Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Pertengkaran



Harusnya aku tahu bahwa cintamu adalah sebuah permainan.


Aku merasa sedih ketika orang yang aku sayangi ternyata lebih menyayangi orang lain. Tapi akan lebih menyedihkan melihat orang yang aku sayang ternyata hanya pura- pura menyayangiku.


~ Chalissa


Chalissa merasa dibohongi oleh Ansel. Gara-gara pesan dari Bellvania membuatnya tak berhenti menitihkan air mata. Matanya terlihat sembab dan sayup.


Malam ini dia tidak ingin melihat Ansel. Dia berpikir untuk mencari cara supaya bisa menghindar dulu dari Ansel.


Dia mengambil handphonenya, dan bermaksud untuk mengirimi pesan kepada Ansel.


"Aku ingin pulang ke rumah ibu sore ini"


Pesan Chalissa terkirim.


Ansel membaca pesannya, lalu membalasnya.


"Kenapa mendadak? Besok aku ada meeting sayang. Bagaimana kalau lusa kita ke rumah ibu?"


Pesan balasan dari Ansel.


"Kau tidak perlu ikut"


Balas Chalissa


"Tapi aku juga tidak bisa mengantarmu sayang. Supir tidak bisa mengantarmu mendadak, karena dia pun punya keluarga di sini yang menunggunya"


Ansel membalas lagi pesan Chalissa


"Aku akan naik bisa. Aku sedang bersiap-siap. Aku hanya ingin pamit supaya kau tidak mencariku"


Ansel segera membaca pesan dari istrinya itu. Rahang Ansel mengeras, ia merasa sulit memahami maksud dari istrinya.


Ia melakukan panggilan video. Namun Chalissa tidak membalas panggilannya.


****


"Permisi pak Ansel" panggil Davina memasuki ruangan Ansel.


Wanita seksi itu menyerahkan beberapa map kepada Ansel.


"Davina, pertemuan nanti sore bisa gak kamu reschedule?" tanya Ansel, mengingat ia sudah ada pertemuan dengan klien hanya berbincang-bincang.


"Maaf pak. Apa waktunya tidak terlalu mepet? Saya takut klien kita akan beranggapan jika perusahaan kita tidak profesional!" jelas Davina.


Ucapan Davina memang benar. Apalagi klien ini sudah lama meminta untuk mengatur waktu bertemu.


"Baiklah kalau begitu, saya akan menemuinya" terang Ansel.


Lalu Davina keluar.


Ansel mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Chalissa.


"Sayang sore ini aku ada pertemuan dengan klien. Nanti malam kita akan bahas masalah ini ya?, jadi tolong tetaplah di rumah, okay?!!"


Ansel mengirim pesan itu. Dan menunggu Chalissa membacanya.


Beberapa jam Ansel menyelesaikan pekerjaannya, hingga Harrys datang untuk mengajaknya melakukan pertemuan dengan klien sore ini. Ansel melirik pada ponselnya, ia membuka aplikasi message mengecek apakah Chalissa membalas pesannya. Jangankan membalas, membaca pun belum. Ansel sedikit frustasi dengan sikap istrinya sore ini.


Ansel memilih menelpon ke rumah dan memberi pesan kepada bi Nani agar menahan Chalissa jika dia bersikeras untuk pergi.


* * * * *


Pukul 20.00 Ansel dan Harrys baru saja keluar dari tempat pertemuan mereka.


Ansel mengecek ponselnya dan melihat 20 panggilan dari rumahnya.


"Hallo"


"Ha, hallo, hallo tuan" suara bi Nani terdengar tergesa-gesa


"Ada apa bi?!!" Ansel sudah merasa ada yang tidak beres.


"Tu, tuan no, nona pergi. Kami sudah menahannya tapi nona tetap memaksa untuk pergi tuan"


"APA?!!! Kenapa kalian biarkan!!! Tidak becus!!!" maki Ansel kesal.


"Maaf tuan" jawab bi Nani dengan suara sendu


"Jam berapa dia pergi??!" tanya Ansel sambil memberi kode pada Harrys untuk segera menyiapkan mobil.


"1 jam yang lalu tuan menaiki taksi online. Kemungkinan nona pergi ke terminal tuan" jelas bi Nani


Ansel memutuskan panggilannya dan berlari ke mobil, Harrys sudah menunggunya di dalam mobil.


"Kita ke mana bos??!" tanya Harrys yang sudah siap menginjak gas.


"Minggir, aku yang bawa mobilnya" ucap Ansel, lalu Harrys menyingkir.


Dalam perjalan menuju terminal, Ansel terus menghubungi Chalissa. Namun, Chalissa tetap tidak mengangkat telpon dari Ansel.


Ansel segera melacak keberadaan Chalissa. Bagi seorang Ansel melacak keberadaan Chalissa bukan hal sulit.


Tiba di terminal, ia segera mencari keberadaan Chalissa dengan bantuan alat pelacak yang ia gunakan.


"Chalissa" teriak Ansel yang telah menemukan istrinya.



Wanita itu pun tersentak mendengar suara Ansel, Ia mengarahkan pandangannya mencari arah suara yang memanggilnya.



Ansel melihat sorot mata istrinya yang baru saja menangis.


"Kamu kenapa??!! Bukannya aku sudah bilang tetap di rumah?!!!" Ansel membentak istrinya.


"Aku ingin pulang" ucap Chalissa dengan suara sumbang.


"Pulang?!!! Rumahmu itu bersamaku! Kau lupa sekarang kamu adalah istriku??!!" ucap Ansel dengan suara marah.


"Iya. Aku memang istrimu. Istri yang terpaksa kau nikahi!" ucap Chalissa sedikit menaiki nada suaranya. Air matanya pun ikut menjadi saksi atas ucapnnya.


"Apa maksudmu?!!" ucap Ansel mulai meredam emosinya.


Air mata Chalissa terus mengalir, Ansel tidak tahan melihat wanita itu terus menangis.


"Lepaskan!!! Aku mau pulang!!!" bentak Chalissa.


"Tolong jangan membuatku marah di sini Chalissa" pinta Ansel, matanya memerah menahan emosinya.


Ansel menarik tangan Chalissa dengan keras dan paksa. Harrys yang berdiri menyandar di mobil melihat bagaimana Ansel begitu terlihat kasar pada Chalissa.


"Harrys bawa mobilnya" ucap Ansel. Lalu ia menyuruh Chalissa masuk diikuti oleh dirinya yang duduk di belakang Harrys.


* * * * *


"Boss" panggil Harrys


Ansel yang ingin segera mengikuti Chalissa masuk ke dalam rumahnya, seketika berhenti dan menoleh pada Harrys.


"Kenapa?!" tatapan Ansel terlihat sangat marah.


"Istrimu sedang hamil, jangan terlalu memarahinya" ucap Harrys.


Mungkin Harrys terlihat kurang ajar mencampuri urusan pribadi bossnya. Tapi Harrys adalah orang yang juga tahu tentang riwayat Chalissa yang pernah mengalami depresi. Ia hanya takut kalau bossnya marah akan melupakan psikologi Chalissa.


CLEKKKK


Suara pintu terbuka


BLAKKKK


Ansel menutup pintu kamarnya dengan kasar. Di sisi ranjang Chalissa sudah terlihat menangis.


"Kenapa kamu tidak mendengarkan ku?!!" suara Ansel melepaskan kemarahannya.


Ia berdiri mengangkat kedua tangannya di pinggang.


"Apa kamu gak tahu aku khawatir?!!!" bentak Ansel.


"Khawatir?! Siapa yang kamu khawatirkan??!!!"


"Maksudmu??" tanya Ansel meredam nada suaranya.


Ansel mendekati Chalissa, menjongkokkan tubuhnya berhadapan dengan istrinya yang duduk di sisi ranjang.


"Aku belajar mencintaimu, Ans! Aku berusaha menerima kenyataan bahwa kau adalah papa dari anakku. Tapi kau mengkhianatiku" Chalissa berbicara sambil menangis membuat suaranya terdengar berat.


Hati Ansel terenyuh ketika istrinya dengan perasaan berat harus mengungkapkan kekesalannya.


"Maksudmu mengkhianatimu apa??" tanya Ansel, kini suaranya sudah mulai lembut.


Chalissa mengambil ponselnya, lalu menunjukkan video yang dikirimkan oleh Bellvania.


Hatinya seolah dicabik-cabik, Ansel geram dengan ulah Bellva. Ia mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras.


"SIALAN BELLVA" batin Ansel.


Ansel tak menyangka itu adalah jebakan yang akan digunakan mantan kekasihnya untuk menghancurkan rumah tangganya.


"Sayang maafkan aku. Aku akan menjelaskan semua padamu" bujuk Ansel mencoba menenangkan Chalissa yang masih terus menangis.


Ansel pun menjelaskan detail permasalahan malam itu. Ia pun mengakui kesalahannya yang sempat terpengaruh oleh kerinduannya pada sosok wanita itu. Ansel berjanji tidak akan mengulangi kejadian itu lagi.


"Ans, katakan dengan jujur" ucap Chalissa


"Apa??"


"Apa kau memang pernah melakukan hubungan intim dengan kekasihmu??!" pertanyaan Chalissa membuat Ansel tersudut.


"Sayang, dia mantan kekasihku"


"Aku tidak peduli dengan statusnya yang benar!" ketus Chalissa


"Jawab pertanyaanku, Ans!" Chalissa menuntut jawaban dari Ansel.


"Iya. Tapi itu dulu. Dulu sebelum kita bertemu" papar Ansel.


"Jadi kau memang sudah pernah melakukan hubungan itu, atau itu sering kalian lakukan?!!" ucapan Chalissa seraya pisau sedang mengiris hatinya.


"Sayang"


"Lepaskan! Lepaskan tanganmu!!" ucap Chalissa seolah jijik melihat suaminya.


Bagi para wanita dan pria bebas mungkin itu bukanlah hal tabu. Tapi berbeda bagi Chalissa yang biasa menjaga norma-norma sosial. Hal itu sangat tidak lazim untuk dilakukan bagi pasangan yang bukan suami istri.


"Sayang itu hanya masa laluku" jelas Ansel.


"Iya, itu memang masa lalumu! Tapi aku butuh waktu untuk menerimamu lagi" ungkap Chalissa menghindari suaminya.


"Aku akan tidur di kamar yang ditempati oleh ibu. Tolong hargai keputusanku" tutur Chalissa berusaha tegar.


Ia keluar sambil mengambil beberapa pakaiannya. Mungkin beberapa hari ia akan tidur terpisah dari suaminya.


Ansel menerima keputusan Chalissa. Mungkin saat ini lebih baik seperti itu, daripada Ansel harus melihat Chalissa pergi.


.


.


.


.


.


Happy Reading 😍


Reader ikuti kisah mereka terus ya...


Apakah Ansel dan Chalissa akan marah dalam waktu lama??! Lalu Ansel harus berbuat apa untuk meredam kemarahan Chalissa???


Berikan KOMENTARMU di kolom komentar.


Author akan selalu menunggumu reader memberikan VOTE dan LIKE pada Author.


Dan jangan lupa jadikan novel DON'T HATE ME, BABY! menjadi novel favorite kamu, supaya tiap Author UP kamu bisa langsung cepat membaca lanjutan kisahnya.


Terima kasih Readerku ❤️