Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Mengikhlaskan



Tengah malam, sudah hampir berganti hari. Tetapi Chalissa belum juga bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih terusik dengan pertemuannya dengan Cindy. Sungguh, rasanya dunia ini sangat sempit. Di saat, ia sudah bertemu lagi dengan kakaknya. Justru, ia dipertemukan lagi dengan sosok wanita yang menjadi dalang pertemuannya dulu dengan Ansel.


Chalissa terdiam, ketika Keenan dengan ketidaktahuannya memperkenalkan Cindy sebagai kekasihnya.


“Kau?” ia tak dapat membuka mulutnya dengan leluasa. Rasanya jantungnya seketika sulit untuk berdetak. Sama halnya dengan Cindy, yang sontak wajahnya [un ikut berubah. Tak ada senyum yang tadi tergambar sebelum ia diperkenalkan oleh Keenan kepada adiknya.


“Kalian saling mengenal?” tanya Keenan menangkap ekspresi keduanya yang diam terpaku masih saling manatap.


‘Hem, iya!” jawab Cindy berusaha memaksakan wajahnya agar terlihat tersenyum. Namun, sangat jelas senyum itu bergitu getir. “Kami satu sekolah Keen, tapi kami berbeda kelas.” Tambahnya lagi, lalu ia dengan tubuhnya yang tegap segera mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Chalissa.


“Hai, Lissa. Apa kabarmu?” kalimat ucapan Cindy mulai membuat Chalissa berhenti terdiam.


Chalissa mencoba menerima jabatan tangan Cindy yang sebenarnya sulit untuk diterima. Namun, rasanya bukan respon yang tepat jika dia terang-terangan langsung menolak kehadiran cindy. Apalagi, Keenan tidak tahu kejadian yang pernah menimpanya dulu saat bersama Cindy. Dan yang paling tepatnya lagi, Keenan tak tahu kisahnya mengapa adiknya itu bisa menikah dengan Ansel.


“Hai, aku baik” balas Chalissa dengan kalimat pendek.


“O iya, selamat ulang tahun ya. Maaf, tadi aku belum sempat membelikan sesuatu untukmu.” Ucap Cindy yang rasanya bagi Chalissa itu hanyalah ucapan basa basi.


Chalissa menunjukkan senyuman tak berarti pada Cindy dengan tatapan tajam. “Kamu gak perlu repot-repot, terima kasih”


Hanny sendiri, tak dapat berkomentar apapun. Ini adalah moment ulang tahun Chalissa yang sudah disiapkan oleh Ansel. Hanny tak mau merusak suasana hangat itu.


“Sayang” panggil Ansel menghampiri Chalissa yang berdiri di balkon kamar mereka. Ia meraih tubuh istrinya, membalikkan tubuhnya dan merangkul pinggang istrinya.


“Kenapa kamu bangun?” Chalissa mencoba menyembunyikan sesuatu.


“Ada apa? Kok kamu belum tidur?” heran Ansel melihat mata istrinya yang masih terjaga.


Chalissa tersenyum untuk mengalihkan pikirannya suaminya yang terlihat sedang menerka sesuatu pada dirinya.


“Tidak ada apa-apa sayang. Aku belum ngantuk saja, acara tadi masih sangat indah untuk aku ingat-ingat” Chalissa mencoba beralasan untuk menghindari pertanyaan suaminya.


Ansel menarik garis bibirnya ke atas, “Jadi kejutan semalam yang sudah mengganggu tidurmu?” mengangkat salah satu alis matanya.


“Aku hanya masih merasa bahagia sayang, aku bahagia pertama kalinya ada seseorang spesial yang mengadakan kejutan ulang tahunku.” Chalissa membelai wajah suaminya dengan lembut. “ Kejutanmu sangat berkesan, sayang.” Tambahnya lalu ia mencium suaminya dengan lembut.


Mata Ansel terbuka dengan lebar. Hatinya tersanjung dengan ciuman istrinya.


“Aku senang kalau kamu menyukainya sayang” ucap Ansel setelah Chalissa melepaskan ciumannya. “Tidurlah, ini sudah hampir pagi” Ansel membawa istrinya masuk ke dalam kamar mereka lagi.


Kini mereka sudah berbaring di atas kasur. Ansel menarik selimut menutupi tubuh mereka hingga ke dada. Mereka saling membaringkan tubuh mereka terlentang.


“Sayang” panggil Ansel. Ia heran pada istrinya, yang terdiam entah memikirkan apa. Tapi yang pasti, Ansel yakin ada sesuatu yang disimpan oleh istrinya.


Chalissa mengarahkan wajahnya memandang suaminya.


Ansel memiringkan tubuhnya mengarah kepada Chalissa. “Hei, ada apa?” tanya Ansel. Tangannya mengusap lembut pipi Chalissa.


Chalissa tersenyum.


“Jangan rahasiakan sesuatu dariku. Aku tidak suka kalau kamu menyimpan sesuatu dariku. Katakanlah, ada apa?” tanya Ansel tubuhnya kini sudah mendekat pada Chalissa.


Chalissa masih terdiam lalu ia memalingkan wajahnya ke arah tap kamar mereka. Ia bingung untuk menceritakan tentang cindy.


“Besok, aku akan cerita. Tidak hari ini” ucap Chalissa.


“Baiklah, sekarang tidurlah” ajak Ansel, ia menggiring tubuh istrinya mendekat dan tertidur dalam pelukannya.


****


Pagi hari tiba


Seperti janji Chalissa semalam. Di kamar, Ansel telah siap dengan pakaian kerjanya. Sebelum menikmati sarapan paginya, ia lebih dulu selalu mengajak putranya untuk bermain sebentar.


Klekk


Chalissa masuk ke dalam kamar.


“Sayang, kemari” panggil Ansel yang duduk di ranjang bersama dengan Killian.


“Ceritakan, apa yang semalam mengganggu pikiranmu?” Ansel tak sabar untuk mengetahui apa yangs sedang dipikirkan istrinya.


“Tapi, kamu kan harus bekerja sayang” ucap Chalissa.


“Aku tidak akan bekerja, kalau kamu belum cerita permasalahan yang mengganggu pikiranmu!” tegas Ansel.


“Aku akan cerita, tapi kita sarapan dulu.” Ansel merubah raut wajahnya. Ia tak suka dengan bantahan istrinya.


“Baiklah” ucap Chalissa yang sudah paham dengan raut wajah suaminya.


“Kamu, kamu masih ingat perempuan yang dibawa oleh kakakku?” tanya chalissa. Ansel diam mengingat sosok Cindy. Kemudian keningnya berkerut, “dia teman sekolahmu kan?” tanya Ansel, yang ia tahu semalam bahwa Cindy adalah teman sekolahnya.


Chalissa mengangguk.


“Lalu, ada apa? Apa kalian pernah ada masalah?” tanya ansel makin dibuat penasaran.


Chalissa mulai menceritakan kejadian yang pernah menimpanya.


“Tunggu!” Ansel spontan menghentikan cerita Chalissa. Ia mencoba untuk merubah posisi duduknya dengan tegap berhadapan dengan istrinya. Ia memegang kedua bahu istrinya. “Apa, dia orang yang sudah menjebakmu ?” pertanyaan itu membuat mata Chalissa memaku. “Benarkah?” lanjut Ansel semakin yakin, bahwa dugaannya itu benar.


“Iya” ucap Chalissa dengan bibir yang terbuka kecil.


Ansel mengusap wajahnya lalu kembali memegang bahu istrinya.


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan cerita masalah ini pada Keenan?”


“Sebelum apa?” Ansel menunggu jawaban Chalissa dengan penasaran.


“Aku ingin tahu dulu. Apakah kakak sudah tahu tentang pekerjaan Cindy.” Ucap Chalissa.


Sebenarnya itulah yang mengganjal dipikirannya. Ia merasa bingung, mengapa kakaknya bisa memiliki hubungan dengan Cindy. Apakah kakaknya tahu mengenai pekerjaan Cindy. Lalu jika kakaknya tahu, kenapa kakaknya mau menerima Cindy.


“Sayang, menurutmu. Apa aku perlu langsung menanyakan ini pada kakak? Jujur, aku takut jika nanti malah akan membuat kakak kecewa” tutur Chalissa.


“Kamu takut kakakmu kecewa kenapa?” tanya Ansel berbalik.


“Aku takut kakak sudah terlanjur menyukai Cindy. Trus, kalau kakak belum tahu pekerjaan Cindy. Tentu kakak akan sangat kecewa”


“Bagaimana pun, kakakmu memang harus tahu. Tapi kita pun tak boleh terburu-buru sayang. Aku akan coba cari tahu mengenai hubungan kakakmu dengan Cindy” ucap Ansel.


Chalissa menundukkan kepalanya.


“Kau sangat terusik dengan kehadirannya?” tanya Ansel mengangkat dagu istrinya.


Chalissa menurunkan tatapannya.


“Aku tidak rela, kak Keenan punya hubungan dengan Cindy. Tapi, aku juga tak berhak menentukan perasaan kakakku” kini Ansel paham dengan pergulatan hati istrinya. Jujur, ia juga merasa kesal setelah mengetahui tentang Cindy. Namun, ia tak tahu harus berkomentar apa.


Siang ini, di kantor saat jam makan siang. Ansel masih memikirkan tentang cerita Chalissa. Perkataan istrinya masih terngiang di telinganya.


“Apa kamu sangat membencinya sayang?” pertanyaan Ansel kepada Chalissa. Namun, Chalissa tak memberikan jawaban. Pikirannya Ansel, mungkin kini istrinya masih gusar.


“Ans, apa aku harus melupakan kejadian itu. Dan tak menganggap, bahwa dulu aku pernah bertemu dengan Cindy?” Ansel heran dengan pertanyaan istrinya.


“Kalau kakak memang mencintainya. Sepertinya, aku harus dengan ikhlas menerimanya” ucap Chalissa lagi.


“Apa itu akan lebih baik untukmu? Kalau tidak, jangan dipaksa” ucap Ansel.


“Jujur, itu menyakitkan. Tapi, jika aku melihat sekarang diriku. Sepertinya aku akan bisa. Ada kamu dan Killian di sisiku. Jadi, jika kakak memang bisa bahagia dengan Cindy. Aku harus bisa kan menerimanya”


Ansel hanya menatap Chalissa dengan intens.


“Setiap orang punya kesempatan dan bisa berubah. Mungkin, itu juga berlaku untuk Cindy”


Ansel memeluk istrinya dan memberikan ciuman di pucuk kepala istrinya itu.


“Kamu ingin aku mencari tahu tentang hubungan kakak iparmu ?” tanya Harrys tak percaya dengan perintah bosnya.


“Hem”


“Kenapa?” Harrys masih membutuhkan penjelasan.


“Kau ingat kejadian di hotel saat pertama kali aku bertemu dengan Chalissa?”


Harrys tersenyum hambar.


“Tentu saja. Itu adalah kejadian panas antara papa dan mama Killian” sindir Harrys.


Plak


Spontan Ansel melempar pulpen yang hampir mengenai Harrys.


“Kau sendiri yang memancingku. Jadi apa kaitannya?” Harrys mendengus.


“Cindy, adalah orang dibalik kejadian itu”


“Apa?!!” kaget Harrys. “Jadi. Tunggu, kau mau bilang” Harrys diam sejenak menarik napas, “dia wanita malam itu?” tanya Harrys tak dapat menahan dugaannya.


“Iya”


Mata Harrys membulat.


“Cari tahu, apakah Keenan sudah tahu pekerjaan wanita itu. Lalu, seberapa dekat hubungan mereka” ucap Ansel.


“Baiklah”


“Aku tak menyangka, sutradara hubunganmu dengan Chalissa muncul” Harrys menghela napasnya.


Lalu mereka saling menatap dengan pikiran masing-masing.


*


*


*


*


*


Happy Reading 😍


Hai gaes... beberapa chapter lagi, author akan menyelesaikan novel ini ya. Tunggu ya ending dari cerita DON'T HATE ME BABY!


Jangan lupa like, komen, follow, dan vote seikhlasnya reader.


Terima kasih author untuk kalian yang sudah setia mendukung author. 🙏