Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Pulang Kampung



1 bulan kemudian


Kehidupan Chalissa bersama dengan Ansel semakin harmonis layaknya sepasang suami istri. Sosok Ansel yang selalu berusaha dewasa mampu meluluhkan hati Chalissa yang sering ragu pada dirinya.


Seperti biasa pagi ini Ansel akan bersiap untuk bekerja. Dan Chalissa pun seperti biasanya akan membantu Ansel untuk berkemas.


"Gimana rasanya hamil usia 24 minggu?" tanya Ansel menatapi istrinya yang sedang membantu memakai dasi.


Senyuman Chalissa yang mulai merekah selalu membuat Ansel merasa nyaman.


"Si baby makin lincah, sepertinya dia mulai merasa sempit" Chalissa tertawa kecil menunjukkan betapa bahagianya dia.


"Oya??" jawab Ansel dengan ekspresi penasaran.


Chalissa menyentuh kedua pipi suaminya dan memberikan ciuman kecil di bibirnya. "yupp"


Dengan rasa penasaran, Ansel menyentuh perut istrinya dengan kedua tangannya dan menyentuhkan pipinya. "Hai baby apa kamu merasa sempit di dalam" ucap Ansel.


Kemudian mereka tertawa bersama, ketika dirasa ada balasan dari si baby dengan gerakan kecil di perut sang mama.


"Anak papa hebat sudah bisa merespon, hahaha" Ansel terkekeh takjub.


"Ans, kita jadikan pulang ke rumah ibu?? Aku kangen sama ibu" ucap Chalissa disertai dengan pernyataan.


Ansel mendadak mencium pipi istrinya yang sempat terlihat sedang memikirkan rumah yang sudah ia rindukan "Yup, sayang" ucapnya.


Karena kaget, Chalissa mencubit bahu Ansel "Ihhh, kebiasaan deh"


Ansel hanya tertawa melihat mimik wajah istrinya yang mengernyitkan keningnya.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Ansel sedang melakukan meeting dengan tim kerjanya di Perusahaan Netware Corporation.


Setelah meeting selesai.


"Berapa lama boss akan pergi?" tanya assistennya.


"Kemungkinan 4 sampai 5 hari" jawab Ansel.


Sambil berjalan beriringan di lorong kantor.


"Pak Ansel tadi ada pesan dari ibu Myra. Beliau berpesan supaya pak Ansel menghubunginya segera" ucap Davina.


"Terima kasih Davina"


"Bos sepertinya saya harus keruangan saya me" ujar Harrys.


Mereka berpisah. Ansel memasuki ruangannya begitupun dengan Harrys.


* * * * *


"Hallo ma" sapa Ansel melalui ponselnya yang terhubung pada mamanya.


"Mama sedang di rawat di rumah sakit. Bahkan kamu tidak punya waktu untuk mamamu yang sedang dirawat ini??!" suara Bu Myra yang terdengar sedikit kesal.


"Mama sakit?!! Mama di rawat di mana?" tanya Ansel yang terlihat menaikan kedua alisnya dan membuka matanya dengan lebar.


"Kamu tanyakan saja pada kakakmu!" Bu Myra langsung menutup sambungan telpon.


Ansel terpegun menatapi ponselnya. Lalu ia membuang napas dengan kasar.


Setelah sambungan telpon terputus, ia pun segera menelpon Monique untuk menanyakan keberadaan mamanya. Monique memberitahu kamar rawat Bu Myra.


* * * * *


"Gimana bi hasilnya?" tanya Chalissa menunjukkan hasil karya tangannya.


"Wah bagus non" puji bi Nani


"Terima kasih bi" respon Chalissa


"Non ternyata pandai membuat rajutan ya?" pujia bi Nani lagi, melihat selimut bayi hasil rajutan majikannya.


"Tuan gak salah menikah dengan non Chalissa" lanjut bi Nani masih memuji majikannya itu.


Chalissa tersipu dengan pujian bi Nani.


"Bibi bisa aja" balas Chalissa.


Tuttt... tuttt... tutttt


Chalissa meraih ponselnya, Ansel menelponnya.


"Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Ansel berputar di bangku kerjanya.


"Melanjutkan rajutanku"


"Ooo, apa belum selesai?" jawab pria di seberang telpon yang memposisikan kepalanya bersandar pada kursi kerjanya.


"Sudah"


Ansel merubah panggilan telponnya menjadi panggilan video.


"Coba buak videonya" titah Ansel.


Chalissa mengiyakan permintaan suaminya, ia menunjukkan hasil rajutannya. "Gimana menurutmu?" tanya Chalissa


"Sayang, siang ini aku mau ke rumah sakit" ucap Ansel


"Hah, siapa yang sakit" Chalissa tersentak.


"Mama"


"Yaudah nanti aku juga ke rumah sakit juga"


"Gausah sayang nanti kamu capek. Aaplagi nanti sore Kitakan mau ke kampungmu" jelas Ansel.


"Aku tetap datang sayang. Apa kata mama nanti kalau aku gak datang menjenguknya?"


"Hmmmm, yaudah deh. Tapi nanti kujemput ya"


"Gausah Ans, aku bisa naik taksi online saja. Sama-sama naik mobil, jadi kamu gausah khawatir" Chalissa segera berucap seperti itu, karena ia tahu pasti suaminya akan mengkhawatirkan dirinya. Jadi sebelum hal itu diucapkan oleh Ansel, dia lebih dulu meyakinkan Ansel.


"Okelah kalau begitu. Sampai ketemu di rumah sakit ya sayang, ingat hati-hati ya" pesan Ansel sebelum menutup sambungan video call.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Ansel sudah tiba di rumah sakit. Ia sudah memarkirkan mobilnya. Ia segera berjalan ke area pintu utama dan duduk di sebuah kursi panjang untuk menunggu kedatangan istri. Tapi sudah hampir 1 jam istrinya belum kunjung tiba.


Ansel merasa cemas, karena seharusnya Chalissa sudah tiba sekitar 15 menit setelah dirinya. Ia menelpon ponsel Chalissa tapi ponselnya malah tidak aktif.


Ansel berpindah tempat, ia memilih keluar dan berdiri di tangga pintu masuk. "Kenapa lama sekali dia ya?" tanya Ansel kebingungan. Ia berusaha kembali tenang.


"Ans, maaf aku lama" suara Chalissa terdengar muncul dari belakangnya.


"Lohh, kamu lewat mana?!!" Ansel terheran-heran.


"Lewat sini" Chalissa mencoba menelaah pertanyaan dan ekspresi suaminya.


Ansel terdiam sejenak


"Apa rasa bingung membuatku tidak fokus, hahhh... sudahlah" gumannya dalam hati.


Kemudian mereka berjalan beriringan menuju kamar Bu Myra.


* * * * *


"Akhirnya kalian datang juga!" ketus Bu Myra


Ansel mendekati Bu Myra kemudian memberikan pelukan sayang. Sedangkan Chalissa segera meletakkan parcel buah yang ia bawa, lalu berdiri di samping Ansel yang bingung harus melakukan apa.


"Apa mama harus sakit dulu baru kamu mau datang menemui wanita tua ini, Ans??!" omel Bu Myra yang tidak membalas pelukan putranya.


Matanya tertuju pada perut Chalissa yang sudah membuncit dengan usia kehamilan 24 minggu. Sadar dengan tatapan Bu Myra, Chalissa menorehkan senyuman kecil di pipinya yang membuat pipi chubby nya terlihat sangat manis dan menggemaskan.


"Bagaiaman kandunganmu??" tanya Bu Myra tanpa terlihat ada garis senyuman di wajahnya.


"Sehat ma" jawabnya singkat masih bertahan dengan senyumannya.


"Mama sakit apa?" sela Ansel


Bu Myra menghembuskan napas dengan kasar, "Mama sakit karena kesal padamu!" membuang wajah dari putranya, "Semenjak kau menikah, kau sepertinya melupakan wanita tua ini!" kembali mengomel.


"Bukan begitu ma. Ans, akhir-akhir ini memang sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi Ans kan selalu berusaha menghubungi mama" ucap Ansel berusaha mencari pembelaan dari kekesalan Bu Myra.


"Mama tidak suka hanya ditelpon Ans! Jarak rumahmu kan tidak jauh!!"


"Baiklah, Ans janji akan sering-sering berkunjung melihat mama" ucap Ansel mencoba merayu Bu Myra.


"Setelah anakmu lahir, mama ingin kalian tinggal di rumah mama!" titah Bu Myra


"Untuk beberapa hari gak masalah ma, tapi tidak untuk waktu yang lama" ucap Ans sambil tersenyum ke arah mamanya.


Bu Myra mendengus dengan ucapan putranya. Ia sedikit kecewa, karena putranya tidak memenuhi keinginannya.


"Sudahlah ma, Ans kan sudah menikah. Lagi pula Ans akan tetap mencintai mama kok" pernyataan Ansel.


Melihatnya kehangatan Ansel terhadap mamanya membuat Chalissa merasa kagum pada sosok suaminya. Terlihat jelas sisi kepribadian Ansel yang begitu lembut dan penyayang.


Hampir sore menjenguk Bu Myra dan berbincang-bincang dengan pak Richard yang kebetulan sudah hadir bersama mereka. Mereka pun memutuskan untuk kembali, karena petang mereka akan melakukan perjalan pulang ke kampung Chalissa.


.


.


.


.


.


Happy Reading 😍


Reader ikuti kisah mereka terus ya...


Berikan KOMENTARMU di kolom komentar.


Author akan selalu menunggumu reader memberikan VOTE dan LIKE pada Author.


Dan jangan lupa jadikan novel DON'T HATE ME, BABY! menjadi novel favorite kamu, supaya tiap Author UP kamu bisa langsung cepat membaca lanjutan kisahnya.


Terima kasih Readerku ❤️