Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Tidak Bisa Bernapas



Setelah Harrys pergi dengan susah payah Ansel berjalan ke arah kamarnya. Chalissa segera mengunci pintu rumah.


Gubrakk..


Terdengar suara hantaman pintu. Sepertinya wisky itu membuat Ansel tidak dapat mengimbangi tubuhnya. Chalissa yang melihat Ansel terjatuh di depan pintu kamar yang terbuka, merasa ragu untuk membantu Ansel. Ia takut kalau Ansel akan mengulang peristiwa malam itu.


"Ans" panggil Lissa dari jarak 2 meter, ia sungguh ragu untuk lebih dekat lagi memeriksa keadaan Ansel.


Tidak ada balasan dari Ansel.


Apa mungkin ia sudah tidak sadarkan diri atau dirinya sudah terlelap?


"Bell"


"Bellva" mengigau


Sebuah nama yang pernah didengar Chalissa, malam ini dia mendengar nama itu disebut lagi oleh Ansel dalam keadaan mabuk.


"Apa dia sangat mencintai Bellva. Kalau memang iya, lalu kenapa dia ingin menikah denganku" batin agak sedikit mengusik hatinya.


Chalissa ingin sekali membiarkan Ansel dengan posisinya saat ini. Tapi ada rasa tidak tega melihat pria itu tertidur di lantai depan kamarnya sendiri.


"Ans... Ans bangunlah" Chalissa menggoyangkan tubuhnya berlahan.


"Hmmmmmm"


"Ans... Ansel tidurlah di kamarmu" Chalissa masih mencoba untuk menyadari Ansel dari tidurnya.


Dengan sekuat tenaga Chalissa berusaha untuk mendudukkan tubuh Ansel, ia berusaha menghilangkan ketakutannya. Berlahan-lahan ia membuat Ansel duduk.


"Kau... Kau bukan Bellva kan, Hah" Ansel mulai meracau


"Jangan coba-coba menggodaku. Kau membuatku pusing"


Chalissa tidak memperdulikan ocehan Ansel, dia menepis semua perasaan tidak jelas dalam hatinya. Dengan susah payah dirinya berhasil membawa Ansel tertidur di atas ranjang milik Ansel. Ia membukakan sepatu milik Ansel, kemudian ia meninggalkan Ansel sendirian.


* * * * *


Pagi hari.


Chalissa mulai terbangun. Dengan berlahan ia mencoba membuka matanya, ia memicingkan kedua matanya ketika dirasa cahaya lampu dari atapnya membuatnya silau.


Kesadarannya mulai kembali, dia merasakan sesuatu menahan perutnya. Tangannya mulai menjelajahi arah perutnya, ia tersentak karena lewat sentuhan tangan ia merasakan ada sebuah lengan yang menindih perutnya sehingga ia merasa berat.


Kepalanya mulai bergerak melihat ke arah perutnya. Pandanganya menjelajah ke arah sang pemilik lengan.


"Ansel" bisiknya tercengang


Chalissa melihat Ansel tertidur di samping dengan tengkurap dan lengan kirinya melingkar menindih perutnya.


Sejak kapan pria itu berhasil masuk ke dalam kamarnya? Chalissa memikirkan hal itu. Atau mungkin rasa kantuk yang dialami wanita itu membuat dirinya tidak menyadari kehadiran Ansel di atas ranjangnya.


Dengan hati-hati Lissa mencoba menyingkirkan lengan kekar milik Ansel. Setelah berhasil ia dengan cepat menapaki kakinya di lantai vinyl kamarnya.


"Auwww" suara pekik Chalissa dirasa ada sesuatu yang tiba-tiba menahannya.


"Kau mau ke mana?" suara Ansel bertanya kepada Chalissa yang sudah kembali terbaring. Ternyata gerakan Ansel menahan kembali perut Lissa lebih cepat.


"Ka... kau sudah bangun" gugup Lissa saat Ansel mengencangkan lengannya di bagian perutnya.


"Hmmmm" Ansel mendengus, masih menutup matanya. Chalissa bisa melihat wajah Ansel yang mengarah padanya.


Lissa sudah berusaha melepaskan diri tapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Ansel.


Sampai ia merasa ada sesuatu yang mulai ia rasakan di perutnya.


"Ans lepaskan aku" gerutu Lissa, tapi Ansel dengan sengaja tidak menghiraukan suara Lissa.


"Ansel, perutku mual! Aku mau muntah!" Chalissa memekikkan suara karena tidak bisa melepaskan eratan lengan Ansel.


Mendengarkan kata muntah, membuat Ansel cepat-cepat mengangkat lengannya dari atas perut Chalissa. Seketika ia membuka matanya dan melihat wanita itu berlari ke kamar mandi.


"Hoekkk... hoekkkk... hoekkk"


Ansel sudah berada dibelakang Chalissa yang sedang mengeluarkan cairan dari dalam perutnya. Ansel membantu Chalissa memberikan kelegaan dengan cara memijat tengkuk leher wanita itu. Hampir setengah jam, Chalissa bertarung dengan rasa mualnya hingga ia merasa tubuhnya menjadi lemas.


"Auww.. kau mau apa!" jeritan kecil lolos dari mulut wanita itu, ia tersentak saat Ansel tiba-tiba menggendongnya bak bride style. Ansel meletakan Chalissa di atas ranjang.


"Kenapa kau menggendongku, Ans?" bawel Chalissa tapi terus tidak dihiraukan.


"Aku kan bisa berjalan sendiri. Kau tidak usah melakukan hal tadi. Aku tidak suka!!" imbuhnya masih tidak terima dengan perbuatan Ansel.


Sebenarnya telinga Ansel merasa bising mendengar celotehan Lissa di pagi hari.


Tok... tok... tokk...


Chalissa mulai terdiam, Ansel berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.


"Bi Nani sudah pulang?" tanya Ansel mendongak


Sebenarnya pagi itu Ansel masih ingin tidur ditemani oleh Lissa. Tapi karena melihat kehadiran bi Nani, ia pun mengurungkan niatnya itu. Ansel pergi meninggalkan kamar Lissa masuk ke kamarnya sendiri.


Di kamarnya, Ansel melanjutkan tidurnya yang tertunda karena kegiatan morning sickness yang dialami Lissa. Sedangkan Chalissa langsung merapikan kasurnya, lalu ia bergegas untuk mandi.


* * * * *


Selesai mandi, Chalissa menuju ruang kitchen menghampiri bi Nani yang sedang berjibaku dengan segala peralatan dapur.


"Bibi mau buat kopi?" tanya Lissa yang melihat bi Nani memegang sebuah toples kaca berukuran 150 ml berisi bubuk kopi.


"Iya non" balas bi Nani


"O iya nona Chalissa mau membuatkan kopi buat tuan?" bi Nani menawarkan pekerjaannya pada calon majikan mudanya. Bi Nani melakukan itu bukan tanpa alasan, bi Nani ingat ketika Chalissa membuatkan kopi untuk tuannya. Tuannya sangat menyukai kopi buatan Chalissa.


"Aaa.. Bibi saja" menolak tawaran bi Nani


"Maaf ya non. Bibi hanya senang waktu tuan suka minum kopi buatan non. Karena kopi buatan non sesuai takaran selera tuan Ansel" jelas bi Nani


"O begitu bi" terlihat raut wajah senang terlukis di wajah cantik Chalissa. Ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan ketika mendengar kalau Ansel menyukai kopi buatannya.


"Ini non. Tuan Ansel pasti sangat senang" menyerahkan perlengkapan untuk membuat kopi. Ada perasaan senang yang membuatnya tidak bisa menolak kedua kalinya.


Mungkin karena kabar pagi ini yang didengar dari adiknya. Sebelum Chalissa menghampiri bi Nani, ia mendapat pesan dari adiknya yang mengucapkan terima kasih karena sudah menerima kiriman uang yang dikira dari kakak perempuannya itu. Ansel benar-benar tidak melupakan tugas yang seharusnya ditanggung oleh Lissa.


CLEKKKK...


Lissa membuka pintu kamar Ansel, ia membawakan secangkir kopi yang dipesannya kepada bi Nani. Lissa melihat Ansel sedang fokus melihat laptopnya. Pria itu duduk di sofa yang terlihat sangat nyaman dan empuk, ia menyilangkan kakinya dan memangku laptopnya di atas pahanya.


Lissa mendekati Ansel lalu meletakkan secangkir kopi di meja yang terdapat di depan sofa di mana Ansel sedang duduk. Lissa mengamati Ansel yang sepertinya sangan sibuk. Ia ingin sekali berterima kasih tapi ia urungkan, mungkin nanti saja maksudnya. Akhirnya ia memutuskan keluar.


"ANSEL!!" teriak Lissa saat ia merasa tangan Ansel mendadak menarik pergelangan tangannya, hingga Lissa terjatuh di atas sofa yang bersandar pada dada Ansel.


Ansel segera meletakkan laptopnya dan menggiring bahu Lissa semakin erat pada dadanya.


"Lepas Ans!" teriak Lissa, ia berhasil menjauhi bahunya dari dekapan Ansel. Tapi dengan cepat kedua tangan Ansel mengunci lingkar perut Lissa sehingga sulit bagi Lissa untuk kabur.


"Sampai kapan kamu menghindariku? Hah?" tanya Ansel dengan tatapan tajam.


Chalissa tidak menjawab pertanyaan Ansel, justru Ansel merasakan kalau Chalissa terus mencoba melepaskan pegangan tangan Ansel.


"Aku tidak akan melepaskanmu, kalau kau tetap bersikap acuh padaku" titah Ansel semakin mendekatkan tubuh Lissa pada dekapannya hingga jarak wajah mereka hanya sejengkal.


Wajah Lissa mulai panik. Rona merah nampak mewarnai pipinya. Pemandangan itu membuat pikiran nakal Ansel mulai bergelayut.


"Kenapa kau diam?" tanya Ansel mulai merasa tidak ada perlawanan dari Chalissa. Sepertinya ia pasrah pada kekuatan Ansel.


"Mari kita bicara tentang pernikahan kita" ujar Ansel, mulai meruntuhkan pikiran nakalnya.


"Kenapa aku harus menikah denganmu?!" pertanyaan Lissa yang terdengar konyol di telinga Ansel.


Ansel tersenyum miring, sesaat matanya meleset pada bibir gemas Lissa yang polos tanpa polesan lipstik tapi bibir itu benar-benar memberikan gairah sensualitasnya makin menjadi. Cepat-cepat matanya beralih melihat ke sembarang arah.


"Apa aku perlu menjawabnya Liss?" kembali mengarahkan matanya pada tatapan Chalissa.


"Aku hanya akan menikah dengan pria yang aku cintai, dan yang mencintaiku" ungkap Chalissa


"Kenapa selalu membahas ini Chalissa? Bisakah kita memikirkan semuanya untuk si baby??!"


"Jadi hanya karena anak ini?!!" ucap Chalissa sedikit kecewa. Padahal tanpa Ansel menjawab pun Chalissa tahu alasan Ansel mau menikahinya.


"Saat ini, semua hanya untuk si baby" jujur Ansel, tatapannya bertahan pada sorot mata Lissa.


Bahkan tatapan itu semakin dalam hingga Ansel bisa melihat dengan jelas mata Lissa mulai membendung genangan air mata. Chalissa menghindari tatapan Ansel yang semakin menusuk hingga ke jantungnya. Ansel sudah tidak bisa menahan hasratnya yang dari tadi ia bentengi.


Ia segera mendaratkan ciuman pada bibir Chalissa. Ciuman yang bermula sebentar ternyata ia lanjutkan lagi, ada rasa candu pada bibir Lissa yang ingin dirasakannya semakin dalam. Lissa tercengak, berusaha melepaskan bibirnya dari bibir Ansel. Tapi Ansel menahan kepala Lissa, ia tidak mau Lissa terburu-buru melepaskan lumatannya. Chalissa pasrah dengan kelakuan Ansel. Sampai detik-detik Chalissa mulai kewalahan, dia seperti kehilangan asupan oksigen. Dengan kuat ia meronta.


"Ans... Ansel!!" teriak Lissa, Akhirnya Ansel melepaskan ciumannya. Terlihat di wajah Ansel, ia tersenyum puas.


"Ayo, menikahlah denganku, hmmm" ucap Ansel mengusap bibir Lissa yang basah karena ulahnya.


.


.


.


.


.


Happy Reading 😍