Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Kejutan Untuk Chalissa



Setelah kepergian tuannya, bi Nani mengajak Hanny untuk masuk.


"Silahkan nona Hanny"


"Iya bi, terima kasih" dengan santun. Lalu Hanny mengikuti langkah bi Nani dari belakang.


"Silahkan duduk dulu ya non" menunjukkan sofa kepada Hanny.


Kini Hanny sudah duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Ia menunggu Chalissa, hatinya benar-benar tidak percaya kalau sahabatnya itu ternyata dekat dengan bosnya. Bukan, bahkan bagi Hanny ini bukan sekedar dekat, seperti ada sebuah hubungan yang lebih dekat yang sampai saat ini belum Hanny ketahui.


Selama menunggu Lissa, mata Hanny terlihat mengelilingi ruangan di mana ia sedang duduk. Rumah itu memang tidaklah besar, rumah yang terdiri hanya lantai dasar saja, yang terbagi dari beberapa ruangan yaitu tiga kamar tidur, dapur dan ruang makan yang menyatu, ruang tamu dan ruang tengah yang terhalang dinding. Mata Hanny masih bergerilya menatapi interior design yang dilapisi warna grey dan sentuhan ke arah warna hijau yang tidak terlihat jelas.


"Bagus sekali ya tempat tinggal Lissa" ujarnya dalam hati


"Bi, Ansel sudah pergi ya?" terdengar suara Chalissa dengan samar, namun Hanny belum melihat rupanya. Lissa baru saja keluar dari kamarnya, ia berbicara dengan bi Nani sambil menuju dapur.


"Iya non" ucap bibi


"Tumben cepat sekali dia sudah pulang" gerutu Lissa


Melihat nona mudanya bi Nani tersenyum tipis.


"Non di ruang tamu ada tamu nona" ucap bi Nani


"Tamu saya bi? Siapa?" Lissa mengernyitkan keningnya, baru kali ini dia kedatangan tamu. Lagi pula siapa tamu yang datang, karena di Jakarta ini yang dia kenal hanya Hanny dan Cindy wanita yang sudah memiliki andil dalam kehancurannya. Dan mereka pun tidak pernah tahu keberadaannya.


"Tamunya wanita atau pria bi?" tanya Hanny setengah berbisik.


"Wanita non, cantik" jawab bi Nani semakin membuat Lissa penasaran sekaligus takut. Ia takut kalau- kalau wanita itu adalah Cindy.


"Tapi tadi sudah ketemu sama tuan kok non. Malah kayaknya tuan sudah kenal juga non" jelas bi Nani


"Ooooo" Lalu Lissa mencoba menemui tamunya itu, ia melewati ruang tengah yang hanya diberi sekat kaca dengan ruang kitchen.


Deg


Deg


Deg


Jantung Lissa berdebar-debar, ketika akan memasuki ruang tamu ia dengan pelan melangkah. Ia lebih dulu mengintip dari dinding pemisah antara ruang tamu dan ruang tengah. Saat ia menginti, matanya tidak dapat melihat wajah tamunya, dikarena tamunya duduk di sofa berukuran besar yang hampir menutupi tubuh tamunya yang duduk membelakanginya.


"Dia siapa ya" keningnya berkerut mencoba untuk menerka.


Ia baru sadar, kenapa ia tidak menunjukkan foto Hanny dan Cindy kepada bi Nani saja. Jadi dia gak akan menebak siapa tamunya.


"Lissa" suara itu tiba-tiba terdengar. Lissa yang tadi ingin kembali menghampiri bi Nani langkahnya jadi berhenti.


"Suara itu. Hahh! Itu seperti suara Hanny" gumannya, lalu ia mencoba menoleh lagi ke arah tamunya. Kini wanita itu telah tampak berdiri di depan sofa di mana ia tadi duduk.


Wajahnya menyeringai ketika dilihat sosok sahabatnya ada di rumahnya.


"Hanny" teriak Lissa tidak percaya, benar saja perkiraan Ansel kalau kehadiran Hanny akan dapat membuatnya bahagia.


Mereka saling berpelukan, melepaskan rasa rindu selama di Jakarta yang selalu gagal untuk bertemu. Hanny sungguh tak percaya wanita yang dilihatnya itu benar-benar Chalissa sahabatnya. Lalu Lissa mengajak Hanny ke ruang tengah, di sana mereka lebih leluasa untuk mengobrol.


Hampir dua jam mereka mengobrol, tiba-tiba.


"Non, ada telpon dari tuan Ansel" ucap bi Nani menyodorkan telpon rumah. Seketika mereka berhenti tertawa.


Lissa menerima telpon itu, "Hallo" ucap Lissa. Suaranya yang lirih namun Ansel bisa menebak kalau saat itu Chalissa pasti sedang bahagia.


"Apa kau senang hari ini?" tanya Ansel


Lissa tersenyum, senyumnya membuat Hanny penasaran. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh bosnya itu.


"Apa kau sengaja membuat ini semua?" tanya Lissa


"Iya. Aku ingin kamu bisa tersenyum Chalissa" ucapan Ansel seolah membius hati Lissa.


Dia tidak menyangka Ansel begitu baik padanya, yahh... mulai dia memperhatikan keluarganya, kondisinya, bahkan sampai dia mempertemukan dirinya dengan sahabatnya. Mungkin saat itu yang ada dipikiran Lissa, waktulah yang salah mempertemukan mereka dengan cara yang tidak benar.


"Kau belum menjawab pertanyaanku?" gerutu Ansel


"Apa??!"


"Apa kau senang hari ini?"


"I.. Iya, aku senang" baru kali ini terlihat pipi semu Lissa yang memerah. Hanny hanya ikut tersenyum melihat ekspresi sahabatnya itu.


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan mengganggumu" Ansel bermaksud untuk mematikan ponsel,


"Iya"


"Terima kasih. Terima kasih ya Ans" lalu Lissa mematikan sambungan telpon itu.


Dari tempat yang berbeda Ansel terlihat tersenyum, entah apa yang membuatnya merasa hal itu menjadi sangat berarti. Selama ini dirinya selalu berusaha ingin membuat Chalissa bahagia, dia menyesal telah membuat wanita itu menderita karena ulahnya. Ansel bukanlah pria brengsek yang akan meninggalkan Chalissa begitu saja, seperti membuang sampah setelah menghabiskan isi makanannya.


Meskipun sejujurnya tidak ada cinta untuk Chalissa di hatinya, karena hatinya dipenuhi oleh rasa untuk Bellvania. Tapi ia merasa, bahwa ia tidak boleh egois pada wanita yang kini sedang mengandung anaknya. Mungkin itu adalah pengorbanan atau harga yang harus dibayar oleh dirinya karena telah merusak masa depan wanita itu. Yahh, sepertinya itu adil, dia harus rela melepaskan hatinya, sama seperti Chalissa yang harus rela mengandung anaknya.


* * * * *


Melihat waktu sudah jam 7.30, bibi mengingatkan Chalissa untuk makan malam.


"Non waktu makan malam sudah lewat" terang bi Nani


"Iya bi, nanti kami akan makan" ucap Lissa


"Non makan sekarang saja. Bibi takut nanti tuan marah" pinta bi Nani


Sebenarnya Ansel tidak akan marah kalau bi Nani tidak mengadu padanya.


"Sudah Lissa, ayo kita makan? Aku juga sudah lapar, hehehe" ucap Hanny sambil memegang perutnya.


"O iya, tapi aku boleh gak bersih-bersih sebentar" pinta Hanny


"Tentu saja. Kalau gak kamu nginap aja Han di sini"


"Aa.. aku gak enak Lissa sama pak Ansel"


"Kan di rumah ini tidak ada dia. Hanya aku dan bi Nani saja kok" terang Lissa


"Aku gak bawa baju ganti Lissa" ungkap Hanny


"Ya ampun Hanny, kamu bisa pakai bajuku. Aku juga punya persediaan dalaman yang masih baru kok"


"Ayolah Hanny, menginaplah di sini" imbuh Lissa sambil merayu


Hanny menganggukan kepalanya. Lalu Lissa mengajak Hanny ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi


"Lis, kamu pasti nyaman tinggal di rumah sebagus ini"


"Gak juga Han" memurungkan wajahnya


"Kenapa?? Aku perhatikan, sepertinya pak Ansel sangat care sama kamu" Hanny berbicara sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.


"Memang sih Ansel sangat baik. Tapi aku tetap kesepian. Tidak ada ibu dan Rissa di sini" wajahnya menunjukkan kesedihan.


"Tapi kan sudah ada aku, hehe" menyenggol bahu Lissa


Lalu mereka saling tertawa


"Aku benar-benar gak menyangka loh Lissa, kamu ternyata dekat dengan pak Ansel" nada suara Hanny terdengar sedang meledek Lissa


"Ahh sudahlah, ayo kita makan" ajak Lissa segera membuka pintu kamarnya.


Karena bi Nani sudah menyiapkan makan malam di meja makan dan jam pun sudah menunjukkan waktu bi Nani untuk beristirahat. Maka, bi Nani tidak tampak di area kitchen atau pun ruangan lain kecuali kamarnya.


Malam itu Lissa tidak makan sendiri, saat tidak ada Ansel yang menemaninya. Dia tampak senang bisa makan dengan orang yang dikenalnya sejak masih orok. Rasanya malam itu menjadi malam yang berbeda, rasa makan di rumahnya.


.


.


.


.


.


Happy reading 😍


Readerssssku ikuti terus ceritanya ya...


Pliss jangan bosan 🥰


AKU tunggu juga like, follow, komen, dan vote


KAMU