Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Jaga Ibu



Dari lorong rumah sakit terlihat seorang gadis kecil sedang berlari mencari-cari. Tatapannya begitu sibuk kemudian tatapannya berhenti setelah tertuju pada sosok wanita yang berada pada kursi sedang menyenderkan pundaknya seolah melepaskan rasa lelahnya seharian telah bekerja. Gadis kecil itu berlari dengan langkah pendek ke arah wanita yang terduduk itu. Lissa terlihat sedang memejamkan matanya. Wajahnya mengarah pada plafon rumah sakit.


"Kakk".. suara itu terdengar lirih


"Kenapa kamu ke sini?".. Lissa melempar pertanyaan itu tanpa menoleh kepada adiknya. Ia nampak masih terduduk dibangku besi yang panjang yang berada di depan ruangan perawatan ibunya.


"hikss... maafkan Rissa kakk".. adik kecil itu nampak menjongkokkan tubuhnya di samping kakaknya. Air matanya membasahi pipinya.


Lissa tak bergeming. Ada rasa kecewa yang ingin dia lontarkan kepada adiknya. Namun, ia berusaha menahan rasa itu. Ia ingat bahwa adiknya masih terlalu belia untuk memahami keadaan mereka.


"Kamu ke sini sama siapa?".. tanyanya, kemudian ia memandangi adiknya.


"Aku minta tolong sama kak Brady".. jawab adiknya merasa takut kalau kakaknya akan memarahinya.


Brady adalah teman kecil Lissa, yang juga menaruh rasa kepada Lissa. Namun, Lissa sudah pernah menjelaskan bahwa dia sampai saat ini hanya memiliki rasa sebagai seorang teman kecil bagi Brady. Brady tidak pernah memaksakan keinginan kepada Lissa.


"Tadi Rissa menelponku. Dia menangis minta diantarkan. Aku udah berusaha menolak. Tapi aku takut dia nekat pergi ke rumah sakit sendiri, jadi aku mengantar dia kemari Liss".. setelah melangkahkan kakinya mendekati Lissa dan berdiri di samping Lissa.


"Tolong antarkan adikku. Besok dia harus ujian".. sembari berdiri dari duduknya dan beranjak untuk masuk ke ruang rawat di mana ibunya berada.


"Please maafin Rissa kakk".. ia masih menangis dan posisinya masih sama, bahkan ia juga menundukkan kepalanya takut melihat kakaknya.


Lissa kembali mendekati Rissa. Ia memegang kedua bahu adiknya sambil membantu adiknya untuk berdiri. Rissa masih menundukkan kepalanya.


"Jangan menangis! pulanglah. kak Brady akan mengantarmu lagi ke rumah".. ucap Lissa


Rissa masih tidak memberi respon atas perintah kakaknya.


"Besok kamu ujian. Kakak sudah memaafkanmu"... lanjutnya untuk menenangkan adiknya supaya mau pulang.


Rissa menganggukkan kepalanya tanda ia mengiyakan perintah kakaknya. Saat akan melangkah pulang, tiba-tiba Lissa berbicara.


"Baik-baiklah di rumah Lissa. Kalau kamu takut di rumah sendiri mintalah kak Hanny menemanimu".. ucap kakaknya lagi


"Iya kak"


Hanny adalah anak perempuan Pak Rusdi dan Bu Hera sekaligus sahabat Lissa.


* * * *


Setelah Pak Rusdi masuk meninggalkan Rissa dan Bu Hera. Rissa semakin menangis. Bu Hera dan Hanny berusaha menghiburnya. Rissa bertanya kepada Bu Hera di mana ibunya di rawat dan Bu Hera pun memberitahu kepada Rissa. Kemudian Rissa berusaha menenangkan dirinya. Sebenarnya dia ingin ke rumah sakit, tapi ia tahu Bu Hera pasti tidak mengijinkannya. Rissa berpura-pura tidur, ia ditemani oleh Hanny. Setelah ia rasa aman, ia menghubungi Brady dan menceritakan tentang ibunya. Rissa meminta Brady untuk mengantarnya ke rumah sakit. Brady menolak keinginannya, tapi Rissa tetep kekeh akan ke rumah sakit. Spontan Brady mengiyakan permintaannya karena Brady takut terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap Rissa, Brady sudah menganggap Rissa sebagai adiknya.


* * * * *


"Rissa, kamu dari mana?".. nampak Hanny yang kuatir terhadapnya.


"Maaf Hanny sudah membuatmu cemas. Tadi kami dari rumah sakit. Rissa sepertinya cemas pada ibunya, dia nekat mau ke rumah sakit. Jadi aku mengantar dia saja ke sana".. jelas Brady.


"Baiklah. Kalau begitu ayok masuk Rissa. Kamu jarus beristirahat, besok kamu ujiankan??!".. Rissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap Hanny.


"Terima kasih kak Brady".. kemudian ia berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kalau begitu aku pulang ya Hanny".. ucap Brady


Hanny menarik bibirnya menciptakan garis senyum di pipinya.


"Hati-hati"..


* * * * *


"Makanan ibu sudah siap Rissa?".. tanya Lissa


"Iya kakk, ini".. menyerahkan piring berisi makanan untuk ibunya.


Belum sempat Lissa menggerakkan kakinya


"Kakk".. panggil adiknya


"Kenapa?".. balasnya sambil bertanya kepada adiknya itu.


"Kakak yakin mau ke Jakarta??!".. wajah Rissa berubah sendu


"Aku akan sangat merindukan kakak".. tiba-tiba wajah sendu itu berubah menjadi awan mendung yang sudah basahi air.


"Jangan menangis".. Lissa mengusap kepala adik kecilnya itu. kemudian ia meninggalkan adiknya sendirian di dapur. Lissa masuk ke dalam kamar ibunya. Ia bermaksud untuk menyuapi ibunya.


Ibunya sudah terlihat duduk bersandar di tempat tidur. Terlihat sebuah bingkai sedang ada dipangkuan ibunya. Sepertinya Lissa tahu isi bingkai itu. Foto keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, dirinya, adiknya Lissa, dan kakak laki-lakinya yang bernama Keenan. Keenan Ivander yang tidak tahu di mana keberadaannya. Sejak pertengkarannya dengan sang ayah yang selalu melarangnya keluar malam bahkan sering sekali menginap tidak ada kabar membuat ayahnya sangat marah. Keenan menghilang entah kemana. Lissa paham sekali bahwa ibunya sangat merindukan keberadaan kakak laki-lakinya itu. Mungkin saat ini usianya 25 tahun.


"Bu, waktunya makan dan minum obat ya".. ibunya menurut pada Lissa. Namun, air matanya menetes.


"Kenapa ibu menangis? apa makanan yang dibuat Rissa tidak enak ya??.. Lissa segera mencicipi makanan ibunya. Ibunya menggelengkan kepalanya.


"Lalu ibu kenapa".. Lissa semakin sedih. Ia menahan supaya air matanya tidak tumpah


"Ibu akan merindukanmu nak".. air mata itu semakin deras tak tertahan. Lissa terus menahan air matanya supaya tidak tumpah. Demi apapun, Lissa sebenarnya tidak kuat pada kondisi itu. Itu menguras oksigen pada otaknya.


"Bu.. percayalah. Aku akan selalu berkabar. Bila ada waktu aku akan datang".. berusaha meyakinkan dan menenangkan ibunya. Lissa memegang tangan ibunya dan meremasnya memberi kekuatan.


"Berjanjilah nak. Kau akan kembali bersama ibu dan adikmu".. wajah yang sudah menua itu terus menangis.


"Tentu saja Bu. Aku pergi untuk bekerja, itu untuk ibu dan Rissa".. suaranya bertahan berusaha supaya tidak ada suara sendu yang terdengar. "Aku akan terus memberi kabar pada ibu, karena aku juga akan selalu menanyai kabar ibu"... Lissa tersenyum


* * * * *


Pagi itu, perpisahan itu terjadi. Drama kesedihan yang tak tertahan itu berlangsung hingga satu jam. Kemudian Lissa memaksakan diri untuk melangkahkan kakinya untuk pergi.


"Dek jaga ibu ya".. itu pesan Lissa untuk adik kecilnya.


Lissa pun menitipkan ibu dan adiknya kepada pak Rusdi dan Bu Hera. Mereka adalah tetangga yang sangat baik, bahkan sudah seperti kerabat keluarga.


Hari itu Lissa berangkat bersama dengan Hanny. Kebetulan Hanny melanjutkan kuliah di Jakarta dan waktu libur kuliahnya sudah habis. Setelah di Jakarta mereka berpisah.


.


.


.


.


Hai reader saya akan sangat bersemangat jika kalian terus mendukung author.


please


FOLLOW, VOTE, LIKE yahhh