
"Jika ada yang bertanya, siapa yang kau cintai???.... Maka aku akan menjawab... Ansel Zaccheo Putra..."
~ Chalissa
❤️
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Malam itu mereka begitu lelah. Mereka tertidur pulas di dalam kurungan badcover. Ansel memeluk Chalissa dari belakang punggungnya. Tubuh mereka yang masih polos tanpa sehelai kain, membuat Ansel lebih intim saat membelai anaknya dalam perut istrinya.
Sejak menikah dengan Chalissa, mereka melakukan hubungan intim baru tiga kali hingga Chalissa sering mengalami kram perut tiap selesai melakukan permainan panas itu. Ketiga kalinya mereka mencoba mendiskusikan permasalahan yang dialami Chalissa kepada dokter Claudia. Sejak itulah dokter Claudia memberi saran untuk tidak melakukan hubungan intim itu sampai kandungan Chalissa kuat dan sehat.
Sampai akhirnya, saat kemarin dokter Claudia memberinya lampu hijau. Ansel seketika mengatur semua rencananya. Selain itu, Ansel juga bermaksud ingin menyelesaikan masalahnya dengan Chalissa.
Chalissa mulai tergugah dari tidurnya. Saat matanya terbuka ia merasakan tangan Ansel berada di perutnya. Ia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan suaminya.
Chalissa dengan dalam menatapi wajah Ansel yang masih tertidur dengan lelap. Terpancar rona kebahagian di wajah wanita itu saat melihat wajah tampan suaminya yang terlihat apik.
"Apa belum puas melihatku terus?" terdengar suara Ansel di sela-sela lamunan Chalissa.
Ia terbangun karena merasakan pergerakan Chalissa yang membalikkan tubuhnya. Namun, ia kembali menutup matanya tanpa sengaja.
Wajah Chalissa berubah datar seolah tertangkap basah sedang mencuri pandang pada laki-laki gebetannya.
Ansel menarik ujung bibirnya menciptakan garis senyuman di sana. Sedangkan matanya masih tertutup mengijinkan istrinya agar lebih leluasa memandanginya terus.
Chalissa berdecak, decakannya terdengar ke telinga Ansel. Pria itu membuka matanya melihat raut wajah yang menekuk. Kemudian ia tertawa meringis.
"Jangan melihatku seperti itu" ungkap Chalissa menahan wajahnya agar tidak terlihat sedang menahan malu.
"Kenapa? kau malu padaku???" ucap Ansel membuat jantung Chalissa berdegup, karena Ansel tahu usahanya yang sedang menahan malu.
"Tidak" mengelak.
Ansel tidak menangkis bantahan istrinya. Dia lebih memilih merapikan rambut wanita itu dan menyelipkan surai itu di balik telinganya.
"Apa hatimu merasa lebih baik hari ini?" ucap Ansel setelah ia menyelipkan surai itu di balik telinga istrinya.
Tidak menjawab pertanyaan Ansel, Chalissa malah terdiam. Rona di wajahnya terlihat memancar.
"Apa kau tidak mau tahu bagaimana perasaanku hari ini??! tanya Ansel berharap pertanyaan itu akan terlontar untuknya.
"Bagaimana?" balas Chalissa
"Aku sangat bahagia sayang. Aku tidak menyangka kehamilanmu berpengaruh pada permainan panas kita" jawab Ansel menyelipkan senyuman nakal di wajahnya.
Lagi-lagi Ansel membuat Chalissa merasa malu. Wajahnya sudah semakin jelas terlihat memerah.
"Kau membuatku gila sayang" ungkapnya lagi, dengan senyumanan nakal dan matanya yang genit.
Chalissa semakin tidak tahan melihat keusilan Ansel yang sengaja ingin menggodanya. Ia menghela napas sebentar, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Ansel.
"Apa kita bisa melakukannya lagi sayang" bisik Ansel memberikan sensasi geli di telinga Chalissa.
Ia menciumi telinga dan leher istrinya. Lalu berusaha mendekatkan keintiman mereka berdiam.
"Stop Ans, sudah cukup" balas Chalissa, tubuhnya menggeliat sesaat merasakan sentuhan bibir suaminya.
"Aku masih menginginkannya sayang, hanya sebentar saja" bujuk Ansel
"Tapi tubuhku lelah Ans" ungkap Chalissa.
"Aku akan memainkannya dari belakang sayang, kau tidak perlu mengeluarkan banyak tenangamu" Ansel masih berusaha membujuk istrinya.
Pikir Chalissa mana mungkin. Tapi ya namanya juga Ansel, yang lagi kesemsem bakal terus berusaha melancarkan bujukannya sampai mendapatkan ijin. Entahlah pikiran apa yang menyelimuti Ansel hingga membuatnya benar-benar ketagihan ingin melakukannya lagi.
Chalissa merasa percuma melakukan debat terlalu lama, karena pada akhirnya dia yang akan kalah.
"Tapi pelan ya Ans" menyetujui kemauan suaminya.
Ansel menyunggingkan senyumnya. Kali ini dia akan melakukan dengan perlahan. Sesuai dengan janjinya. Seperti yang sudah-sudah, permainan mereka berlangsung lumayan panas dan lama juga, apalagi Ansel yang kemaren sore sudah mendapatkan pelayanan memuaskan pasti akan menuntut kepuasan yang sama. Hingga Chalissa benar-benar dibuat lelah, dan dia menyerah pada Ansel.
Beruntung Ansel cepat sadar akan ketidaksanggupan istrinya meladeni hasratnya. Ia segera menyudahi permainannya.
"Maafkan aku ya sayang" Ansel berusaha menenangkan istrinya yang sangat terlihat lelah.
"Apa kamu sudah merasa puas sekarang" jawab Chalissa dengan napas yang masih ngos-ngosan.
Ansel terkekeh menanggapi wajah memelas istrinya.
"Iya sayang maaf deh, gak seperti itu lagi deh" tutur Ansel, yang membaringkan tubuh Chalissa menyender pada dadanya.
"Ans"
"Hmmmm"
"Apa dulu kamu sering melakukan ini dengan Bellvania? Atau mantan kekasihmu yang lainnya?!"
Sejenak Ansel terdiam, "Mantan kekasihku hanya Bellvania, sayang" ungkapnya.
"Lalu" Chalissa masih menunggu jawaban selanjutnya.
"Dulu kami memang pernah melakukan ini beberapa kali, aku lupa" tatapan mata Ansel sendu ada perasaan berat untuk menjawab pertanyaan istrinya.
"Berkali-kali" Chalissa terdiam
"Apa kau begitu menikmatinya?!" hanya kekecewaan yang tergambar dari nada suara Chalissa.
"Sayang pliss, jangan bahas ini lagi" pinta Ansel merasa risih ketika istrinya terus menanyai masa lalu pribadinya.
"Ans, apa mungkin kamu bisa melakukannya dengan orang lain" Chalissa sedikit takut meloloskan kalimat itu dari bibirnya.
"Maksudmu apa?!!" Ansel terperanjat mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya, ada sedikit perasaan dihina dari kalimatnya.
"Maafkan aku, Ans, aku hanya bertanya" suara Chalissa terdengar melankolis.
Ansel melonggarkan pelukannya, ia menatapi tatapan netra istrinya. Terdapat manik di sorot matanya.
"Apa kamu melihatku serendah itu?!!"
"Sayang, aku hanya akan melakukan hubungan intim dengan seseorang yang berarti dalam hidupku. Aku tidak butuh wanita lain atau pun mencari wanita nakal untuk memenuhi hasratku"
Ansel mengarahkan wajah Chalissa untuk melihat tatapannya yang sendu "Jadi tolong jangan menganggapku begitu rendah" suaranya terdengar hancur.
"Sudahlah" Ansel menciumi puncak kepala istrinya.
"Dulu aku memang pernah melakukan kesalahan dengan Bellva. Tapi, aku bukanlah orang pertama yang pernah melakukan itu dengannya. Meskipun begitu, aku bertekad akan menikahinya, aku berusaha setia dengannya. Sampai akhirnya dia sendiri yang berpaling dariku"
"Dan aku akui, aku melakukan kesalahan lagi malam itu dengan memaksamu. Malam itu aku benar-benar hancur, aku berusaha memaafkan kesalahannya tapi dia justru melakukan kesalahan lagi dengan meninggalkanku"
"Waktu aku sadar kalau sudah aku memaksamu dan aku juga sadar ternyata aku adalah orang yang sudah mengambil yang berharga darimu. Sesuatu yang tidak bisa aku kembalikan lagi"
"Sayang, hatiku hancur saat aku mendapatimu mengalami depresi. Ada perasaan bersalah yang tidak bisa aku obati. Satu-satunya yang bisa kulakukan saat itu adalah menjagamu"
Kalimat demi kalimat menembus hati Chalissa. Hatinya luluh, dan bahkan ia mulai berpikir mungkinkah saat itu Ansel pun sebenarnya syok dengan kejadian malam itu.
"Apa kau juga sebenarnya terluka dengan kejadian malam itu? tanya Chalissa sorot matanya begitu dalam.
"Yang jelas tidak seterluka kamu sayang" memberikan ciuman sekilas pada bibir istrinya.
Chalissa tersenyum menerima perlakuan suaminya.
"Kamu sendiri bagaimana? Aku belum pernah tahu tentang kehidupan pribadimu"
"Ceritakan tentang masa lalumu, tentang kekasihmu" ucap Ansel membuat wajah Chalissa berubah menjadi polos.
Chalissa menghela napas panjang, lalu dengan pelan yang melepaskan napasnya.
"Kehidupanku hanya penuh dengan merawat ibu, bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli obat ibu, dan sekolah Rissa. Itu saja Ans, biasa saja" jelas Chalissa
Sesaat Ansel mencoba untuk menyelidiki netra istrinya, "Apa kau tidak punya kekasih??" masih ragu.
"Waktuku sudah terlalu sedikit untuk kubagi. Bahkan, untuk diriku saja kadang tidak ada" Chalissa berucap tanpa beban.
Ada perasaan senang yang timbul pada diri pria itu. Tapi sekali lagi dia mencoba mengupas kembali. "Tapi sebelumnya kau pernah punya pacarkan atau kekasih begitu?!"
ucapnya.
"Aku gak pernah mikirkan itu, Ans"
"Tidak ada ruang dihatiku yang cukup, selain mengisinya dengan suka dan duka akan keluargaku, Ans" lanjut Chalissa
"Sebenarnya aku punya kakak laki-laki"
"Lalu di mana dia?!!"
"Namanya kak Kenan. Satu tahun sebelum kepergian ayahku, dia pergi meninggalkan rumah karena ayah melarangnya untuk mengikuti pergaulan bebas. Hingga saat ini belum pernah kembali"
Chalissa menghela napas
"Kami semua sangat kehilangan dia. Terutama ayah. Dia terus mencari keberadaan kak Kenan, hingga ke Jakarta. Dan di kota inilah ayahku meninggal, Ans. Sebuah bus menabrak ayahku, mungkin saat itu ayah lelah sehingga tidak melihat bus yang melintas. Kecelakaan itu merenggut nyawa ayahku, kejadian itu 5 tahun yang lalu saat aku masih di bangku SMA" ucap Chalissa, air matanya menetes.
"Sejak kepergian ayah semua berubah, tidak ada pemasukan untuk kehidupan kami. Saat itu aku mendapatkan beasiswa untuk masuk ke universitas terbaik, dengan terpaksa aku melepaskan kesempatanku. Dan memilih bekerja untuk memenuhi kehidupan di rumah" Chalissa masih meneteskan air matanya.
"Hingga aku percaya pada teman yang salah. Aku memutuskan menerima ajakan temanku untuk bekerja di kota ini. Bahkan aku menerima tawaran itu tanpa tahu pekerjaannya. Mungkin aku terlalu naif saat itu. Sampai aku tidak sadar bahwa aku masuk ke dalam lubang yang salah"
Melihat kerapuhan istrinya, Ansel menggenggam tangannya memberikan ketenangan.
"Malam itu, adalah hari pertama aku bekerja Ansel" tatapan sorot mata Chalissa yang menatap Ansel menunjukkan betapa hancurnya dirinya.
"Aku sangat takut dan memutuskan melarikan diri dari salah satu kamar di hotel itu, dan aku memilih masuk ke dalam kamarmu" ucapan Chalissa terhenti, dadanya terasa sesak.
Ia memejamkan matanya membuat buliran air bening yang masih terbendung mengalir dengan leluasa. Sedangkan Ansel terus diam menatapi istrinya. Ada duka yang seolah terkuak kembali.
"Malam itu rasanya aku tidak mampu hidup lagi. Sebagian jiwaku seolah hilang, aku hancur mendapati diriku dilecehkan. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Itu sebabnya aku melukai urat nadiku saat kau pergi" Chalissa mencoba menguatkan dirinya. Namun, ternyata dirinya terlalu rapuh.
Ansel tak kuasa mendengarkan ungkapan hati istrinya. Ungkapan hati yang selama ini ingin diketahuinya akhirnya terkuak. Betapa malu dan bersalah dirinya terhadap wanita yang pernah diperkosanya, wanita yang kini menjadi istrinya.
Air matanya ikut menetes seolah merasakan bagaimana menderitanya Chalissa saat itu.
"Maafkan aku sayang" ungkap Ansel memeluk istrinya begitu erat. Air matanya terus tumpah membasahi pundak istrinya yang telanjang.
"Ans, apakah itu takdir yang harus kita lalui??!" pertanyaan Chalissa membuat Ansel tak mampu menjawabnya.
Ansel melepas pelukannya. "Jika itu takdir kita, apakah kau benar-benar akan memaafkanku???"
Ansel tersentak, Chalissa mencium bibir suaminya dengan dalam.
"AKU MENCINTAIMU, ANS!" ucapan itu bagai obat pelipur lara.
"Mari kita berjanji sayang" Ansel diam sejenak, "Berjanji kita akan saling mempercayai" ajak Ansel, kembali memeluk istrinya, sesekali menciumi kening Chalissa dengan rasa sayang.
.
.
.
.
.
Happy Reading 😍
Semoga chapter ini berfaedah ya readerrr...
Semangat ya reader untuk mengikuti kisah Ansel dan Chalissa selanjutnya...
Jangan lupa berikan LIKE dan VOTE kalian reader...
Dan Author berharap kalian juga mendukung dengan memberikan KOMENTAR kalian akan tingkat kesukaan dan kepuasan kalian saat membaca novel karya Author
Jangan lupa klik FAVORITE
Terima kasih readerku 🙏