
Keesokan harinya.
Chalissa berendam di dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka, Ansel masuk melihat Chalissa yang berendam dengan mata tertutup. Sejak tadi, Ansel menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Namun tak ada tanda-tanda istrinya keluar. Makanya Ansel memutuskan masuk ke dalam. Ia tersenyum melihat istrinya yang menikmati waktunya untuk berendam di pagi hari. Ansel membuka pakaiannya, karena kebetulan ia pun belum mandi.
“Sayang” Chalissa tersentak, ia terkejut ketika merasakan seseorang masuk ke dalam bathup. Ansel mengulum senyumnya dan ikut berendam berhadapan dengan istrinya.
“Sudah lama kita tak seperti ini” Ansel mendekatkan tubuhnya pada dada istrinya.
“Sayang, ih masih pagi tahu” Chalissa menahan wajah Ansel yang hendak menciumnya.
“Emang salah ya kalau pagi mau cium istrinya” ucap Ansel tersenyum receh.
“Gak salah, yang salah itu kamu suka kebablasan” kesal Chalissa, “lagian kok Killian ditinggal sih” Chalissa mengingat kalau ia tadi meninggalkan suaminya sedang bermain dengan Killian.
“Makanya jangan kelamaan berendam. Killian kan sekarang lagi main sama papa, mama, dan kaka Monique.
“Apa?” Chalissa tersentak lalu mencoba untuk duduk tegap. Tangannya berusaha menggapai handuk yang ia letakkan di atas bathup. Namun Ansel menghalangi tangannya.
“Mau ke mana kamu?” Chalissa menahan badan Ansel yang mulai menindihnya. “Ya ketemu sama mama papa dong” ucap Chalissa berdiri tak memperdulikan suaminya. Ia menyalahkan shower dan membersihkan tubuhnya.
“Sayang” panggil Ansel melihat istrinya keluar meninggalkan dirinya. Setelah Chalissa berlalu, Ansel melanjutkan untuk berendam. Ia kesal dengan ulah istrinya yang meninggalkan dirinya.
“Pagi pa, ma” sapa Chalissa menghampiri mertuanya.
“Hai kak Monique” sapa Chalissa.
“Ini” Monique menunjukkan sebuah amplop.
Chalissa membukanya dan tercengang. “Apa ini kak?” tanya Chalissa pada kakak iparnya. Monique masih menikmati minumannya, “tiket” ucap setelah meletakkan kembali gelas tersebut.
“Hem, maksudku untuk apa?” tanya Chalissa lagi.
“Itu hadiah dariku. Pergilah berlibur dengan Ansel. Masalah Killian aku dan mama akan menjaganya” ucap Monique.
“Iya benar, nak. Semenjak kalian menikah, kalian belum pernah berpergian berdua, anggap saja ini honeymoon kalian yang tertunda.” Tambah mama Myra.
“Yah, siapa tahu cepat ada adiknya Killian” ucap Pak Richard ikut menyambar.
“Ih papa ini. lihat tuh, Chalissa kan jadi malu” ucap mama Myra sengaja memperjelas semakin membuat wajah Chalissa memerah.
“Apa ini?” tiba-tiba Ansel mengambil amplop yang berada ditangan Chalissa. Ansel tersenyum senang saat melihat sebuah tiket perjalanan ke Eropa.
“Itu hadiah dariku untuk Chalissa. Ambil cuti, ajaklah Chalissa berlibur selama seminggu di Eropa” tutur Monique.
“Dengan senang hati” ucap Ansel merasa puas. Karena sebelumnya, ia pun ingin sekali berlibur dengan istrinya hanya berdua. “Lalu, bagaimana dengan Chalissa” Ansel teringat pada putranya.
“Kan ada mama. Lagian, beberapa minggu ini Monique juga bisa mengatur waktunya untuk ikut menjaga Killian” ucap mama Myra. Ansel segera mendekati mamanya dan memeluknya dengan erat. “I Love you, mom” ucap Ansel membuat mamanya terkekeh.
“Huf, dasar ada maunya aja bilang I love you” ejek Monique, lalu Ansel beralih memeluk kakaknya. “Terima kasih juga kakakku yang paling cantik dan pengertian sedunia” Monique terperanjat dengan ucapan adik laki-lakinya itu.
*****
1 minggu kemudian setelah kepulangan Ansel dan Chalissa dari liburan.
Chalissa sudah tak sabar untuk bertemu pangeran kecilnya. Dia sungguh merindukan keberadaan Killian. Tiba di bandara Soeta. Pak Niman sudah menunggu, mereka segera melaju ke arah rumah orang tua Ansel dimana Killian dan Clarissa berada.
“Selamat malam tuan muda, nyonya muda.” Sambut seorang pelayan yang membukakan pintu utama.
“Bi, Killian ada dimana?” tanya Chalissa tak sabar ingin melihat putranya.
“Tuan kecil ada di kamar nyonya muda” jawab pelayan tersebut menunjukkan kamar Ansel.
Mereka tersenyum lalu melangkah ke kamar untuk menemui putra mereka.
“Kalian sudah sampai?” ucap mama Myra baru saja mengeloni Killian. Kini pangeran kecil itu sudah terbaring nyenyak di atas kasur.
Chalissa segera memeluk mama mertuanya, sambil memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri diikuti Ansel yang juga memeluk mamanya.
“Terima kasih ya ma” ucap Chalissa sebelum mam Myra berlalu.
Sebelum memeluk putranya, Chalissa lebih dulu membersihkan dirinya. Ia mengganti pakaian yang nyaman. Setelah Chalissa selesai, Ansel pun berganti membersihkan diri. Ansel keluar dari kamar mandi mengenakan handuk. Ia tersenyum melihat bagaimana istrinya kini sudah berbaring dengan posisi miring menghadap dirinya. Chalissa mengusap-usap paha putranya sambil terus memandangi wajah putranya yang tidur dengan pulas. Ansel mengambil pakaian tidur yang sudah disiapkan oleh istrinya. Lalu ia ikut berbaring di sisi tempat tidur yang berlawanan dari Chalissa. Kini Killian berada di tengah mereka. Ansel menciumi pipi putranya dengan menahan rasa gemasnya agar tak mengganggu tidur putranya.
“Hallo jagoan papa, kangen nih papanya” ucap Ansel. Lalu ia melihat ke arah istrinya yang berhadapan dengan dirinya. “Kamu gak ngantuk sayang?” tanya Ansel yang melihat wajah istrinya masih terjaga. Chalissa menggeleng “belum.”
Ansel benar-benar lelah. Setelah puas memandangi wajah putranya, ia pun ikut terlelap bersama putranya. Setelah Ansel tidur, Chalissa teringat akan adiknya. Ia bangun hendak ke kamar adiknya.
Klek
Clarissa kaget saat melihat kakaknya muncul dari balik pintu. Perempuan remaja itu terlihat sedang menghubungi seseorang. Ia segera mematikan panggilan telponnya.
“Kakak” panggil Clarissa berhambur memeluk kakaknya. “Kangen” rengeknya menenggelamkan wajahya pada sisi pundak kakaknya.
Chalissa terkekeh dengan sikap manja adiknya yang tak pernah berubah.
“Kakak juga kangen sama kamu” mengusap punggung adiknya. “Tadi abis telepon siapa?”tanya Chalissa melepaskan tautan adiknya dari tubuhnya hingga ia dapat melihat wajah adiknya dengan jelas. “Teman” jawab Clarissa.
“Oh, teman” Chalissa mengerlingkan matanya menggoda adiknya.
“Ih kakak. Itu memang temanku. Orang cewek kok, namanya Eva” jelas Clarissa tak mau kakaknya menggodanya. Ia naik ke atas tempat tidurnya.
“Oh” Chalissa mengikuti adiknya naik ke atas tempat tidur.
“Kak cerita dong, gimana liburannya? Pasti seru ya?” tanya Clarissa, wajahnya sangat cute sambil menarik kedua garis bibirnya.
“Bagus sekali, pokoknya sangat indah tempatnya. Tidak bisa kakak ungkapkan dengan kata-kata. Suatu hari kamu harus ke sana” ucap Chalissa dengan nada terdengar hiperbola.
“Ihhh… aku jadi pengin ke sana deh kak” iri Clarissa setelah mendengarkan ucapan kakaknya.
“Tapi tunggu kamu dewasa, jadi kamu ke sana bersama pasanganmu dek, soalnya tempatnya sangat romantis” tambah Chalissa masih menggoda adiknya.
“Apa iya, aku harus dewasa dulu kak. Maksud kakak dewasa atau menikah nih?” tanya Clarissa pikirannya sudah lebih cepat dari Chalissa.
“Ih anak kecil, mikirnya udah menikah saja.” Ledek Chalissa. Clarissa hanya cengar cengir. “Gimana sekolahmu dek?”
“Baik, aman, dan lancar” menunjukkan jari tangannya membentuk huruf O pada ibu jari dan telunjuk. “Mana oleh-olehnya” pinta Clarissa yang membuatnya tak sabar menunggu kepulangan kakaknya.
“Gak ada”
“Ih kakaknya, masa jauh-jauh gak bawa oleh-oleh. Jadi pesananku gak dibawa dong” gerutu Clarissa.
“Iya ada. Tapi di rumah, tadi kakak minta pak Niman bawa pulang” tutur Chalissa menutup telinga karena mendengar suara gerutuan adiknya.
Clarissa tersenyum kesem-sem. “Benaran?” memastikan.
“Iya” balas Chalissa menekan nada suaranya. “Yaudah, istirahatlah. Jangan tidur terlalu larut malam. Besok kamu harus ke sekolah” tutur Chalissa. Ia turun dari tempat tidur.
“Makasih kak” ucap Clarissa. Lalu Chalissa mengusap puncak kepala adiknya. “Iya” kemudian ia membuka pintu dan keluar dari kamar adiknya menuju kamarnya lagi.
Di kamar ia melihat suami dan anaknya masih terlelap. Ia naik ke atas tempat tidur dengan hati-hati agar tak menggugah kenyenyakan dua kesayangannya itu. Chalissa menggeser posisi Killian menyamping mendekati pembatas kamar. Lalu, ia membaringkan tubuhnya yang kini berada di tengah-tengah, di antara suami dan anaknya.
Sebelum ia terlelap, ia terus memandangi putranya dan berganti memandang suaminya. Ia sadar bahwa ia tak bisa lama-lama berjauhan dari orang-orang yang disayanginya.
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍