
🌹Like and Vote gaes🌹
"Selamat siang nyonya"
Bi Nani dan bi Suti segera menyambut kedatangan Bu Myra.
"Apakah menantuku ada?"
"Nyonya muda ada di kamarnya nyonya" jelas bi Suti.
Bu Myra meninggalkan dua ART tersebut lalu melangkah ke lantai dua di mana terletak kamar anak dan menantunya.
Tidak lama bi Suti ikut naik ke lantai dua.
Tiba di lantai dua Bu Myra duduk di sofa yang berada di ruang keluarga, ia menunggu menantunya keluar dari kamarnya sambil ia mengambil handphone untuk menghubungi suaminya.
"Permisi nyonya muda"
"Iya bi"
"Nyonya di ruang keluarga sudah ada nyonya besar menunggu"
Setelah memberitahu Chalissa, bi Suti beranjak dari tempat ia berdiri.
"Killian dengar tuh grandma sudah datang. Hari ini kita imunisasi ditemani sama grandma juga ya"
Chalissa keluar dari kamarnya menghampiri mama mertuanya.
"Aduh cucu grandma sudah siap ya mau imunisasi" ucap Bu Myra mengelus pipi cucunya.
"Iya grandma" sahut Chalissa
"Apa semua perlengkapan Killian sudah siap? karena kita harus jalan sekarang" tutur bu Myra yang melihat jam pada pergelangan tangannya.
"Sudah ma" sambil menganggukkan kepalanya.
Bi Nani segera membantu Chalissa membawakan tas perlengkapan Killian. Dan pak Niman pun sudah menunggu di bawah.
Saat melihat majikan dan mertuanya keluar dari rumah, pak Niman dengan sigap membuka pintu.
"Silahkan nyonya besar"
Lalu mempersilakan majikannya pun untuk masuk ke dalam mobil.
Mereka membawa Killian untuk mengikuti imunisasi vaksin DPT/HB 1, polio 2 di rumah sakit di mana bayi itu lahir.
* * *
Ansel sudah tiba lebih dulu di rumah sakit. Ia menunggu kedatangan istri dan anaknya.
"Hai sayang maaf ya sudah lama nunggu"
Ansel yang dari tadi sibuk dengan ponselnya tidak menyadari kedatangan istrinya sampai berdiri di depannya.
"Loh mama ikut juga?" Ansel tidak tahu menahu bahwa mamanya akan ikut serta dalam mengantar Killian imunisasi.
Chalissa tersenyum, ia lupa memberitahu suaminya.
"Kamu gak suka mama ikut?" mamanya menjadi cemberut
Ansel menggaruk kepalanya, "Bukan begitu ma maksdu Ansel. Ans kaget aja ada mama juga"
"Maaf ya sayang aku lupa kasih tahu. Aku memang bilang sama mama masalah imunisasi Killian, kebetulan mama mau ikut jadi aku pikir itu akan lebih baik karena mama kan sudah lebih berpengalaman" jelas Chalissa yang bisa dipahami oleh suaminya.
Mereka kini sudah berada di tempat menunggu giliran.
Ansel begitu intens melihat kebersamaan mamanya dengan Killian berada dalam gendongan Chalissa.
Nomor antrian Killian dipanggil.
Ansel membantu istrinya bangkit dari duduknya. Mereka masuk ke ruangan di mana Killian akan di imunisasi.
Setelah melakukan imunisasi Killian tiba-tiba menjerit kesakitan. Chalissa segera membawa Killian keluar untuk menenangkannya. Sedangkan Ansel dan bu Myra masih berada di dalam berbincang dengan dokter mengenai perkembangan Killian.
* * *
"Loh mereka ke mana ya Ans?" ucap bu Myra yang tak menemukan menantu dan cucunya saat keluar dari ruangan.
Ansel mencoba teliti melihat ke kanan dan ke kiri. Namun ia juga belum menemukan istri dan anaknya.
"Coba telpon lagi Ans" titah bu Myra
Ansel berkali-kalieng menghubungi ponsel istrinya, tetap tidak ada jawaban.
Sedangkan Chalissa saat ia membawa Killian keluar dari ruangan, ia terus menimang dan membujuk anaknya untuk diam tapi Killian tetap saja menangis. Hingga tanpa disadari Chalissa yang menimang Killian sambil berjalan mengarah ke lift. Saat ada lift yang terbuka, matanya tercekat oleh sesosok yang tidak asing baginya. Dengan cepat ia segera mendekati lift yang sudah tertutup. Terlihat lift tersebut bergerak ke bawah, Chalissa menunggu lift lain untuk turun.
Saat berada di bawah matanya terus menyapu setiap orang yang lalu lalang di sana. Berharap ia akan menemukan sosok yang tadi dilihatnya.
Ansel bersama Bu Myra sudah memutari lantai di mana Killian di imunisasi. Namun nihil tak ada wujud istri dan anaknya terlihat. Ansel mulai cemas karena Chalissa pun tak menjawab panggilannya.
"Ma, kita ke bawah aja ya. Mungkin mama pulang aja dulu dengan pan Niman"
"Lalu..."
"Ans yang akan cari" memotong ucapan mamanya.
"Hallo pak Niman, tolong siapkan mobil di pintu utama ya" perintah Ansel. Ia memegang bahu mamanya untuk menuntunnya mengikuti dirinya.
"Apa mungkin dia ke toilet ya?
Ansel mencoba menelpon Chalissa lagi, lift terbuka dan Ansel terkejut saat dilihatnya istri dan anaknya sudah berdiri juga di depan lift yang ia naiki. Ansel dan Bu Myra segera keluar, Ansel panik melihat istrinya yang terlihat sangat kelelahan.
"Kamu dari mana sayang?" panik Ansel.
Chalissa yang masih ngos-ngosan mengatur napasnya. "Maaf ya sayang, maaf ma"
Bu Myra menarik napas dan membuangnya dengan perasaan lega.
"Mungkin mama pulang aja dulu ya ma diantar sama pak Niman"
Bu Myra tak dapat mengelak perintah anaknya. Ia hanya mengangguk menyetujui perintah anaknya itu.
Ansel menyuruh Chalissa duduk di sebuah kursi yang berada di area informasi.
"Pak Niman tolong antar mama ya"
"Baik tuan"
"Mama oulang duluan ya nak, jaga istri dan anakmu"
"Iya ma"
Ansel berdiri menunggu sampai mobil yang dikendarai oleh pak Niman berlalu dari depan pintu utama. Kemudian ia kembali kepada istri dna anaknya yang sedang menunggunya di bagian informasi.
Saat melihat Ansel berjalan mendekatinya, Chalissa berdiri dan melangkah mendekati suaminya juga.
"Sayang maafkan aku" mohon Chalissa.
Ansel membenamkan tatapannya ke bawah mencoba untuk tenang.
"Tadi kamu ke mana sayang? Aku menelponmu tapi kamu gak angkat" keluh Ansel dengan nada yang berusaha lembut.
"Aku, aku melihat kak Kenan" air matanya menetes mengikuti alunan kalimatnya.
Ansel paham sekali dengan perasaan istrinya. Ia tak mau membahas masalah Kenan dulu. Ia menarik istrinya pada dekapannya.
"Kita pulang ya" mengelus punggung istrinya.
Ansel menggandeng istrinya menuju parkiran.
* * * * *
Chalissa masih dapat mengingat dengan jelas wajah kakaknya yang bernama Kenan. Ia yakin sekali itu memang Kenan.
"Permisi Nyonya"
Bi Suti masuk membawakan minuman segar yang dipesan oleh tuannya agar diberikan kepada nyonya mudanya.
"Nyonya ini minumannya"
"Taro di meja itu saja bi. Terima kasih ya bi" ucap Chalissa
Bi Suti membalas dengan senyuman.
"Bi, tuan bawa Killian ke mana ya?"
"Ke lantai tiga nyonya" setelah selesai, bi Suti kembali keluar dari kamar.
Tak lama Ansel datang dengan menggendong Killian yang sudah tertidur. Setelah imunisasi Killian menjadi rewel, sebab itu Ansel membawa Killian dulu jauh dari Chalissa untuk menidurinya supaya tidak mengganggu mamanya.
"Apa dia sudah tidur sayang?"
"Sussssst" Ansel memoncongkan bibirnya memberi isyarat agar diam. Dengan pelan-pelan Ansel meletakkan putranya ke dalam box tidurnya.
"Kau sudah enakkan sayang?" Ansel duduk di samping istrinya yang duduk di ranjang.
Wajah Chalissa berubah sendu, ia merasa bersalah dengan tindakannya hari ini. "Aku sudah membuatmu dan mama capek mencariku"
"Sayang" Ansel memegang kedua pipi istrinya dan memberikan sentuhan lembut.
"Maafkan aku ya" air matanya menetes
"Sudah dong sayang, kan kamu udah minta maaf dari tadi"
"Tapi aku memang sudah membuat kalian panik"
"Siapa yang bilang kamu gak buat aku dan mama panik. Apalagi aku, jantungku hampir saja berhenti sayang" Ansel mencebikkan bibirnya.
"Tuh kan, kalian pasti tadi sudah marahkan"
Ansel tersenyum tipis dan matanya sedikit menyipit melihat istrinya yang merasa bersalah.
"Iya sayang. Tapi udah gak marah lagi kok. Besok-besok jangan buat aku panik lagi istriku" bujuk Ansel membenamkan kepala Chalissa ke dadanya. Chalissa mengangguk.
"Tapi sayang, kamu yakin yang kamu lihat itu adalah kakak kamu?"
"Iya"
"Di mana kamu melihatnya?"
"Jadi tadi...." Chalissa menceritakan awal ia melihat sosok orang yang tak asing baginya itu.
"Jadi itu sebabnya sampai kamu gak mendengar suara ponselmu yang berdering" Chalissa mengangguk
"Kamu juga tidak sadar kalau kamu sudah kelelahan lalu lalang" Chalissa mengangguk lagi.
"Sayang, apa kamu benar-benar ingin bertemu dengan kakakmu?"
Chalissa mengangkat kepalanya menjauhi dada suaminya. Ia melihat suaminya dengan air mata yang sudah menghiasi pipinya.
"Aku ingin sekali bertemu dengannya. Bertanya kenapa ia lama sekali tidak kembali" ucap Chalissa dengan suara parau.
Ansel menyeka air matanya dan membenamkan ciuman singkat di bibir istrinya itu.
CUP
"Sayang" rengek Chalissa kesal karena suaminya mendadak menciumnya.
"Aku akan membantumu, aku akan cari keberadaan Kenan"
Chalissa diam, tatapan mereka berhenti saling mengadu tanpa ada kalimat yang keluar. Ansel menarik kedua sudut bibirnya hingga bersamaan terangkat ke atas.
"Tapi aku punya satu permintaan"
"Apa?"
"Jangan pernah membuatku cemas atau panik lagi. Kau mengerti"
"Iya sayang"
"Anak pintar" canda Ansel kembali manarik tubuh istrinya dalam dekapannya.
"O iya malam ini kau sudah siapkan"
"Untuk?" Chalissa gagal mencerna ucapan suaminya.
"Karena malam ini aku akan menghukummu. menghukummu karena kau sudah berani membohongiku"
"Ansel" panggil Chalissa dengan nada merengek Chalissa manarik tubuhnya menjauh dari suaminya, tapi tangan Ansel dengan cepat menariknya lagi dalam pelukannya dengan erat.
Kini ia sudah paham pikiran suaminya.
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍
🙏