Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Berduka



Gaes... gaesss... saya butuh sekali like, tip, dan vote darimu....


Biar author makin semangat gaes buat terus melanjutkan cerita novel ini, karena kita akan mendekati 50% dari novel ini....


Semangat ya gaes 🤗🤗🤗


_ _ _ _ _ _ _ _


Pagi ini membuat Ansel merasa kesulitan membedakan mimpi atau realita.


Kini dirinya yang sedang menyikat gigi sambil berdiri di depan cermin wastafel terus mengingat sesuatu yang sempat terlintas di tidurnya.


Tuttt... tuttt... tuttt...


Suara ponsel Ansel yang sudah berkali-kali berdering.


Tak ada satu pun yang menyahuti panggilan telpon tersebut, karena saat itu Chalissa pun sedang berada di lantai 1 membantu bi Nani menyiapkan sarapan yaitu nasi goreng. Saat bangun tadi tiba-tiba suaminya menginginkan nasi goreng buatannya. Jadi itulah sebabnya Chalissa kini berada di dapur lantai satu.


Pagi itu Ansel belum mandi, ia hanya menyikat gigi. Karena ia bermaksud akan melakukan aktivitasnya di lantai tiga yaitu nge-gym.


"Nomor siapa ini?" heran Ansel saat mendapati layar ponselnya yang tertera nomor baru.


Ansel hendak menghubungi balik nomor tersebut. Namun, karena ia tidak mengenal nomor itu jadi ia urungkan niatnya.


"Ans, kau sudah selesai mandi?" suara Chalissa yang sudah menyelinap di kamar.


"Ada apa Ans?" tanya Chalissa saat mendapati wajah suaminya yang terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu. "Tidak. tidak ada apa-apa sayang" jawab Ansel mengalihkan pandangannya dari ponsel yang berada di genggamannya. "Apa kau sudah selesai memasak nasi goreng?" tanya Ansel mengalihkan pembicaraan.


Sebenarnya Chalissa merasa curiga pada suaminya, ia merasakan kalau ada sesuatu yang sedang dirahasiakan darinya.


"Heyyy... kenapa malah diam?" Ansel mencubit kedua pipi istrinya hingga membuat kesakitan pada istrinya "Auwwww" jerit Chalissa. "Maaf sayang, abisnya aku gemas" tutur Ansel membela diri tak mau disalahkan.


"Ya sudah. Ayok sarapan" ajak Chalissa.


Sebenarnya, Ansel belum berniat untuk sarapan apalagi itu nasi. Tapi karena terlanjur Chalissa sudah membuatkannya jadi mau tidak mau dia memakan sarapannya.


Tuttt... tuttt... tuttt...


Ponsel Ansel kembali berdering, nampak nomor baru memanggilnya.


Ansel yang sudah melihat layar ponselnya menjadi penasaran lantaran nomor baru itu telah 8 kali melakukan panggilan pada nomornya.


"Sayang, aku terima panggilan dulu ya" ijin Ansel berdiri dari duduknya setelah mendapat ijin dari istrinya.


"Hallo" sapa Ansel


"Hallo Ansel, saya paman Rusdi. Bisakah kita bicara tanpa ada Chalissa" pinta paman Rusdi.


Ansel sedikit berpikir sebentar, sampai akhirnya dia berlahan menjauh dari istrinya. Di sana ia cukup lama berbicara dengan paman Rusdi. Sampai akhirnya perbincangan mereka pun berakhir.


Rasanya hari itu menjadi sangat berat baginya, entah bagaimana caranya membawa Chalissa kembali ke rumahnya di kampung. Teringat pada sebuah mimpi yang menghampirinya semalam, yah... apakah itu sebuah pertanda! lalu apakah pelukan dan pesan itu pun sebuah pertanda??! Pikiran Ansel masih bergelut, tanpa ia sadari air matanya menetes.


Ia tersimpuh "ibuuu" air matanya masih menetes. Ia tak bangkit dari duduknya, ia memilih untuk terduduk di lantai sambil memikirkan bagaimana caranya agar istrinya tak syok dengan kepergian ibunya.


"Ans, ada apa?" tiba-tiba suara itu membuat Ansel dengan cepat menghapus air matanya.


"Bagaimana kalau kita berlibur?" Ansel terpaksa menawarkan liburan kepada istrinya.


Tentu saja Chalissa diam menyelidiki maksud dari suaminya. Karena kemaren sore mereka baru saja tiba dari perjalan jauh, dan itu pun karena alasan Ansel harus kembali bekerja. Tapi mengapa kini suaminya menawarkan liburan padanya. Pikir Chalissa.


"Apa terjadi sesuatu sayang?" tanya Chalissa, lalu ia memeluk suaminya yang duduk di lantai, ia mengusap kepala suaminya dengan penuh kelembutan.


Tanpa Ansel sadari ia melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya, lalu ia menenggelamkan wajahnya pada dada istrinya. Di situ ia melepaskan air matanya.


"Ans" panggilan Chalissa yang merasakan kalau suaminya sedang menangis.


"Ayo kita pergi" ajak Ansel, Chalissa yang belum tahu apa yang terjadi pada suaminya hanya bisa mengiyakan kemauan suaminya.


Bi Nani ingin sekali menangis, namun ia sudah diberi mandat oleh tuannya supaya tidak berbicara apapun kepada istrinya. Sedangkan Ansel di lantai 3 sudah menghubungi Harrys untuk menyiapkan helikopter pribadi milik papanya dan meminta Harrys mengatur tempat pendaratan. Ansel pun sudah menghubungi Hanny yang akan lebih dulu berangkat bersama dengan Harrys menggunakan helikopter pribadi.


Ansel kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat istrinya yang sudah rapi dengan koper yang sudah siap.


"Ans, kita akan pergi ke mana?" tanya Chalissa masih bingung.


Ansel memeluk tubuhnya istrinya di sisi kanannya, ia memberikan ciuman pada puncak kepala istrinya. "Nanti kamu juga akan tahu sayang" jawab Ansel yang tak mampu mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi.


* * * * *


Pukul 11.00 setelah mendapat kabar dari Harrys dan Hanny yang sudah berada di kampung halaman Chalissa, kini Ansel bergegas untuk membawa Chalissa.


"Kamu sudah siap sayang?" tanya Ansel memeluk istrinya dari belakang. Chalissa yang sudah selesai berdandan tersenyum tipis ke arah cermin melihat suaminya. "Ada apa sih sayang sebenarnya?" Chalissa semakin terheran dibuat suaminya.


Ansel menggandeng tangan Chalissa, mengajaknya menuju lantai tiga rumahnya. "Loh kenapa kita malah ke atas sayang?" tanya Chalissa yang belum tahu menahu. "Tenanglah sayang. Kita hanya akan menaiki helikopter" ungkap Ansel. Chalissa masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apa helikopter?" tanya Chalissa mendadak wajahnya berubah pucat. Ia menjelaskan ketakutannya pada suaminya.


Ansel yang baru mengetahui kalau ternyata Chalissa takut pada ketinggian dan ia pun takut menggunakan pesawat, seolah mendapat ide agar dapat membawanya ke kampungnya tanpa sepengetahuannya. "Kalau kamu takut, aku akan menutup matamu ya sayang" ujar Ansel. Namun Chalissa masih terdiam membayangkan ketinggian dari atas udara.


Saat akan menuju lantai 3, Chalissa sudah mendengar suara bising yang berasal dari helikopter. "Ayo sayang" Ansel menuntun istrinya untuk memasuki helikopter, tetapi tangan Chalissa menahannya. "Ans, aku takut naik helikopter. Kenapa gak pesawat biasa aja?"


Ansel mengusap pipi Chalissa dengan ibu jarinya, "Kita akan menutup matamu supaya kamu tidak melihat ke bawah. Kamu juga boleh berpegangan dengan erat di lenganku atau kalau mau aku akan terus memelukmu" guman Ansel dengan suara yang terdengar berbeda, karena sebenarnya sekarang perasaannya sedang berat.


Chalissa pun menurut pada suaminya. Ia duduk tenang di samping Ansel dengan mata yang sudah tertutup menggunakan masker penutup mata. Ia sangat pasrah, pikirnya masih menerka ke mana suaminya akan membawanya.


Tiba di sebuah atap hotel, di kampung halaman Chalissa.


Ansel membuka masker penutup mata istrinya, "Buka matamu sekarang sayang" titah Ansel, lalu Chalissa membukanya berlahan. Sorotan mata Chalissa masih menangkap pandangannya dengan gelap. "Ini di mana sayang?" heran Chalissa.


Ansel menggandeng tangan istrinya membawanya memasuki kamar hotel yang sudah dibookingnya melalui Harrys, dan sebenarnya kamar mereka bersebelahan dengan Harrys.


Setelah berada di dalam kamar, tibalah saatnya untuk Ansel menceritakan yang sebenarnya pada Chalissa. Ia menarik tangan Chalissa dan membawanya duduk di atas tempat tidur.


Tatapan Ansel begitu datar dan terlihat menyimpan kesedihan membuat Chalissa terus bertanya-tanya. "Ans sebenarnya ada apa?" ia terdiam berharap suaminya akan mulai menjelaskan keadaan sebenarnya. "Apa terjadi sesuatu pada perusahaanmu?" tanyanya lagi masih belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang merasuk di pikirannya sejak Ansel mengajaknya pergi.


Lalu Ansel menurunkan tubuhnya ke bawah tempat tidur, di sana ia jongkok berhadapan dengan Chalissa. "Aku harap kamu akan tegar. Aku akan menjelaskan semuanya, tapi kamu harus berjanji untuk menguasai dirimu" tutur Ansel membuat jantung Chalissa berdebar. "Plis jangan membuatku takut Ans" ungkap Chalissa.


Chalissa menyentuh kedua pipi Ansel sambil berkata "katakan Ans apa yang terjadi? percayalah, sebisa mungkin aku akan bisa menerimanya" ucap Chalissa.


Sebelum ia melihat suaminya hendak berbicara, Chalissa lebih dulu menarik dan mengatur napasnya. Sekarang ia dadanya seperti mulai terasa sesak untuk bernapas. Tapi ia berusaha sebisa mungkin menunjukkan ekspresi siap.


Ansel merebut tangan Chalissa, ia menggenggamnya dengan erat. Ia pun memberanikan diri mengungkapkan kebenaran yang terjadi.


Chalissa terdiam, tubuhnya seketika menjadi kaku berat sekali untuk bergerak. Awalnya ia masih mengeluarkan senyuman getir, hingga ia tersadar akan ucapan Ansel. Air matanya berlahan menetes, "Kau membohongiku?" tanya Chalissa tak mampu mencerna ucapannya suaminya.


Ansel memegang kedua bahu istrinya. Namun ternyata Chalissa melepaskan tangan Ansel dari bahunya. Air matanya kini menjadi lebih leluasa mengalir. "Katakan Ans, ini semua tidak benarkan?" kini ia menangis menutup sebagian wajahnya dengan kedua tangannya.


Ansel berpindah tempat duduk di samping istrinya, "Sayang, kita harus ikhlas. Ibu akan senang jika kita bisa melepaskannya dengan ikhlas" tutur Ansel membelai kepala istrinya.


Ansel membiarkan istrinya sejenak menangis, ia memeluknya dengan erat sambil terus membelai kepala hingga punggung istrinya.


Tak lama Hanny masuk ke dalam kamar itu, ia berusaha tegar tak mengeluarkan air mata. Ia ingin terlihat kuat agar dapat menguatkan sahabatnya yang sedang berduka atas kepergian ibunya, yaitu Bu Dewi.


"Gaes kalau kamu mau ucapin turut berdukacita untuk Chalissa, jangan lupa ya dukung dia dengan cara like, koment, kasih tip atau vote ke cerita novel ini ya... Terima kasih gaes" 😭


*


*


*


*


*


Happy Reading 😍