
BRUGGGG...
Suara pintu yang berhasil di dobrak.
"Ans" panggil Monique
"Syukurlah kalian datang kemari" ucap Ansel merasa lega dengan kedatangan Monique dan Harrys.
"Ansel, kumohon jangan pergi" Bellva berusaha menahan tangan Ansel.
"Bellva tolong lepaskan tangan Ansel!" teriak Monique
"Kak Monique, kumohon aku ingin kembali pada Ansel" ucap Bellva
"Lebih baik kita segera pergi dari sini" ajak Harrys
Mereka bertiga pun memutuskan untuk pergi, dan turun ke lantai dasar. Bellva mengikuti langkah mereka.
"Tunggu dulu!" sentak Ansel
"Ada apa Ans??!" tanya Harrys ikut berhenti.
"Apa ini semua permainanmu?" wajah Ansel berubah datar ke arah Bellva, saat melihat pelayan berkumpul di lantai dasar.
"Atau apa kalian yang membukan pintu untuk mereka semua?" tanya Ansel mengarah pada Monique dan Harrys.
"Kami datang semua pelayan sedang bekerja. Bahkan tadi salah satu dari mereka berusaha melarang kami untuk masuk, Ans!" jelas Harrys.
Ansel mengepalkan tangannya.
"Sudah Ans. Tidak usah menghiraukan dia!" ucap Monique menahan adiknya dan mengajaknya pergi.
Bellva mengamuk setelah Ansel pergi.
* * * * *
Di rumah Chalissa bertanya-tanya
"Kenapa dia belum juga pulang, padahal hari sudah hampir malam???"
Melihat majikannya yang terlihat resah bi Nani berusaha menenangkannya.
"Non, apa ada masalah?" tanya bi Nani
"Ahh, gak... gak ada bi" raut wajahnya terlihat muka masam.
"Non menunggu tuan pulang ya?" bi Nani menebak pikiran majikannya.
Bi Nani tahu kalau Chalissa tadi sudah bersemangat untuk memasak makanan yang dianggap pasti akan lezat saat di makan oleh Ansel. Ansel berjanji sebelum jam 4 sore ia akan segera pulang. Tapi nyatanya sudah pukul 7 batang hidung Ansel belum juga terlihat. Bi Nani yakin keterlambatan tuannya pulang pasti penyebab dari muka masam nonanya.
Hingga 1 jam menunggu Ansel belum juga pulang. Chalissa seolah menyerah menunggu kedatangan suaminya. Pikirannya mulai berpikir mungkin juga saat ini Ansel sedang bersama dengan mantan kekasihnya. Ansel memang menikah dengannya, tapi tidak dipungkiri oleh Chalissa kalau hati dan perasaan suaminya bukanlah miliknya.
"Bi, bisakah makanan ini di bawa ke dapur utama lagi?" pinta Chalissa dengan wajah mendung.
"Non, tuan pasti sebentar lagi pulang" hibur bi Nani
"Saya sudah tidak bersemangat bi" menyerah.
Ia memasuki kamarnya. Di kamarnya ia benar-benar kesal pada Ansel yang tidak menepati janjinya. Air matanya dari tadi sebenarnya sudah menetes, tapi berkali-kali ia cepat menghapusnya supaya tak terlihat oleh bi Nani. Tapi bi Nani bisa melihat sorot mata Lissa yang membendung air matanya.
Di kamarnya, ia sudah tidak menahan air matanya lagi. Hatinya berkecamuk tidak karuan.
"Aku tahu alasan dia menikahimu cuma karena anak ini" tangisnya, ucapannya mengarah pada dirinya sendiri.
Lissa membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Berkali-kali bi Nani memanggilnya untuk makan lebih dulu tidak dihiraukannya.
* * * * *
"Tuan akhirnya pulang juga" ucap bi Suti yang bertemu dengan Ansel di lantai satu.
"Ada apa bi?!" Ansel bertanya-tanya akan ucapan bi Suti
"Nona dari tadi menunggu tuan di atas" jawab bi Suti
Ansel dengan cepat naik ke lantai dua. Ia menemukan bi Nani yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada apa bi Nani? Kenapa berdiri di sini?" heran Ansel
"Nona sepertinya kesal pada tuan, jadi nona tidak mau makan" jawab bi Nani
"Apa???" Ansel melihat arloji di tangannya. Sudah pukul 10 malam Chalissa belum juga makan.
Ansel menyadari keterlambatannya pulang. Saat keluar dari rumah Bellva sudah pukul 7, setelah itu dia lupa dengan janjinya untuk pulang sebelum jam 4 sore. Harrys mengajaknya ke caffe untuk sekedar mengobrol dan minum.
"Ya sudah bi. Bibi bisa turun, saya akan membujuknya untuk makan" terang Ansel
"Baik tuan. O ya tuan apa perlu saya bawa makanannya ke kamar?"
"Tidak usah bi. Siapkan saja di dapur itu" ucap Ansel mengarahkan pada dapur mini yang berada di lantai dua.
Bi Nani pun turun sesuai dengan perintah tuannya.
* * * * *
"Sayang" Ansel berusaha membangunkan Lissa berlahan
Chalissa menyadari kehadiran Ansel langsung menepis tangan suaminya dengan kasar.
"Aku minta maaf kalau sudah membuatmu menunggu. Makanlah sayang, kasihan si baby akan kelaparan kalau kau tidak makan" imbuh Ansel masih berusaha membangunkan Chalissa.
Kesal dengan ucapan Ansel, Chalissa segera bangun tanpa melihat Ansel. Ia berdiri dari ranjang dan segera berjalan keluar.
Ansel tahu Chalissa sedang marah padanya. Dia berusaha mengikutinya.
"Jangan mengikutiku!!!" ketus Chalissa membelakangi Ansel.
Chalissa keluar dari kamar tapi bukan untuk ke dapur mengambil makanan. Ia justru masuk ke kamar yang ditempati oleh ibu dan adiknya. Di dalam kamar ia langsung mengunci kamar.
"Chalissa tolong jangan seperti ini" suara Ansel terdengar keras.
Chalissa tidak mau merespon. Ia menangis di balik pintu.
"Chalissa ayolah. Kalau kamu marah setidaknya kamu makan dulu. Apa kamu gak kasihan sama si baby?? Chalissa" ucap Ansel terus mengetuk pintu.
"Kalau kamu terus diam di dalam terpaksa aku akan mendobrak pintu ini" terang Ansel.
"Aku tahu Ans, kamu terpaksa menikah denganku. Cuma karena anak ini kan" suara sendu Chalissa.
Ansel diam, bingung harus menimpali kata-kata Chalissa dengan kalimat apa?! Karena kenyataannya seperti itu. Tidak mungkin dia bilang karena ia mencintai Chalissa.
Ia membuka pintu kamarnya, tanpa menoleh pada Ansel. Ia berjalan menuju dapur, diambilnya makanan yang sudah tersedia. Ia makan dengan perasaan sedih dan pilu. Ansel yang memperhatikannya tidak tega, ia hendak meletakkan makanan Chalissa pada meja dan memeluknya. Tapi tangan Chalissa mendorongnya dengan kasar.
"Aku sudah makan tidak usah mendekatiku!!!" ketusnya bertahan untuk tidak melihat wajah suaminya.
Karena makan dengan terburu-buru dan dengan perasaan sedih dan pilu membuat Lissa tersedak. Ansel segera mengambil minum dan memberikannya pada Lissa.
"Pelan-pelan sayang. Ini minumlah" menyerahkan segelas air mineral
Chalissa menolak pemberian Ansel, ia lebih memilih mengambil minuman sendiri. Sikap acuh Chalissa yang dulu ia tunjukkan sebelum mereka menikah seolah muncul lagi.
Selesai makan, ia kembali lagi ke kamar yang ditempati ibu dna adiknya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Ansel bingung dengan maksud istrinya.
Chalissa tidak menghiraukan Ansel. Ia kekeh untuk masuk ke dalam kamar itu.
"Chalissa" bentak Ansel menarik tangannya.
Spontan Chalissa juga menarik tangannya dari genggaman Ansel. Dengan sekuat tenaganya ia berusaha melepaskan tangannya. Bahkan tidak peduli dengan pergelangan tangannya yang mulai sakit karena genggaman tangan Ansel yang kuat.
"Kenapa kamu marah seperti ini! Ayo tidur di kamar kita!!" ajak Ansel dengan suara meninggi.
Chalissa tetap keras kepala, ia kokoh pada pendiriannya yang terus berusaha melepaskan tangannya. Ansel melihat di pipi istrinya mulai basah karena air matanya yang menetes.
"Maafkan aku sayang" bisik Ansel di telinga Chalissa.
Ia memeluk istrinya dengan lembut untuk menenangkan perasaannya yang dirundung kekesalan. Air mata Chalissa masih mengalir. Sayup-sayup Ansel mendengar suara tangis Chalissa di telinganya. Dan Chalissa meronta melepaskan pelukan suaminya. Tapi sekuat tenaga Ansel menahan eratannya.
Setelah dirasa istrinya tidak lagi meronta untuk melepaskan pelukannya. Ansel pun merenggangkan pelukan itu, dilihatnya wajah istrinya yang sudah basah. Dengan sentuhan tangan yang lembut, Ansel mengusap wajah Chalissa yang basah. Berusaha menangkap sorot mata istrinya, tapi lagi-lagi Chalissa menepis tatapannya.
Ansel mendengus dengan pelan, tidak mau kekesalan istrinya akan naik lagi. Tanpa komando dari Chalissa, Ansel menggendong tubuhnya istrinya seperti bridal style hingga membaringkannya ke atas ranjang.
"Kenapa kamu sekeras ini sih?" tanya Ansel menyentuh dagu Chalissa dan menuntun agar wajah itu mengarah padanya.
"Sayang lihat aku. Jangan marah seperti ini!" ucap Ansel yang masih intens menatap wajah Chalissa
"Kau takut anakmu akan mewarisi kemarahanku?!!" ketus Chalissa menjawabi ucapan Ansel yang akhirnya tatapan mereka bertemu.
Ansel terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Kenapa kau tertawa?!! Apa aku seperti badut?!!" ketus Chalissa lagi.
Ansel membiarkan Chalissa meluap dengan suaranya. Itu jauh lebih baik bagi Ansel, daripada harus melihat istrinya mengurung diri di kamar.
"Ihhhh, berhenti tertawa. Aku benci sekali padamu" kesal Chalissa sambil menangis dan memukuli dada suaminya yang duduk menghadap tubuhnya.
Tidak sadar kini mereka sudah saling duduk berhadapan di batas ranjang. Chalissa masih meluapkan kekesalannya dengan memukul dada suaminya.
CUP
Kedua tangan Ansel langsung menahan kepala istrinya. Dia satukan bibirnya pada bibir istrinya. Chalissa meronta melepaskan ciuman Ansel, tapi tidak semudah itu dia melawan kekuatan Ansel. Ansel terkesan memaksa Chalissa terus berciuman, hingga wanita itu berhenti untuk meronta. Barulah Ansel mengatur ritmenya, ia mulai mencium istrinya dengan lembut dan dalam. Saat Ansel merasa kalau istrinya mulai kehabisan oksigen, ia segera melepaskan ciuman mereka yang kini sudah saling berpaut. Kini tatapan mereka sudah saling bertemu. Ansel memberikan senyuman tipis pada calon ibu anaknya, sedangkan di wajah Lissa terlihat rona yang memerah.
Ingin rasanya Ansel kembali menciumi istrinya tapi ia tahan semuanya itu, tidak mau ciuman itu akan berlanjut hingga ke permainan lainnya.
.
.
.
.
.
Happy Reading 😍
Pliss readerku kasih komen kamu dong di kolom komentar setiap chapter cerita Don't Hate me, Baby!
Jangan lupa juga Like, vote, dan follow Author ya readersss 🌹
Makasih ya Readerkuuuu 😍