Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Kerja Tambahan



1 minggu kemudian


Tok... tok... tok...


CLEKKKK


Dari balik pintu tampak bi Nani, ia berjalan mendekati Chalissa yang sedang memberi ASI pada Killian.


"Ada apa bi?" tanya Chalissa


"Makan siang untuk nyonya Chalissa sudah siap. Kata tuan Ansel, nyonya tidak boleh melewatkan jam makan siang" jelas bi Nani menyampaikan amanat dari tuannya.


"Iya bi" jawab Chalissa


Bi Nani hendak berlalu dari hadapan Chalissa.


"Bi" panggil Chalissa


Bi Nani menghentikan langkahnya, "Iya ada apa nyonya?" jawabnya


"Tolong jangan memanggilku nyonya, cukup memanggil non saja bi" pinta Chalissa yang merasa aneh terganggu dipanggil dengan sebutan nyonya.


"Tapi.."


Chalissa langsung menimpali ucapannya, "Tidak ada tapi-tapi bi. Bibi sudah saya anggap seperti ibuku, rasanya aneh kalau dipanggil nyonya. Jadi tolong jangan panggil saya dengan sebutan itu ya bi" ucap Chalissa mengulang permintaannya.


Akhirnya bi Nani menuruti permintaan Chalissa.


* * * * *


Hari Sudah menunjukkan pukul I8.00. Killian sedang tertidur dengan pulas. Sementara, putranya sedang tidur chalissa memanfaatkan waktunya dengan baik.


la keluar dari kamarnya. la berjalan ke arah dapur mini. Di sana telah nampak bi Suti sedang menghidangkan makan malam.


"Wah sepertinya ini lezat sekali bi" puji Chalissa sambil mencicipi hidangan yang sudah tersedia di meja makan. "Hmmm... enak sekali ini" Chalissa memuji lagi rasa masakan yang sudah dicicipinya.


"Ini pasti masakan bi Suti dan bi Nani kan?" tebak Chalissa sambil tertawa receh.


"Nyonya muda bisa saja nih. Di rumah inikan hanya ada saya bi Nani yang bertuga memasak" tawa bi Suti, "Hehehe" sambung tawa Chalissa.


"O iya bi, apa Rissa sedang pergi ya?" tanya Chalissa yang belum melihat adiknya dari tadi. Semenjak sudah ada Killian, Lissa memang hampir jarang meluangkan waktunya untuk berbincang dengannya.


"Non Rissa sepertinya masih di lantai tiga nyonya Chalissa" terang bi Suti.


"Oh. Saya tinggal sebentar ya bi, saya ingin menemui Rissa dulu" Chalissa pergi menuju lantai tiga.


Di sana nampak Rissa baru saja keluar dari kolam renang.


"Apa kamu senang berenang jam segini?" tanya Chalissa tiba-tiba muncul.


"Kakak" kaget Rissa, ia menerima handuk dari tangan kakaknya.


"Apa Killian sedang tidur kak?" tanya Rissa sedang mengusap handuk wajahnya.


"Iya. Semenjak sudah ada Killian, kakak seperti ada kerjaan baru. Apalagi kak Ansel, tiap malam dia harus membantu kakak menjaga Killian" ucap Lissa yang duduk di bangku panjang samping adiknya.


"Bagaimana sekolahmu dek? Sejak kakak di rumah sakit sampai sekarang sudah tidak pernah lagi mendengar ceritamu" tutur Chalissa sedikit menyesal karena hampir tak punya waktu lagi untuk adik kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa.


"Sangat menyenangkan kak, hanya saja anak-anak perempuan di sekolahku terlalu sombong"


"Ayo coba ceritakan tentang sekolahmu" pinta Chalissa.


Chalissa begitu senang bisa mendengarkan adiknya bercerita. Sejak mereka ditinggal oleh Bu Dewi, Chalissa berjanji akan berusaha meluangkan waktunya untuk memperhatikan adiknya. Apalagi Rissa adalah anak perempuan yang sedang bertumbuh menjadi gadis dewasa kelak nanti. Jadi Chalissa tidak mau adiknya itu akan tumbuh dengan kesepian.


"O iya, sepertinya udaranya mulai dingin. Sudah sana bersihkan badanmu. Kakak akan melihat Killian dulu ke kamar" ucap Chalissa mengusap pundak adiknya lalu pergi dari sana.


Manik wajah Rissa tak berlalu dari Chalissa hingga nampak kakaknya sudah berlalu. Rissa sangat beruntung dan bangga memiliki sosok kakak seperti Chalissa.


* * * * *


Pukul 20.00 di kamar Ansel


Chalissa sedang menggunakan skincare rutinitasnya.


"Apa seharian ini Killian rewel sayang?" tanya Ansel yang baru saja keluar dari kamar mandi membersihkan tubuhnya dari aktivitasnya seharian di luar.


"Tidak sayang. Seharian ini Lian sudah jadi anak yang penurut pada mamanya" terang Lissa tersenyum ke arah suaminya.


"O iya sayang, apa kamu mau makan?" Chalissa telah selesai melakukan kegiatannya.


"Aku sudah makan sayang. Tadi meeting sekalian makan malam" jelas Ansel.


"Dia sepertinya nyenyak sekali" senyum Ansel menatapi putranya yang sedang tertidur.


Tok... tok... tok


"Permisi tuan, nyonya muda" ijin bi Suti lalu masuk ke dalam kamar membawa sebuah paperbag ukuran besar berwarna hijau tosca.


"Nyonya baru saja ada kurir datang mengantar paket ini" bi Suti menyerahkan paperbag tersebut pada Chalissa.


Sejenak Chalissa berpikir sambil beradu tatap dengan suaminya yang berdiri di dekat ranjang bayinya. Sampai akhirnya Chalissa pun menerima paperbag dari tangan bi Suti.


"Terima kasih ya bi" ucap Chalissa kemudian bi Suti meninggalkan kamar majikannya.


Chalissa mengeluarkan benda yang ada dalam paperbag tersebut, ternyata sebuah bingkisan berupa selimut bayi berwarna biru langit.


Chalissa mendapati sebuah pesan kartu ucapan di dalam paperbag setelah ia mengeluarkan selimut itu.


"Semoga hadiah ini mampu menghangatkan putramu"


~ Bellvania


Wajah Chalissa berubah beku.


"Siapa?" tanya Ansel, lalu menarik kartu nama dari tangan istrinya.


Wajah Ansel berubah sinis.


"Kita kembalikan saja"


"Apa sebaiknya tidak kita terima saja Ans?" Chalissa merasa tak enak jika harus menolak pemberian orang lain, apalagi hanya sebuah bingkisan yang mendasar yaitu sebagai ucapan atas kelahiran anaknya.


"Aku tidak akan tenang jika kita menerima pemberiannya sayang"


"Tapi Ans, itu akan membuatnya tersinggung"


"Jadi kau mau menerima bingkisan ini?" Ansel mempertegas suaranya hingga Chalissa merasa terpaku untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Aku... aku hanya merasa kasihan saja sayang kalau kita menolak bingkisan darinya. Apalagi ini dia membelinya dengan alasan yang jelas" terang Chalissa


Ansel mendengus, ia meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Maaf sayang, tapi aku akan tetap mengembalikan ini" ucap Ansel segera mengambil bingkisan selimut itu lalu memasukkannya ke dalam paperbag.


Chalissa tak dapat berbuat apa-apa jika Ansel sudah bertekad seperti itu. Tapi di sisi lain, sebenarnya ia sendiri merasa lega karena tak menerima bingkisan dari Bellvania, mantan kekasih suaminya.


"Sayang, kau tidak marah kan?" Ansel mendekati istrinya yang berdiri tak jauh darinya.


Chalissa menggelengkan kepalanya, Ansel memeluk istrinya dari samping.


"Aku merasa curiga dengan sikapnya yang baik seperti itu Aku harap kamu bisa menerima keputusanku dan memahaminya sayang" Ansel mengarahkan wajahnya berhadapan dengan istrinya. Chalissa bisa mengerti kenapa Ansel bersikap seperti itu, mungkin ia hanya tak ingin dirinya terbeban dengan hadiah itu.


Ansel mengubah posisinya memeluk istrinya dari belakang sambil melabuhkan ciumannya pada puncak kepala istrinya. Kemudian ia pun menciumi pipi dan bahu istrinya yang tak ditutupi kain.


"Sayang, apa kau tidak merindukanku?" Ansel berucap tanpa menghentikan kegiatannya bolak-balik menciumi pipi dan bahu istrinya.


"Tidak" balas Chalissa mematahkan aksi suaminya, "benarkah itu?" Ansel tak percaya dengan pernyataan istrinya. Lalu tangannya menyentuh dagu istrinya dan mengarahkan dagu itu padanya.


CUP


Ciuman singkat berhasil dilabuhkan oleh Ansel, membuat mereka saling tertawa. Tak berhenti, Ansel melabuhkan lagi bibirnya pada bibir istrinya. Kali ini ciuman itu lebih panjang, hingga keduanya merasa berat untuk menghentikan kegiatan mereka. Ansel merasa sesuatu yang panas mulai menjalar dalam tubuhnya.


Oeek, oeek....


Dengan terpaksa mereka menghentikan kegiatan mereka, nampak ekspresi mereka saling melepas tawa karena ulah Killian.


"Sepertinya putramu marah karena kau belum menggendongnya" ucap Chalissa sambil tertawa.


Ansel membuang napasnya kesal, namun ia tak bisa melepaskan kekesalannya pada putra kesayangannya itu.


"Sepertinya pekerjaan tambahanku malam ini sudah memanggil sayang" ungkap Ansel telah berhasil meraih putranya dalam gendongannya.


"Gaes like dan vote ya, hehehehe..."


*


*


*


*


*


Happy Reading 😍