Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Mimpi Horor



🌹Sebelum baca kelanjutan novel ini jangan lupa Vote dan Like plis gaes🌹


Sebelum keluar dari ruang kerja suaminya, Chalissa melongokkan kepalanya melihat ke kanan dan ke kiri. Ia memastikan bahwa tidak ada Clarissa di sana.


Chalissa menghela napas lega setelah matanya menjangkau setiap sisi ruangan dan tak menemukan sosok adiknya.


Dengan langkah yang cepat ia berjalan untuk memasuki kamarnya. Hingga tangannya berhasil menggapai handle pintu.


"Kakak kenapa?" suara Clarissa yang membuat jantung Chalissa hampir copot.


"Hmmm... kenapa apanya? Gak apa-apa kok" wajah Chalissa memerah menahan rasa malu di depan adiknya.


Clarissa memang bukan anak kecil lagi. Meskipun ia memang tidak melihat secara gamblang kegiatan yang sedang dilakukan kakaknya bersama kakak iparnya. Tapi ia tahu apa yang mereka sudah lakukan. Tak mau membuat kakaknya malu, Clarissa memilih untuk bertingkah seolah tidak melihat apa-apa.


"Oh. Yaudah Rissa mau bobo ya kak." sambil berjalan ke arah pintu kamarnya. Chalissa masih berdiri sampai melihat adiknya masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ia menghirup udara segar untuk membanty jantungnya memompa aliran darah mengalir pada tubuhnya yang sepertinya tadi berhenti sejenak.


"Good night kak" tanpa diduga Clarissa melongokkan lagi kepalanya membuat Chalissa kaget. Lalu ia benar-benar masuk ke dalam kamarnya yang sebelumnya ia tersenyum lebih dulu, senyuman yang menggoda kakaknya.


* * * * *


"Pak Doni kalau tuan Harrys datang suruh langsung masuk ke ruang kerjaku ya" pesan Ansel melalu telpon rumah yang terhubung ke bagian pos kemanan.


"Baik tuan" jawab pak Doni kemudian telpon terputus.


Beberapa menit kemudian nampak mobil Harrys memasuki kawasan rumah Ansel. Pak Doni menyampaikan pesan yang tadi dipesankan oleh tuannya untuk memberitahu kepada Harrys agar masuk ke ruang kerja Ansel. Kebetulan Harrys memang sudah terbiasa ke rumah Ansel tentunya ke ruang kerja Ansel.


"Sorry bos lama" permintaan maaf Harrys layaknya kepada teman bukan bawahan ke atasan.


"Ada urusan mendadak ya?"


Harrys terbahak.


"Mau minum apa Rys?" tawar Ansel yang akan segera menelpon ke bagian ART.


"Apa ajalah, kalau ada minuman yang menggairahkan akan lebih baik" canda Harrys.


"Sableng emang lo" balas Ansel.


Harrys kembali terbahak. "Kopi aja"


"Bi tolong buatkan minuman kopi ya"


"Baik tuan"


Telpon terputus.


"Tadi siang gue udah ketemu dong sama wanita cantik lo"


"Husss, gila lo nanti Chalissa dengar lagi"


"Bos Ansel takut ya?"


"Udah deh langsung aja. Gimana respon dia setelah tahu kau yang menghandle kerja sama dengan perusahaannya itu?" Sebenarnya Ansel tidak peduli. Tapi ia merasa harus tahu supaya ia pun tahu apa tujuan dan maksud Bellvania mengirim pengajuan kerja sama itu dengan perusahaannya.


Bukan masalah pengajuan kerja sama yang mengganggu Ansel. Tapi karena pemimpin perusahaan itu adalah Bellvania. Andai pemimpin bukan Bellvania, Ansel pasti dengan senang hati menerima pengajuan kerja sama dengan perusahaan.


"Dia sepertinya marah karena katanya bos tidak bisa bekerja sama secara profesional. Dia sangat berharap kalau kau sendirilah yang akan menemuinya untuk menjelaskan proyek kerja sama ini"


"Padahal dia tahu betul kalau hal seperti ini bukanlah kali pertama kau menghandle pekerjaanku atau meeting dengan klien bisnisku yang lain"


"Ini hanya akal-akalan dia agar bisa bertemu denganmu bos"


"Memang seperti itu jalannya" guman Ansel, bersandar dengan nyaman di kursi kerjanya. "Jadi kelanjutannya bagaimana?"


"Dia mengancam"


"Apa?"


"Dia tidak akan melanjutkan pengajuan kerja sama ini jika kau tidak melakukan pertemuan dengannya"


Ansel membuang napasnya dengan kasar, "Bar bar sekali wanita ini"


Harrys tertawa, "Tapi kau pernah jatuh cinta padanya kan" tawa Harrys menggoda Ansel.


Ansel ikut menertawakan kebodohannya.


"Kalau kehadiranku membuat dia membatalkan kerja sama. Kau ikuti saja permainannya. Tapi aku tidak akan mengikuti permainan murahannya ini"


"Kau yakin? apa hal itu tidak akan mempengaruhi kerja sama kita dengan perusahaan pusat milik pak Davidson?" papar Harrys.


Ansel mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kau harus ingat kalau perusahaan Davidson Joseph adalah perusahaan terkemuka di negeri ini maupun internasional"


"Aku yakin tuan Davidson tidak akan mencampuri urusan pekerjaan dengan tingkah putrinya itu, kami lumayan dekat dalam hal pekerjaan" jelas Ansel.


"Baiklah"


"Permisi tuan, ini minumannya" ucap bi Nani sambil berjalan dan meletakkan gelas di depan Harrys.


"Terima kasih bi" ucap Harrys yang tatapannya mengikuti bibi yang berjalan keluar.


"Sepertinya sudah waktunya saya pulang" ucap Harrys melihat waktu pada jam tangannya.


"O iya Harrys, aku minta tolong untuk mencari tahu tentang seseorang" pinta Ansel saat Harrys hendak berdiri dari bangkunya.


"Siapa?" tanyanya telah duduk kembali.


"Namanya Keenan Ivander, dia adalah kakak Chalissa dan Clarissa. Terakhir Chalissa bilang uang seperti melihat kakaknya di rumah sakit. Tolong cari tahu mulai dari rumah sakit itu"


"Apa ada fotonya?" tanya Harrys untuk memudahkan pencarian.


"Sayangnya tidak ada"


Harrys menghela napas, "Saya akan kerahkan anak buah untuk mencarinya" ucap Harrys membuat Ansel menyunggingkan senyuman.


* * *


Ansel sudah masuk ke dalam kamarnya setelah menunggu Harrys pulang. Ia melihat istrinya yang terlelap tidur di atas ranjang ditemani oleh jagoan mereka. Ternyata perbincangannya dengan Harrys cukup lama menyita waktunya hingga jam menunjukkan pukul 24.00.


"Jagoan papa tidurnya diranjang sendiri ya" guman Ansel pelan. Ia memindahkan putranya ke dalam box tidurnya.


Sekarang Ansel mengarahkan tatapannya pada wanita yang sedang terbaring di ranjang. Ia mengusap salah satu pipi istrinya dengan lembut. Ansel tersenyum tidak bosan melihat wajahnya istrinya yang terlihat polos dan manis saat tidur.


Dua bulan ia merindukan untuk menyentuh istrinya. Dan malam ini Ansel ingin sekali menghabiskan malamnya dengan wanita yang sangat ia cintai, wanita yang sudah memberinya jagoan kecil.


CUP


Ia mencium kening istrinya cukup lama, lalu ia mengulangnya lagi karena ia memang sengaja ingin menggugah tidur istrinya.


"Ehmmmmm" Chalissa melenguh karena terganggu oleh suaminya.


Chalissa kembali terlelap.


Ansel mendengus karena istrinya malah kembali terlelap. Tak lama senyuman jail menguntitnya. Ansel membenam ciumannya pada bibir istrinya, ia tak mendapatkan respon apapun dari wanita yang masih menikmati tidurnya. Ansel sengaja semakin memperdalam ciumannya berharap istrinya akan terbangun lalu membalas aksinya.


Benar saja Chalissa mulai tergugah. Namun sialnya Chalissa bangun dalam keadaan terkejut dan ia refleks mendorong Ansel dengan kuat, kemudian diikuti dengan pukulan yang lumayan keras di wajah Ansel.


Beghht... "Aowww" pekik Ansel merasakan pukul keras di wajahnya.


Chalissa syok dan ia segera duduk untuk menyadari apa yang telah terjadi. Matanya melotot saat melihat bahwa laki-laki yang menjadi korban pukulan tangannya adalah Ansel, suaminya sendiri.


"Yah sayang maaf" Chalissa mendekati Ansel dan tangannya mulai menyentuh pipi suaminya.


"Aku kira tadi aku lagi mimpi sayang" Chalissa terus memohon maaf karena sudah menyakiti wajah suaminya.


"Aduh sakit banget, kamu lagi mimpi horor ya sayang?!" kesal Ansel matanya terlihat menahan sakit dengan suara merintih membuat Chalissa semakin bersalah.


"Iya, kamu sih pelakunya, horor jadinya kan" Chalissa malah balik kesal karena sepertinya suaminya itu menyudutkannya.


Chalissa menarik tangan suaminya yang menutupi bagian wajahnya yang saki. "Sini aku mau lihat, mana yang sakit?" tanya Chalissa.


"Ya ampun sayang" histeris Chalissa melihat darah keluar dari hidung Ansel.


Akibat pukulan yang keras mengenai hidung Ansel, membuat darah mengucur dari hidungnya. Chalissa makin merasa bersalah. Dengan gerakan yang cepat ia turun dari ranjang mengambil tissue untuk menahan darah yang mengalir agar tidak mengenai seprei. Ia keluar menuju pantry mini dan mengambil es batu yang ia masukkan ke dalam ice bag compress.


"Sini sayang aku kompres" Chalissa mengarahkan ice bag compress pada pangkal hidung suaminya untuk memperlambat pendarahan.


Chalissa terlihat merasa bersalah, terlihat air mata yang membasahi pipinya.


"Sayang, kamu nangis?" tanya Ansel wajahnya berubah. Kesakitan yang tadi ia rasakan seolah berpindah pada wajah istrinya.


Chalissa tak menjawab suaminya. Ia masih fokus pada hidung suaminya.


"Kita panggil dokternya?" ucap Chalissa


"Gausah sayang, ini udah baikan kok. Lihat nih" Ansel menunjukkan hidung yang terlihat sudah tidak mengeluarkan darah lagi, namun tulang hidung terlihat bengkak dan merah.


Chalissa menunduk memejamkan matanya. Ia seperti lelah karena dikejutkan dengan peristiwa tadi. Ansel menjajarkan wajahnya ke bawah untuk melihat apa yang terjadi pada istrinya.


"Sayang, maaf ya" ucapnya pelan.


"Aku yang harusnya minta maaf" Chalissa mengangkat wajahnya melihat suaminya.


"Jadi kamu memang mimpi horor ya" ucap Ansel masih sempat menggoda istrinya.


"Ini lebih dari horor" tutur Chalissa dibarengi dengan tangisan, Ansel diam.


Ansel membawa istrinya kepelukannya dan mengusap kepalanya sebagai permintaan maaf karena berhasil mengganggu tidur istrinya.


*


*


*


*


*


Happy Reading 😍