
Sudah 1 bulan kemudian semenjak pertemuan Hanny dengan Keenan. Selama 1 bulan juga Keenan menatapi adik-adiknya dari jauh. Sungguh sebenarnya ia ingin sekali bertemu langsung dengan adiknya, terutama Chalissa.
Mengapa hanya Chalissa?... Yah, karena sebenarnya Keenan sudah pernah berada dekat dengan Clarissa. Saat itu Clarissa masih sangat kecil, ia tak mengingat persis wajahnya kakaknya.
Flashback
Clarissa sedang berada di toko buku bersama teman-temannya. Gadis belia itu dengan serius menyusuri tiap rak buku. Hingga pada rak buku bacaan cerita fiksi. Lama di sana Clarissa berdiri mengamati isi buku itu. Tanpa di sadarinya tepat di samping Keenan berdiri. Ia ikut membuka buku, namun matanya melirik pada Clarissa.
Tak sengaja, Clarissa yang sedang fokus membaca tidak menyadari kakinya melangkah mundur dan menabrak seseorang yang sedang berjalan hampir melewatinya dari belakang.
Bragh... Karena kaget buku di tangannya terjatuh.
Dengan lincah Keenan mengambil buku itu. Clarissa menunjukkan ekpresi minta maaf sambil menundukkan sedikit kepalanya kepada seorang ibu yang tidak sengaja ditabraknya. "Maaf Bu."
Ibu itu membalasnya dengan senyuman tipis kemudian berlalu.
"Ini buku kamu" Keenan menyerahkan buku itu dengan ragu menampakan wajahnya pada adiknya. Ia pikir Clarissa akan mengenalinya.
"Terima kasih kak" ucap Clarissa tersenyum tipis. Setelah mendapatkan buku dari tangan Keenan gadis belia itu mengalihkan pandangannya mencari halaman buku yang sudah sempat ia baca.
Keenan dengan wajah berseri berlalu dari sisi Clarissa.
"Kakak itu" mendadak tatapan Keenan menggugah hatinya. Ia seperti mengenalinya namun tidak tahu persis siapa orang yang ia maksudkan.
Flash On
Hanny bingung memikirkan pertemuan kakak beradik itu. Meskipun Keenan tak mendesaknya. Namun, Hanny sangat tahu keinginannya untuk bertemu adiknya.
Haruskah ia langsung saja menceritakan kepada Chalissa bahwa ia sudah bertemu dengan Keenan dan menceritakan alasan Keenan mengapa selama hampir 6 tahun tak kembali. Hanny harus mengatur waktu itu, karena bukankah seharusnya lebih cepat lebih baik???.
"Lissa, apa kamu di rumah?"
Suara notifikasi pesan di ponsel Chalissa.
"Iya. Kenapa Han?, apa kamu mau datang??"
Hanny senang cepat mendapat balasan dari sahabatnya.
"Iya, aku kangen sama Killian. Sudah lama kan aku gak lihat Killian, pengin gendong Killian. Hehehe"
"Cuma kangen Killian ya? JAHAT!! Masa sama sahabatnya sendiri gak."
"Hehehe... kangen juga sih. Besok siang aku datang ya"
"Okay"
"Siapkan makanan yang enak ya... Hahaha"
"Sip"
Hanny harap pertemuannya dengan Chalissa besok siang akan berjalan lancar. Semoga Chalissa sangat senang setelah mendengarkan ceritanya. Harapan Hanny, tanpa sepengetahuan Keenan.
* * * * *
Hari ini Chalissa senang, karena siang nanti Hanny akan datang berkunjung. Sahabatnya itu sudah hampir dua minggu tak berkunjung ke rumahnya.
"Ih sayangnya mama sudah bangun ya" Chalissa melihat putranya ternyata sedang bermain sendiri di atas ranjang milik papa mamanya.
Setelah menyiapkan pakaian kerja Ansel, Chalissa menghampiri putranya. Kini usia Killian sudah menginjak 3 bulan. Tubuh dan pipinya sudah semakin berisi membuatnya semakin gemas.
"Ya ampun gemas banget sih anak mama. Boleh gak mamanya cium?" tanya Chalissa tanpa mendapatkan jawaban dari Killian.
Chalissa menciumi pipi putranya dengan gemas. Seolah senang putranya dengan lincah menggerakkan kakinya yang terangkat ke atas.
"Senang ya dicium sama mama" Chalissa mengulang berkali-kali menciumi pipi dan tubuhnya putranya yang khas dengan aroma tubuh bayi.
"Mama gak adil nih, Killian diciumin mulu papanya enggak" celetuk Ansel.
Chalissa tergelak mendengarkan celetukan suaminya yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Killian kan gak pernah sembarangan cium-cium mama ya?" mengangguk-anggukan kepalanya kepada Killian.
"Beda sama papa yang suka nyosor cium-cium mama. Ya gak nak?" imbuh Chalissa mengulum senyumnya membuat mata Killian tak beranjak dari manik mata Chalissa.
Ansel terkekeh.
"Kan beda dong sayang yang mencium dan dicium" nyinyir Ansel.
"Sekali-kali papa kan mau diciumin. Masa cuma Killian yang dicium pencetaknya enggak?" gerutu Ansel sok manja
Ansel menghampiri Killian. Ia berdiri membungkukkan tubuhnya, hingga membuat Killian beralih tatap ke arah wajah papanya yang kini berada tepat di atasnya.
Chalissa mendelikkan matanya, "Iya pencetak yang salah sasaran!"
"Sayang" ucap Ansel dengan penekanan.
Chalissa terkekeh.
"Sudah pakai tuh kemejanya" titah Chalissa, matanya menunjuka ke arah kemeja kerja Ansel.
"Pakaikan dong" Ansel berucap dengan suara manja minta diperhatikan.
"Ih gak malu ya papa dilihat Killian" sindir istrinya.
"Kenapa harus malu, papa kan mau diperhatikan juga seperti Killian yang dipakaikan baju" kekeh Ansel.
Chalissa mendesah menepuk kening. Ia segera membantu suaminya mengancingi kemeja suaminya dengan jari yang lincah.
"Nah ini baru istri cantikku mamanya Killian" tawa Ansel.
Chalissa mencebikkan bibirnya. CUP.
"Ans" protes Chalissa
"Gak sopan" CUP
Chalissa mencubit perut suaminya, "Auwww" rintihan Ansel.
"Aduh cubitannya kayak cabe rawit deh sayang" keluhnya mengusap perutnya yang sakit.
"Mau lagi" mata Chalissa membulat sempurna.
"Mau, tapi cubitnya pakai bibir, boleh?" mengulum senyumnya agar terlihat menggemaskan.
Chalissa tersenyum tipis dengan ekspresi suaminya.
"Dasar"
"Sayang dasinya belum" manja Ansel.
Chalissa dulu tak lihai dalam memakaikan dasi Ansel, tapi karena sudah terbiasa membantu suaminya memakaikan dasinya. Jadi jarinya sudah lihai. Ia meraih dasi yang ada di tangan Ansel.
Ansel sengaja menatapi mata istrinya dengan genit, memancing ekspresi istrinya. Chalissa menyadari manik mata Ansel namun tak dihiraukannya.
Hampir selesai. Kedua tangan Ansel melingkar pada pinggang istrinya. Satu tangannya bertahan pada pinggang dan satu tangan naik melingkar pada punggung istrinya. Ansel mendekatkan tubuhnya hingga membuat ruang tangan Chalissa menjadi sempit untuk menyelesaikan tugasnya memakaikan dasi suaminya.
"Sayang, ini belum selesai loh" dengan tangkas Chalissa memundurkan langkahnya. Namun sudah ditahan oleh tangan Ansel.
Kedua tangan Chalissa menahan pada dada Ansel, dan mendelik curiga. Mendapat tatapan seperti itu membuat Ansel tergelak.
"Begitu makin buat saya gereget loh sayang. Gereget mau makan kamu sebelum ke kantor" goda Ansel.
"Hemmm" Chalissa berdehem dengan penekanan.
CUP
Ansel mencium dengan lembut. Ia meraup dengan lembut namun rakus.
Deg, jantung Chalissa dibuatnya berdebar lagi setelah semalam Ansel sudah mendapatkan haknya.
Chalissa berupaya melepaskan ciuman suaminya, karena takut hal itu tidak akan bisa dihentikan oleh suaminya. Ansel menahan tubuh Chalissa dengan tangan dipunggung dan di sela leher dan kepala istrinya. Chalissa pasrah tanpa perlawanan lagi.
Benar praduga Chalissa. Bukannya berhenti, Ansel malah semakin ******* dan memperdalam ciumannya. Tapi Chalissa pun berperan andil dalam aksi suaminya, ia membalas ciuman suaminya hingga Ansel merasakan kenikmatan yang membuatnya candu.
Mereka mendesah bersama saat ciuman mereka terhenti karena hampir kekurangan oksigen. Mereka meraup oksigen bersama dan Ansel terkekeh karena Chalissa masih sempat memelototinya. Chalissa melotot sempurna karena menangkap suaminya akan menciumnya lagi.
Ansel memeluk istrinya dengan gemas, "Kalau tidak ada rapat penting, kau tidak akan aku lepaskan" bisik Ansel membuat Chalissa terpingkal tanpa suara.
Ansel melepaskan pelukannya sebelum sesuatu di bawah sana meronta, menuntut untuk dipuaskan.
Wajahnya terlihat frustasi, ia meraup oksigen dan membuangnya dengan kasar.
Chalissa terkekeh menggoda suaminya.
"Jangan memancing lagi sayang" sadar pada wajah istrinya yang sedang membantunya merapikan kemeja dan dasinya.
Hanya satu yang bisa menghentikan gairah Ansel.
Tangisan Killian.
"Tuh ada yang marah" ucap Chalissa menatap suaminya yang berhadapan dengan dirinya.
Ansel terbahak meletakkan kedua tangannya di sisi pinggangnya.
* * * * *
Siang hari.
"Bentar lagi aunty Hanny datang sayang, Killian kangen gak sama aunty" seolah putranya paham dengan ucapannya. Chalissa terus saja mengajak putranya berbicara.
Tamu yang ditunggu akhirnya datang.
"Killian... kangen aunty" gemas Hanny.
"Mama aku juga kangen tante" ucap Chalissa mewakili Killian.
Hanny memangku Killian yang sudah mendapatkan ASI nya. Killian mendelikkan matanya bergerak ke sembarang arah. Kaki dan tangannya bergerak tak senada.
"Duh kok makin lama, makin embem ya pipinya" tawa Hanny pelan.
Bi Suti datang datang membawakan minuman dan berbagai cemilan.
Chalissa sangat senang dengan kedatangan Hanny. Jelas saja, sejak Killian lahir rutinitas Chalissa tak sebebas dulu. Ia perhatian dan fokusnya harus terikat pada Killian. Belum lagi saat Ansel sudah pulang, yang ikut-ikutan bermanja ria. Jadi dengan datangnya Hanny dapat menjadi ruang me time nya untuk sekedar melepas penatnya.
Di sela obrolan mereka, tiba-tiba Chalissa menceritakan kejadian di rumah sakit saat ia tak sengaja seperti melihat Keenan, kakaknya. Tapi ia yakin kalau itu adalah benar Keenan. Hanny tahu persis bahwa yang diceritakan Chalissa memanglah Keenan, karena pria itu juga pernah bercerita bahwa Chalissa hampir menemukannya saat di rumah sakit.
"Oya?" tanya Hanny merasa lega untuk memulai pembicaraannya tentang Keenan.
"Entah kenapa aku yakin sekali kalau itu memanglah kak Keenan, Han"
"Hem, kalau misalkan itu memang kak Keenan dan kalian benar-benar bertemu apa kamu sangat senang Chalissa? apa kamu gak marah dengan kak Keenan?" mengorek informasi agar ia bisa dengan lega menceritakan tentang Keenan.
Wajah Chalissa berubah. Senyum yang tergambar menjelaskan bahwa tak ada kemarahan.
"Ya jelaslah aku senang Han. Yah, memang sih agak sedikit kecewa karena kak Keenan pergi trus gak pernah pulang" menghembuskan napasnya.
"Tapi aku juga ingin dengar langsung kenapa kak Keenan lama gak kembali" lanjut Chalissa.
Hanny terdiam memikirkan sesuatu.
"Hei kok kamu diam gitu sih" Chalissa membuyarkan kediaman Hanny.
Hanny tersenyum tipis.
"Sebenarnya aku juga pernah melihat kak Keenan. Awalnya aku kira itu hanya mirip, tapi..." ucap Hanny pelan lalu terhenti.
"Tapi apa?" perasaan Chalissa mengembang, dalam hati ia sudah menerka kalimat selanjutnya bahwa Hanny akan mengatakan pria itu memanglah Keenan.
Hanny tersenyum tipis, "Aku sudah bertemu kak Keenan Lissa"
Seperti mimpi, apa dirinya sedang salah mendengar.
"Apa?" memastikan bahwa sahabatnya itu tak salah bicara.
"Kamu bertemu kak Keenan?" tambahnya lagi.
Hanny menarik garis bibirnya ke atas. Bibirnya mengatup sangat rapat tak ada cela ruang mulutnya yang terlihat kecuali garis senyum. Lalu ia mengangguk menandakan bahwa apa yang didengar oleh Chalissa memang benar adanya.
Wajah Chalissa datar tak lama matanya berkaca-kaca.
"Kamu gak salah bicarakan kan Hanny?" masih memastikan lagi.
"Iya Lissa, aku sudah bertemu dengan kak Keenan. Satu bulan yang lalu, maaf"
Air mata Chalissa tumpah berlahan dan tipis.
Hanny menceritakan semua tentang pertemuannya. Ia menjelaskan mengapa ia tak menceritakan pertemuannya satu bulan yang lalu. Chalissa mulai mengerti maksud Hanny.
Hanny pun menceritakan hanya sebagian yaitu garis utama mengapa Keenan belum kembali. Lalu ia bercerita bagaimana Keenan sekarang sudah terlihat mapan dan tidak ketinggalan kakak sahabatnya itu sangat gagah dan keren. Selebihnya yang berkaitan dengan penjelasan lebih detail tak dijelaskan oleh Hanny. Pikirnya biarlah itu akan menjadi pokok pembicaraan Keenan dan Chalissa nanti saat bertemu.
Chalissa tak sabar ingin bertemu Keenan. Ia meminta Hanny agar secepatnya menyampaikan pada Keenan bahwa ia dan Clarissa ingin bertemu.
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍
.
.
Readers puncak keberhasilan author menulis adalah ketika kalian merasa senang dan semangat untuk membaca tulisan author ini.
Mungkin tak sekeren tulisan penulis novel lainnya yang sudah berpengalaman. Tapi author selalu berusaha untuk menuangkan ide cerita agar tak berujung dengan membosankan. Bingung juga author menuangkan kalimat yang apik.
Jika kalian suka jangan lupa like, vote, komen, dan follow author ya reader-readerku ♥️