Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Merantau



"Cindy, Liss. Masih ingat aku??! dua hari lalu kita ketemu di sebuah taman".. jelas wanita yang menyebutkan dirinya Cindy.


"Oh, maaf aku lupa belum menyimpan nomor hapemu".. ucap Lissa merasa tidak enak, karena sebenarnya saat itu Cindy meminta Lissa untuk menyimpan kontak personnya di hapenya.


"No problem Liss. Jadi, bagaimana Lissa?!!".. Cindy seolah meminta sebuah kepastian kepada Lissa.


Wajah Lissa berubah nampak berat. Tawaran dari sepasang suami istri belum bisa ia pecahkan. Kini, ia malah diperhadapkan pada tawaran Cindy yang mengajaknya bekerja di Jakarta. Dia terlihat berat untuk menyampaikan masalah itu kepada ibunya. Dia bisa membayangkan wajah ibunya yang akan bersedih jika ia harus bekerja di Jakarta. Memang jarak Jakarta ke kampung tidaklah membutuhkan waktu sehari. Hanya 8 jam. Akan tetapi, mereka tentu tidak akan bertatap muka dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Ditambah adiknya Rissa yang bergantung padanya, apalagi soal masak memasak.


"Maaf Cin, aku belum membicarakan masalah itu kepada ibuku".. suaranya terdengar berat


"Sayang sekali Liss. Tapi tidak masalah. Aku akan menunggu. Kalau kau sudah mengambil keputusan segera kabari aku yah. Minggu depan aku akan berangkat ke Jakarta".. jelasnya Cindy. Dan sepertinya dia justru lebih bersemangat untuk mengajak Lissa bekerja dengannya.


"Baik Cin, terima kasih"... Lissa memutuskan sambungan komunikasi mereka


Lissa kembali harus memikirkan tawaran dari teman barunya yang bernama Cindy. Cindy mengajaknya bekerja di Jakarta. Dari cerita dan melihat kenyataan hidup Cindy sebenarnya Lissa sempat berpikir ingin sekali ke Jakarta mengadu nasib perekonomiannya. Namun, lagi-lagi hatinya berat meninggalkan ibunya yang sedang sakit. Meskipun dia memiliki seorang tetangga yang sangat baik kepada keluarganya lantas itu tidak membuat Lissa sepenuhnya yakin.


Dalam lubuk hati yang paling dalam. Rasanya tawaran dari Cindy jauh lebih baik ketimbang tawaran dari sepasang pasutri yang memintanya untuk melahirkan anak untuk mereka. Mungkin hatinya berat tidak bertemu ibunya, meskipun hal itu sama juga jika dia memilih tawaran dari sepasang pasutri itu. Tapi setidaknya itu bukanlah hal memalukan yang dapat mencoreng nama keluarga mereka di kampung di mana ia dilahirkan dan dibesarkan.


Tapi apakah ibu akan setuju? atau ibu akan merasa sedih ditinggal olehnya? Jika ibu menyetujuinya, bagaimana nasib ibunya? siapa yang akan menjaganya?!! Arghhh, rasanya semua membuatnya begitu rumit. terlalu rumit dalam pikirannya.


* * * *


"Saya hanya bisa membayar lima puluh persen pak. Saya akan berusaha untuk bisa membayar kekurangan uang sekolah adik saya".. Lissa duduk menghadap seorang pria yang adalah kepala sekolah di mana adiknya mengemban pendidikan.


"Baiklah nak. Kami akan memberikan kemudahan bagi keluargamu. Mengingat keadaan keluargamu yang sedang membutuhkan banyak pertolongan. Sekolah tidak akan mendesakmu asalkan ada pemberitahuan seperti ini"... ucapan Pak Imron, selaku kepala sekolah. Setidaknya perkataan yang keluar menjadi angin segar bagi Lissa.


Setelah menyudahi pembicaraan pagi itu, Lissa segera bangkit dari duduknya dan melangkah keluar. Ia keluar dari ruangan kepala sekolah dan bermaksud untuk menemui adiknya. Ia ingin menyerahkan kartu ujian untuk adiknya itu.


"Bagaimana kakk??".. tanya Rissa cemas yang tiba-tiba telah berdiri di belakang Lissa.


Lissa menyerahkan kartu ujian itu kepada adiknya. Rissa nampak sumringah, senyumnya menampakan wajah cantik dengan lesung pipi kecil di setiap sudut bibirnya.


"Makasih kakakku cantik".. memeluk kakaknya. Ia segera melepaskan pelukannya dan ingin segera berlari menghampiri teman-temannya yang sudah menunggunya.


Setelah pelukan itu lepas, Lissa dengan cepat menarik tangan adiknya. Membuat Rissa kembali mengalihkan pandangannya kepada kakaknya.


"Ada apa kak?".. ia terheran


"Belajarlah dengan rajin, jangan terlalu banyak bermain-main. Kau mengertikan??!".. dengan tatapan sayu, ada yang tertahan di bola matanya.


"Baik kak. dahhhh"... Rissa berlari ke arah teman-temannya. Lissa nampak terus menatapi adik kecilnya itu. Tanpa ia sadari buliran air telah menetes di pipih imutnya.


Lissa begitu sedih mengingat bagaimana ia harus terus berjuang untuk adik kecilnya itu. Saat kepergian ayahnya, adik kecilnya itu masih mengemban pendidikan di sekolah dasar, kelas empat. Dan sekarang Rissa sudah kelas sembilan, peristiwa itu telah berlalu lima tahun yang lalu. Lima tahun lalu di mana kecelakaan telah merenggut kehadiran jasmani ayahnya.


* * * * *


Waktu menunjukkan pukul 20.00, Lissa telah berkemas untuk menyudahi pekerjaannya hari ini. Ia berpamitan dengan teman-temannya.


Tiba di rumah, Lissa dikagetkan dengan pemandangan terkejut. Ibunya tergeletak di dekat meja makan.


"Ibuuuu!!".. teriakannya diikuti buliran air mata yang menetes.


"Bu, ibuuuu... ibuu..."... Lissa nampak semakin panik.


Ia keluar meminta pertolongan kepada tetangganya. Pak Rusdi dan ibu Hera segera keluar.


"Ada apa nak?!" tanya pak Rusdi terkaget.


"Pa... paman, to.. tolong ibu"... ia terus menangis sesenggukan. Hera segera menenangkan Lissa. Kemudian mereka berlari bersama ke arah Bu Dewi.


Mereka meletakkan Bu Dewi di kamar dan berusaha menyadarkannya. Beberapa menit, jam Bu Dewi belum juga menampakkan kesadarannya. Mereka kembali membawa Bu Dewi ke klinik terdekat.


Ternyata dari klinik menganjurkan supaya Bu Dewi ke rumah sakit. Akhirnya mereka membawa ke rumah sakit umum.


Perawat segera menangani pasien Bu Dewi. Kebetulan sedang ada dokter yang sedang bertugas mengecek pasien lain di malam itu juga segera mengecek keadaan Bu Dewi.


Dokter berhasil menangani Bu Dewi. Dokter memberi peringatan tentang keadaan Bu Dewi. Dokter menyarankan supaya Bu Dewi dirawat dulu di rumah sakit.


* * * * *


Di rumah, Rissa begitu terkejut saat Arthur anak pak Rusdi dan Bu Hera memberitahu bahwa ibunya di bawa ke rumah sakit.


Ia nampak menyesal telah meninggalkan Bu Dewi di rumah sendirian, karena temannya mengajak dia menonton bioskop.


Pak Rusdi dan Bu Hera telah kembali.


"Paman, bagaimana keadaan ibuku?".. tanya Rissa sembari menangis.


"Kamu kemana saja Rissa??".. tanya Bu Hera, merasa heran ketika dia baru sadar bahwa tidak ada Rissa bersama dengan mereka.


"Sudahlah".. pak Rusdi menenangkan Rissa "Ibumu sudah ditangani oleh dokter. Ibumu sudah baik kok".. sambung pak Rusdi yang tidak mau membuat kepanikan itu berlanjut. Kemudia ia masuk ke rumah meninggalkan istrinya bersama dengan Rissa.


* * * * *


"Buuuu... maafkan Lissa ya buu... ibuuu".. Lissa menangis melihat keadaan ibunya.


"Lissa akan melakukan apapun untuk ibu. Lissa akan mencari pekerjaan yang lebih baik lagi Bu. Lissa akan merantau ke Jakarta ya Bu. Lissa janji, Lissa akan bekerja dengan baik untuk ibu dan juga Rissa".. suaranya begitu berat, dadanya terasa sesak.


-


-


-


Reader dukung author ya


Baca terus yah setiap chapter cerita ***don't hate me, Baby!


Jangan lupa FOLLOW, VOTE, LIKE yahh***..