Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Posesif



Pagi hari Rissa sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Eh non Rissa sudah siap mau sarapan?" tanya bi Suti yang baru saja selesai merapikan hidangan di meja makan.


Rissa tersenyum lalu ia menarik kursi dan segera menduduki tubuhnya di situ.


"Bi, kak Lissa belum keluar ya dari kamar?"


"Tadi sih udah non, trus masuk lagi karena dengar suara Killian menangis."


"Ouh"


"Non, hari ini berangkat dengan tuan Ansel kan?" tanya bi Suti sebelum pergi meninggalkan Rissa, yang hendak menikmati sarapannya.


"Iya bi" ucapnya sambil menganggukan kepalanya.


* * *


"Duh duh duh, anak papa kenapa nih kok nangis gitu sih" Ansel segera menghampiri putranya yang kini ada dalam gendongan mamanya.


"Tadi aku haus papa" suara Chalissa menirukan suara layaknya anak kecil.


"Ih anak papa yang sudah mau 1 bulan, cepat sekali ya besarnya"


"Iya dong pa, aku kan mau cepat-cepat besar biar bisa sekolah kayak aunty"


"Kamu udah sarapan sayang?" tanya Ansel kepada Chalissa.


"Belum Ans, tadi..."


"Sayang"


Chalissa tersenyum. Ia lupa kalau Ansel meminta untuk tidak lagi memanggil namanya.


"Iya papa, tadi mama belum sarapan karena Lian udah lapar duluan" ucap Lissa menjawab pertanyaan Ansel dengan suara anak kecil seraya Killian yang menjawabnya.


"Yaudah sini aku gendong dulu sayang, kamu sarapan saja dulu ya" titah Ansel


"Gausah deh sayang, nanti aku bisa minta tolong bi Nani atau bi Suti. Kasihan Rissa, dia kayaknya udah siap deh"


Tok... tok... tok...


"Kak Ansel, Rissa udah mau berangkat nih" teriak Clarissa


Ansel dan Chalissa saling menatap.


"Yah, aunty sudah manggil papa sayang" ucap Chalissa.


* * *


"Kak Ans, nanti pulang sekolah boleh gak Rissa pergi sama teman-teman dulu"


"Kemana?" timpal Chalissa


"Hmmm, Rissa mau hang out ke mall kak"


"Kakak akan ijinin asalkan pulangnya kakak yang jemput" ucap Ansel tanpa menatap Clarissa.


"Tapi kak.."


"Ya sudah tidak usah" ucap Ansel tak mengijinkan Rissa melanjutkan kalimatnya.


"Ih posesif sekali" desis Rissa kesal.


"Hemmm" Ansel berdehem membuat Rissa diam menikmati sarapannya.


Selesai sarapan Ansel lebih dulu turun ke bawah.


"Kak, ayolah bujuk kak Ansel" rengek Rissa


"Memang kenapa kamu gak mau dijemput sama kak Ansel dek?"


"Bukannya aku gak mau kak. Tapi semua temanku bilang kalau kak Ansel terlalu posesif, jadi mereka merasa sungkan mengajakku" terang Rissa


"Bukannya kak Ansel posesif dek, hanya gak mau saja kamu jadi salah pilih teman"


"Tapi aku kan bukan anak kecil lagi kak"


"Gini aja deh. Udah ikutin aja aturan kak Ansel, itu juga untuk kebaikanmu" tegas Chalissa.


"Udah ayok buruan nanti kamu telat loh" ajak Chalissa. Lalu mereka turun menuju mobil. Di sana Ansel sudah terlihat menunggu.


"Sayang jangan lupa ya kabari aku tentang si kecil"


"Iya"


"Jangan lupa juga kamu harus makan dan tidak boleh makan pedas-pedas lagi"


"Iya papa Killian" ucap Chalissa dengan suara mendayung.


"Tuh kan posesif" terdengar suara Rissa menyelusup ke perbincangan antara suami istri.


"Rissa" tegur Chalissa membuat Ansel tertawa.


Dalam perjalanan menuju sekolah Rissa sama sekali tak ada suara yang memulai perbincangan. Rissa hanya terdiam dengan wajha betenya. Sedangkan Ansel fokus menyetir mobil.


"Ekhmm" Ansel sengaja memgeluarkan batukan kecil.


Ansel memperhatikan wajahnya adik iparnya yang sepertinya masih kesal padanya.


"Kamu kenapa dek" memulai obrolan


"Gak papa" suara Rissa tidak bisa berbohong. Meskipun dia bilang tidak apa-apa tapi suaranya menunjukkan bahwa ia sedang kesal.


Ansel tersenyum melihat wajah adiknya yang manyun.


"Nanti jadi mau jalan sama teman dek?"


"Gak jadi"


"Kenapa"


"Gak papa"


"Gak papa tapi kok manyun sih dek?" sambil mengeluarkan suara tawa kecil yang terdengar menyindir.


"Aku males deh sama kak Ansel. Kenapa sih selalu anggap Rissa anak kecil?!"


"Bukan gitu dek. Kamu baru jadi anak SMA loh. Kakak hanya gak mau aja kalau teman kamu yang kurang ajar kemaren macam-macam lagi sama kamu" jelas Ansel membuat Rissa sedikit bingung harus menjawab apa kepada kakak iparnya itu.


"Tapi kak..."


"Gak ada tapi-tapi dek" potong Ansel.


Rissa kembali diam, ia nampak malas kalau harus berdebat dengan kakak iparnya.


* * *


Sekolah Rissa


"Clarissa" teriakan suara melengking saat Rissa sedang berjalan ke arah kantin.


"Hey nanti jadikan pulang sekolah?" itu adalah Xania teman kelasnya yang lebih dekat dari pada temannya yang lain.


Clarissa belum menjawab pertanyaan wanita tinggi dan kurus itu. Ia hanya fokus berjalan ke arah kantin yang mana saat ini perutnya sedang meronta minta diisi sebuah makanan.


Clarissa mendesah ketika akhirnya ia mendapatkan tempat duduk untuk menikmati makanan yang sudah dipesannya. Bersamaan dengan Xania yang ikut duduk berhadapan dengannya.


"Jangan bilang kakakmu yang posesif itu tidak mengijinkanmu?!" tebak Xania sambil menikmati es lemon tea yang sudah dipesannya.


"Huaaaaa... gantengnya" sebuah pemandangan mengalihkan fokus Xania.


"Ihh.. Sa, sa... lihat deh kak Gavin ganteng banget"


"Hmmm" Clarissa hanya berdehem enggan untuk melihat. Xania melirik pada Clarissa yang masih sibuk dengan makanannya membuat lebih agresif lagi. Ia menarik makanan Rissa hingga membuat temannya itu marah.


PRAKK


"Xania...!" teriak Clarissa sontak suaranya seolah mengehntikan semua orang yang ada di area itu menjadi bungkam dan menatap ke arah sumber suara.


"I am sorry" Xania berkata dengan suara yang sangat pelan.


Clarissa mendengus tidak peduli dengan setiap mata yang memperhatikan dirinya.


"Dasar menyebalkan" ia pergi meninggalkan Xania yang langsung merapikan makanan yang sudah berhamburan di lantai.


Ia berjalan melintasi Gavin si kakak kelas yang jadi idola dengan wajah ketusnya.


"Ih cewek galak banget sih" cibir salah satu teman Gavin.


Clarissa masih merasa kesal terhadap Xania.


"Sa, lo kenapa? kata Amanda tadi lo teriakin Xania ya? kenapa, kenapa??"


"Haduh bisik banget deh" clarissa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Sa, maaf" terdengar suara Xania yang sudah berdiri menghadap dirinya.


"Ah elo lagi" judes Clarissa


"Jangan ketus gitu apa Sa" timpal Eva.


"Gimana gue gak ketus, temen Lo bikin gue malu!"


Xania segera memasang wajah imut dan memelas.


"Hehehe abisnya kak Gavin ganteng tadi lewat Sa"


"Bodoh"


"Ih galak banget sih. Awas lo nanti saingan sama anjing galak" canda Xania membuat mata Clarissa membulat sempurna ke arahnya.


"Oups sorry" lirih Xania merasa akan diterkam oleh Clarissa.


"Udah, udah! Jadi gimana kita jadikan buat hang out??" Eva segera mengalihkan pembicaraan mereka.


"Jadi" antusias Amanda dan Xania bersamaan.


"Lo gimana Sa?" Eva melirikkan sorot matanya ke arah Clarissa.


Clarissa mengangguk malas.


"Ih kok lo kayak gak antusias gitu sih?!" kesal Amanda.


"Tapi gue gak bisa lama deh" terang Clarissa


"Gak dibolehin sama kakak lo atau kakak ipar lo yang ganteng itu?" tanya Eva


"Ihhhh, Evaaaa... kakak ipar Clarissa udah om om loh"


"Enak aja Lo katain kak Ansel gue om om!" marah Clarissa menyemprote Xania.


"Ihhh posesif" mereka bertiga tiba-tiba bersamaan membuat Clarissa kesal lalu enggan membahas rencana mereka.


* * * * *


Di rumah Chalissa sedang disibukkan dengan kegiatannya bermain bersama Killian.


Tuttt... tutt... tuttt


"Wah papa nelpon nih sayang" Chalissa segera mengangkat telponnya.


"Hai sayang"


"Iya"


"Lagi ngapain?"


"Main nih sama Killian"


"Mana dia?" Ansel segera mengalihkan panggilannya ke panggilan video.


"Arahin dong sayang, aku kangen nih"


"Ke siapa?"


"Killian dong"


"O jadi kangennya sama Killian doang" Chalissa sengaja menunjukkan wajah menggodanya.


Ansel tertawa melihat ekspresi istrinya yang sedang menggodanya.


"Gak dong, kangen juga sama induknya" sambil terdengar suara tawa Ansel menyeringai wajah ekspresi istrinya.


Chalissa segera mengarahkan video pada Killian.


"Sayang, kamu tiduran dekat Killian dong. Biar aku bisa lihat kamu sama Killian"


"Kan kangen anaknya"


"Mamanya juga lah"


Chalissa malas menuruti Ansel.


"Ih tega loh kamu. Aku kan mau lihat mamanya juga, soalnya udah kangen berat nih"


Akhirnya Chalissa tidur di samping putranya.


"Nah gitu dong. Kan jadinya enak nih bisa lihat mama sama anaknya" ucap Ansel sambil tertawa.


Chalissa menunjukkan wajah sepetnya merespon ucapan suaminya.


"Sayang kamu kangen gak sama aku?"


"Kan kita cuma pisah antara rumah dan kantor kamu sayang"


"Tapi aku kangen deh sama kamu. Kayaknya pengin cepatan pulang nih trus bisa peluk kamu sayang"


"Awas loh kata Rissa tuh posesif"


"Biarin aja! Sekali-kali posesif sama istri sendiri" Ansel merasa tidak peduli dengan cap yang beberapa hari ini diberikan oleh adik iparnya itu.


*


*


*


*


*


Maaf ya lama UP nya gaes.


Jangan lupa like dan vote nya ya gaes... terima kasih 🙏


Happy Reading 😍