Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
My Baby Boy



Di dalam kamar Ansel duduk terdiam. Mimik wajahnya begitu marah.


Tok... tok... tok...


Selesai mandi, Ansel berusaha untuk membujuk Chalissa.


CLECKKK


"Kenapa?" tanya Chalissa


"Ini, minumlah" Ansel menyerahkan segelas susu pada Chalissa.


Semenjak Chalissa hamil, membuatkan susu dan memberikannya seolah menjadi keharusan bagi Ansel. Ia tidak akan melewatkan hal itu, jika sedang berada di rumah.


"Sayang" Ansel mencoba menahan pintu, saat Chalissa hendak menutupnya kembali.


"Ada apa lagi?"


"Jangan tidur larut malam, Selamat malam baby nya papa" tutur Ansel tidak melewatkan kebiasaannya mengelus perut Chalissa.


Chalissa membiarkan Ansel melakukannya, karena bagaimanapun Ansel berhak atas bayi diperutnya.


Setelah selesai Chalissa kembali menutup pintu. Ansel terdiam dengan perasaan kacau.


Ia meletakkan gelas bekas Chalissa di dapur mini. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. Ia bergegas untuk pergi menemui seseorang yang harus bertanggung jawab atas kemarahan Chalissa.


* * * * *


"Malam tuan Ansel" sapa seorang satpam rumah Bellva.


"Saya ingin bertemu dengan Bellvania!" tutur Ansel setelah turun dari mobilnya.


Ansel masuk ke dalam rumah Bellva. Ia memutuskan untuk menunggu di depan teras rumahnya tanpa masuk.


"Tuan, kata nona tuan bisa langsung ke ruangan nona" ucap salah satu pembantu di rumah megah milik Pak Davidson Joseph.


"Suruh nona mu segera turun, kalau dia tidak bisa menemui saya segera. Jangan salahkan jika saya akan berbuat kasar menariknya keluar!!" gertak Ansel


Lumayan lama Ansel menunggu.


"Ans, kenapa seperti ini. Kamu seperti orang asing ke rumahku" ucap Bellva dengan nada yang terasa sangat manis.


"Supaya kau tahu Bellva. Kau bukan siapa-siapa dalam hidupku!!" tatapan Ansel begitu tajam.


"Kamu kenapa Ans? Kamu datang sambil marah-marah begini" Bellva masih berpura-pura seolah tidak terjadi sesuatu.


"Aku peringatkan padamu, JANGAN PERNAH GANGGU CHALISSA!!!! KAU PAHAM!!!!" Nada suara Ansel sudah tidak peduli pada Bellvania.


"Ohhhh, jadi dia sudah mengadu padamu! Kau begini padaku gara-gara dia, Ans!!" suara Bellva memekik


"Kau lupa?!!! Dia yang kau bilang itu adalah ISTRIKU!!!" Ansel menunjuk jari telunjuknya pada Bellvania.


"Sekali lagi kamu mencoba membuatnya marah padaku, Aku tidak akan pernah memaafkanmu, BELLVANIA!!!"


"Ansel!!!!" teriak Bellva


Ansel tidak menghiraukan wanita itu. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan bergegas meninggalkan kediaman Pak Davidson Joseph.


"SIALLLL!!" pekik Bellva, menggertakkan giginya.


* * * * *


Malam itu Ansel memutuskan pergi ke apartemen Harrys untuk menghilangkan kekesalannya.


Tiba di lobby apartemen, Ansel mengirimi pesan kepada istrinya. Dia takut kalau Chalissa akan mencarinya.


"Sayang, malam ini aku di apartemen Harrys ya. Percayalah padaku"


Lalu Ansel menutup ponselnya.


TING TONG


CLEKKKK


Harrys mendengus saat yang dilihatnya adalah bosnya.


"Apa baru terjadi pertengkaran yang hebat bos??" ucapan Harrys pada Ansel menggelitik.


Ansel memberi pukulan kecil di perut Harrys yang berani meremehkannya.


"Auwww, shitttt" Harrys tak sempat menampik pukulan Ansel.


"Apa kau tidak punya minuman yang lebih enak apa??!!" hina Ansel, melihat minuman yang tersedia di meja Harrys.


"Tidak baik terlalu sering minum-minuman beralkohol tinggi bos!" ujar Harrys menggenggam minuman soda di tangannya, lalu melemparkannya pada Ansel.


Ansel begitu puas menikmati minuman itu. Hampir setengah dari minuman itu berhasil ia tenggak. Sepertinya minuman bersoda itu menghempaskan emosinya.


"Apa terjadi sesuatu boss??" Harrys melihat perilaku bosnya tanpa berkedip.


Ansel merasa heran semenjak menjadikan Harrys sebagai assistennya, tiap kali pikirannya tersulut emosi. Harrys adalah orang yang tepat menurutnya untuk ditemui.


Ansel menceritakan permasalahannya dengan istrinya. Penyebab mengapa istrinya berencana untuk pergi. Mendengar penjelasan Ansel, Harrys menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya wanita itu sangat tergila-gila padamu bos" ucap Harrys dengan senyuman miring.


Ansel mengembuskan napas kuat-kuat.


"Bos, saya rasa nona Chalissa sudah jatuh cinta padamu"


"ehmmmm" terdengar sedikit tawa kecil dari bibir Ansel.


Padahal pikirannya pun mulai memikirkan hal itu.


"Apa bos juga mulai mencintai nona Chalissa?!" Harrys sedikit melirik ke arah bosnya.


"Aku tidak tahu"


"Apa cinta itu sangat penting?!!" imbuh Ansel agak menyepelekan rasa cinta.


"Hahh!!! Dulu saya merasa dalam menjalin hubungan **** saya tidak butuh menunggu cinta itu datang. Tapi entah kenapa rasanya lima huruf itu seolah penting" kicau Harrys.


"Dulu saya mencintai Bellvania, tapi rasanya itu tidak penting! Dan sekarang saya justru menikahi wanita yang sampai saat ini saja saya tidak tahu, apakah saya mencintainya atau tidak!!" sambung Ansel.


Malam itu Ansel dan Harrys seolah sedang mencurahkan kegalauannya. Kegalauan yang tidak jelas. Hingga larut malam, lalu mereka tertidur.


* * * * *


Pagi Hari


"Tadi nyonya hanya makan buah apel tuan" ungkap bi Suti.


"Tuan baru pulang?" tanya bi Nani yang sepertinya baru saja turun dari lantai 2.


"Iya bi. Chalissa sedang apa bi??"


"Nona sedang di kamar tuan, sepertinya nona akan bersiap-siap untuk periksa kandungan" terang bi Nani.


Ansel lalu meninggalkan bi Nani, menaiki anak tangga.


CLEKKKK


Dilihatnya Chalissa yang sedang merapikan tempat tidur.


Dari dulu Chalissa memang tidak pernah suka jika kamarnya dibersihkan dan dirapikan oleh orang lain.


Chalissa melihat ke arah pintu, dilihatnya Ansel muncul dari pintu.


"Bersiap-siaplah, bukankah hari ini kita akan cek kandungan" ucap Chalissa tanpa menoleh ke arah suaminya.


Saat Ansel hendak memasuki kamar mandi, ia menerima handuk dari Chalissa. Kemudian Ansel segera memasuki kamar mandi.


Chalissa sengaja menunggu Ansel di lantai dasar di ruangan santai. Saat dilihatnya Ansel sudah turun, Chalissa segera menuju dapur. Ia hendak melayani Ansel untuk sarapannya.


"Apa kamu masih marah?" tanya Ansel sambil menikmati sarapannya.


Ia merasa tidak suka dengan Chalissa yang sengaja mendiaminya.


"Makanlah" perintah Chalissa tanpa menatap mata Ansel.


Hal itu membuat Ansel kesal. Tapi Ia harus menahan kekesalannya. Ia tidak mau pagi ini akan dilewatkan dengan pertengkaran lagi.


Selesai menikmati sarapan, mereka mulai pada tujuan mereka pagi ini, yaitu ke dokter kandungan.


* * * * *


"Wahhh, bayinya terlihat sehat ya Bu Chalissa" ucap dokter Claudia


Ansel yang berada di samping Chalissa yang terbaring, terus menatapi monitor. Ia melihat bayinya mulai terlihat jelas.


"Apakah Bu Chalissa masih merasakan kram perut?" tanya dokter Claudia


Semenjak Ansel dan Chalissa mulai melakukan hubungan intim. Beberapa kali Chalissa mengalami kram perut. Bahkan, ketika kegiatan itu sedang berlangsung Chalissa pun pernah mengalaminya. Itu sebabnya dokter menganjurkan untuk tidak melakukan kegiatan itu dulu.


Lebih dari satu bulan Ansel pun harus menahan hasratnya ketika berada dekat dengan istrinya. Ia juga harus memperhatikan keadaan bayinya.


"Sudah tidak pernah dok" ucap Chalissa


"Dok, apakah bayiku sedang menjilat jarinya?" tanya Ansel di sela jawaban Chalissa.


"Benar pak Ansel"


"Indra perasa Bayi pak Ansel telah berkembang sempurna. Jadi apapun yang dimakan oleh mamanya bisa dirasakannya, bisa jadi bayi anda saat ini sedang menyukai apa yang mamanya makan" jelas dokter Claudia tersenyum tipis.


"Gejala apa yang saat ini Bu Chalissa mulai alami?" tanya dokter Claudia ingin tahu perkembangan pasiennya.


"Hmmm, saya mulai merasa sulit untuk tidur dok. Kadang saya juga merasa gelisah" ucap Chalissa sambil sesekali pandangannya melihat pada Ansel yang juga sedang memperhatikannya.


"Di usia kehamilan 20 minggu, Bu Chalissa memang akan mengalami hal seperti itu. Itu dikarenakan kenaikan berat badan dan perkembangan janin yang semakin besar. Rahim Bu Chalissa sejajar dengan pusar sehingga membuat Anda harus tidur dengan satu posisi saja, hal ini akan membuatmu sedikit tidak nyaman" jelas dokter Claudia


"Apa itu juga membuat istri saya sering gelisah saat tidur dok??!" tany Ansel melanjutkan pertanyaan Chalissa yang belum terjawab.


"Bisa jadi, itu karena Bu Chalissa juga mengalami peningkatan libido" ucap dokter Claudia


"Apa??" ucap Ansel


Dokter Claudia diam sejenak. Sebelum melanjutnya penjelasannya ia memberikan senyum tipis kepada sepasang suami istri yang menunggu penjelasannya. Dokter Claudia merasa penjelasannya kali ini akan membuat Ansel merasa senang. Setelah beberapa bulan dokter Claudia melarangnya melakukan aksinya terhadap istrinya.


"Di sini suami akan berdampak baik bagi keintiman si ibu bayu" jawab dokter Claudia, yang sepertinya masih samar-samar ditelinga pasutri di hadapannya.


"Maksudnya apa dok??! Apa sekarang tidak masalah jika kami melakukan hubungan intim??? Apakah begitu dok??!" Ansel terlihat begitu sedikit bersemangat. Pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan agar ia menemukan jawaban yang jelas.


"Benar sekali pak Ansel" dokter Claudia memberikan pembenaran pada pertanyaan yang sekaligus adalah sebuah pernyataan.


Benar saja dugaan dokter Claudia. Kalau gejala yang dialami istrinya kini dapat merubah wajahnya yang datar kini terlihat senyuman yang merekah.


"Wahhh... bayi pak Ansel dan Bu Chalissa laki-laki, terlihat skrotumnya belum berkembang tetapi buah zakarnya sudah mulai turun" lanjut dokter Claudia memberitahu jenis kelamin anak mereka.


Ansel yang semakin bersemangat bergerak untuk dapat melihat layar monitor lebih dekat.


"Dok, apakah ada hal yang kurang dari perkembangan kehamilan istri saya??!" tanya Ansel yang sedikit agak posesif pada kesehatan istrinya.


"Istri dan bayi pak Ansel sehat. Hanya saja Bu Chalissa harus jaga berat badan. Jika memulai kehamilan dengan berat badan yang kurang, maka Bu Chalissa harus menambah berat badan. Karena itu berpengaruh pada perkembangan bayi di perut Bu Chalissa" ungkap dokter Claudia.


"Baik setelah ini kita akan melakukan scan anomali ya" ungkap dokter Claudia


"Itu untuk apa dok??" tanya Chalissa merasa asing


"Untuk mendeteksi ada atau tidak kelainan pada janin. Tapi sejauh pemeriksaan saya, Bu Chalissa dan janin dalam keadaan sehat"


Cukup lama Ansel dan Chalissa berada di ruang pemeriksaan.


Selesai melakukan pemeriksaan Ansel bermaksud ingin memanjakan istrinya.


.


.


.


.


.


Happy Reading 😍


Maaf ya reader kalau Author kebanyakan penjelasan di dokter kandungan. Siapa tahu saja nambah ilmu, hehehehe....


Lagi dan lagi, Author gak bosen buat ajak reader untuk dukung author.


Pliss jangan lupa ya kasih LIKE dan VOTE untukku,


Dan gak bosen kasih tahu supaya menekanntanda FAVORITE pada novel DON'T HATE ME, BABY! supaya reader bisa mengikuti kelanjutan kisah Ansel dan Chalissa terus 😍


Makasih ya readerku sayang 🙏❤️