
"Haduhhh.. siapa sih yang datang sepagi ini" kesal Clarissa
Ia segera beranjak dari tidurnya, berusaha merenggangkan otot-otot di tubuhnya sambil menguap.
CLECKKK
"Kenapa tidak ada orang??!" Rissa menghembuskan napas dengan kasar, tatapannya seolah ingin menyadarkan dirinya sendiri. "Apa aku salah dengar ya?" Lalu ia kembali akan menutup pintu, tiba-tiba sorot matanya menangkap sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Hanny.
Belum sempat pikirannya menyimpulkan apa yang dilihatnya, tiba-tiba secara bersamaan "Selamat pagi adik kecil" Ansel dan Chalissa muncul dari persembunyian mereka.
"Kakak" dengan tatapan polos, setelah itu ia memuncungkan bibirnya kesal
Setelah itu mereka saling berpelukan. Tidak lama Bu Dewi yang mendengar seperti ada suara Lissa bangkit dari atas kasurnya lalu keluar untuk memastikan pendengarannya.
"Lissa" panggil Bu Dewi melangkah ke arah putri sulungnya, ia segera meraih tubuh anaknya ke dalam pelukannya dan memberikan belaian di kepalanya.
"Ibu senang kamu datang nak" ungkap Bu Dewi.
Ini adalah pertama kalinya Chalissa kembali ke rumahnya semenjak ia memutuskan untuk pergi ke Jakarta.
"Bu"
Bu Dewi melayangkan pandangannya ke arah pria yang sudah berdiri tegap di sisi Chalissa, ia melepaskan pelukannya terhadap putrinya dan seraya merentangkan kedua tangannya kepada Ansel.
"Terima kasih ya nak, kau sudah mau datang ke gubuk ibu yang kecil ini" seraya memberi elusan di punggung Ansel yang berdiri sedikit menunduk agar Bu Dewi dapat memeluknya.
Rumah orang tua Chalissa memang sangat jauh perbandingannya dengan rumah Ansel yang sangat mewah.
Setelah mereka saling berpaut melepaskan rasa rindu. Bu Dewi menyuruh Chalissa dan Ansel untuk beristirahat, karena mereka terlihat lelah setelah perjalan berjam-jam. Apalagi Chalissa yang sedang hamil. Kebetulan saat mereka asyik berbincang, Bu Dewi sudah membisikkan pada Rissa agar merapikan kamar kakaknya.
Chalissa mengajak Ansel masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya sedikit ragu ketika harus memasuki ruangan kamarnya yang kecil. "Ini pasti tidak nyaman untukmu, Ans" ucap Lissa melihat suaminya yang sedang mengamati seisi kamarnya.
"Tidak terlalu buruk kok" ucap Ansel, wajahnya terlihat memaparkan senyuman tipis. Kemudian ia duduk di sisi ranjang yang mudah ia jangkau, karena sisi ranjang satunya menempel pada dinding kamar Chalissa.
Chalissa berdiri di hadapan suaminya, "Seperti inilah kamarku, ini pasti sangat buruk dari kamarmu kan?" ujar Chalissa dengan ekspresi kurang nyaman.
Ansel yang hendak membuka kancing kemeja nampak berhenti. Ia menarik tangan istrinya dan membawanya berlahan ke sela kedua kakinya, lalu melingkarkan tangannya pada pinggul istrinya. "Jangan terlalu merendah" ucap Ansel, ia mendongakkan kepalanya agar dapat melihat netra istrinya.
"Kamarmu memang kecil, tapi ini tidak buruk. Ini tertata rapi, kasurnya pun masih nyaman untuk aku berbaring. Yahh, sepertinya ini cocok untuk pesangan yang sedang tidak aku" ucap Ansel sambil tertawa meledek Chalissa.
Chalissa mendorong Ansel yang berusaha menunjukkan tanda-tanda ingin menciumnya. "Sudah cepat ganti bajumu" ucapnya lalu menghampiri koper mereka untuk mengambilkan pakaian ganti Ansel.
"Kamu mau ke mana??" tanya Ansel, saat melihat pergerakan Chalissa ke arah pintu.
"Aku mau ke kamar ibu sebentar" jawabnya,
"Temani aku tidur dulu. Aku kan masih baru di sini" ucapnya membuat Chalissa berpikir
"Memangnya kenapa??" heran Chalissa
"Aku agak susah tidur di tempat yang baru" alasan Ansel
"Tapi di rumah baru dan hotel gak masalah" cibir Chalissa
"Eee.. itu karena ada kamu" tambah Ansel terus beralasan.
"ihhhh... alasan saja" umpat Chalissa dengan wajah mencibir.
"Sudahlah, kemarilah sayang" ucap Ansel dengan nada menggoda.
Akhirnya Chalissa pun memutuskan untuk menemani Ansel, mereka saling membaringkan tubuh di atas ranjang dengan saling berhadapan. Chalissa dapat melihat wajah Ansel yang sudah mengantuk, namun Ansel masih saya mempertahankan kedua matanya untuk terus terbeliak. "Tidurlah Ans, kamu sudah kelihatan sangat ngantuk!" titah Chalissa, ada rasa kasihan melihat wajah suaminya itu.
"Selama aku tidur jangan ke mana-mana ya!" titah Ansel memberi peringatan.
"Ans, rumah ini sangat kecil dari rumahmu. Kalau pun aku ke dapur masa kamu gak bisa mencariku!" balas Chalissa yang tidak suka dengan peringatan suaminya.
Ansel tertawa kecil "Maksudku pergi ke luar dari rumah ini. Lingkungan di sini baru jadi aku gak mungkin mudah mencarimu"
"Ya sudah tidurlah" ucap Chalissa, ia memberi sentuhan lembut pada pipi suaminya itu. Pelan-pelan mata Ansel terlihat mulai menutup. Chalissa tersenyum memandangi wajah suaminya yang tampan. "Kalau kamu tidur seperti ini, kamu terlihat lebih tampan" ucapnya menyisahkan senyuman malu di wajahnya sendiri.
Cukup lama memandangi wajah suaminya, membuat Chalissa ikut merasakan kantuk. Ia pun memutuskan untuk tidur bersama suaminya.
* * * * *
"Kak Ansel sudah bangun?" sapa Rissa yang sedang berada di dapur mencuci piring.
"Chalissa mana dek?" berucap sambil meraih kursi yang tersimpan di kolong meja makan.
Belum sempat mendengar jawaban yang keluar dari mulut adik iparnya itu, Ansel sudah memalingkan wajahnya karena mendengar suara mobil. Ia melangkahkan kakinya kearah sumber suara yang didengarnya.
"Mampir dulu nak" ajak Bu Dewi kepada pria yang sudah lama menyukai putri sulungnya itu.
Brady tersenyum pada Bu Dewi hendak mengiyakan ajakan dari wanita yang sudah melahirkan Chalissa.
"Sini biar aku saja yang bawa" seru Brady segera mengambil alih tas belanjaan dari tangan Chalissa.
Pemandangan yang terlihat bagaimana Brady memperlakukan Chalissa seperti wanita yang ia sayangi membuat tanda tanya pada sorot mata Ansel yang dari tadi sudah berdiri di ambang pintu.
Bu Dewi memberikan senyuman pada Ansel yang tidak lama dibalas olehnya. "Bagaimana tidurmu nak?" tanya Bu Dewi setelah berdiri tepat di depan Ansel.
Ansel menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, ia merasa segan pada ibu mertuanya "Maaf Bu, mungkin karena kelelahan jadi saya terlelap" senyum Ansel yang terukir, namun Bu Dewi melihat senyuman itu tidak bertahan lama, karena setelah itu tatapan Ansel berubah ke arah istrinya bersama seorang pria.
"Ya sudah, ibu tinggal ke dapur ya" ujar Bu Dewi lalu berjalan meninggalkan menantunnya yang masih setia menatapi istrinya.
"Kamu sudah bangun Ans?" tanya Chalissa yang telah mendekat dihadapannya.
Ansel terdiam tak ada jawaban, bahkan Chalissa tidak menemukan garis senyum terukir di wajahnya. Ia justru menatapi istrinya dengan tatapan biasa, seolah ia juga menunggu sebuah kalimat yang ingin segera ia dengar dari bibir istrinya.
Brady yang berdiri di samping Chalissa juga terlihat penasaran. Ia sudah menebak, mungkinkah pria yang berdiri dihadapannya itu adalah suami Chalissa. Namun, ia belum merasa puas dengan tebakannya sebelum Chalissa sendiri yang memperkenalkannya.
"Ans, kenalkan ini Brady. Dia kakak tingkatku. Kami satu sekolah saat SMP dan SMA" tutur Chalissa, "Brady, ini adalah Ansel. Dia suamiku" imbuhnya. Brady terdiam, ada rasa sesal setelah ia mendengarkan penuturan Chalissa.
Ansel mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Brady. Cukup lama Brady memutuskan untuk menerima jabatan tangan Ansel. Hingga keduanya saling berpaut pada jabatan tangan yang erat dan tatapan yang tajam. Ansel dapat membaca raut wajah Brady yang tidak suka dengan kehadirannya sebagai suami Chalissa.
"Eeee Lissa, hmmm sepertinya aku langsung pulang aja ya" tutur Brady yang tiba-tiba memutuskan untuk segera pergi.
"Oh, kenapa tidak tinggal sebentar dulu?" tanya Chalissa terheran.
"Aku baru ingat kalau hari ini ada janji dengan orang lain" ucap Brady berusaha supaya tidak terlihat aneh dihadapan Lissa. Lissa pun mengiyakan keputusan Brady, yang akhirnya pria itu pergi tanpa lagi menoleh pada Ansel. Tatapannya hanya terus beralih pada Chalissa, hingga berakhir sebelum ia mengemudikan mobilnya menjauh dari pemandangan Chalissa dan Ansel.
Ansel segera mengambil tas belanjaan yang tadinya dipegang oleh Brady, lalu keduanya bersamaan masuk ke dalam rumah dan melangkahkan kaki menuju dapur.
_ _ _
Happy Reading 😍
Gaes maaf ya lama buat UP nya... gaes, dukung author dong, kasih vote kalian buat author ya... trus jangan lupa kasih komentar kalian, biar author makin semangat gaes buat nerusan cerita ini...
makasih gaesss ❤️