Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Diluar Jangkauan



"Aku hanya ingin berbicara sebentar" pinta Bellvania yang masih kekeh berdiri di depan pintu kamar Ansel.


Harrys sudah berkali-kali menyuruh wanita itu pergi. Namun, dia keras kepala tak mau berlalu dari hadapan Harrys.


"Nona, anda wanita yang cantik. Bisakah anda mencari laki-laki lain di luar sana?" ujar Harrys merasa kesal dengan tingkah mantan kekasih bosnya itu.


"Apa kau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, tuan Harrys?" ledek Bellvania.


Harrys tersenyum getir.


Ia tak percaya, kalau wanita dihadapannya yang dulu dengan mudah berpaling dari bosnya kini berbicara tentang cinta.


"Siapa Harrys?" tanya Ansel yang sudah berjalan mendekatinya pintu.


"Ans, aku ingin bicara sebentar" teriak Bellvania.


"Kau? mau apa?" tatapan Ansel dengan sinis.


"Aku, aku minta maaf kejadian semalam" suara Bellvania lirih. Kata maaf yang keluar dari mulutnya tak mewakili sorot matanya. Ansel hanya menangkap kalau ucapannya tak benar-benar keluar dengan jujur.


"Daniel pasti sudah menceritakan semuanya padamu kan? Itu sebabnya, malam ini kau akan kembali ke Jakarta?" lanjut Bellvania.


Ansel mengepalkan tangannya, bila ia ingat ucapan Daniel akan niat buruk Bellvania padanya.


"Aku sudah menerima kata maafmu. Kau boleh pergi dari depan kamarku!" titah Ansel, kemudian berlalu dari hadapan Bellvania DNA Harrys.


Saat hendak akan menerobos. Harrys dengan sigap menarik tangan wanita itu, membawanya keluar.


"Sudah selesaikan? silahkan pergi!" ucap Harrys sedikit kasar.


Pintu tertutup.


Bellvania menahan murkanya dengan perlakuan Ansel padanya. Padahal dulu, Ansel begitu lembut dan penuh kasih sayang padanya. Namun, berbeda kini. Ansel bukan lagi pria yang dulu dengan setia mempertahankan dirinya meskipun terang-terangan dirinya sudah ketahuan selingkuh.


"Jangan panggil aku Bellvania, Ans. Jika aku tak bisa membalas sakit hatiku padamu!" ucap Bellvania penuh amarah.


***


Sudah dua hari ini, Ansel belum menghubungi Chalissa. Padahal sebelumnya, ia selalu menghubungi istrinya di pagi hari dan malam hari.


Sebenarnya, sebelum ia menuju bandara. Ansel berniat untuk menghubungi istrinya. Namun, karena malam ini dia akan kembali ke Jakarta. Jadi niatnya ia urungkan.


Harrys tak bisa mengantar Ansel ke bandara. Ia hanya mengantar teman sekaligus bosnya itu hingga menaiki mobil pribadi yang sudah disiapkan oleh tuan Ronald.


"Tuan, segera kabari saya jika tuan sudah sampai" pinta Harrys.


"Baiklah" Ansel masuk ke dalam mobil setelah ia pun berpamitan pada tuan Ronald.


Dalam perjalanan menuju bandara, tiba-tiba Ansel ingat kalau istrinya sangat suka makan pie susu. Ia berniat mampir untuk membeli kue cemilan tersebut.


"Pak, mampir di seberang sebentar ya." pinta Ansel.


"Tuan mau membeli sesuatu?" tanya sopir pribadi tua Ronald.


"Iya, saya hanya ingin membeli pie susu saja"


"Kita putar balik saja ya tuan" tawar sopir tersebut.


"Tidak perlu pak. Saya akan menyeberang saja" ucap Ansel.


Mobil pun berhenti, Ansel keluar dan menyeberang ke arah sebuah toko yang menjual cemilan khas Bali. Selesai membeli pie susu dan cemilan khas lainnya, Ansel kembali ke mobil berada di seberangnya.


Ansel berjalan tanpa sadar sebuah kendaraan pribadi melaju dengan kencang.


Cittttttt... Brak!!!


Sebuah kecelakaan terjadi, mobil yang dikemudikan oleh Bellvania menabrak sebuah kendaraan yang berada di jalan.


Sopir pribadi tuan Ronald berlari menghampiri Ansel. Beruntung, Ansel berlari dengan sigap menghindari kendaraan tersebut. Meskipun, ia juga mengalami sedikit luka benturan akibat menghindari kendaraa. tersebut.


"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya sopir cemas. Ia membantu Ansel bangun dari aspal.


"Saya tidak apa-apa pak, terima kasih"


Terlihat kerumunan orang sudah berkumpul melihat kecelakaan yang tak jauh dari tempat Ansel terjatuh.


"Antar saya ke sana pak" pinta Ansel, "tapi tuan..." Ansel menatap sopir, membuat sopir tak dapat melanjutkan ucapnnya. Ia pun membantu Ansel berjalan menuju kendaraan tersebut.


"Bellva" ucap Ansel kaget.


Ia melihat sosok wanita yang dikenalnya dalam keadaan pingsan. Ia sungguh tak percaya, apakah ini sebuah kebetulan? atau, ini memang faktor kesengajaan. Ansel dengan cepat meminta bantuan untuk membawa Bellvania ke rumah sakit.


Perjalanan ke rumah sakit. Ansel menghubungi Harrys. Harrys tiba bersamaan dengan Ansel yang juga tiba di rumah sakit. Harrys datang bersama dengan tuan Ronald, tuan Daniel, dan tuan Hendrik.


Tak lama, Ansel pamit untuk melanjutkan perjalanannya ke bandara. Masih ada waktu 1 jam lagi untuk check-in. Kali ini, Harrys sendiri yang mengantar Harrys ke bandara.


"Harrys, tolong jangan beritahu Chalissa kejadian ini jika dia menghubungimu" pinta Ansel.


***


Di tempat lain.


Chalissa mondar mandir terus menghubungi Ansel. Dia merasa cemas, karena ponsel suaminya tak bisa dihubungi.


Karena kecemasannya tak kunjung meredam. Akhirnya, Chalissa memutuskan untuk menghubungi Harrys. Tak mau membuat Chalissa cemas, Harrys pun memberitahu bahwa suaminya itu sedang dalam perjalan menuju Jakarta.


Sudah 4 jam menunggu suaminya. Namun, tak kunjung ada kabar dan tanda-tanda akan kedatangan suaminya itu. Chalissa kembali menghubungi ponsel suaminya.


"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan... tutt...tuttt...tuttt" Chalissa berusaha menenangkan perasaan dan pikirannya.


Satu jam belum ada kabar dan tanda-tanda kedatangan suaminya juga. Chalissa merasa frustasi. Ia kembali menghubungi Harrys. Harrys ikut cemas. Ia segera menghubungi call center maskapai penerbangan yang digunakan oleh Ansel.


"Penerbangan dengan nomor tersebut 2 jam yang lalu mengalami delay pak" jelas wanita yang berada di balik telpon tersebut.


Harrys pun segera mematikan telponnya. Ia menghubungi Chalissa, namun tak ada jawaban. Akhirnya, ia mengirimkan pesan. Sedangkan Chalissa, ia terusik oleh tangisan Killian setelah menghubungi Harrys. Sehingga ia memfokuskan diri untuk menidurkan Killian.


Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30. Chalissa sudah ikut terlelap di samping Killian.


***


Malam sudah berganti pagi. Matahari sudah menampilkan sinarnya, hingga menembus di sela tirai panjang.


Chalissa merasa, kini tubuhnya sedang terkungkung. Ia merasa sesak untuk bergerak. Ia buka matanya, berusaha kembali pada kesadarannya. Ia mulai merasakan bahwa tubuhnya sedang dipeluk erat, terasa sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan satu tangan lagi sudah melingkar di punggungnya. Ia membuka matanya dan melihat dada suaminya tanpa terbungkus kain.


Chalissa menggerakkan tubuhnya ingin melihat wajah suaminya.


"hmmm" suara deheman Ansel.


Chalissa tersenyum melihat pria itu sudah tertidur pulas di hadapannya. Chalissa membelai wajah Ansel dan membenamkan ciuman di pipi dan leher suaminya berkali-kali. Ia benar-benar merindukan suaminya.


"Ans..."Chalissa kaget, kini Ansel sudah menindihnya.


"Apa yang kau lakukan?" lanjutnya lagi masih kaget.


Ansel tersenyum, ia sudah membuka matanya.


"Aku lapar sayang" keluh Ansel, Chalissa berkerut. "Ya, sudah. Awas" berusaha untuk turun dari tempat tidur.


"Kau mau ke mana?" Ansel menahan pergerakan istrinya.


"Katanya kamu lapar. Aku akan membuat sarapan untukmu" ucap Chalissa salah mencerna kalimat suaminya.


"Aku bukan lapar makanan sayang" Ansel tersenyum penuh maksud lain. "Lalu?" Chalissa terheran dengan tatapan penuh selidik. "Lapar kamu sayang" bisik Ansel membuat Chalissa diam tak bergeming.


"Kenapa diam?" Ansel balik terheran. "Semalam kau ke mana? kenapa tak ada kabar dan Harrys bilang pesawat yang kau tumpangi take off jam 8 malam. Lalu kenapa lama tidak sampai?" Chalissa teringat akan malam hari. Awalnya, ia hanya gusar karena suaminya tak kunjung menghubunginya. Saat mencoba menghubungi suaminya malah ponselnya berada di luar jangkauan.


"O, maaf sayang. Dua hari yang lalu, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Dan kemaren...." Ansel menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Tak ada satu pun cerita yang dilewatinya.


Chalissa terkejut dengan cerita suaminya. Ia pun mendudukkan tubuhnya dan mengecek luka suaminya.


"Ini sudah tidak sakit kok sayang" ucap Ansel menunjukkan sikunya yang terlihat memar.


"Syukurlah tidak ada luka berat" Chalissa menghela napasnya.


"Maaf ya sayang, sudah membuatmu cemas" Ansel memeluk istrinya, mengelus pundak istrinya. Hingga akhirnya terdengar suara tangis Killian memecah. Ansel menghembuskan napasnya dengan kasar. Ternyata jagoannya tak memberinya waktu sebentar untuk bermesraan dengan mamanya.


Chalissa terkekeh lalu beranjak untuk mengambil Killian dari box tidurnya.


"Aduh anak papa sudah bangun ya, sini sayang, sama papa" celoteh Ansel meraih putranya yang kini sorot matanya sudah terbuka lebar melihat kehadiran papanya.


Killian dengan antusias menyambut uluran tangan papanya.


"Sekarang berduan dulu ya sama Killian" ucap Chalissa tertawa.


"Mau ke mana sayang?"


"Mau siapkan sarapan dulu" Chalissa keluar dari kamar.


*


*


*


*


*


Happy Reading 😍


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya readers, seikhlasnya. 🙏