
CLECKKK - suara pintu kantor Ansel
"Pak Ans" panggil Harrys
Ia melihat Ansel sedang tertidur di bangku kekuasaannya.
"Hmmm" sahut Ansel tanpa membuka matanya.
"Kenapa jam segini anda belum pulang pak?" Harrys melihat jam tangannya, lalu ia memposisikan tubuhnya duduk di sofa.
Harrys menyenderkan kepalanya dan melihat ke atas, sesaat suasana kantor menjadi hening. Harrys menunggu bosnya itu berbicara, tapi justru tak terdengar sedikitpun suara dari mulut bosnya itu. Justru pemandangan yang dilihatnya bosnya itu masih saja menikmati kelelapannya.
"Apa dia memanggilku hanya untuk menemaninya seperti ini" umpat Harrys. Ia mengarahkan pandangannya ke arah Ansel yang masih tertidur.
Tidak mendapat respon dari bosnya akan kehadirannya, Harrys memutuskan untuk keluar.
"Kau mau ke mana?" suara Ansel mengagetkan Harrys, seketika langkahnya berhenti.
"Kenapa dia tahu aku akan keluar" umpatnya kesal
Harrys kembali duduk. Kali ini, dia duduk di kursi depan meja kerja Ansel.
"Apa pak Ans ada masalah?"
Ansel menghembuskan napas dengan kasar. Ia membuka matanya.
"Chalissa hamil" ucap Ansel lemas
"HAHHH!! Kok bisa pak?!!!" teriak Harrys memajukan kepalanya ke depan Ansel
"Apanya yang bisa" bentak Ansel melototkan matanya kepada Harrys
"Ma... maaf pak. Maksud saya bagaimana nona Chalissa bisa hamil. Apa satu kali sangat berkhasiat?!!" tanpa bersalah Harrys melepaskan perkataannya di depan Ansel,
"Sekali lagi kau bicara tidak berbobot, akan kucongkel matamu" kesal Ansel
"Mulutku yang salah kenapa mataku yang kena, sial!!" umpat Harrys
"Kau bicara apa?" tanya Ansel curiga
"Tidak pak" Ansel memundurkan badannya hingga menempel pada sandaran kursi yang ia duduki.
"Lalu apa rencana pak Ans?" tanya Ansel
"Aku akan menikah dengannya" tutur Ansel
"Hahh... Bukannya pak Ans hanya mencintai nona Bellvania?!!" terheran pada keputusan bosnya.
"Aku sudah malas membahas Bellva. Dia juga sudah membuatku kecewa! Lagi pula gara-gara dia aku jadi menghamili Chalissa"
"Kenapa menyalahkan Bellvania" guman Harrys dalam hati
"Apa keluarga pak Ans sudah tahu?"
"Iya, mereka sudah tahu"
"Lalu? Bagaimana pendapat keluarga pak Ans? Apa mereka setuju?" tatapan Harrys penuh selidik
"Setuju tidak setuju aku akan tetap menikahi Chalissa"
"Oooo" Harrys menggigit jarinya, matanya terlihat sedang membayangkan sesuatu. Sedangkan Ansel memijat keningnya. Terlihat begitu setres menghadapi masalahnya dengan Chalissa.
"Kalau pak Ans butuh bantuan, katakan saja. Saya akan membantu" ungkap Harrys
"Tentu saja kau harus membantu! Kalau bukan kau siapa lagi?!!" ketus Ansel memalingkan tangannya dari depan wajahnya.
"Hahh.. salah!!!" umpat Harrys melemaskan tubuhnya.
* * * * *
Pukul 23.00 usai mengobrol dengan Harrys, Ansel memutuskan pulang. Tapi, ia memutuskan untuk pulang ke tempat tinggal Chalissa. Ia khawatir dengan keadaan Chalissa. Apalagi kini wanita itu sedang mengandung anaknya.
"Apa kau ingin aku antar pulang?" tanya Harrys
"Ini" melemparkan kunci mobil ke arah Harrys
"Baiklah pak dirut, hari ini aku akan menjadi supir pribadimu" mengerlingkan matanya sambil tersenyum tipis ke arah bosnya.
Lalu mereka berjalan menuju lobby.
Ansel duduk di samping Harrys yang mengemudikan mobilnya.
"Kita putar balik" ucapa Ansel
"Loh kita mau ke mana?" tanya Harrys bingung
"Antar aku ke tempat Chalissa" perintahnya
"Melihat bayiku? dengan suara yang enteng
"Waooo.. Sepertinya naluri kebapaan seorang Ansel sudah terlihat, Hahahaha" canda Harrys
Ansel hanya diam tidak merespon candaan Harrys, sepintas dia tersenyum masih tidak percaya kalau ia akan segera menjadi seorang ayah.
* * * * *
Tiba di depan rumah. Ansel segera membuka gerbang sendiri, karena seisi rumah pasti sudah terlelap. Untung saja Ansel selalu membawa kunci gerbang dan kunci pintu rumah. Jadi dia bisa masuk tanpa membangunkan bi Nani.
CLECKKK
Keadaan rumah nampak sunyi sekali. Sebelum masuk ke kamarnya, ia lebih dulu melihat Chalissa.
Ansel memperhatikan Chalissa yang sedang tertidur tanpa selimut. Ia menarik selimut dan membalutkannya pada tubuh Chalissa. Lalu ia menjongkokkan tubuhnya di samping Lissa yang sedang berbaring.
"Kasihan sekali kamu, ini pasti sulit bagimu kan? hmmm maafkan aku, Chalissa" gumannya dalam hati, dengan rasa sayang Ansel mencium kening Chalissa.
Lalu ia beranjak berdiri, ia membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan kamar Lissa. Saat akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba tatapannya beralih pada bagian perut Chalissa. Ada garis senyum yang terbentuk, mengingat keturunannya sudah tumbuh di rahim wanita yang sedang tertidur itu. Lalu ia membungkukkan tubuhnya, tangan kanannya menyentuh bagian perut Lissa. Sembari berkata,
"Sayang, papa tidak akan meninggalkanmu. Hmmm... Jadilah anak baik, jangan menyusahkan mamamu, okay" setelah selesai Ansel pun keluar dari kamar Chalissa.
* * * * *
Pagi hari
Bibi sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk Lissa. Hari itu, Lissa merasa bosan dengan rutinitasnya. Sebenarnya dia sudah ingin sekali mencari pekerjaan. Ia merasa tidak enak dengan Ansel yang sudah lebih dari sebulan membiayai hidupnya dan hidup keluarganya. Tapi apa yang mau dikata, keinginannya untuk bekerja harus dibatalkannya lantaran kini ia justru sedang berbadan dua.
"Non, ada apa?" tanya bi Nani saat melihat Lissa menghampirinya di dapur.
"Bi, aku sangat bosan. Aku ingin membantu bibi memasak" ungkapnya
"Tidak usah non, nona istirahat saja" pinta bi Nani tidak mau disalahkan nantinya oleh tuan Ansel.
"Tidak bi, aku juga kangen memasak. Dulu di kampungku pekerjaan ini sudah jadi tanggung jawabku" ujarnya sambil menyentuh sesuatu di dapur yang bisa ia kerjakan.
"Baiklah non tapi jangan yang berat-berat ya" harap bi Nani
Dengan cekatan Lissa membantu bi Nani. Diam-diam Bu Nani memperhatikan Lissa yang sangat cekatan mengerjakan pekerjaan dapur. Bi Nani tersenyum merasa bangga melihat Lissa.
"Tuan Ansel pasti tidak kecewa jika menikah dengan non Chalissa" ungkapnya dalam hati.
"Berbeda sekali dengan nona Bellvania yang manja dan sepertinya mana mungkin dia mau di dapur" guman bi Nani dalam hati.
Bi Nani merasa wanita yang cekatan mengerjakan rumah atau pekerjaan dapur, pasti akan sangat mencintai keluarganya. Pasti ia akan menjadi wanita yang sangat memperhatikan kebutuhan keluarganya. (Padahal belum tentu juga sih!!!! Hehehe)
Selesai membantu bi Nani, Lissa duduk di kursi meja makan.
"Bi, apa Ansel semalam datang?" tanya Lissa yang semalam merasakan kehadiran Ansel.
Bi Nani menghentikan kegiatannya seraya mengingat kejadian semalam.
"Semalam bibi tidak membukakan pintu untuk tuan Ansel non" ucapnya setelah mengingat memang dia tidak ada membukakan pintu untuk Ansel.
"Ohhh"
"Apa semalam hanya perasaanku saja ya?" umpat Lissa yang merasa kejadian semalam seperti nyata.
"Non Chalissa merindukan tuan Ansel?" tanya bi Nani penuh selidik menatap wajah nonanya.
"Eeee tidak bibi" kemudian melihat hapenya. Ingin melihat apa ada pesan dari Ansel.
Dua hari, semenjak ia dan Ansel tahu kalau dirinya tengah hamil. Ansel tidak pernah datang melihatnya, bahkan menghubunginya. Hal itu membuat Lissa menjadi sedih. Pikirannya menjadi rumit.
Apa dia tidak sungguh-sungguh ingin bertanggung jawab? Apa sekarang dia tidak akan pernah datang lagi? Atau, mungkin dia sedang berusaha untuk menyingkirkan dirinya?!!! Rasanya pikiran Lissa mulai menerka-nerka, kelanjutan hidupnya nanti.
"Sudahlah. Bukankah aku memang tidak mengharapkan pertanggung jawabannya" gumannya dalam hati. Namun mimik wajahnya nampak sedih. Kali ini Ia sedih bukan karena Ansel tidak datang tapi karena meratapi kehidupannya.
.
.
.
.
.
Happy reading 😍
Koment, follow, like, dan vote ya gaes
Jangan lupa juga klik favorite untuk novel
Don't Hate me, Baby!