
Cinta itu memang belum hadir di sini. Tapi bukankah kita sepakat untuk menjaga hati untuk yang sudah kita bangun hari ini???
~ Chalissa
Chalissa tidak dapat menyalakan Ansel, karena ia tahu persis bagaimana perasaan Ansel pada mantan kekasihnya itu.
Ia memilih diam sejenak di atas ranjangnya. Tidak sadar ada buliran air terbendung di pelupuk matanya.
Tidak! tidak seharusnya Ia merasakan kekecewaan ini. Mungkin raga ini telah memiliki raganya, tapi hati ini bukan penguasa hatinya.
Pikir Chalissa
* * *
Malam ini Chalissa tidak melewati makan malamnya, meskipun Ansel justru sedang bersama dengan Bellvania. Tapi Chalissa tidak boleh egois. Ada ibu dan adik kecilnya yang bertanya-tanya jika ia mengikuti perasaannya saat ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, Ansel belum juga memberi tanda kehadirannya. Beberapa kali Chalissa ingin menanyai keberadaannya tapi ia takut mengganggu Ansel.
Sebenarnya apa yang terjadi pada mantan kekasihnya?? Bagaimana keadaannya?? Apakah keadaannya buruk, hingga Ansel tidak memberikan kabar sedikitpun??! Secemas itukah Ansel pada mantan kekasihnya?!!! Pikiran Chalissa terus menerka-nerka.
Chalissa membuka applikasi messagenya, ia ingin sekali menghubungi Ansel.
"Kamu belum tidur"
Tiba-tiba ada pesan singkat dari Ansel.
"Kau di mana Ans?"
"Maaf, aku tadi tidak sempat berpamitan. Setelah aku pulang, aku akan menjelaskan semuanya. Jangan menungguku"
"Tidurlah"
Chalissa ingin membalas pesan Ansel tapi dia bingung harus membalas apa.
"Aku belum ngantuk. Jadi aku akan menunggumu, Ans. Pulanglah cepat"
Chalissa segera menutup applikasi messagenya. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas.
Ia mengambil segelas susu yang sudah ia buatkan tadi sebelum masuk ke dalam kamarnya.
1 jam menunggu Ansel, hingga kantuk mulai menyerangnya. Ia bertahan sekuat mungkin untuk tidak tidur.
-------------------------------------------
"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Ansel setelah selesai memeriksa keadaan Bellva.
"Bersyukur pasien segera di bawa ke rumah sakit. Sehingga segera ditangani. Hanya saja kami tidak dapat menyelematkan kandungannya" Jelas dokter.
"Apa?!!" Ansel terkejut
"Apa anda suami pasien?"
"Bu... bukan dok"
"Sekarang tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Sekitar pukul 21.00 mungkin dia akan segera sadarkan diri" terang dokter.
"Apa dia sudah boleh dijenguk?" ucap Ansel.
"Iya, diruang perawatan"
Di ruangan perawatan.
Ansel menatap Bellva yang terbaring. Dia masih tidak percaya ternyata wanita yang ia cintai sedang mengandung dan baru saja kehilangan bayinya.
Bellva akhirnya sadar
"Kau sudah merasa baikan?" ucap Ansel yang sudah melihat mata Bellva terbuka dengan sempurna.
"Aaa..Ansel" panggilnya dengan suara yang samar.
"Kau baru saja kehilangan bayimu"
Bellva tidak memberikan ekspresi apapun. Tatapannya datar, entah dia harus merasa sedih atau dia harusnya merasa beruntung karena ayah dari si bayi pun tidak mengharapkannya.
"Sebentar lagi bi Mirna akan kembali" ucap Ansel bersiap untuk berdiri
"Ans" panggil Bellva
Ansel menolehkan pandangannya pada Bellvania. Ia melihat air mata wanita itu mulai menetes. Sesuatu yang tidak ingin dilihat oleh Ansel, karena hal itu membuatnya hancur.
"Jangan pergi. Jangan menghukumku seperti ini, Ans!" tangisnya memekik
"Aku tidak menghukummu"
"Lalu kenapa kau menikahi wanita itu Ans??!" Bellva menangis
"Kau sudah tahu alasanku Bellva"
"Karena dia hamil?!!" Isak tangis wanita itu semakin memecah, memenuhi ruangan di mana ia dirawat.
"Dia beruntung, kau mau bertanggung jawab. Kenapa bukan aku yang mengandung anakmu?!!" Bellva mulai menangisi dirinya.
"Kau butuh istirahat"
"Jika kau pergi, aku akan mengakhiri semuanya Ans!!!" ancam Bellva
"Kau mengancamku??" suara Ansel membulat.
Mata Bellva penuh dengan air mata, tatapanny seolah memelas.
Tidak lama bi Mirna muncul.
"Istirahatlah!! Aku tidak berkewajiban menjagamu Bellva. Di rumah ada Chalissa yang menungguku!" Ansel kokoh pada pendiriannya meninggalkan Bellva setelah kedatangan Bu Mirna.
Bellvania menangis terisak, terus berteriak memanggil Ansel. Sebenarnya Ansel tidak tega melihat keadaan wanita yang ia cintai itu harus terluka. Ia kasihan melihat keadaannya yang ternyata hamil dan tidak mendapatkan pertanggungjawaban dari ayah si bayi. Terlebih sekarang dirinya mengalami keguguran, tapi itu ulahnya sendiri. Sepertinya Bellvania pun tidak menginginkan kehadiran bayinya itu. Mungkin dia tidak siap.
Pikir Ansel, andai saja dulu wanita itu tidak meninggalkan dirinya. Mungkin saat ini mereka akan bahagia. Tapi sudahlah tidak ada yang perlu disesali, saat ini sudah ada Chalissa yang harus ia jaga. Bahkan, ia pun berjanji pada Chalissa tidak akan menjaga hatinya untuk Bellvania. Dia harus belajar menjaga hatinya hanya untuk Chalissa dan calon bayi mereka kelak.
*******************
Pukul 23.00, Ansel tiba di rumahnya.
Keadaan rumah tampak sepi, sepertinya semua orang sudah tertidur. Ia memasuki kamarnya, matanya terkesiap melihat tidak ada sosok Chalissa di ruangan itu.
"Di mana dia??!" gumannya dalam hati
Ansel keluar, ia mencari Chalissa. Matanya menjelajah melihat ke arah ruang keluarga, masuk ke dalam-kamar lainnya, hingga ke kamar di mana ibu dan adiknya tidur. Tidak ada sosok Chalissa di sana.
"Apa dia di kamar mandi?!!" Ansel masuk lagi ke kamarnya, memasuki kamar mandi. Saat akan memasuki kamar mandi matanya terpanah ke arah pintu menuju beranda kamarnya. Ia melihat ke beranda kamarnya, jantungnya berdegup dilihatnya sosok wanita itu tertidur di bangku yang terdapat di beranda itu.
Chalissa nampak sedang membaca buku sambil mendengarkan musik. Ansel menggendong istrinya dan membaringkannya dengan penuh hati-hati. Setelah membaringkan Chalissa, ia meletakkan buku yang dibaca istrinya di atas nakas.
"Buku Panduan Untuk Ibu Hamil" ucap Ansel lirih
Ansel menoleh kepada istrinya yang tertidur pulas. Ia duduk di sisi ranjang, samping istrinya. Tangannya mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Maafkan aku, sayang" ucapnya setelah mencium kening Chalissa.
Matanya berhenti pada bibir Chalissa, yang sudah beberapa kali ia cium dengan sadar. Ansel tersenyum miring, Ia merasa berhak atas apa yang ada pada Chalissa.
Ansel ******* bibir Chalissa dengan lembut, ia berusaha pelan-pelan ingin menikmati bibir istrinya itu. Keadaan malam membuatnya tidak puas hanya sebentar menciumnya. Ansel menciumnya lebih dalam, mencoba menelusuri setiap bagian di dalam mulutnya. Ia memainkan lidah menelusuri kedalaman mulut Chalissa. Rasanya berat sekali bagi Ansel menghentikan kegiatannya. Ia masih bertahan, hingga membuat tubuhnya lebih menempel pada Chalissa.
Terdengar lenguhan dari mulut Chalissa. Ansel menghentikan, memberikan ruang bagi Chalissa. Setelah Chalissa mulai pulas lagi. Ansel melanjutkannya lagi. Kali ini tidak puas hanya di bibirnya. Ia beralih pada leher istrinya. Tatapannya terpesona pada lehernya yang bersih dan mulus. Ditambah pakaian Chalissa bagian leher dan dadanya agak terbuka. Hal itu membuat Ansel menggencarkan hasratnya.
Saat Ansel asyik bermain pada leher Chalissa, ia tidak sadar ternyata kegiatannya membuat Chalissa terbangun.
"Ans" menyadari sosok Ansel yang sedang menciumnya.
"Maafkan aku sudah membangunkanmu" wajah Ansel panik, takut Chalissa akan marah.
"Kau baru pulang?!" tanya Chalissa. Bukannya marah ia justru menanyakan kapan Ansel pulang.
"Apa aku sangat mengganggumu?" menatap Chalissa dengan tatapan menahan hasratnya.
"Kau kenapa?" dengan malu Chalissa bertanya pada suaminya.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya kangen menciummu" jawab Ansel dengan ringan.
"Ans, kau tidak akan melakukan yang lainnya kan?" Chalissa terlihat gugup.
"Kenapa? Kau takut?" pertanyaan Ansel membuat Chalissa membuat mata.
Ansel tertawa kecil melihat wajah istrinya yang menggemaskan.
"Apa kau marah kalau aku menciummu?" Ansel menunggu jawaban istrinya. Chalissa menggelengkan kepalanya.
Mendapat ijin dari istrinya Ansel melanjutnya kegiatannya. Ia mulai lagi dari awal, mulai dari mencium wajah Chalissa, lalu mulai mendarat pada bibirnya. Bagian ini yang paling lama ia lakukan. Ia penuh dengan kelembutan menggiring Chalissa untuk ikut menikmati ciuman malam itu. Chalissa terperangah saat ia merasakan lidah Ansel bermain di dalam mulutnya. Ada sensasi tersendiri yang membuat hasrat Chalissa ikut mengalir.
Puas pada bibirnya, Ansel beralih pada leher. Awalnya dia tidak ingin menyisahkan kissmark disitu. Tapi melihat wajah istrinya yang cantik dan menggemaskan, akhirnya ia memberikan sensasi gigitan kecil hingga terdengar desahan dari mulut istrinya. Ansel semakin sulit menghentikan semuanya.
Malam ini hasratnya sudah meluap. Ia masih meneruskan permainannya, kini beralih semakin turun. Dan semakin dalam Chalissa pun ikut tenggelam, hasrat mereka semakin panas. Ansel sudah tak sabar menahannya. Ia ingin melakukan sesuatu yang pernah ia lakukan saat di hotel. Tapi kali ini dia ingin melakukannya dengan hati-hati dan penuh perasaan.
Seperti diguyur air deras, Chalissa tersentak saat ia rasa tangan Ansel mulai membuka sesuatu. Chalissa spontan menghentikan aksi Ansel, membuat Ansel menjadi melek.
"Kau takut?" bisik Ansel lembut ditelinga istrinya.
Chalissa menganggukkan kepalanya. Ansel melihat air mata mulai menetes. Ia berusaha menetralkan pikirannya.
Chalissa butuh waktu untuk melakukan hal yang pernah membuatnya depresi.
Ansel tidak mau egois, dia menghentikan aksinya. Dia akan menunggu waktu yang tepat, yaitu saat Chalissa sudah benar-benar siap menerimanya. Dirinya yang sudah berada di atas tubuh Chalissa segera berbaring di samping calon ibu anaknya. Ia memeluk Chalissa agar kembali tertidur.
Setelah Chalissa kembali tertidur, Ansel memilih untuk mandi untuk mendinginkan suhu tubuhnya. Selesai mandi ia memilih segera tidur tanpa memeluk wanita di sampingnya itu.
.
.
.
.
.
Happy Reading 😍