
Hai gaes semangat ya untuk selalu baca novel ini DON'T HATE ME, BABY!... Jangan lupa kasih dukungan kalian buatku ya dengan selalu Like dan kasih komentar kalian... dan yang punya koin atau pun poin jangan lupa kasih VOTE buatku, hehehe... Semoga suka dengan ceritanya 🙏🥰
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Lima hari kemudian
Chalissa dan Ansel akan kembali ke Jakarta. Tentulah itu akan menjadi hal berat bagi Chalissa meninggalkan ibu dan adiknya. Sama halnya dengan Chalissa, Clarissa adik kecilnya pun merasa sedih harus berpisah lagi dengan kakak kesayangannya itu.
"Rissa, beberapa bulan lagi kalian akan bertemu lagi nak" tutur Bu Dewi yang melihat ekspresi putri bungsunya.
Mereka saling berpelukan untuk berpamitan. Di situ pun hadir Bu Hera dan Pak Rusdi. Mereka juga menitipkan sesuatu untuk putri mereka di Jakarta.
"Sehat-sehat ya nak, ibu tidak sabar menunggu kelahiran cucu ibu ini" tutur Bu Dewi mengusap punggung putrinya dalam pelukannya.
"Sebelum dia lahir, aku tidak sabar menunggu ibu dan Rissa akan tinggal bersamaku Bu" balas Chalissa.
Ini bukan pertama kalinya Lissa dipeluk oleh Bu Dewi, tapi ia merasa pelukan kali ini sangat membuatnya betah. Mungkin karena dirinya memang masih menginginkan berada di dekat ibunya, namun tidak mungkin karena Ansel harus bekerja mengurus perusahaannya. Ia tidak mungkin egois menahan dirinya tetap tinggal dan membiarkan Ansel kembali seorang diri. Lagi pula Ansel juga tidak akan menyetujuinya.
Saat melepaskan pelukan itu, Chalissa melihat wajah cantik ibunya yang tersenyum sambil menitikkan air mata. "Ibu kenapa menangis?" tanya Lissa lalu mengusap tetesan air mata itu dengan kedua ibu jarinya.
"Apa ibu masih ingin aku di sini??" tanya Chalissa tidak tega.
"Tidak nak. Ibu hanya merasa sangat bahagia hari ini. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya kamu kembali setelah kamu pergi nak" jelas ibunya, Chalissa pun ikut meneteskan air matanya.
"Maafkan Ansel ya Bu. Ansel tidak punya banyak waktu untuk ibu dan Chalissa bisa berlama-lama" ucap Ansel merasa kasihan pada mertuanya.
"Tidak nak. Kau sudah menyempatkan waktumu Lima hari di sini saja sudah membuat ibu sangat berterima kasih" tutur Bu Dewi,
"Ans, bolehkah ibu memelukmu dengan erat nak?" pinta Bu Dewi dengan tatapan berkaca. Hal itu membuat hati Ansel pilu. Tanpa menjawab pertanyaan Bu Dewi, Ansel segera mengabulkan permintaan ibu mertuanya. Ansel memeluk Bu Dewi seperti ia sedang memeluk mamanya. "Ans, ibu sangat percaya padamu nak" lirih Bu Dewi, "Kehadiranmu telah menggantikan putra ibu. Ibu berterima kasih karena kau begitu menyayangi Chalissa, bahkan perhatian pada ibu dan Clarissa" imbuh Bu Dewi.
Kata-kata Bu Dewi seolah membius Ansel. Ada perasaan bahagia yang tak dapat disamakan dengan apapun. Perasaan yang membuat Ansel merasa sangat berarti untuk keluarga istrinya. "Terima kasih bu" hanya itu kata-kata yang bisa lolos dari bibir Ansel.
Bu Dewi mengusap punggung menantunya dengan hangat dan kasih sayang terhadap seorang putra. Lalu ia melepaskan pelukannya diiringi dengan senyuman yang sangat lega.
Setiap orang yang melihatnya pasti akan menduga kalau Ansel adalah putra kandung Bu Dewi, bukan menantunya.
Ansel dan Chalissa kini dalam perjalanan pulang.
* * * * *
Tiba di Jakarta
Pak Doni membuka gerbang, dan mobil Ansel melintas memasuki area rumahnya.
"Sore tuan Ansel, nyonya Chalissa" sapa pak Doni sekuriti di rumah Ansel.
Tak lama bi Suti dan bi Nani menghampiri mereka untuk membawakan barang-barang majikannya. Sebelum masuk, Chalissa ingat bingkisan yang dibawanya untuk bi Suti, bi Nani, dan pak Doni. Mereka sangat senang mendapatkan oleh-oleh banyak dari majikannya.
Ansel dan Chalissa sudah berada di kamar.
"Sayang, istirahatlah sebentar setelah itu kamu mandi" titah Ansel.
Chalissa menuruti perintah Ansel. Ia berbaring di atas kasur, tapi ia tidak tidur. Ia memang merasa lelah dengan perjalanannya. Sedangkan Ansel terlihat tertidur di atas sofa. Ia benar-benar lelah menyetir mobil sendiri.
2 jam kemudian setelah membaringkan tubuhnya, Chalissa pun beranjak menuju ke kamar mandi. Setelah sebelumnya ia sudah meminta bantuan bi Nani untuk menyiapkan bathup karena rasanya ia ingin sekali berendam.
Ansel tergugah dari tidurnya. Ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 20.00
Pandangannya beralih pada istrinya yang sedang duduk di depan meja riasnya. "Wangi sekali" ucap suaminya yang berdiri di belakangnya. Ansel mencium rambut Chalissa yang basah setelah keramas.
Dari pantulan cermin, Chalissa melayangkan senyumnya pada pria yang dicintainya itu. "Stop Ans, ini sudah malam. Mandilah" perintah Chalissa menghentikan Ansel yang sedang mencium pundaknya. Ansel menuruti perintah istrinya, ia juga memang bangun ingin sekali menyegarkan tubuhnya dengan berendam.
"Ans, aku akan minta bantuan bi Nani untuk menyiapkan bathup untuk kamu berendam" ucap Chalissa
"Tidak perlu sayang. Aku bisa sendiri kok" lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.
🌵🌵🌵
"Jadi tujuan hari ini adalah dia ya pak Harrys?" tanya Hanny spontan membuat tatapan Harrys terhenti pada seorang wanita yang tengah tertawa bersama dengan teman perempuannya.
"Ayo masuk" ajak Harrys, ia menggandeng tangan Hanny membuta Hanny kaget setengah mati. Wajahnya sangat jelas menunjukkan betapa terkejutnya dia saat jari-jari Harrys menyelinap di antara jarinya.
Hanny mengehentikan langkahnya, sorot matanya menunggu Harrys menolehkan wajahnya ke arah dirinya. "Ada apa?" tanya Harrys tatapannya datar seolah tak ada yang terjadi.
Harrys tersenyum, "Maaf Hanny. Kamu ingatkan tentang wanita yang pernah saya ceritakan?" tanya Harrys, Hanny ingat memang Harrys pernah bercerita tentang wanita yang sudah lama ia kagumi tapi ia mengerti hari ini. "Iya" jawab wanita itu singkat.
"Sebenarnya, saya bukan hanya mengaguminya. Saya mencintai Hanny" penjelasan Harrys membuat Hanny terbelalak. Sungguh ia tak percaya ternyata ada seorang wanita yang sedang dicintai oleh pria yang kini tengah merebut hatinya.
Lalu apa arti dari semua ini ~ batin Hanny
Ia berusaha kuat tanpa menunjukkan ekspresi yang mungkin sedang terluka.
"Wanita ini berbeda dengan yang lainnya. Sangat sulit menaklukkan hatinya" lanjut Harrys, ia masih melanjutkan kalimatnya lagi. "Hanny, aku ingin kau membantuku untuk dapat merebut hatinya" pinta Harrys.
Jadi aku adalah salah satu wanita yang sama dengan yang lainnya? Mudah kau taklukkan?? ~ batinnya
"Aku hanya butuh sedikit bantuanmu Han" ungkap Harrys, ia kemudian diam saat merasa Hanny tak merespon setiap perkataannya.
"Hanny" panggil Harrys
"Ahh I- iya" jawabnya
"Lalu bagaimana caraku?" tanya Hanny tanpa sadar kalimat itu melesat dari bibirnya.
"Apa, apa aku harus jadi kekasih pura-pura pak Harrys??" tanya Hanny, ia masih tidak sengaja mengeluarkan kalimatnya yang entah kenapa begitu mudah lolos tanpa ia pikirkan lebih dulu.
Harrys tertawa mendengarkan perkataan yang lolos dari mulut Hanny. Ia tak percaya kalau wanita itu sampai berpikir akan menjadi kekasih pura-pura Harrys untuk menaklukkan wanita yang sedang ia incar itu.
Kenapa dia tertawa? Apa ucapanku sangat lucu? atau itu terdengar seperti wanita terobsesi?!! sial!! ~ batin Hanny meratapi kebodohannya.
"Saya sudah biasa untuk punya banyak kekasih. Bahkan dia pun tahu kalau aku seorang playboy" tutur Harrys
"Lalu, saya harus bagaimana?" Hanny mulai kesal
"Hari ini adalah ulang tahunnya, kamu cukup menjadi adikku saja" jelas Harrys. Sungguh diluar prediksi Hanny melongokkan wajahnya tak percaya, apa gunanya menganggapnya seorang adik hanya untuk mendekati seorang wanita.
"Setelah kau harus bisa dekat dengannya. Tenang saja Hanny, Jeanice adalah wanita yang baik dan menyenangkan"
"Oh jadi namanya Jeanice" guman Hanny dalam hati.
🍁🍁🍁🍁🍁
Malam itu sungguh melelahkan bagi Ansel. Setelah mandi, ia dan Chalissa menyantap malam malam. Tidak butuh waktu lama setelah menikmati makan malamnya, ia segera kembali ke kamarnya.
CLEKKKK
Chalissa baru masuk ke dalam kamar. Ia sudah disuguhi pemandangan di mana suaminya sudah tertidur.
"Sepertinya ia lelah sekali" Chalissa mengusap kening suaminya yang tertidur pulas.
Chalissa melangkahkan kakinya ke sisi ranjang, ia juga ingin membaringkan tubuhnya di samping Ansel.
Setelah sudah berada di samping Ansel, Chalissa yang sedang menarik selimut dan hendak membalutnya pada tubuh suaminya tiba-tiba merasakan kalau suaminya sedang gelisah.
"Bu, ibu" Ansel terdengar mengigau berkali-kali.
Chalissa berusaha menyadarinya, namun Ansel segera berhenti dari ngigaunya.
"Kasihan dia, pasti dia sangat lelah sekali hari ini. Selamat istirahat sayang" Chalissa berbaring disisinya dengan memeluk suaminya.
"Gaes jangan lupa di like ya kalau suka, jangan lupa juga kalau punya koin dan poin kasih vote seikhlasnya buat author, makasih gaess... jangan lupa semangat terus baca kelanjutan novel ini" 🤗😉
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍