
Kenangan akan tentangmu ini... Adalah kesedihan, yang tak akan mungkin terhapus, hanya dengan bermain hujan.
~Chalissa
Malam melelahkan yang telah berlalu.
Dan kini pagi menyongsong bersama dengan singsingan cahaya sejuk, yang berhasil mengercapkan kedua mata insan yang baru memulai hari baru kehidupan mereka.
Ansel nampak sudah bangun. Tapi ia masih memalaskan tubuhnya di atas ranjang, dengan posisi tubuh sudah bersandar pada headboard. Sedangkan tangannya disibukkan pada hape genggamnya.
Ia merasakan kasur mulai bergerak, saat Chalissa mengganti posisi tidurnya.
"Ahhhh" suara Chalissa mengejutkan Ansel. Ia melihat Chalissa yang bangun terkejut. Sepertinya ia lupa kalau malam itu ia sudah tidur seranjang dengan Ansel.
"Ma... ma.. maaf" ucap Chalissa buru-buru merapikan sleep shirtnya yang sedikit terbuka.
Ansel melirik pelan ke arah Chalissa yang sesekali melihat ke arahnya juga. Ansel berpura-pura tidak menyadari posisi Chalissa saat tidur.
"Bersiaplah kita akan segera keluar dari hotel ini" tutur Ansel masih fokus pada hapenya.
"HAH"
Ansel menoleh pada Chalissa
"Kamu masih mau di sini?" tanya Ansel lalu menarik lengan atas Chalissa mendekatinya.
"Ti... tidak" gugup Chalissa
Ansel tersenyum tipis,
"Apa kau ingin aku melakukan sesuatu lagi di hotel ini??" Ansel tersenyum devil
Cepat-cepat Chalissa melarikan diri memasuki kamar mandi. Ansel menyunggingkan bibirnya.
--------------------------------------
"Ans, ini rumah siapa??" tanya Chalissa tercengang setelah tiba di depan rumah baru mereka.
"Ini rumah kita. Kau suka?" jelas Ansel. Lalu ia segera menurunkan koper yang mereka bawa dari hotel.
Nampak bi Nani membuka pintu, menyambut kehadiran majikannya. Ibu dan adiknya pun ternyata sudah berada di rumah itu lebih dulu.
"Ansel apa ini tidak berlebihan. Ini besar sekali Ans" ungkap Chalissa merasa takjub dengan kemewahan rumah yang akan ia tempati nanti.
"Ini bi Suti yang akan membantu bi Nani, dan ini pak Doni bagian sekuriti kita" jelas Ansel kepada Chalissa.
"Kita mau ke mana Ans?" tanya Chalissa saat Ansel memegang tangannya dan membawanya.
"Ini kamar kita" ucap Ansel
Chalissa tidak memberikan komentar. Terlihat wanita itu hanya mengamati setiap sisi kamar itu. Matanya beralih ke arah kaca besar yang menampakan greenwall. Pemandangan itu terlihat sangat indah, ia melihat ke bawah seperti sebuah pemandangan alam yang memiliki jurang.
"Kau suka melihat taman di bawah?" Ansel mendekati Chalissa, ia ingin memeluk wanita itu dari belakang namun ia urungkan, karena ia sangat ragu untuk melakukannya.
"Ans, kapan kau menyiapkan ini semua?" tanya Chalissa sangat terpesona dengan keindahan rumah baru yang ia tempati. Terang saja, di kampung rumah Chalissa sangatlah kecil.
Sebuah rumah yang bersebelahan dengan rumah Hanny. Rumah yang terdiri dari ruang tamu kecil, dapur, dua kamar tidur yang terpisah dengan kamar mandi. Selain itu, ukuran kamar pas untuk letak tempat tidur serta lemari pakaian dua pintu. Jadi tidak heran jika Chalissa sangat terpesona dengan rumah yang ditunjukkan Ansel padanya.
"Rumah ini sebenarnya sudah lama aku Persiapkan. Tapi beberapa interior dalam rumah ini baru satu bulan yang lalu aku minta diselesaikan" jelas Ansel.
Chalissa terdiam mendengar penjelasan Ansel. Ada perasaan yang mengganjal pikirannya.
"Apa rumah ini sebenarnya untuk Bellva, Ans" ucap Chalissa lirih tanpa menoleh Ansel.
Ansel berdiri di samping Chalissa, ia menoleh merasa bersalah dengan penjelasannya.
"Apa itu penting untuk kamu ketahui Chalissa?" tanya Ansel
Chalissa segera melebarkan senyumnya.
"O iya, Aaaaa..." Lissa terdiam
"Kenapa?" heran Ansel
"Apa... kita... akan... tidur di sini" kata-kata Lissa ragu
Ansel tersenyum miring
"Tentu saja. Apa kamu lupa kita sudah menikah"
Chalissa menggeliat, tubuhnya seolah merasa risih dengan kata-kata Ansel.
"Kau masih takut denganku??!" Ansel memicingkan matanya ke arah Lissa. Tapi Lissa tidak menjawabnya.
Ansel membiakan Lissa berlalu dari hadapannya. Ia ingin membiarkan Chalissa beradaptasi dengan kehadirannya.
****************
PRANGGGGGGG
Bellvania mengacak meja riasnya.
"Lihat saja Ans! Kau sudah berani memilih wanita itu!!" geram Bellva
Tok... tok... tok...
"Non, tolong buka pintunya" teriak suara seorang wanita dari balik pintu kamarnya.
BRAGGGGG...
Bellva melemparkan sebuah benda ke arah pintunya, menimbulkan kegaduhan di dalam kamarnya.
"PERGIIIII KALIAN!!!!!" amukan Bellva yang tidak dapat dikendalikan oleh siapapun.
"SIALAN KAU MARTIN!!!" tangis Bellva semakin memekik
Ia tampak meremas sebuah kertas. Kertas hasil pemeriksaannya.
"Maafkan Aku, Ansss" Bellva terisak
Bellva mengambil sebuah pil dalam tasnya. Ia meminum pil itu dengan rakus, tanpa dosis.
Saat itu di rumah Bellva seorang diri tidak ada papanya. Hanya pekerja di rumahnya yang dengan sabar melayani kebutuhannya di rumah.
Beberapa menit setelah berhasil menelan pil. Bellva merasa kepalanya jadi sempoyongan, badan bergetar, dan mengeluarkan keringat dingin. Sebelum akhirnya dia kesadarannya berlahan hilanga.
*********
Hari menjelang sore
Ansel sedang tertidur lelap di ranjang. Sedangkan Chalissa memilih untuk mandi sebelum petang datang.
Sebelum ia masuk ke kamar mandi, Chalissa memberanikan diri menatap wajah Ansel. Ini pertama kalinya ia melihat detail ketampanan wajah Ansel. Hampir 20 menit ia mencermati wajah pria yang telah menjadi suaminya itu, hingga ia mengangakhiri kegiatannya menatapi wajah Ansel.
Ansel sudah mengajarinya cara menggunakan alat pemanas dan pendingin air, bahkan hingga bagaimana caranya mandi di dalam bathup.
Sore itu, Chalissa masih merasakan sisa-sisa kelelahannya. Ia memutuskan untuk merilekskan tubuhnya di dalam bathup.
Tuttt... tuttt.... tutttt
Suara ponsel Ansel berdering
Dengan tangan yang lunglai Ansel meraih ponselnya di atas nakas.
Ia malas meletakkan ponsel di dekat telinganya, jadi ia sengaja melospekear ponselnya hingga terdengar dengan keras dan jelas.
"Hallo... hallo... hallo tuan Ansel" terdengar suara seorang wanita yang terbirit-birit.
"Iya" Ansel masih menjawab dengan malas tanpa menoleh pada layar ponselnya.
"Tuan ini saya bi Mirna... Hallo tuan" suara yang sangat terdengar seperti sedang ada masalah besar.
Mendengar suara menyebutkan nama bi Mirna, Ansel sontak mengangkat bagian dadanya.
"Ada apa bi? Apa terjadi sesuatu?!!" Ansel mulai cemas
"Nona tuan, nona"
"Ada apa dengannya?!!"
"Nona mencoba bunuh diri tuan. Saat ini tuan Davidson ada di luar negeri. Kami bingung harus menghubungi siapa tuan" jelas bi Mirna suaranya tersengal-sengal
"Bawa dia segera ke rumah sakit! Saya segera ke sana" Ansel buru-buru bangkit dari tidurnya.
"Kami sudah membawa nona Bellva ke rumah sakit tuan"
DEG
DEG
DEG
Ansel tidak sadar kalau Chalissa sedari tadi berdiri mendengarkan percakapan itu.
Ansel pergi tanpa berpamitan pada Chalissa.
Chalissa terdiam menyaksikan betapa khawatirnya Ansel pada Bellvania. Bahkan, Ansel tidak sedikitpun menyadari kehadirannya di kamar itu. Chalissa tidak dapat menyalakan Ansel, karena ia tahu persis bagaimana perasaan Ansel pada mantan kekasihnya itu.
.
.
.
.
.
Happy Reading 😍
Ayo Gaesss jangan bosan ikuti kisah mereka ya hehehehe
like, vote, komen, dan follow nya juga jangan bosan ya Readerkuuuu