
Dengan perasaan sedih Chalissa harus berpisah lagi dengan ibu dan adik kecilnya. Ansel sudah menyiapkan mobil dan supir untuk mengantar mertua dan adiknya kembali ke kampungnya.
"Kamu masih sedih ya karena ibu dan Rissa pulang?" tanya Ansel melihat wajah sendu istrinya.
"Aku masih merindukan ibu, Ans" ungkapnya
"Tinggal beberapa bulan lagi setelah Rissa menyelesaikan sekolah, kamu akan bertemu mereka lagi" ucap Ansel membuat Chalissa mengangkat wajahnya ke arah Ansel.
"Ans, Ap... Apa kau... akan mengijinkan ibu... tinggal di sini??" pertanyaan Lissa sedikit ragu
"Kamu mau ibu dan adikmu tinggal bersamamu??" Ansel balik bertanya
Chalissa menunjukkan mimik wajah ingin mengiyakan pertanyaan dari Ansel. Tapi ia ragu untuk menganggukkan kepalanya atau mengatakan iya dari bibirnya.
Ansel berdiri. Kini mereka saling berhadapan.
"Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia" kata-kata itu melesat ke dalam hati Chalissa, membuatnya terpanah.
"Kenapa Ans? kenapa kau begitu baik padaku?" ucapnya Chalissa dengan rasa penasaran akan kebaikan Ansel padanya.
"Karena..." diam sejenak memperhatikan mata Chalissa yang menunggu jawabannya.
"Karena kau istriku" kata Ansel melanjutkan kalimatnya.
Sebenarnya bukan itu yang ingin disampaikan oleh Ansel. Ansel ingin melakukan apapun untuk Chalissa agar ia bahagia, itu semua tidak lain karena ia ingin menebus kesalahannya yang telah membuat Chalissa pernah terluka karena ulahnya.
Ansel membawa Chalissa dalam pelukannya, membelai rambut wanita yang telah berstatus sebagai istrinya. Ada perasaan sedih pada diri Ans yang masih sulit membedakan antara kasihan atau sayang.
"Aku akan terus belajar mencintaimu, sayang" batin Ansel.
--------------------------------------------
Siang hari, Ansel sengaja pergi ke kantor kakaknya. Semenjak fokus pada masalahnya dengan Chalissa. Ia sudah jarang sekedar minum kopi dengan kakak perempuannya.
"Selamat siang pak Ansel" sapa Diana sekretaris pak Richard yang juga merangkap membantu Monique.
"Pagi nona Diana. Apa bu Monique ada di ruangannya?"
"Ada pak"
"Terima kasih" ucap Ansel meninggalkan Diana.
Ansel masuk ke ruangan Monique. Terlihat Monique sepertinya sibuk, hingga tidak menyadari kedatangan adiknya.
"Apa kau sangat sibuk?" tanya Ansel yang sudah duduk di kursi meja kerja Monique.
"Kau" Monique tersentak
"Kapan kamu masuk, Ans??!" Monique merasa heran tidak mendengar suara ketukan pintu atau pun langkah Ansel saat memasuki ruangannya.
"Beberapa jam yang lalu?!"
"Hah!! Apa aku benar-benar berhalusinasi ya?!!" gumannya sedikit mengingat apa saja yang sudah ia lakukan.
"Kau percaya kak?!!" ucap Ansel Menahan tawanya.
"Sialan!!!" ketus Monique melempar pulpen ke arah adiknya.
Mereka saling melepas tawa. Sepertinya sudah lama mereka tidak tertawa seperti ini. Mereka berdua adalah kakak beradik yang sejoli, bahkan orang yang tidak mengenal mereka bisa mengira mereka adalah pasangan kekasih.
Hanya dengan Ansel sajalah Monique bisa melepas tawanya bahkan hingga terbahak-bahak. Apalagi sejak keretakan rumah tangganya, Monique jarang menghabiskan waktunya untuk sekedar tertawa. Monique dan Ansel adalah orang yang sama dalam hal percintaan, sama-sama orang sulit jatuh cinta.
"Apa kamu mau secangkir kopi?" tawar Monique
Ansel tersenyum sambil membuang pandangannya.
"Baiklah adikku. Itu artinya kau mau" ucap Monique, kemudian ia memencet tombol telpon menghubungi Diana supaya memesankan kopi untuk mereka.
Lalu mereka berpindah duduk di sofa area tamu yang terdapat di samping area kerja Monique.
"Kau seperti tidak mengenalku saja kak!" celetuk Ansel.
"Yahh.. aku kira semenjak kau menikah, akan ada yang berubah" tutur Monique tertawa kecil.
Hampir 2 jam mereka mengobrol, menghabiskan waktu luang yang sudah lama mereka tidak lewati.
Notifikasi pesan di ponsel Ansel.
"Nanti kamu pulang jam berapa? Apa aku boleh memasak makanan yang kamu sukai hari ini?"
Ansel tersenyum tipis, Monique memperhatikan gelagat adiknya.
"Aku akan pulang sebelum jam 4. Masaklah yang kau bisa. Apa pun yang kau masak pasti akan kumakan. Jangan terlalu lelah"
Balas Ansel masih tersenyum tipis melihat ponselnya.
"Ekhmmm" Monique memberi kode pada adiknya yang seolah lupa kalau sedang berada di ruangan Monique.
Ansel yang menyadari batukan Monique segera mengarahkan pandanganya pada kakaknya.
"Apa itu istrimu?" tanya Monique memicingkan matanya
"Iya"
"Aku rasa kau akan cepat melupakan mantanmu" ucap Monique dengan senyuman miring.
"Kau bisa aja kak"
Tuttt...tutttt... tuttt
Suara ponsel Ansel, satu panggilan masuk.
"Hallo"
"Tu... tuan, tolong cepat ke rumah"
"Ada apa bi?"
"Kami terkunci di dapur. Kami takut nona Bellva akan berbuat sesuatu lagi, tuan"
Ansel segera mematikan ponselnya.
"Ada apa Ans?" tanya Monique yang melihat perubahan wajah Ansel.
"Aku harus pergi kak" pamit Ansel tanpa memberitahu tujuannya.
"Hati-hati Ans!!" teriak Monique
Ansel tersenyum, lalu pergi.
--------------------------------------------
Ting tong... Ting tong
Tidak ada sahutan.
"Ke mana semua orang?" Ansel wara-wiri memencet bell rumah.
Lumayan lama menunggu Ansel mencoba membuka pintu. Ternyata pintu dalam keadaan terbuka.
"Bi Mirna..." teriak Ansel
"Bi Mirna" teriaknya lagi
Tanpa menunggu lama, Ansel segera naik ke lantai atas menuju kamar Bellvania.
CLECKKK
"Bellva" teriak Ansel sudah memasuki kamar Bellva. Namun ia tidak mendapati sosok Bellva di dalam.
Ansel tidak menyadari kalau Bellva bersembunyi di belakang pintu. Saat Ansel memeriksa kamar mandi, Bellva segera mengunci kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan" ekspresi wajah Ansel panik saat melihat Bellva sengaja mengurung mereka berdua di dalam kamar.
"Bellva kembalikan kunci itu!!" teriak Ansel
"Kamu gak perlu berteriak Ans! Kenapa kamu terlihat panik?" ucap Bellva memainkan kunci kamarnya di ujung jarinya.
"Kenapa kamu mengunci semua orang?!! Berikan kunci itu sekarang" teriak Ansel lagi.
"Tenanglah Ans.. Bukankah dulu kamu menyukai suasana seperti ini. Bagaimana kalau kita bermain dulu?"
"Gila kamu ya?!!" geram Ansel
"Aku gila karena kamu, Ans! Ayolah kita coba yang pernah kita lakukan. Atau kau ingin seorang anak?? Aku akan bersedia memberikannya untukmu!" pancing Bellva
Ansel mendekati Bellva untuk merebut kunci yang ada di jari Bellva.
"Oupsssss" Bellva sengaja menjatuhkan kunci dari jendela kamarnya.
"Bellva!!" murka Ansel.
"Shittttt.. Sial!!!" jengkel Ansel, saat menyadari ponselnya tidak ada.
"Ans apa kau tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu, Ans" goda Bellva, memeluk Ansel dari belakang. Tangannya menggerayangi bagian dada dan perut Ansel.
"Tolong menyingkirkan Bellva!!" gertak Ansel
Bukannya mengindahkan perkataan Ansel, Bellva malah makin menjadi. Ia terus menciumi tengkuk leher Ansel, Ia tidak peduli dengan penolakan Ansel yang kasar padanya.
"Bellva apa yang kau lakukan?!!" amarah Ansel makin meradang saat menyadari tangan Bellva hampir membuka resleting celana Ansel.
Ia terpaksa mendorong Bellva dari belakang tubuhnya hingga tubuh Bellva terpental ke lantai. Ansel sangat murka dengan sikap dan tindakan Bellva yang terus mencoba menggodanya.
Bellva tersentak dengan sikap kasar Ansel. Dia menangis terisak. Tidak terima dengan penolakan Ansel.
"Kau jahat Ans!!!" amuk Bellva, mencoba menyerang Ansel dengan melempar sebuah benda keras. Beruntung Ansel dengan lihai menghinda.
BRAGHHHH
--------------------------------------
Di kantor Monique
Tuttt... tuttt... tuttt
Terdengar suara ponsel yang bukan berasal dari ponsel Monique
"Ya ampun Ansel, kenapa dia tidak sadar ponselnya jatuh?!"
Melihat Harrys memanggil, terpaksa Monique mengangkat ponsel Ansel. Siapa tahu saja itu adalah Ansel, pikirnya.
"Hallo Harrys" sapa Monique
"Eeee... apa ini nona Chalissa?" tebak Harrys yang mengira kalau suara Monique adalah Chalissa.
"Saya Monique, ponsel Ansel tertinggal di kantor saya" terang Monique
"Oo, kira-kira pak Ansel sekarang ada di mana ya nona Monique?"
"Bukankah dia ke kantor?"
"Tidak"
Setelah mendapat jawaban dari Harrys, Monique kembali mengingat orang yang terakhir kali menghubungi adiknya. Setelah melihat story' pemanggilan, Monique syok membaca nama 'bi Mirna'
"Kenapa bi Mirna menghubungi Ansel?! Apakah Ansel pergi ke rumah Bellva??!" batin Monique
"Hallo nona Monique apa kau masih mendengar suaraku??" tanya Harrys tak mendapat jawaban.
"Harrys, aku segera mencari Ansel ke rumah Bellvania. Apa kau tahu rumahnya?
"Iya tahu"
"Baik, kita bertemu di sana" Monique segeraematikan panggilan dari ponsel Ansel.
.
.
.
.
.
Happy Reading 😍