
Tok... tok... tokkk
Monique membuka pintu kamarnya. Ia terlihat lelah baru pulang dari kantor. Monique bekerja membantu ayahnya di perusahaan yang sudah dirintis oleh kakeknya. Ia terpaksa mengikuti kemauan ayahnya lantaran Ansel, tidak mau membantu ayahnya. Malah ia membangun perusahan sendiri dibidang yang berbeda.
"Ada apa bi?" tanya Monique bete
"Maaf non mengganggu. Beberapa hari ini nyonya besar selalu murung. Bahkan seharian ini nyonya belum makan non. Kami sudah membujuk dan mengetuk kamarnya tapi nyonya tidak menyaut non. Sedangkan tuan besarkan sedang di luar kota" ucap bi Wati kepala assisten di rumahnya.
"Aku akan menemui mamah" Lalu Monique bergegas ke kamar mamahnya.
"Mahhh buka pintunya, please" Bu Myra hanya diam tidak memberi respon.
"Maa jangan seperti ini! Ayo bukalah, mari kita bicara" belum juga ada respon.
"Kalau mamah gak mau buka terpaksa aku akan merusak pintu ini" ancam Monique
Beberapa menit menunggu "ceklekk" terdengar suara kunci pintu yang terbuka.
Monique masuk menemui mamanya.
"Mamah ingin sendiri Monique" duduk mengarahkan pandangannya ke sembarang tempat.
"Mah, jangan menangisi masalah kemaren. Semua sudah terjadi" tutur Monique
"Apa kamu mau mamah menerimanya, menerima wanita yang tidak pernah mamah tahu asalnya??! Ansel anak laki-laki satu-satunya yang mamah miliki. Dan mamah harus melepaskan dia menikah dengan wanita yang bahkan tidak ia cintai. Bagaimana mamah tidak menangisi nasib putra mamah, Monique?!!" air mata Bu Myra mulai membasahi pipinya. Raup kesedihan seorang ibu yang merasa tidak tega melihat anaknya harus menikah dengan wanita yang tidak dicintainya.
"Mah, Ansel sudah dewasa. Dia tahu resiko yang dia ambil"
Diam sejenak, Monique mencoba menyusun kata-kata yang pas untuk mamahnya.
"Mah, percayalah pada Ansel. Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Bukankah mamah selalu mengajari kami untuk mandiri?! Dulu mamah selalu meminta kami belajar menyelesaikan masalah kami sendiri kan tanpa mengeluh???" Monique memegang tangan wanita yang melahirkannya itu. Dia tahu kepedihan yang sedang dihadapi mamahnya.
"Mamah sangat berharap Ansel akan menikah dengan Bellvania kelak Monique. Bukan dengan wanita yang kita tidak tahu asal usulnya" tangis mamahnya semakin menjadi, suaranya terdengar berat.
"Aku sudah menyelidiki wanita itu mah. Kita akan tahu siapa dia sebelum kita bertemu dengannya nanti" tutur Monique
"Cari tahu apakah benar janin yang sedang dikandungnya adalah anak Ansel atau bukan" perintah Bu Myra
"Kalau masalah itu Monique sudah dengar dari Ansel, mah. Penuturan Ansel tentang wanita itu, dia masih virgin. Dan setelah kejadian itu dia mengalami depresi karena kejadian yang menimpanya"
"Apaa?!!"
"Iya mah. Mungkin saja dia adalah wanita yang malang. Selama satu bulan wanita itu ada dalam pengawasan Ansel. Jadi Ansel sangat yakin kalau janin dalam rahim wanita itu memanglah anaknya, mah."
"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang??" cemas Bu Myra
"Dia sudah baik-baik saja"
"Apa dia tidak melaporkan Ansel??" tanya mamahnya takut-takut, kalau wanita itu akan membawa masalah itu ke ranah hukum.
"Kalau feelingku tidak mungkin mah. Dia wanita biasa yang datang dari kampung untuk merantau. Tapi sialnya dia malah mengalami musibah ini"
"Mamah masih tidak yakin dengan wanita itu. Mamah takut wanita itu sengaja menyerahkan dirinya pada Ansel. Bisa saja dia menjebak Ansel. Apa kau sudah tahu latar belakang keluarganya? atau pekerjaannya?!!" Bu Myra terlihat antusias
"Belum mah"
"Selidiki semuanya!! Sampai mamah tahu kalau dia memang sengaja menjebak Ansel. Mamah tidak akan terima!! Jangankan dia, bahkan janin dalam rahimnya pun tidak sudi mamah terima" geram Bu Myra
"Baiklah mah. Tapi mamah harus makan, tidak boleh murung untuk masalah seperti ini. Jagalah kesehatan mamah" pinta Monique, kemudian memeluk mamahnya.
* * * * *
Saat jam makan siang Ansel dan Harrys pergi ke luar kantor untuk bertemu klien. Mereka bertemu klien di sebuah restaurant mewah di Jakarta Pusat. Selesai bertemu klien, mereka masih bertahan di dalam restaurant untuk berbincang-bincang. Hingga sore hari Ansel baru ingat sudah berjanji dengan Hanny untuk mengajaknya bertemu dengan Chalissa.
"Rys, tolong jemput anak magang yang bernama Hanny" pinta Ansel
"Apa?!! Untuk apa? Kau tidak menggilakan?!!" ucapan Harrys tiba-tiba tidak senonoh pada bosnya.
"Kau pikir aku laki-laki liar?!! Hah!!!" teriak Ansel tersinggung
"Begitu saja pak Ansel sudah marah" gerutu Harrys
"Sudah cepat lakukan tugasmu. Antar dia ke rumah Chalissa. Aku tunggu!!" perintah Ansel sambil meninggalkan Harrys.
* * * * *
Tin... tin... bunyi klakson mobil
"Bi, siapa yang datang?" tanya Chalissa
"Sepertinya tuan deh non. Bibi tinggal sebentar ya non" bi Nani meninggalkan Chalissa di dapur yang sedang membantunya memasak.
Saat membuka pintu, bi Nani melihat mobil tuannya di depan pagar. Ia segera berlari untuk membuka pintu pagar. Setelah mobil masuk bi Nani segera mengunci kembali pagar.
"Hari ini tuan akan menginap di sini lagi?" tanya bi Nani
"Tidak bi. Saya hanya ingin melihat Chalissa. Dia sedang apa bi?" sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Maaf tuan, nona sedang membantu bibi memasak. Bibi sudah bilang tidak usah, tapi nona tetap memaksa tuan" cerita bi Nani.
"Baiklah bi tidak apa-apa. Selama itu tidak berat untuknya, lagi pula mungkin dia bosan di rumah" ungkap Ansel.
Mendengar teriakan Chalissa membuat Ansel tidak sabar ingin melihatnya. Ia tersenyum sambil berjalan ke arah dapur, hingga tatapan mereka saling bertemu.
"Oooo kamu!" suaranya melemas
"Kenapa? Apa kamu gak suka aku datang?" tanya Ansel merasa kecewa dengan sikap Chalissa.
Chalissa tidak merespon pertanyaan Ansel. Dia malah kembali merapikan makanan di wadahnya, dan menghidangkan makanan Yang sudah selesai dimasaknya bersama bi Nani.
"Bi, aku mau mandi dulu ya"
"Hei! mau ke mana? Tega sekali kau mendiamiku. Aku datang jauh-jauh malah dicuekin" kesal Ansel
"Aku ingin mandi ini sudah sore" ungkap Lissa
"Ya sudah, sanalah!" dengan nada suara yang tinggi membuat Chalissa jadi gantian kesal.
"Tuan mau makan atau mandi dulu?" tanya bi Nani
"Aku belum lapar bi. O iya bi, nanti teman Chalissa akan datang. Jadi aku akan segera pergi. Namanya Hanny. Tapi bibi jangan kasih tahu dia ya" pesan Ansel
"Iya tuan"
"Aku mau ke kamar Chalissa sebentar, aku akan pamit pulang padanya"
Lalu Ansel masuk ke kamar Chalissa. Nampaknya wanita itu sudah ada di dalam kamar mandi.
Tok.. tok... tok... Ansel mengetuk pintu kamar mandi.
"Siapa?" teriak Chalissa
"Aku hanya ingin pamit. Selesai mandi segera makan, jangan lupa minum susu untuk si baby" pesan Ansel dari balik pintu kamar mandi.
"Iya" sahut Chalissa
Setelah berpamitan, Ansel segera keluar. Bi Nani sudah menunggu di depan pagar rumah untuk membukakan pagar.
"Hallo Harrys, kau sudah di mana?" telpon Ansel menghubungi assistennya itu, tiba-tiba Ansel melihat mobil Harrys muncul.
Seorang wanita bernama Hanny turun dari mobil Harrys.
"Selamat sore pak Ansel" sapa Hanny
"Sore Hanny"
"Pak Ansel, saya langsung cabut ya?" ucap Harrys dari dalam mobilnya.
"Baiklah, terima kasih Harrys" jawab Ansel terdengar lembut
"Tumben sekali si bos terlihat manis" umpat Harrys, kemudian ia melajukan mobilnya.
"Maaf pak Ansel, apa benar anda ingin mempertemukanku dengan Lissa?" tanya Hanny masih ragu
"Tentu saja. Kau tidak percaya?!" ucap Ansel
"Saya hanya bingung, kenapa anda bisa mengenal Chalissa?" mengutarakan pikirannya yang dari siang selalu menyelimutinya.
"Lain waktu saya akan menceritakannya. Tapi tolong kau jangan bertanya hal ini pada Chalissa, Kau bisa kan?!!"
"Baik pak" sambil menganggukkan kepalanya
"Baiklah kau boleh masuk. Ini adalah bi Nani assisten rumah tangga yang membantu Chalissa selama ini"
"O iya, kau tidak memberi tahukan Chalissa kan tentang kedatanganmu hari ini?"
"Tidak pak" jawab Hanny
"Baguslah. Kalau begitu saya pergi dulu. Bi, saya pulang ya. Tolong jaga Chalissa ya bi, Hanny tolong temani Chalissa ya"
"Iya pak"
Lalu Ansel pun pergi
.
.
.
.
.
Happy reading 😍
readerss pliss jangan lupa like, koment, follow, dan vote author ya.
Terima kasih 🙏