
Selesai menikmati makan malam. Chalissa memilih masuk ke dalam kamarnya. Lissa memilih masuk ke dalam kamarnya, karena ia merasa canggung berada di dekat Ansel. Terlebih lagi dengan kejadian tadi pagi saat Ansel menciumnya.
"Hallo" ucap Lissa lewat telpon genggam miliknya
"Hallo kak, ada apa kak?" tanya seorang perempuan yaitu Rissa
"Kamu dan ibu apa kabar dek?" tanya Lissa.
Ia begitu merindukan adik dan ibunya itu.
"Sehat kakk. Kakak bagaimana?" kata adiknya balik bertanya
"Kakak sehat dek"
"Mana ibu dek?" tanya Lissa ingin mendengar suara Bu Dewi, ibunya.
"Ibu sudah istirahat kak"
"Bagaimana pekerjaan kakak? pasti enak ya kak di Jakarta" tanya Rissa polos
Lissa hanya tersenyum getir. Dari lubuk hatinya ia sebenarnya ingin sekali bercerita pada ibunya tentang semua yang menimpa dirinya, bahkan mungkin ia membutuhkan ibunya untuk bertanya seputar tentang kehamilan. Tapi semua itu hanya bisa ia teguk seorang diri.
"Gak dek. Masih lebih enak di kampung tinggal sama kamu dan ibu dek" ungkap Lissa memejamkan matanya lantaran menahan suara parau nya.
Hampir dua jam tak terasa mereka mengobrol.
Tok... tok... tokkk
Terdengar suara ketukan pintu, Ansel muncul.
"Yaudah ya dek. Kamu harus istirahat. Besok kita sambung lagi" ucap Lissa, kemudian menutup sambungan telponnya.
***
"Kau belum tidur?" ucap Ansel seraya bertanya
"Belum. Ada apa?!" tanya Lissa heran melihat kehadiran Ansel di kamarnya.
"Aku hanya bosan di kamarku sendiri. Jadi aku ke sini" ucapnya dengan ringan
Chalissa mengernyitkan matanya, tidak memahami maksud dari perkataan Ansel.
"Kalau dia bosan kenapa ke kamarku" batin Lissa
Lissa yang sedang duduk bersandar pada kasurnya sambil meluruskan kedua kakinya, dibuat terkaget saat Ansel memutuskan untuk ikut melakukan hal sama sepertinya di sampingnya.
"Apa yang kamu lakukan?!!" tanya Lissa dengan nada suara agak membentak.
"Apa aku gak boleh di dekatmu??!" jawab Ansel kesal dengan nada suara Lissa
"Aku hanya ingin dekat dengan si baby!!" imbuhnya terdengar sedang marah.
"Tapi aku muak di dekatmu! Pergilah dari kamarku!!" bentak Lissa, membuat Ansel kecewa dengan sikap wanita itu.
Ansel sungguh tidak mempercayai sikap wanita itu bisa sekasar itu berbicara dengannya.
"Keluarlah. Aku risih kalau kau di sini!" suara nada suara Lissa sedikit merendah tapi masih terdengar ketus.
Ansel berdecak kesal, kaki segera mendarat pada lantai kamar Lissa, dan keluar dengan menutup pintu agak keras.
Di dalam kamarnya, Ansel terus berjalan mondar mandir. Selama ini Ansel sudah berusaha bersikap baik dan sabar pada Lissa. Awalnya ia memaklumi sikap wanita itu, pikirnya mungkin wanita itu masih bersikap dingin, merah, dan benci padanya karena perbuatannya. Ansel tidak memusingkan sikap Lissa padanya, ia berusaha memperhatikan wanita itu meskipun ia juga tidak mencintainya.
Tapi malam ini, rasanya Ansel telah ada di batas ambang kesabarannya. Haruskah ia menuruti keinginan wanita itu??? Pergi, meninggalkan wanita itu sesuai permintaannya??? Atau, haruskah dia tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatannya??! Tapi tidak, mungkin dia bisa tidak peduli pada wanita itu. Lalu bagaimana dengan bayi dalam rahim wanita itu??? Itu anaknya, tidak mungkin ia mencampakkan anaknya!!!
Karena merasa kepalanya mulai memanas, Ansel memutuskan untuk mencari ketenangan di luar. Ia pergi menggunakan mobilnya mencari ketenangan. Lissa mendengar suara mobil yang menyala. Dari balik kaca ruang tamu, ia melihat Ansel pergi.
* * * * *
"Boss!!!" teriak Harrys terkesiap melihat sosok Ansel berdiri di depan pintu apartemennya.
Kebiasaan Ansel jika sedang gabut tempat Harrys menjadi sasarannya.
"Kau melihat hantu?!" melototkan matanya, berdecak kesal.
Ansel berusaha untuk masuk tapi Harrys berusaha menahan Ansel supaya tidak masuk.
"Apa yang kau sembunyikan!" ucap Ansel melongok berusaha mencari tahu di dalam apartemen Harrys.
"Boss ngapain ke sini??! Kenapa gak kabarin dulu sih?!!" gerutu Harrys, tidak mau pusing dengan kekuatannya Ansel berhasil menerobos pertahanan Harrys.
Ia tidak menemukan hak aneh di dalam ruangan apartemen itu. Ansel tersenyum miring ketika ia mencoba akan melangkah ke dalam ruangan pribadi Harrys yaitu kamar. Harrys benar-benar dibuat frustasi dengan ulah bossnya itu.
Sebelum Ansel berhasil memasuki kamar milik Harrys, sosok wanita muncul dari dalam kamar.
"SIALL!!!!" decak Harrys
"O...o..." Ansel tersenyum geli kebarah Ansel sambil mengangkat kedua tangannya.
***
"Kenapa kau menyuruh wanita itu pergi?!" goda Ansel menerima segelas wisky dari Harrys.
Ansel tertawa girang melihat ulah assisten.
"Ternyata kelakuanmu masih belum berubah ya" cibir Ansel dengan candaannya.
Harrys melihat bossnya dengan tatapan menyelidik.
"Segitu marahnya?!!" cetus Ansel membalas tatapan tajam kepada Harrys
"Ada apq pak boss datang??!!" Harrys merasa yakin tidak mungkin bossnya itu muncul kalau bukan suatu hal.
Ansel berhenti menertawakan assistennya itu, wajahnya berubah menjadi datar. Suasana menjadi hening sesaat. Hanya terlihat Ansel sedang memainkan gelasnya yang masih berisi sedikit wisky di dalamnya.
"Apa boss baru berdebat dengan si calon ibu" Harrys menyeringai wajahnya dengan tatapan yang menatap ke sembarang arah.
Ansel mengarahkan gelasnya kepada Harrys sebagai kode, ia meminta Harrys mengisi gelasnya lagi dengan wisky. Harrys menuruti permintaan bosnya itu.
"Menurutmu apa aku harus menikahinya atau tidak usah??!" Ansel melempar pertanyaan yang kini menjadi keraguan di pikirannya.
"Boss bertanya pada saya! Jujur saya masih ingin bebas" ucap Harrys yang terdengar lebih tidak berperasaan.
"Kalau boss memang belum siap, kenapa harus memaksa. Lagi pula itu bukan kesalahan boss sepenuhnya. Salahkan saja dia kenapa dia dengan konyol menyelinap ke kamar orang sembarangan!!" ungkap Harrys
"Kenapa kau jadi bengis begitu" ucap Ansel merasa tidak dapat solusi dari jawaban Harrys.
"Tapi apa boss serius akan menikahinya??"
"Entahlah!!" Ansel menyunggingkan senyuman khasnya.
Malam itu layaknya seorang teman, mereka berdua saling mengeluarkan kekonyolan masing-masing. Ditambah otak mesum Harrys yang tidak berhenti berceloteh tentang beberapa wanita yang sudah ia tiduri. Ansel dan Harrys memang bagai telapak tangan yang berbanding terbalik.
Semasa hidupnya hanya Bellvania lah wanita yang pernah menjadi kekasih hati yang sangat ia cintai. Terbukti ketika ia tahu saat meniduri Bellvania, wanita itu ternyata sudah tidak virgin. Tapi itu bukan persoalan bagi Ansel, karena hatinya memang terpaut pada sosoknya.
Bisa jadi jika Chalissa dan janinnya tidak hadir, mungkin Ansel akan menerima Bellvania lagi. Karena sampai detik ini pun tidak dipungkiri kalau ruang hatinya masih diisi oleh sosok wanita itu.
"Sudah tengah malam. Apa boss yakin bisa pulang sendiri??!" tanya Harrys was-was harus membiarkan bossnya pulang dengan mengendarai mobil sendiri.
"Kau seperti baru mengenalku" ujar Ansel yang terlihat sedikit sempoyongan.
"Sudah, sana kau cari wanita-wanita yang bisa menemanimu lagi, Hahaha" Ansel mulai meracau.
Gubrakkk...
Harrys segera membantu Ansel yang kesadarannya mulai oleng. Harrys memutuskan mengantar Ansel pulang.
"Tapi aku harus mengantar dia ke mana? Hah" bingungnya memukul stir kemudi.
Seolah Ansel tahu dengan kebingungan Harrys.
"Kita harus ke tempat Chalissa itu" antara sadar atau meracau.
* * * * *
Di rumah.
Beberapa kali Chalissa selalu terbangun, tidurnya sangat tidak nyenyak. Pikirannya terus mengingat Ansel. Beberapa kali ia juga mengecek kamar Ansel untuk mengetahui apakah Ansel kembali atau tidak.
Tittt... tutttt... terdengar suara mobil.
Chalissa mengintip di balik jendela.
CLEKKKK
"Maaf Chalissa mengganggumu" ucap Harrys kewalahan membantu Ansel untuk berdiri tegap.
"Sudah Harrys, kau boleh pulang" ucap Ansel menahan kepalanya yang pusing.
Harrys berpamitan pulang kepada Chalissa, ia pulang menggunakan mobil Ansel.
.
.
.
.
.
Gaes semoga kalian sukak ya sama ceritanya... pliss jangan lupa dukungan untuk author ya...
Terima kasih 🙏
.
.
Happy Reading 😍