
Tinggalkan jejak kalian ya gaes... SELAMAT MEMBACA π€
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
"Terimakasih karena sebelumnya telah banyak memberiku kebahagiaan. Kini aku tahu, salah satu bentuk dari mencintai adalah merelakan ia pergi" π₯
"Aku akan membiarkanmu pergi, selamat mencari bahagiamu wahai bahagiaku..."π₯
~ Chalissa ~ Clarissa
βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ
Seperti manusia pada dasarnya, sekuat dan sehebat apapun ingin menjadi batu karang yang kokoh. Tentulah ia tetap akan rapuh ketika ada yang hilang dari hidupnya.
Kini Chalissa telah berada di depan rumahnya. Terlihat sangat jelas bendera kuning dikibarkan di dekat area rumahnya. Kakinya yang sudah lemah menahan tubuh yang ingin ia jatuhkan membuatnya tertatih-tatih. Ansel yang dengan setia mengeratkan jari-jarinya di sela jari istrinya terus memberikan semangat. Ingin rasanya ia menggendong Sang kekasih hati yang sedang terluka, tapi rasanya hal itu tidak diinginkan oleh wanita yang sudah ada hatinya.
"Sayang" ucap Ans, salah satu telapak tangannya memberikan belaian pada rambut istrinya.
Sorot matanya telah terlihat bengkak dan memerah membuat Ansel sungguh tak tega. Namun, Ansel bisa melihat wajah itu berusaha tegar. Chalissa memaksa dirinya untuk tersenyum meskipun saat ia tersenyum justru membuat buliran air matanya jatuh tak tertahan.
Bu Hera dan Pak Rusdi telah berdiri menyambut kedatangan mereka.
Sedangkan Hanny yang bergegas dengan cepat turun dari mobil, segera mencari keberadaan Clarissa. Ia sangat tahu bahwa gadis remaja itu pasti sangat terluka. Hanny mendapati Clarissa di kamarnya yang slsedang terbaring. Gadis kecil itu nampaknya pingsan di atas ranjangnya. Hanny menghampirinya saat ia melihat Rissa mengercapkan matanya, ia sadar dari pingsannya. Air matanya tumpah lagi, matanya sangat bengkak dan sembab. Hanny memeluknya dengan erat.
"Kakk... ibu...hiks... hiks... hiks..." ucapnya dengan bergetar, kalimatnya tak terdengar jelas karena tangisannya lebih mendominasi.
Hanny tak mampu berkata apapun kecuali terus memeluk, gadis kecil yang telah ia anggap menjadi adiknya sendiri.
Suara tangis Chalissa telah memecah ketika dilihatnya jenazah ibunya telah dibaringkan. Suara itu tertangkap jelas di telinga Clarissa. Hanny tahu Clarissa menyadari kehadiran kakaknya di sana, ia menuntun Clarissa bersamanya menemui kakaknya.
Chalissa dan Clarissa saling menangis meratapi kepergian ibunya. Ansel yang berada di sana segera memeluk dua perempuan itu disisinya. Ia pun ikut terluka melihat wanita yang dicintainya dan adik kecilnya itu berduka.
FLASHBACK
Pagi hari, hari itu rasanya sangat sunyi. Clarissa yang bangun agak kesiangan tak menyadari ketidakhadiran ibunya di ruang depan dan dapur.
"Apa ibu sudah ke pasar ya?" pikirnya bertanya dalam hati.
Ia bergegas untuk mandi. Setelah itu ia merapikan dapur, mencuci piring yang kotor. Lalu ia melihat jam yang terpampang di dinding. Pikirnya 1 jam lagi ibu akan kembali dari pasar membawa belanjaan.
Sambil menunggu ibunya, Rissa masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handphonenya. Kemudian ia keluar menuju teras duduk di bangku kayu panjang menunggu sang ibu. Gadis kecil itu terlihat bermain dengan ponselnya tak sadar 1 jam telah berlalu.
Matanya menangkap kehadiran Bu Hera yang sepertinya baru pulang dari pasar. Tapi... "kenapa bibi pulang sendiri ya?" pikir Rissa.
Bu Hera yang sudah berjalan mendekat, karena rumah mereka memang hanya berjarak sekitar 1 meter saja bersampingan. "Ris, ibu gak ke pasar ya?" tanya Bu Hera yang sudah berdiri di depannya.
"Ke pasar kok bi" jawab Rissa tanpa menyadari sesuatu ada yang terlewat.
"Oh, tadi bibi mengetuk pintu rumahmu karena tumben ibumu belum kelihatan. Biasanya ibumu sudah di depan menunggu bibi mau ke pasar" jelas Bu Hera.
Tiba-tiba sesuatu terbesit di pikirannya "pintu" gumannya, wajahnya berubah menyadari sesuatu. Tatapannya ke bawah, ada hal yang ia lewati. Yah, itu adalah pintu. Rissa baru sadar saat ia berbenah rumahnya, ia sendiri lah yang membuka kunci pintu rumahnya.
Seketika ia bergerak dengan sangat cepat menghentikan langkah Bu Hera yang hendak masuk ke rumahnya.
"Bibiiiii..." teriak Rissa terdengar histeris. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba tubuh Rissa dikuasai ketakutan yang luar biasa. Ia lari keluar menjauhkan dirinya dari ibunya yang sedang terbaring di atas ranjang.
Mendadak Pak Rusdi yang menangkap teriakan Rissa segera keluar dari rumah. Ia melihat istrinya pun bergegas untuk menghampiri Rissa.
"Rissa, kamu kenapa nak???" tanya pak Rusdi yang mendapati Rissa sudah berada di teras.
"Paman, bibi... tolongin Rissa" ucapnya gemetar.
"Ada apa nak?" tanya Bu Hera segera memeluk gadis kecil itu membawanya mendekap.
Pak Rusdi segera berlari, ia masuk ke kamar Bu Dewi.
Sungguh tak ada yang tahu kapan dan bagaimana seseorang akan pergi untuk selamanya.
Ternyata Bu Dewi telah pergi sekitar jam empat dini. Dalam keadaan tidur, tak seorang pun tahu jika melihat Bu Dewi tertidur seperti itu bahwa sebenarnya ia telah pergi. Bu Dewi telah pergi dengan damai.
πΈπΈπΈπΈπΈ
PRANKKK
Seorang pria kaget ketika gelas ditangannya terjatuh. Ia merasa seketika tangannya lemas mengakibatkan gelas itu lepas dari genggamannya.
"Ken, kamu kenapa?" tanya seorang wanita yang sedang asyik menikmati rokoknya.
Pria tersebut adalah Kenan, kakak Chalissa dan Clarissa.
Ia tak mampu menjawab pertanyaan wanita yang statusnya tak jelas dengannya. Yang ia rasakan tiba-tiba seluruh tubuhnya bergetar lemas.
Kenan menutup matanya lalu "ibu" ucapnya lirih, seakan membiarkan bibirnya melepaskan kalimat yang sudah menggebu-gebu di hatinya.
Wanita itu melangkah keluar sepertinya ia menerima panggilan. Kenan hanya memandangnya hingga lepas dari netranya.
"Siapa?" tanya pria itu setelah melihat wanitanya masuk ke dalam lagi.
"Biasa boss. Sepertinya malam ini kau harus merelakanku untuk segenggam dolar" tutur wanita itu berlenggok manja dan menggoda.
πππππ
Dua hari kemudian...
Chalissa masih menahan dirinya di kamar ibunya.
"Mana Chalissa?" tanya Ansel yang baru kembali dari rumah pak Rusdi.
"Dia masih di dalam kamar Bu Dewi" balas Hanny.
"Pak Ans, Lissa belum makan siang" tutur Hanny.
Ansel membujuk Chalissa untuk makan. Ansel tahu bahwa istrinya itu masih bersedih, tetapi ia tetap harus tegas pada istrinya. Karena bukan hanya dirinya yang tersiksa dengan sikapnya melainkan anak mereka pun akan merasakan semuanya itu.
Sebenarnya Ansel sangat lelah. Bahkan ia harus kehilangan waktu istirahatnya untuk mengatur segala kebutuhan pemakaman ibu mertuanya. Ia pun telah mengatur untuk membawa Clarissa. Beruntung ada Harrys dan Hanny yang setia membantunya.
Setelah tinggal tiga hari lagi di situ. Ansel dan yang lainnya pun bergegas untuk kembali ke Jakarta. Mereka kembali menggunakan helikopter pribadi milik pak Richard.
* * * * * * * * *
Tiba di rumah.
Ansel dan Chalissa telah selesai mandi. Ansel telah melewati banyak pekerjaannya, jadi ia memutuskan berada di ruang kerjanya untuk mengecek email yang berkaitan dengan pekerjaannya. Sedangkan Lissa memilih melihat adik kecilnya di kamarnya. Tapi saat masuk ke dalam kamar adiknya, Chalissa melihat Rissa sedang tertidur pulas. Sepertinya gadis kecil itu baru bisa menikmati tidurnya setelah beberapa hari terus menangis.
"Bu, pergilah dengan tenang. Aku akan menjaga Clarissa, aku akan selalu menyayanginya Bu" ucapnya tegar namun air matanya masih menetes.
Chalissa membaringkan tubuhnya di samping adik kecilnya itu. Kini ia tak lagi menangisi kepergian ibunya, ia hanya menangis melihat adiknya yang masih bersedih.
Chalissa membelai puncak kepala Rissa, namun tak membangun gadis kecil itu karena ia benar-benar sedang menikmati tidurnya.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _
"haiii gaes, terima kasih ya buat kalian yang masih setia sama cerita novel author ini. Lagi dan lagi author tak bosan mengingatkan kalian buat terus dukung author... kalau punya koin dan point bolehlah seikhlasnya ngevote author gaes. gamsahabnida"
*
*
*
*
Happy Reading π