Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Ngidam Tengah Malam



Tiba di rumah sakit


"Apakah itu anakku dokter Claudia?" tanya Ansel dengan wajah berseri melihat ke arah monitor.


"Iya benar pak Ansel"


"Sekarang usia kandungan bu Chalissa memasuki 8 Minggu ya. Pak Ansel bisa lihat kepala bayi sudah berkembang dengan baik" terang dokter Claudia.


"Apa jenis kelaminnya belum kelihatan dok?" Ansel sangat antusias


"Belum Pak. Nanti setelah memasuki Minggu ke 11 alat kelamin bayi akan mulai berkembang. Jadi pak Ansel bisa melihat dengan jelas jenis kelamin anak bayi setelah Minggu ke 16" terang dokter Claudia.


Selama USG, Bu Dewi memilih diam hanya melihat ke arah monitor. Dia enggan berkomentar karena Bu Dewi ingin membiarkan menantunya itu dengan puas bertanya tentang bayinya. Melihat antusias Ansel saja sudah membuat Bu Dewi bahagia.


"Bu Chalissa harus selalu jaga kesehatan ya, jangan setres, dan banyak makan-makan bernutrisi. Supaya si bayi sehat selalu" ungkap dokter Claudia


Sebelum mereka pulang...


"Terima kasih ya dok" ucap Bu Dewi dan Ansel secara bergantian.


"Rissa senang deh bentar lagi mau punya keponakan" ungkap Risa yang duduk di belakang Ansel.


"Iya ibu juga senang mau punya cucu"


Mereka saling menunjukkan senyum kebahagiaan.


Sesekali Chalissa melirik kepada Ansel. Ia melihat wajah Ansel yang berseri, apalagi saat di USG tadi. Chalissa tidak berhenti melihat mata Ansel yang antusias ingin mengetahui tentang bayi mereka.


* * * * *


Setelah selesai memeriksa kandungan Chalissa, Ansel menepati janjinya pada Rissa untuk berbelanja.


Ansel membawa istri dan keluarga ke mall mewah yang ada di Jakarta.


Tiba di mall mereka segera, mencari keperluan mereka. Bu Dewi hanya sibuk memperhatikan anak bungsunya, yang sibuk mencari-cari benda yang ia sukai.


"Sayang" Ansel menarik tangan Lissa mengarah pada pakaian wanita hamil.


Ia meminta Chalissa untuk mencari pakaian hamil yang dia sukai. Tapi Chalissa memang jarang berbelanja, bahkan dia sulit dalam menentukan pakiaan yang bagus dan cocok baginya. Ansel membantunya memilihkan pakaian yang bagus untuknya. Selesai memilih pakaian mereka hendak menghampiri ibu dan adiknya. Tiba-tiba matanya melirik pada perlengkapan pribadi wanita. Tapi karena ada Ansel bersamanya, ia enggan untuk melangkahkan kakinya. Tanpa di sadari tatapannya tertangkap oleh Ansel, ia tersenyum saat ia rasa istrinya malu ingin melihat perlengkapan pribadi wanita.


"Kau tidak ingin membeli perlengkapan lain?" tanya Ansel merangkul pinggang Chalissa.


"Tidak" berpura-pura


"Yakin, setidak persiapan pakaian dalam untuk masa hamil mungkin" ucap Ansel tanpa rasa malu sambil mengerlingkan matanya.


"Eee nanti saja" menyimpan rasa malu


"Sudah ayok" Ansel menarik tangan Lissa


"Kenapa diam?? Apa perlu aku yang memilihkan untukmu??!" kata Ansel tersenyum miring


Tidak mau Ansel melakukan hal bodoh itu, Chalissa segera memilah perlengkapan pribadi untuk dirinya.


Setelah selesai mereka langsung menghampiri ibu dan adiknya. Mereka melihat ibunya tidak memilih apapun untuknya. Jadi Ansel meminta Chalissa untuk mencari sesuatu yang pas buat ibunya.


Lelah berbelanja, mereka memutuskan untuk makan siang di restoran yang terdapat di dalam mall.


Waktu menunjukkan pukul 17.00, mereka tiba di rumah. Karena begitu lelah, akibatnya Chalissa tertidur selama perjalanan pulang.


"Nak, ayo bangun. Kita sudah sampai" ucap Bu Dewi, namun tidak menggugah Chalissa darin tidurnya.


"Biarkan saja Bu. Mungkin dia kecapean. Ans akan gendong dia" ucap Ansel yang bersiap akan turun.


Dengan lihai ia segera membawa istrinya dalam gendongannya seperti bridal style.


Bi Nani dan bi Suti membantu Rissa membawa hasil belanjaan mereka.


"Duhh... tuan romantis banget ya sama nona" ucap bi Suti meringis


Bu Dewi begitu senang melihat, bagaimana Ansel memperlakukan putrinya dengan sangat hati-hati.


"Kamu udah bangun?" tanya Ansel setelah membaringkan istrinya di ranjang.


"Kita udah sampai ya? Kok kamu gak bangunin aku sih?" merasa tidak enak menyadari Ansel menggendongnya.


Ansel terkekeh, "Kamu tidur aja udah kayak..." tidak melanjutkan percakapannya.


Chalissa segera menunjukkan ekspresi yang sebal pada suaminya.


"Heiiii, stop menekuk wajahmu. Kamu jadi kelihatan jelek" mencubit puncak hidungnya.


"Memang aku pernah cantik?" sungut Lissa


Ansel tertawa senang.


"Sudah sana mandi, ini sudah terlalu sore"


"Ishhh" Chalissa mendengus


"Kenapa gak bergerak? Apa perlu aku memandikanmu? Hahhh" ucap Ansel menunjukan senyuman nakalnya dengan menggigit ujung lidahnya.


Tiba-tiba bulu Roma Chalissa bergidik. Sebelum Ans, berlaku aneh-aneh ia segera memasuki kamar mandi.


------------------------------------------------


Tok... tok... tokkk


Besok pagi ibunya akan segera pulang ke kampung. Sebenarnya Lissa masih merindukan ibu dan adik kecilnya itu. Tapi karena Rissa masih kelas 9 dan akan segera menghadapi ujian kelulusan mau tidak mau mereka harus berpisah lagi.


"Sudah dong nak jangan seperti ini" kata Bu Dewi yang mendapatkan tingkah manja Chalissa bergelayut memeluknya.


"Buu, Lissa masih kangen" rengek Chalissa


"Ibu juga masih kangen sama kamu nak. Tapi adikmu kan gak boleh lama-lama meninggalkan sekolah" jelas Bu Dewi.


"Bu, setelah Rissa selesai ujian. Ibu mau gak Rissa melanjutkan sekolahnya di sini. Jadi ibu dan Rissa bisa tinggal dengan Lissa?" tanya Chalissa masih memeluk ibunya dari belakang.


"Mana yang terbaik aja nak" tutur Bu Dewi, menggapai puncak kepala anaknya, dan mengelusnya.


Bu Dewi membalikkan posisinya sehingga berhadapan dengan putri sulungnya.


"Kamu jaga kesehatan ya nak. Jangan setres. Ibu sedih kalau dengar kamu pernah depresi nak" membelai kedua pipi Chalissa dengan manja.


"Mungkin cara kamu bertemu dengan Ansel salah. Tapi hampir dua minggu bersama, ibu bisa melihat kesungguhan nak Ansel ke kamu nak" lanjut Bu Dewi


Chalissa menyenderkan kepalanya di dada ibunya. Kini Bu Dewi mengusap-usap punggung putrinya.


"Cinta itu akan hadir berlahan nak, seiring kalian selalu bersama. Mulai sekarang belajarlah untuk mencintai suamimu. Berikan rasa nyaman itu padanya, supaya cinta itu pun tumbuh di hati suamimu" pesan Bu Dewi.


Chalissa menganggukan kepalanya.


* * * * *


Tengah malam, saat semua orang sudah tertidur. Tiba-tiba Chalissa terbangun. Entah apa yang membuatnya gusar. Dirinya terus bergulir di atas ranjang seolah menari posisi yang nyaman.


Kruk...kruk...kruk


Ia merasakan kalau perutnya kelaparan.


Tidak mendapatkan respon, Chalissa mulai merasa uring-uringan di ranjang.


"Kamu kenapa?" suara Ansel tiba-tiba terdengar


Chalissa membalikkan tubuhnya menghadap Ansel.


Ia melihat suaminya sudah mengangkat sebagia tubuhnya, hingga berada di atasnya.


"Kenapa perutmu?" tanya Ansel yang melihat istrinya memegang perutnya. Ansel pun ikut memegang perut istrinya.


"Apa si baby mengganggumu?" tanya Ansel khawatir


Chalissa menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa?"Ansel mulai terheran


"Aku lapar Ans" jawab Chalissa dengan suara parau


"Bukannya tadi sudah makan malam?" kini Ansel mengusap pipi Chalissa.


"Iya. Tapi aku lapar lagi Ans. Mungkin anakmu yang kelaparan" kata Chalissa asal menjawab Ansel.


Ansel melebarkan senyumnya.


"Kamu lapar ya baby? Kamu mau makan apa?" tanya Ansel mendekati perut Chalissa yang masih terbaring.


"Aku mau makan sate sapi sama mie goreng papa" Chalissa spontan merubah suaranya seolah Ansel sedang berbicara dengan anaknya.


"Ini yang lapar benaran si baby atau ibunya ya?" canda Ansel


Chalissa langsung cemberut mendengar kata-kata Ansel.


"Ya sudah tidak usah kalau begitu" Chalissa mengambek.


"Jangan cemberut ahh... Aku gak mau si baby jadi mewariskan muka cemberutmu"


"Aku cemberutkan karena bawaan si baby" ucap Chalissa tidak mau disalahkan.


"Oo kamu lagi cemberut ya baby? tapi kalau kamu cemberut muka ibumu akan terlihat makin jelek"


Chalissa mendengus kesal, ia membalikkan tubuhnya membelakangi Ansel.


"Tunggu aku akan mencari makanan itu" ucap Ansel berlalu dari kamar.


Hampir 30 menit mencari sate sapi tapi Ansel belum menemukannya. Ia baru ingat kalau dekat apartemen Harrys ada kedai olahan dari daging sapi.


"Hallo" suara Harrys


"Di mana Rys?" tanya Ansel


"Ini di jalan dekat apartemen"


"Oooo kebetulan. Rys tolong belikan sate sapi dekat apartemenmu ya 2 porsi. Cepat ya!" ucap Ansel langsung mematikan panggilannya.


"Aihhh, yang benar saja si boss?! Apa urusan mencari sate juga pekerjaannku??!" gerutunya.


Ansel menemui Chalissa membawakan mie goreng yang sudah ditaruh ke dalam piring.


"Mana satenya?" tanya Lissa


"Aku sudah cari gak ada. Jadi aku sudah minta tolong pada Harrys, karena dekat apartemennya ada kedai yang menyajikan sate sapi" curhat Ansel.


Tuttt... tuttt... tuttt


"Iya Rys?"


"Saya di bawah bos"


Ansel segera menghampiri Harrys untuk mengambil sate sapi.


"Okay Rys, Thanks ya" lalu pergi tanpa menunggu Harrys pamit.


"Wahhh, gila. Gini nih nasib orang bawahan" umpat Harrys.


Chalissa senang saat melihat sate sapi yang ditunjukkan oleh Ansel. Ia memakan sate sapi bersamaan dengan nasi putih, dan mie goreng.


"Hati-hati Chalissa makannya" ucap Ansel yang dibuat heran dengan kelahapan istrinya.


"Ini" Chalissa mengambil satu tusuk sate dan hendak menyuapi Ansel.


"Aku gak mau, ini sudah malam" tolak Ansel


"Makanlah Ans, kalau kamu nolak si baby akan sedih" masih memaksa Ansel.


"Apa iya?!!" agak tidak percaya.


Chalissa hanya mengangguk. Akhirnya, Ansel menuruti Chalissa. Ia menemani Chalissa makan, namun hanya memakan sate. Sampai semua makanan pun habis.


"Ayo sudah tidur?" ajak Ansel


"Ans" panggil Chalissa, saat Ansel sudah mulai ingin menutup matanya.


"Apalagi Chalissa?" tanya Ansel menoleh ke arah istrinya.


"Aku ingin dipeluk" kata Chalissa dengan polos.


"Apa itu kemauan si baby juga?" tanya Ansel tersenyum lucu.


Chalissa menganggukan kepalanya.


"Bukan si ibunya baby?" mencoba menggoda Chalissa.


Chalissa kesal lagi. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Ansel. Melihat respon istrinya atas perkataannya. Ansel pun segera memeluknya dari belakang.


"Sudah sini, ayok tidur" ucap Ansel mencoba memanjakan istrinya.


Chalissa membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Ansel. Ia menenggelamkan kepalanya pada dada Ansel, lalu tertidur.


.


.


.


.


.


Happy Reading 😍


Guys, ayo berikan dukunganmu ya supaya Author tuh makin semangat loh buat UP terus.


Like, Vote, Komen, dan Follow Author ya


Makasih 🙏