Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Bali 2



Tutt... tuttt... tuttt


"Pak Ansel, saya sudah berada di depan kamar anda" ucap seorang perempuan.


Ansel sudah siap untuk menikmati makan siangnya bersama kliennya. Ia keluar dari kamarnya dan melihat sekretarisnya sudah berdiri menunggunya.


"Hai Davina, akhirnya kau tiba juga" sapa Ansel.


Setiap melakukan perjalanan bisnis. Sekretaris dan assistennya adalah orang yang sering disertakannya.


Ansel berjalan melewati beberapa orang yang sedang duduk menikmati makan siang mereka di restauran, yang terdapat dalam hotel tersebut, diikuti oleh Davina dari belakangnya.


Mereka berjalan menghampiri meja, nampak kliennya sudah menunggunya di meja makan yang berada di tepi dinding.


"Selamat siang tuan Ansel Zaccheo" sapa seorang pria yang memiliki perawakan tinggi dan besar. Ansel menerima uluran tangan pria tersebut, ia menyalami pria tersebut dengan senyum dan tatapan yang tegas.


"Perkenalkan, nona Davina. Sekretarisku" ucap Ansel. Tuan Ronald pun menyapa nona Davina.


"Bagaimana perjalanan anda?" tanya tuan Ronald yang adalah kliennya.


Ansel tersenyum mengangguk, "Lancar"


"Hotel anda sangat indah tuan Ronald" pujia Ansel, "terima kasih tuan Ansel" jawabnya.


Beberapa waitress dan waiter menghampiri meja makan mereka. Sebuah jamuan makan siang, dengan menu yang terlihat lezat dan dengan beberapa varian ditampilkan di atas meja makan mereka.


Tak lama, Ansel melihat tatapan tuan Ronald yang mengarah kepada dua pria yang berjalan mendekat ke arah meja makan mereka. Ia berdiri mengikuti tuan Ronald yang berdiri, hendak menyambut dua pria tersebut. Dan mereka saling bertegur sapa.


"Tuan Ansel, perkenalkan. Ini adalah rekanku juga, ini tuan Daniel dan ini tuan Hendrik" jelas tuan Ronald.


"Tuan Daniel dan tuan Hendrik, perkenalkan. Ini adalah tuan Ansel" lalu mereka kembali duduk untuk menikmati makan siang mereka.


Selang beberapa menit mereka masih saling bertegur sapa. Seseorang sudah berdiri di belakang Ansel. Ansel, terheran ketika tuan Ronald tiba-tiba tersenyum ramah pada seseorang yang ada di belakangnya.


"Hallo nona Bellva..." sapanya beranjak dari duduknya.


Sontak Ansel menajamkan matanya, menekan giginya yang tertutup rapat oleh bibirnya ketika mendengar nama Bellva disebut.


Rekan tuan Ronald terlihat ikut berdiri untuk menyambut Bellvania. Ansel tak punya pilihan selain ikut berdiri dan menyimpan rasa geramnnya itu pada wanita yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya.


"Hallo tuan Ansel, lama tak berjumpa" sapa Bellvania eksotis.


Ansel menghela napasnya dan menghembuskannya berlahan untuk menutupi kegeramannya.


"Saya tahu, anda sudah saling mengenal" ucap tuan Ronald kepada Ansel dan Bellvania.


"Iya, anda benar" ucap Ansel tersenyum getir.


Tak lama, "Hai nona Davina" sapa Bellvania kepada sekretaris mantan kekasihnya, yang sudah dikenalnya. Davina mengangguk tersebut sambil melambaikan tangan menyapa Bellvania yang berdiri jauh dari jangkauan tangannya.


"Bolehkah saya duduk di sini?" pinta Bellvania kepada tuan Ronald, menunjukkan kursi yang berada di samping Ansel.


"Tentu saja, nona. Apa yang tidak untuk nona secantik anda" balas tuan Ronald berbasa-basi. Ansel membuang tatapannya, tak berniat untuk melihat keberadaan Bellvania yang kini duduk di sampingnya.


Mereka pun menikmati makan siang mereka. Di sela makan siang mereka, dibumbuhi obrolan-obrolan kecil. Ansel, merasa tak nyaman. Ketika Bellvania selalu menyisipkan obrolan yang tak penting mengenai kedekatan mereka.


"Maaf, saya permisi sebentar." pamit Ansel telah menyelesaikan makan siangnya. Ia berjalan ke arah toilet.


Davina sendiri merasa muak dengan sosok Bellvania yang dianggapnya tak tahu malu. Sudah mencampakkan bosnya, lalu dengan gencar dan percaya diri masih saja mendekati bosnya. Apalagi, kini bosnya sudah berkeluarga. "Dasar menyebalkan" guman Davina dalam hatinya.


Di dalam toilet, Ansel menghubungi Harrys. Ia menanyakan pekerjaan Harrys. Sepertinya, ia berharap supaya Harrys cepat menyusulnya ke Bali, karena ia merasa tak nyaman dengan keberadaan Bellvania, yang sepertinya akan berusaha selalu mendekatinya.


***


Ansel kembali dari toilet.


Tak berlama-lama, ia sengaja ingin mengakhiri tegur sapa mereka dalam makan siang.


"Sebelumnya, saya minta maaf. Sepertinya, sudah tidak ada hal pekerjaan yang harus kita bicarakan. Saya ingin kembali ke kamar, karena ada beberapa pekerjaan yang ingin saya selesaika." tutur Ansel masih berusaha tetap sopan.


"O tentu tidak apa-apa tuan Ansel. Kebetulan siang ini hanya sebagai makan siang saja, sebelum kita benar-benar membicarakan masalah pekerjaan." jelas tuan Ronald, "Anda boleh kembali ke kamar, apalagi anda juga butuh waktu istirahat" imbuhnya.


Ansel pun berdiri, diikuti oleh Davina. Sebelum ia pergi, ia lebih dulu memberi senyum kepada seluruh kliennya yang berada di meja, tidak dengan Bellvania yang sengaja ia lewati. Kemudian ia beranjak dari tempatnya meninggalkan meja tersebut bersama dengan Davina.


Memasuki setiap lorong kamar. Ansel berhenti di depan kamar Davina yang hanya berjarak dua kamar dari kamarnya setelah kamar sekretarisnya itu.


"Gunakan waktu istirahat mu dengan baik" ucap Ansel.


"Baik pak Ansel" kemudian Ansel melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Malam hari, tiba waktunya jam makan malam. Ansel sangat enggan untuk menikmati makan malam. Semua itu, karena ia malas bertemu dengan Bellvania lagi.


Tuttt...tuttt... tuttt...


"Pak, apa anda tak ingin keluar?" tanya Davina yang dari tadi sudah menunggu bosnya. Namun, tak kunjung muncul.


Ansel keluar dari kamarnya. Davina menghampiri Ansel.


"Kalau pak Ansel memang tak ingin makan malam, biar saya pak memberitahu klien bapak" ucap Davina, paham bentuk dengan keengganan bosnya itu.


"Tidak apa-apa, kita makan saja bersama mereka. Lagi pula, bukankah saya tetap harus profesional" tutur Ansel dengan suara tegas.


Davina salut dengan bosnya itu. Mereka berjalan menghampiri kliennya. Kali ini mereka akan makan di tempat lain sesuai dengan ajakan tuan Ronald.


"Pak Ansel tak perlu khawatir" ucap Davina yang masih berjalan mengikuti langkah bosnya. Ansel menoleh kepada sekretarisnya, tak paham tujuan dari perkataan Davina.


"Selama bertemu klien, saya akan terus mendekati nona Bellvania, pak. Agar dia tak punya waktu untuk mengambil perhatian bapak" lanjut Davina meyakinkan bosnya. Ansel tersenyum, merasa lega dengan perkataan Davina.


"Baiklah" ucap Ansel tersenyum ke arah sekretarisnya.


"Bagaimana istirahat Anda, tuan Ansel?" tanya Pak Ronald.


"Nikmat dengan kenyamanan kamar yang Anda sediakan tuan Ronald" tutur Ansel mengulum senyumnya.


Semua sudah berkumpul di sana. Bahkan, Ansel juga sudah melihat Bellvania bersama sekretarisnya. Wanita itu sengaja berpenampilan agak terlihat tranparan menunjukkan pahanya yang mulus yang dibalut dress panjang dengan bahan sifon. Namun, itu tak membuat Ansel tergiur lagi seperti dulu.


Mereka pun melakukan perjalanan menuju lokasi di mana mereka akan menikmati makan malam.


Davina sendiri mulai beraksi melakukan rencananya. Ia sengaja selalu berusaha menahan Bellvania yang ingin berada dekat dengan Ansel. Dengan alasan sebagai sekretarisnya bosnya, ia selalu siap sedia berada di samping Ansel. Hal itu sempat memancing Bellvania.


"Aku tahu kau sengajakan menghalangiku untuk duduk di sebelah Ansel?" ucap Bellvania saat mereka sedang duduk berdua.


Davina tersenyum licik dan tak suka.


"Maaf ya nona, di sini anda hanyalah rekan klien kami. Saya sebagai sekretaris pak Ansel, sudah sepatutnya selalu ada di samping bos saya. Apalagi, ada wanita penyusup yang mencoba menyusup kesejahteraan keluarganya!" tegas Davina tak lagi bersikap santun seperti saat Bellvania menjadi kekasih bosnya.


Bellvania mengepal tangannya.


"Kau hanya sekretaris, kau bukan istrinya!" ucap Bellvania dengan tatapan sinis.


"Dan anda adalah ular penyusup! Di sini, saya lebih berhak dekat dengan tuan Ansel, karena saya sekretarisnya yang jauh lebih dibutuhkannya dari pada anda, nona Bellvania!" tantang Davina dengan penekanan.


Davina tak sedikit pun merasa gentar mengahadapi mantan kekasih bosnya. Ia dengan santai masih menikmati desert yang tersedia sambil sesekali matanya melihat ke area tempat yang indah saat ini.


Bellvania menyenderkan tubuhnya, memandang Davina sebagai penghalangnya. Ternyata, selain Harrys. Davina pun menjadi seperti pengawal bagi Ansel. Bellvania sangat geram dan menyimpannya dalam hati.


*


*


*


*


*


Happy Reading 😍


Jangan lupa di like, like, dan like... di vote, vote, dan vote... dan please follow juga author ya untuk mengikuti novel-novel author selanjutnya nanti, hehehehe....


Gaes, gaes komentar dong ya... komentar bolehlah gaes, supaya author tuh makin gercep nih gaes.


🙏