
Tinggal menghitung hari. Chalissa dan Ansel akan segera bertemu dengan jagoan mereka.
Ansel sangat lelah membantu Chalissa mendekorasi kamar mereka untuk menyambut kedatangan si buah hati. Ingin rasanya ia berbaring di atas kasur, namun jika itu dilakukannya tentu Chalissa akan menjadi jengkel.
"Sayang coba geser ke kanan, eh ke kiri dikit lagi. Tunggu deh sayang, kayaknya di situ kurang pas deh" ucap Chalissa, tangan Ansel lelah sekali bolak-balik menggeser sebuah pigura.
"Aduh sayang plis dong, tanganku udah mau copot nih rasanya" sungut Ansel, wajahnya sudah masam
"Ans, sabarlah aku juga sedang memikirkan letak pigura itu" ucap Chalissa, ia melipat tangannya di dadanya sambil memikirkan posisi pigura itu. Sesekali ia juga memiringkan kepalanya mencari posisi yang pas.
"Ya sudah deh Ans, letakkan di tempat yang semula saja" Chalissa meminta Ansel yang kini wajahnya sudah merengut.
"Wah, bagus sekali dekorasinya kak" ucap Clarissa yang mendadak muncul dari balik pintu.
"Nah, baguslah ada Rissa. Kemarilah" ajak Ansel merasa memiliki teman sepenanggungan. Rissa sudah menyimpan rasa curiga pada kakak iparnya.
"Ada apa kak?" tanya Rissa dengan tatapan curiga.
"Bantu kakak memasang ini semua" ujar Ansel, Rissa terlihat lemas karena merasa salah sudah memasuki kamar kakaknya yang ia pikir pasti sudah selesai mendekorasi.
* * * * * * * * * *
Di tempat lain.
Harrys yang sudah cukup lama tidak bertemu dengan Hanny, mendada mendatangi kosan Hanny.
Tuttt... tuttt... tutttt....
"Harrys" guman Hanny saat dilihatnya layar ponsel tertera nama Harrys.
Hanny menjawab teleponnya.
"Han, turunlah. Saya ada di bawah" titah Harrys singkat kemudian segera menutup panggilannya.
Hanny menghembuskan napasnya kasarnya sebelum ia akhirnya memutuskan untuk turun.
"Ada apa pak Harrys datang kemari?" tanya Hanny malas.
"Kamu gak suka ya saya datang sebentar bertemu kamu?" Harrys balik bertanya karena merasa ekspresi Hanny.
"Bu, bukan begitu pak" ralat Hanny terbata
"Ayo makan" timpal Harrys, ia langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu persetujuan Hanny apakah mau atau tidak dengan ajakannya.
Lagi-lagi Hanny mengbuang napasnya dengan kasar serta mendelikkan matanya menatapi Harrys yang telah masuk ke dalam mobilnya.
Harrys mengajak Hanny untuk makan bersama. Sepanjang perjalanan Hanny tak berani memulai obrolan, ia menunggu supaya Harrys yang memulai obrolan mereka. Namun Harrys pun hanya fokus menyetir.
Tiba di tempat tujuan makan yang ditentukan oleh Harrys sendiri, Hanny masih saja diam dan enggan memulai obrolan.
"Ayo makanlah, saya sangat lapar dari siang saya belum makan" curhat Harrys yang membuat Hanny bingung.
Harrys makan begitu lahap, tidak dengan Hanny yang enggan untuk menikmati makannya.
"Kenapa kamu gak makan?" tanya Harrys menyadari kalau wanita yang di depannya itu belum juga menyentuh makanannya.
"Apa kamu kurang suka ya dengan makanan yang kupesan? ya sudah, maaf ya. Kamu boleh pesan makanan yang kamu suka" imbuhnya
"Bukan, aku memang tidak berselera untuk makan" Hanny mencoba mencari alasan.
"Pak Harrys"
"Hemmm"
"Aaaa..."
"Katakan" ucap Harrys masih menikmati makannya.
"Bagaimana kabar Jeanice?" Hanny menggigit bibir bawahnya setelah meloloskan pertanyaannya.
Harrys menoleh pada Hanny, "Sepertinya usahaku belum sempurna" Harrys tersenyum getir, merasa malu pada Hanny.
"Ouh" Hanny terdiam, tatapannya terpaku menatapi Harrys yang sepertinya tidak akan menyerah.
"Itu bukan masalah pak Harrys. Kalau kita lebih bersemangat dan serius pasti kita akan mendapatkannya kan?" ucap Hanny mencoba memberikan kalimat semangat untuk menghibur Harrys.
Harrys tersenyum berseri melihat Hanny yang memberinya dukungan. Harrys merasa tak sia-sia ia menemui gadis itu, karena Hanny bisa memberinya dukungan.
"O iya, bagaimana skripsimu?" tanya Harrys mengganti topik pembicaraan.
"Hem, semuanya aman. Hanya saja, kepala ini rasanya ingin pecah menyusun kalimat berlembar-lembar. Kadang saya berpikir, kenapa rumit sekali hanya untuk mencapai gelar sarjana. Haaa... membosankan sekali kalau ingat skripsi" keluh Hanny dengan menekuk wajahnya hingga terlihat menggemaskan.
Harrys terkekeh menyaksikan wajah Hanny yang ditekuk.
"Semangatlah Hanny!" teriak Harrys sontak membuat Hanny terkejut, kemudian ia pun ikut memberikan semangat pada Harrys.
"Yah, semangat pak Harrys!" Hingga mereka bersamaan saling menertawakan.
* * * * * * * * * *
Rumah Ansel
Setelah beberapa jam menyelesaikan kegiatan dekorasi. Ansel memutuskan ke ruang kerjanya untuk mengecek beberapa pekerjaan yang sudah dikirim oleh Harrys dan Davina.
Bi Nani muncul dari balik pintu.
"Tuan, nyonya Chalissa sepertinya mengalami kontraksi" tutur bi Nani, lalu dengan cepat Ansel berlari menuju kamarnya.
"Sayang ada apa?" tanya Ansel, bingung harus berkata apa.
Chalissa sudah terlihat mengatur napasnya dan menahan sedikit rasa sakitnya.
"Huuuu, awwww" keluh Chalissa ketika ada rasa sakit dibagian perutnya yang rasanya ingin segera ia lepaskan.
"Bagaimana rasa sakit sayang?" tanya Ansel lagi
"Perutku merasa sakit seperti hari kemaren" ungkap Chalissa.
"Apa menurutmu kali ini kamu akan melahirkan? atau ini masih kontraksi palsu?" Ansel merasa bingung untuk memutuskan membawa Chalissa ke rumah sakit atau tidak. Karena ia tak mau kejadian kemaren terulang, ketika Chalissa mengalami kontraksi dengan cepat Ansel membawanya ke rumah sakit. Ternyata ketika tiba di rumah sakit, istrinya hanya mengalami kontraksi palsu.
"Sepertinya kali ini nyonya akan melahirkan deh tuan" guman bi Suti.
"Benarkah?" ucap Rissa yang dari tadi hanya diam terpaku tak berani bertindak apa-apa.
Chalissa masih merintih kesakitan, rasanya kali ini berbeda rasa sakitnya.
"Anss" rintih Chalissa
"Bi Suti tolong minta pak Niman siapkan mobil" perintah Ansel
"Baik tuan" bi Suti bergegas turun dari lantai dua mencari supir pribadi Chalissa dan Clarissa.
Dengan cekatan bi Nani sudah mengambil tas yang sudah berisi perlengkapan Chalissa dan baby-nya.
Kini Ansel siap untuk menggendong istrinya ala bridal style.
"Kak, Rissa ikut ya?" pinta Rissa tak mau ditinggal.
"Ayo cepat" ajak Ansel
Ansel segera memasukkan istrinya ke dalam mobil, ia memeluk tubuh istrinya sambil mengusap perut dan bahunya. Sedangkan Rissa yang duduk di depan samping kemudi terus saja melihat ke arah kakaknya. Ia merasa ngilu dengan rasa sakit yang dialami kakaknya.
"Ayo pak" titah Ansel, "hati-hati pak" pesan Chalissa.
Dengan cepan namun hati-hati pak Niman mengemudikan mobil, hingga sampai di rumah sakit tujuan mereka.
Saat perjalanan menuju rumah sakit, Ansel sudah menghubungi dokter Claudia. Kini dokter Claudia pun tiba di rumah sakit, ia siap untuk membantu pasiennya yang akan melahirkan.
Rissa menunggu di luar ruangan persalinan, sedang Ansel sudah berada di dalam menemani Chalissa.
"Rissa di mana kakakmu?" tanya Bu Myra yang baru tiba bersama dengan pak Richard dan Monique.
"Kak Ansel di dalam menemani kak Lissa, tante" jawab Rissa yang sudah bangkin berdiri dari duduknya.
Mereka semua harap-harap cemas menantikan Ansel keluar dari ruang persalinan membawa kabar kelahiran cucunya.
"Oek, oek, oekkk..." terdengar suara tangis bayi, wajah tegang mereka seketika berubah menjadi berseri saat di dengarnya ada suara tangis bayi.
"Pah, dengar kan suaranya" ucap Bu Myra tersenyum bahagia menatap suaminya. Pak Richard menghampiri istrinya dan memeluknya.
Monique dan Clarissa pun slaing berpelukan. Clarissa sendiri menangis saat menyadari suara keponakannya, ia sangat bahagia.
Kini Ansel telah memeluk istri dan bayinya yang telah diletakkan di dada istrinya.
"Sayang lihat, dia sangat menggemaskan" ujar Ansel.
Ansel dan Chalissa bersamaan menitihkan air mata kebahagian setelah dilihatnya sang buah hati telah terlahir.
"Welcome to the world baby" ucap Ansel. Lalu mereka memberi nama bayi mereka Killian Deandra Zaccheo, dipanggil Lian.
Mereka tersenyum ketika dilihatnya senyum Lian pertama kali, "Gaes Lian udah lahir, jangan lupa kasih Lian like dan vote ya... terima kasih gaes"
The End
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍
Hai gaes untuk SESSION 1 cerita ini sudah selesai ya... akan lanjut ke SESSION 2, cusss... ikuti terus kelanjutan dari novel DON'T HATE ME BABY!
🤗🤗🤗