
Hai gaes, aku UP ya... Jangan lupa tinggalkan like dan vote kalian ya gaes.
🤗
\= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \= \=
1 Bulan kemudian
"Hallo Lissa" sapaan dari mama Myra melalui telpon.
"Hallo ma"
"Hari ini mama mau nginap ya ke rumah kalian. Soalnya papa sama Monique pergi keluar kota selama empat hari ada kerjaan katanya di sana"
"Iya ma. Chalissa senang kalau mama mau datang, apalagi menginap. Apa mama mau dijemput sama supir?"
"Gak perlu nak. Nanti supir mama akan mengantar mama"
"Baik ma"
"Ya sudah dulu ya"
"Iya ma"
Ansel muncul dari belakang memeluknya.
"Kenapa mama sayang?" Ansel meletakkan dagunya pada pundak istrinya.
"Mama kesepian di rumah sayang. Jadi selama empat hari mama akan menginap di sini"
"Ohhh"
"Kok jawabnya gitu sih sayang?" terheran melihat ekspresi suaminya yang datar.
"Lalu aku harus gimana sayang?" membisikkan pertanyaan itu pada telinga istrinya.
"Setidak kamu senang dong sayang" Chalissa melepaskan dirinya dari pelukan suaminya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ansel melihat istrinya hendak membuka pintu.
"Aku haus" lalu ia menghilang di balik pintu.
Mata Ansel beralih melihat putranya yang ternyata belum terlelap.
"Loh anak papa kok belum tidur sih sayang?"
"Hmphhh" Ansel menciumi tubuhnya putranya yang khas dengan aroma bayi yang membuatnya ketagihan untuk terus menciumi tubuhnya putranya.
Chalissa turun ke dapur lantai satu dan menemui bi Suti yang sedang membersihkan dapur.
"Sudah malam bibi masih membersihkan dapur" ucapnya sambil tangannya mengambil sebuah gelas.
"Eh nyonya muda. Iya nyonya ini hanya bibi merasa bosan di kamar" ucap bi Suti diiringi tawanya.
"Bi tadi saya ke kamar Clarissa tapi kok dia gak ada ya. Apa bibi melihatnya?"
Bi Suti sejenak menghentikan tangannya yang sedang memegang kain lap. Ia seolah sedang berpikir.
"Mungkin di lantai tiga nyonya"
"Hah, tadi saya juga sudah ke lantai tiga bi. Tapi sama saja, atau nanti coba saya cari lagi deh"
Bi Suti tersenyum sambil melanjutkan kegiatannya lagi.
"Nyonya biar saya saja" ucapan bi Suti yang membuat Chalissa sempat mengarahkan pandangannya.
"Bibi lanjutkan saja pekerjaan bibi. Ini hanya satu gelas bi, gak akan merusak tanganku" Chalissa melanjutkan untuk mencuci gelas yang baru dia gunakan untuk minum.
Sebenarnya bi Suti sangat segan kepada majikannya itu. Tapi ia pun tahu kalau Chalissa bukanlah majikan yang hanya bergantung pada pembantunya hanya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.
Selesai mencuci gelas, Chalissa mengeringkan tangannya lalu berniat kembali ke kamarnya menyusul suami dan putranya.
"Rissa" panggilnya saat akan menaiki anak tangga.
"Kamu dari mana?" yang melihat adiknya muncul dari arah pintu utama.
"Ehm, tadi... tadi dari luar sebentar kak" Rissa terdengar terbata-bata.
"Dari luar mana" terdengar seperti sedang mengintrogasi adik kecilnya.
Rissa terdiam. Ia tadi tidak sempat berpamitan kepada kakaknya, karena ia takut kalau kakaknya tidak akan mengijinkannya meskipun hanya sebentar.
"Katakan kamu dari mana?" tanya Chalissa lagi dengan nada lebih tegas.
"Ehm, aku membeli ini kak" Rissa tersenyum mencoba menutupi sesuatu ia pun menunjukkan sebuah kantong belanjaan yang berisi pembalut.
Chalissa terdiam, pikirannya masih mencerna ucapan dan ekspresi adiknya itu. "Kamu yakin keluar hanya membeli itu?"
"Iya"
"Lain kali ijinlah kalau mau keluar. Kakak tidak mau kamu jadi tidak punya aturan ya dek" tegas Chalissa, kemudian ia merentangkan kedua tangannya memberi isyarat untuk memeluk adik kecilnya itu.
"Maafkan aku ya kak"
Chalissa memeluk adiknya dengan sayang.
"Ya sudah masuklah ke dalam kamarmu. Kakak juga harus melihat Killian"
Mereka berdua sama-sama menaiki anak tangga, hingga Chalissa melihat adiknya masuk ke dalam kamarnya.
* * * * *
Di mall
Hanny yang sedang berada di mall tidak sengaja melihat Harrys bersama dengan Jeanice di sebuah tempat makan.
Mereka berdua terlihat sangat dekat dan tentunya kedekatan mereka pun terlihat mesra. Jeanice terlihat menyuapi makanan kepada Harrys.
"Han, lo mau pesan apa?" Dara teman kuliah Hanny yang mengikuti tatapan mata Hanny mengarah kepada sepasang yang sedang tertawa menikmati makan mereka.
"Lo kenal sama mereka?"
"Hah" Hanny mengalihkan pandangannya melihat sebuah papan menu mencoba mengalihkan pikirannya juga.
"Lo pesan apa?" tanya Hanny enggan menjawab pertanyaan Dara.
Lalu mereka memutuskan menu yang akan mereka pesan.
"Dar, mau makan di tempat lain gak?" mendadak membuat Dara bingung.
"E terserah lo aja deh" Dara merasa yakin kalau ajakan Hanny berpindah tempat itu karena sepasang manusia yang baru saja dilihatnya tadi.
Setelah berpindah tempat dan mendapatkan menu pesanan, mereka pun berjalan mencari tempat untuk duduk.
"Itu kayaknya kosong deh" Dara mengajak Hanny mengikutinya.
"Han"
"Iya"
"Tadi siapa?" Dara bertanya namun pandangannya mengarah pada makanan di depannya.
"Tadi, tadi bosku"
"Bos" ulang Dara, matanya menekan jawaban Hanny.
"Oh"
Dara mengamati mimik wajah Hanny yang diam namun menyimpan sesuatu.
"Lo takut ketemu sama bos lo tadi ya?" tebak Dara
"Enggak sih"
"Lalu tadi kenapa lo mendadak pindah tempat?"
"Gue gak enak aja. Udah ah jangan bahas bos gue lagi" sungut Hanny tidak suka dengan setiap pertanyaan Dara yang seolah mengintrogasi dirinya.
Hanny malas membahas masalah Harrys. Padahal dalam hatinya sendiri ia merasa kesal melihat Harrys yang begitu dekat dengan Jeanice.
* * * * *
Chalissa kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Ansel sedang menimang Killian.
"Kamu bangunin ya sayang?" Chalissa berdiri dekat dengan Ansel melihat ke arah putranya yang terbangun.
"Enggak sayang. Tadi aku lihat Lian ternyata belum tidur"
"Masa sih" Chalissa terheran karena tadi ia sudah meniduri putranya.
"Ihh mama gak percaya loh nak" Ansel menciumi pipi Killian yang matanya masih terang bugar.
"Jangan diajak ngobrol dong sayang, dia gak bakal tidur-tidur kalau gitu"
"Gak apa-apa ya sayang, kalau gak tidur kan bisa main ya sama papa, hmmmpaaa" Ansel terus saja mengajak putranya berinteraksi.
"Loh kamu udah mau tidur sayang"
"Iya ngantuk"
"Trus Killian gimana?"
"Kan tadi katanya mau temanin papanya main" ejek Chalissa lalu ia menarik selimut menutupi tubuhnya hingga sampai dadanya.
"Sayang jangan gitu dong. Nih tidurin Killian dulu sayang" rengek Ansel tidak terima ditinggal tidur oleh Chalissa.
Tidak ada sahutan dari Chalissa. Akhirnya Ansel menyerah dan berusaha meniduri Killian.
"Akhirnya tidur juga nak kamu"
Ansel membawa Killian memasuki box tidurnya. Dengan hati-hati ia membaringkan Killian. Setelah membaringkan putranya, ia mendekati istrinya yang sudah terlelap.
"Ih tega benar kamu sayang" sungut Ansel, lalu ia berbaring di samping Chalissa.
Malam sudah menunjukkan pukul 22.00. Ansel belum dapat memejamkan matanya, karena ia merasa kesal dengan istrinya. Terbesit pikirannya ingin menjahili istrinya.
Ia memeluka istrinya yang sedang tertidur sambil menghujani ciuman berkali-kali pada pipi istrinya. Namun, Chalissa tetap tidur pulas tanpa menanggapi keisengan suaminya. Karena tidak mendapat respon dari istrinya, Ansel iseng menyatukan bibirnya pada istrinya.
Chalissa melenguh dan menghindari ciuman Ansel. Ansel kembali mendaratkan ciumannya lagi pada istrinya hingga ia terbangun.
"Mana Killian?" tanya Chalissa kaget.
"Tuh" tunjuk Ansel dengan tatapannya.
Chalissa menguap setelah matanya mengarah pada box putranya. Kemudian ia kembali ingin memejamkan matanya lagi karena ia memang sangat mengantuk.
"Sayang, masih lama lagi ya masa nifas kamu?" tanya Ansel dengan tatapan menahan hasratnya.
"Hmmm" Chalissa sudah memejamkan matanya.
Ansel berdecak kesal.
Sudah lama ia menahan keinginannya untuk menyentuh istrinya.
Dalam tidur Chalissa tersadar tidak menghiraukan suaminya, ia membuka matanya berlahan mengarahkan pandangannya pada suaminya.
"Sayang, kok kamu belum tidur"
Tidak ada jawaban dari Ansel. Ia menyentuh bahu suaminya dan mengelusnya.
"Aku belum ngantuk, tidurlah sayang"
"Kamu mau ngapain?" saat melihat suaminya mengambil laptopnya dan memangkunya.
"Ada beberapa yang ingin aku selesaikan"
"Apa tidak bisa besok?"
"Aku belum ngantuk sayang, aku hanya mencoba menyibukkan diriku supaya aku merasa ngantuk"
"Oh"
"Kenapa diam?" Ansel dibuat heran dengan wajah istrinya yang mendadak diam mematung.
"Tadi kau bertanya apa sayang?"
"Hah. maksudmu pertanyaan kenapa kamu diam?"
"Bukan"
"Lalu" Ansel kembali mengingat pertanyaan apa yang sudah dia lontarkan pada istrinya tadi.
"Ya sudahlah lupakan saja. Aku mau tidur"
Ansel malah dibuat bingung. Sampai akhirnya dia tersenyum mengingat pertanyaan yang sempat ia tanyakan pada istrinya.
Ansel menutup kembali laptopnya dan kembali memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang"
"Hmmm"
"Aku tahu pertanyaan yang kamu maksud"
"Apa?" Chalissa membalikkan tubuhnya berhadapan dengan suaminya.
"Kapan masa nifas kamu berakhir?"
Bukannya mendapat jawaban, Chalissa malah menertawakan suaminya.
"Kok kamu ketawa" ucap Ansel sambil ikut tertawa seolah terbius dengan suara tawa istrinya.
"Kamu udah gak sabar ya" goda Chalissa membuat tatapan Ansel terbelalak.
"Cie... sini cium aku" goda Chalissa lagi
Tidak terima digoda oleh istrinya, Ansel balik menggoda dengan mengiyakan ajakan istrinya. Ia mencium Chalissa paksa sambil menggelitik perut istrinya.
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍