
Ansel melihat keluarga kecil itu saling melepaskan rasa rindu dan tangisan mereka masing-masing.
Sungguh penampakan yang tidak pernah di saksikan oleh Ansel, kini ada di depan matanya.
Melihat pemandangan itu, tanpa diketahui Ansel meninggalkan mereka. Ia keluar dari kamar Lissa dan menutup pintu kamar dengan hati-hati agar mereka tidak terganggu.
"Nona Chalissa bahagia sekali ya tuan" tutur bi Nani sambil memberikan segelas air mineral pada Ansel.
Ansel menerima segelas air mineral dari bi Nani. Ia ikut merasakan kebahagian yang dirasakan Chalissa. Inilah pertama kalinya ia bisa melihat secara langsung bagaimana Chalissa menangis bahagia.
"Bi selama saya pergi apa saja yang dilakukan Chalissa?"
"Seperti biasa tuan. Membaca buku, membantu bibi membersihkan rumah dan memasak. Trus setelah nona Hanny pulang mereka berdua asyik mengobrol tuan" jelas bi Nani
Ansel mulai memikirkan
Apa kegiatan yang dilakukan Chalissa masih membuatnya merasa jenuh?? Sampai dia bisa sesedih tadi???
"Kenapa tadi dia kesal sekali?" umpat Ansel yang didengar oleh bi Nani
"Nona merindukan tuan" suara bi Nani menerobos pada pikiran Ansel.
Mendengar kata-kata bi Nani membuat Ansel seolah puas. Dia berhasil membuat Chalissa merasa kehilangan dirinya sampai menyisahkan kerinduan di hati wanita itu. Meskipun pada akhirnya dia tidak tega melihat raut sedih di wajahnya tadi.
"Bi, hari ini saya mau pulang ke rumah dulu ya. Nanti kalau Chalissa mencariku katakan saya hanya sebentar" jelas Ansel, masuk ke dalam kamarnya sebentar lalu pergi.
Ia pergi ke rumah orang tuanya, sepertinya tanpa sepengetahuan Lissa, Ansel sudah mengatur semuanya. Ia sengaja tidak memberitahu Chalissa, karena ia tidak ingin melihat Chalissa capek pikiran dan hati yang dapat membuat wanita itu jadi setres.
* * * * *
Perjalanan yang melelahkan dari Pekalongan hingga ke Jakarta membuat Clarissa lelah. Setelah puas melepaskan rasa rindu, Rissa memilih untuk tidur tanpa menikmati makan malamnya.
Di ruang tengah, setelah selesai makan malam. Bu Dewi dan Lissa memilih melanjutkan obrolan mereka.
"Bagaimana ibu bisa datang ke sini?" tanya Lissa
"Nak Ansel datang ke rumah Lissa" tutur ibunya dengan suara lembut Bu Dewi.
"Hahh" Lissa kaget, dia tidak menyangka Ansel akan mengatur pertemuan mereka di Jakarta. Di rumah di mana Chalissa tinggal.
"Nak Ansel datang meminta maaf kepada ibu. Ibu sudah tahu semuanya. Keluarga Pak Rusdi dan Bu Hera juga sudah tahu, karena Hanny sudah menjelaskan semuanya juga setelah mendengar cerita dari nak Ansel" jelas Bu Dewi.
Chalissa benar-benar tidak menyangka kalau Ansel dan Hanny telah bekerja sama mengatur semua ini. Pantas saja Hanny selalu enteng menanggapinya tentang kerisauan hatinya pada Ansel.
"Bu, maaf Lissa kalau sudah mencoreng nama ibu" Lissa berlutut meminta maaf kepada wanita yang melahirkan dan membesarkannya.
"Kamu tidak salah nak. Mungkin ini takdir yang mempertemukanku dengan Ansel. Meskipun cara sangat pahit. Tapi apa yang bisa ibu perbuat. Ibu memaafkan semuanya" tutur Bu Dewi mengelus rambut putri besarnya.
"Apa kamu sudah siap nak untuk menikah dengan nak Ansel?" tanya Bu Dewi
Lissa menganggukan kepalanya.
"Ibu hanya bisa berdoa nak untuk kebahagiaanmu. Ibu sangat menyayangi anak-anak ibu" ucap bu Dewi.
* * * * *
"Ma" bujuk Ansel memeluk Bu Myra dari belakang.
Berat bagi Bu Myra merelakan putranya harus menikah dengan wanita yang sebenarnya bukan pilihan hati anaknya.
"Ans tolong jangan memaksa mama!" ucap Bu Myra tetap kekeh pada pilihannya.
"Tolong ma, setidaknya lakukan ini untuk Ansel" pinta Ansel tak menyerah.
Ansel berlutut di bawah kaki wanita yang melahirkannya. Tindakan Ansel membuat Bu Myra menjadi iba.
"Ans jangan lakukan ini" tangis Bu Myra, meminta Ansek untuk mengangkat bahunya.
"Ans, mama hanya tidak tega kau harus menikah dengan seorang wanita yang bukan kau cintai" ungkap Bu Myra
"Ans, harap mama bisa memahami situasi Ans" memelas kepada mamanya
"Karena anak itu?!!" Sulut Bu Myra
Ansel diam tertunduk. Itu memang alasan Ansel menikahi Chalissa, karena ada anaknya yang sedang dikandung oleh Chalissa.
"Karena anak itu kamu menyampingkan perasaanmu Ans? lalu bagaimana dengan Bellva??!"
"Jangan menanyakan tentang Bellva, ma. Dia sudah berani selingkuh dengan temanku sendiri. Lalu untuk apa lagi aku menerimanya??" Ansel mengingatkan letak kesalahan mantan kekasihnya itu.
"Tapi sudah kembali Ans, dan dia pun sudah bersedia menikah denganmu" tutur mamanya tidak mau kalah.
"Ma, sekali pun Chalissa dan anakku tidak hadir. Tidak semudah itu aku akan menerima Bellva!" tegas AnselBu Myra terdiam.
Dia sadar kalau Bellva memang sudah pernah melakukan kesalahan dengan menolak dan selingkuh dari putranya. Tapi tetap saja hatinya tergores kalau harus menyaksikan putranya menikah dengan wanita yang tidak disukainya.
"Kalau itu keputusanmu. Mama tidak akan menghalanginya. Tapi jangan meminta mama untuk menerima wanita itu!!" ancam Bu Myra
Ansel tak menjawab perkataan Bu Myra. Baginya mamanya sudah bersedia mengijinkan dirinya menikah dengan Chalissa itu sudah cukup untuj saat ini. Tapi dalam lubuk hatinya, berharap kelak mamanya akan bisaenerima Chalissa bahkan menyayangi wanita itu seperti mamanya menyayangi Bellva.
* * * * *
"Pagi Bu, di dalam ruangan ibu sudah ada tamu yang menunggu" ucap Diana sekretaris pak Richard.
"Sepagi ini siapa yang datang" pikir Monique
Monique memberikan senyum kepada semua karyawan yang ada ia temui, lalu berjalan memasuki ruangannya.
"Pagi kak Monique" sapa Bellva, berdiri dengan nada suara manjanya.
Monique menghampiri Bellva, ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Bellva.
"Apa tujuanmu sepagi ini datang??!" Monique memangku kedua tangannya menyilang.
"Kak, tolong jangan bersikap keras padaku. Bukannya kita pernah menjadi akrab?" celoteh Bellva berbasa-basi.
Monique seakan muak dengan basa-basi yang diberikan oleh Bellva.
"Langsung saja! katakan apa tujuanmu?!!" tanya Monique dengan nada suara terdengar greget.
"Kakak pasti tahu kan tujuannku?" balas Bellva mengubah mimik wajahnya sedikit memelas
Monique mencermati maksud perkataan Bellvania, ia mulai paham dengan tujuannya.
"Kalau kau minta aku untuk membantumu menjalin hubungan lagi dengan Ansel, maaf tidak bisa!" tegas Monique
"Kenapa kak??!" suara Bellvania mendesak
"Karena kau yang sudah merusak hubunganmu sendiri. Lagi pula Ansel akan segera menikah. Lupakan saja niatmu itu" tutur Monique, ia berdiri dari duduknya dan mulai terlihat sibuk saat menduduki kursi kerjanya.
"Aku tidak akan menyerah kak Monique!! Ansel mencintaiku begitu pun denganku!, dan aku akan memperjuangkan dirinya!!!" ucap Bellvania keras kepala, ia pergi meninggalkan ruangan Monique.
"Hahh... omong kosong apa itu! Mana ada cinta yang selingkuh" umpat Monique sangat geram.
* * * * *
"Non, apa hari ini tuan Ansel tidak bekerja ya?" tanya bi Nani heran karena belum melihat tuannya keluar dari kamarnya.
"Apa Ansel pulang bi semalam?" tanya Chalissa karena tidak mengetahui kepulangan Ansel sekita pukul 02.00
"Di luar ada mobil tuan kok non" ucap bi Nani
Chalissa segera pergi ke arah kamar Ansel. dia mulai mengetuk kamar Ansel tapi tidak ada jawaban. Dia mulai menggerakkan engsel pintu kamar Ansel. Dan ternyata pintu tidak terkunci.
"Ans, bangun" panggil Chalissa lirih mendekatkan mulutnya pada telinga Ansel.
"Ans, kau tidak bekerja?" tanya Chalissa mengguncang tubuh Ansel.
Tidak ada jawaban.
"Mungkin dia terlalu lelah kali ya" guman Chalissa yang didengar oleh Ansel.
Ansel sudah terbangun, tapi dia malas membuka matanya. Saat dirasa Chalissa mulai meninggalkannya, Ia segera memberi isyarat.
"Hmmmmm" mendengus
Ansel mengarahkan pandangannya pada Chalissa.
"Kau sudah bangun ternyata?" Chalissa merasa Ansel sedang membohonginya.
"Aku bangun karena kamu" ucapnya masih menahan kantuk.
"Kau tidak bekerja?" Chalissa mendekati Ansel, duduk di sisi ranjang di samping Ansel.
Tidak menjawab pertanyaan Chalissa, Ansel malah menarik tangan Chalissa.
"Ihhhh mau ngapain sih!" spontan Chalissa menyentak tangan Ansel.
"Kau mulai menghindariku lagi? Apa masih marah gara-gara aku cuekin?!" ucap Ansel agak bersungut.
"Aku tidak marah"
"Lalu kalau gak marah kenapa kau menolakku? Aku kan hanya ingin memelukmu" jawab Ansel ngotot.
"Kau kan belum menikah denganku, Ans" balas Chalissa polos.
Ansel tertawa kecil, entah apa yang saat ini mulai bersarang di pikirannya.
"Jadi kalau kita sudah menikah, kau tidak akan menolakku kan?" tanya Ansel dengan perkataan yang mengandung lain.
"Iyaa" jawab Chalissa polos tidak menangkap maksud dari perkataan Ansel sebenarnya.
Ansel menyunggingkan senyumnya, mendengar kepolosan Chalissa menjawab pertanyaannya.
.
.
.
.
.
Happy Reading 😍
Yeeeee.... Novel DON'T Hate me, Baby! sudah memasuki chapter 30 an readersss...
Jangan lupa ya terus dukung author, jangan lupa koment dong setelah membaca supaya author tahu kekurangannya apa readers, heheheh
Like, vote, komen, dan follow author ya readersss ku