiku!!!".. teriak Lissa
.
.
.
.
.
Jangan lupa FOLLOW, KOMEN, VOTE, dan LIKE yahhhh