Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Psikiater



Ansel menduduki tubuhnya pada sofa, matanya menatapi pakaian Lissa yang masih berserakan. Lama duduk di sofa dan merasa telinganya tidak menangkap ada suara, Ansel mulai bingung.


tok..tok..tok...


tok..tok..tokk...


Tidak ada sautan dari dalam


"Apa kau ada di dalam???"... Ansel mulai curiga. Apa yang sedang dilakukan wanita itu di dalam. Kenapa tidak menyaut!!!


Ansel menunggu lagi.. Ia mondar mandir, kecurigaannya mulai melayang pada kepanikan. Apa yang terjadi di dalam?!!...


Brakkkk!!!! suara pintu yang terbentur pada dinding. Ternyata pintu tidak terkunci.


"KAU!!!!!"... Ansel terkejut mendapatkan wanita itu sudah tergeletak bersimpuh darah di lantai. Ansel melihat asal darah tersebut mengalir. Ia segera mengangkat tubuh Lissa yang dibalut selimut ke atas kasur. Dengan sigap Ansel memakaikan pakaian dalam wanita itu dan mengambil paper bag yang tadi di bawanya. Tangannya memasuki kantong celananya mengeluarkan hape genggam miliknya..


"Harrys tolong siapkan mobil. Segera ke kamarku!!!"... Ansel memerintahkan assistennya. Ia kembali dengan cepat memakaikan pakaian yang ada dalam paper bag itu pada tubuh Lissa. Kemudian ia merobek pakaian Lissa semalam dan membalutnya pada pergelangan tangan yang terluka dan membuang sisa pakaian Lissa yang sudah robek ke dalam tempat sampah.


CLECKKK suara pintu terbuka, Harrys muncul. Ia melihat Ansel sudah menggendong tubuh Lissa, menyembunyikan wajah Lissa di dadanya.


"Tolong bawa tas wanita ini!!".. ucap Ansel, ucapannya membuat Harrys bingung. "wanita siapa??!".. menyeletuk.


Kemudian Harrys segera membuka pintu kamar hotel, mereka berdua berjalan dengan tergopoh-gopoh memasuki lift. Tiba di lobby, Harrys segera membuka pintu mobil. Ansel masuk bersama Lissa di seat belakang, Ia memangku tubuh Lissa. Sedangkan Harrys segera duduk di seat kemudi, langsung menancap gas menuju hospitality. Lissa sudah tidak sadarkan diri. Sebenarnya banyak pertanyaan yang sudah berkumpul dalam benak Harrys, namun ia mengurungkan bibirnya untuk bertanya melihat ekspresi Ansel yang panik, terdiam, lalu berubah dingin. Ansel nampak memaku.


Sembari menyetir Harrys melihat Ansel sedang sibuk melakukan panggilan melalui hape genggamnya.


"Tolong siapkan kamar VVIP!"... kemudian sambungan itu terputus.


Tiba di lokasi hospitality perawat sudah menunggu membawa brankar. Lissa sedang ditangani oleh dokter di emergency room sebelum di masukkan dalam ruang kamar rawat. Dokter terlihat keluar dari ruang emergency room.


"Bagaimana keadaannya??!".. tanya Ansel ingin memastikan nasib wanita itu.


"Kami sudah berhasil mengatasi perdarahan pada pergelangan tangannya. Wanita ini telah melukai urat nadinya, beruntung anda segera menekan urat nadinya dengan kain sehingga dapat membatasi aliran darah yang keluar".. jelas dokter tersebut.


"Lalu bagaiman dia??!"..


"Keadaannya akan mulai membaik. Ia akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Hanya..." belum sempat melanjutkan,


"Hanya apa?!!".. Ansel memotong ucapan dokter itu.


"Bawalah dia ke psikiater! Wanita ini sepertinya mengalami depresi!!"... dokter itu segera berlalu meninggalkan Ansel dan Harrys.


"Psikiater!!! Apa dia benar-benar depresi?!!!... tatapan Ansel mematung


"Sebenarnya apa yang terjadi pak direktur???"... pertanyaan yang sudah tersimpan dalam benak Harrys akhirnya berhasil lepas.


Ansel menceritakan kejadian di hotel itu. Harrys tercengak, dia tidak percaya bahwa seorang direktur utama telah memerkosa seorang wanita yang tidak dikenal asal-usulnya. Dan dia juga bingung sama seperti Ansel. Bagaimana wanita ini bisa berada di dalam kamar hotel itu? Bukankah seharusnya direkturnya bersama Nona Bellvania. Kalau pun direkturnya harus bercinta, bukannya seharusnya itu dilakukan dengan nona Bellvania?!!!... Arghhhh Ia terlalu pusing memikirkan itu semua.


* * * * *


Di tempat lain nampak Cindy yang kebingungan tidak tahu dengan keberadaan Lissa.


"Apa... apa dia kembali ke kampungnya?... Tidak mungkin, dia tidak memiliki uang. Boss belum memberikan imbalan haknya!.. Apa mungkin pak Franky memberinya uang??.. Aku harus menghubungi Pak Franky"... tangannya segera mengacak tasnya mencari handphone yang tersimpan dalam tasnya.


tutttt... tutttt


"Hallo dengan siapa?".. suara seorang pria muda berusia 30 tahun dari seberang sana.


"Apakah ini pak Franky"... suara Cindy terdengar terburu-buru


"Saya assistennya. Ada apa anda menghubungi pak Franky?!!".. tanya pria tersebut dengan suara menekan


"Saya wanita yang semalam. Saya ingin berbicara dengan pak Franky".. assisten itu terdiam. Ia menuturkan perkataan wanita dalam telponnya. Kemudian pak Franky menerima panggilan itu.


"Ada apa lagi?"... terdengar dingin


"Saya ingin menanyakan keberadaan teman saya. Bukannya semalam anda bersamanya?"...


"Ya"..


"Apa kau yakin dia temanmu?!!"... sebuah sindiran tapi terdengar dingin


"Katakan di mana dia sekarang?"... tanya Cindy mulai muak dengan percakapan mereka


"Jangan mencarinya lagi. Aku akan membelinya dengan harga yang diinginkan bossmu!!!... biarkan dia bersamaku!!!"... Pak Franky segera menutup pembicaraan itu.


"Segera urus masalah ini. Berikan harga gadis itu!!"... perintah pak Franky.


Entah mengapa, ucapan Lissa menyinggung nurani pak Franky. Dia teringat pada anak perempuannya Bellvania Gracela. Bahkan ia merasa usia gadis itu mungkin lebih muda dari putrinya.


"Mengapa anda melakukan ini pak?".. tanya Chico assisten pak Franky yang sebenarnya bernama Pak Davidson Joseph. Sebagai pengusaha sukses yang memiliki rating tinggi membuatnya tidak bodoh membocorkan identitas begitu saja, apalagi berurusan dengan agency wanita malam.


"Bukankah wanita itu telah kabur?!! Bahkan anda sudah mengalami kerugian atas wanita itu!!"... Chico tidak mengerti dengan jalan pikir pak Davidson.


"Gadis itu bukan wanita malam. Aku bisa lihat dari matanya! Aku ingin kau mengerahkan anak buahmu. Cari gadis itu!! Pastikan dia tidak akan kembali ke tempat jahat itu!!"... geram pak Davidson.


"Baik Pak"...


"Pak, malam itu aku bertemu Nona Bellvania"... tutur Chico


"Dengan siapa dia di sana? Apa kau melihat ada Martin atau Ansel??"...


"Saya tidak melihat keberadaan Tuan Martin atau pun Tuan Ansel, Pak".. penuturan Chico


Kemudian pak Davidson meninggalkan ruangan itu.


* * * * *


"Nakk.." panggil Bu Dewi, ibu Lissa


Mendengar panggilan ibunya yang berada di ruang tamu, Rissa segera menghampiri ibunya itu. "Ada apa Bu?"...


"Tolong telpon kakakmu, nak. Ibu rindu pada kakakmu"... pinta ibunya dengan wajah memelas


Rissa kembali ke kamarnya mengambil handphone dan berlalu menuju ruangan tamu duduk di samping ibunya. Ia mulai mencari kontak person kakaknya "Kak Chalissa" nama itu tertulis di dalam kontak telpon Rissa.


Dalam ruangan kantor Ansel


tutttt...tutttt...tuttt... suara dering telpon milik Lissa. Hape genggam itu sedang berada pada tangan Ansel. Ansel melihat panggilan masuk "Adikku"... nama itu tertulis di layar panggilan. Ansel membiarkan panggilan itu berlalu hingga empat kali.


"Mungkin kakak sedang bekerja Bu".. tutur Rissa mencoba menenangkan ibunya.


"Yasudah nanti siang kita hubungi lagi kakakmu".. pinta ibunya. Rissa segera mengirimi pesan pada kakaknya, memberitahu bahwa nanti siang ibunya ingin bicara.


Kembali pada Ansel


Ansel masih memikirkan wanita itu. Ia melihat notifikasi pesan pada layar handphone Lissa, dan membaca pesan itu..


"Kak Chalissa, ibu kangen kakak. Nanti siang ibu ingin mendengar suara kakak"


"Chalissa"... Ansel menyebutkan nama itu, "Aku harus segera kembali ke rumah sakit menemuinya".. Ansel beranjak dari kursi kebesarannya.


"Davina jika ada yang mencariku tolong handle semuanya. Saya tidak akan kembali ke kantor hari ini"... pesan Ansel kepada sekretarisnya


"Baik pak".. balas Davina. Hanny hanya terdiam melihat direktur utamanya berlalu.


.


.


.


.


.


Happy reading 😍