
Pagi hari Ansel sudah bangun. Ia akan bersiap-siap untuk ke kantor. Hari ini sebenarnya dia enggan untuk pergi ke kantor. Ia mencemaskan Chalissa.
"A... ak-aku di mana?" Lissa merasa asing di dalam kamar Ansel, karena ia memang belum pernah masuk ke dalam kamar Ansel sebelumnya.
Ia berusaha menduduki tubuhnya.
"Hoek.. hoekk" ia merasa mual pada perutnya. Lissa segera mencari wastafel, ia masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar itu.
CLECKKK
Ansel masuk ke dalam kamarnya, dia tidak menemukan Chalissa di tempat tidur. Tapi ia mendengar suara dari kamar mandi seseorang sedang muntah.
"Kamu kenapa??" tanya Ansel, kemudian tanpa perintah ia segera memijit tengkuk leher Chalissa.
"Hoekk... hoekk"
"Apa ini yang di maksud morning sickness" guman Ansel dalam hati sambil menyibakkan rambut Chalissa ke belakang, kemudian memijit tengkuk lehernya lagi.
Melihat Chalissa sepertinya sudah selesai memuntahkan isi perutnya, Ansel membantunya untuk membersihkan wajahnya, lalu menuntun Chalissa keluar dari kamar mandi. Ia mendudukkan Chalissa di sisi tempat tidur.
"Perutmu sudah enakkan?" tanya Ansel memposisikan tubuhnya jongkok di depan Chalissa. Tapi ia tidak mendapat respon dari wanita di depannya. Ansel tidak menghiraukan keacuhan Chalissa padanya. Ia tidak mau pagi ini menjadi rusak.
"Apa kau merasa sakit saat muntah?"
"Aku mau ke kamarku" tutur Chalissa dengan halus.
"Berjanjilah, kau tidak akan melakukan hal bodoh" ucap Ansel yang dengan intens menatapi wajah Chalissa.
Chalissa menganggukan kepalanya tanpa menatap Ansel. Hal itu, dimengerti oleh Ansel.
"Berjanjilah tidak menyakiti bayi ini" pinta Ansel lagi. Kali ini dia lumayan lama menunggu anggukan Chalissa.
"Okay, aku akan mengijinkanmu kembali ke kamarmu" ucap Ansel berusaha berdiri dari jongkokkannya.
"Apa..." Chalissa ragu melanjutkan ucapannya
Ansel kembali jongkok, menunggu Chalissa melanjutkan ucapannya. Kali ini tatapan Ansel lebih intens, bahkan ia benar-benar detail melihat bagian pada wajah Chalissa.
"Apa aku tidur di sini?" tanya Lissa pelan
"Iya"
"Apa kau juga tidur di sini?"
"Iya"
"Hahh" Lissa tersentak. Dengan ekspresi terkejut dia langsung menatap Ansel, sejenak tatapan mereka saling bertemu dan tidak berpindah selama 10 detik.
"Tapi... Aku tidur di sofa itu" terang Ansel menunjuk sofa dengan lirikan matanya.
"Ohhh"
"Kenapa?" tanya Ansel mengharap balasan dari Chalissa. Chalissa menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu kecewa?" goda Ansel
"Ahh... kecewa kenapa?" jawab Chalissa polos.
"Karena tidak tidur denganku"
Chalissa spontan mendorong Ansel, ia pergi dengan cepat meninggalkan Ansel, karena takut Ansel akan melihat wajahnya yang memerah. Melihat sikap Chalissa membuatnya terkekeh.
* * * * *
"Tuan mau sarapan sekarang?" tanya bi Nani saat melihat tuannya sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Iya bi" jawab Ansel sambil meletakkan jasnya di sofa ruang tengah yang berada dekat dengan dapur.
"Apa Chalissa sudah sarapan bi?" tanya Ansel yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Biasanya kalau jam segini nona Chalissa tidak mau makan tuan. Nanti sekitar jam 10 baru nona akan makan" jelas bi Nani
"Apa jam segini perutnya masih merasa mual bi?" selidik Ansel
"Sepertinya sih sudah lebih baik tuan"
"Ohh"
Lalu Ansel menikmati roti panggang dan segelas kopi yang dibuat oleh bi Nani. Saat ia menyeruput kopi, ia merasa ada yang berbeda. Kopinya tidak terlalu manis tidak sama seperti yang biasa dibuatkan oleh bi Nani. Tapi sebenarnya Ansel memang tidak terlalu suka dengan kopi yang terlalu manis. Sudah beberapa kali ia meminta bi Nani agar tidak membuatkannya kopi yang terlalu manis tapi tetap saja kopi yang dibuat oleh bi Nani selalu terasa lebih manis di lidahnya.
"Kenapa tuan" bi Nani menangkap ekspresi wajah tuannya seolah sedang memikirkan sesuatu.
Ansel tersenyum. "Akhirnya bibi bisa membuat kopi dengan selera takaranku" ucapnya.
"Maaf untuk apa bi?" Ansel merasa bingung.
"Tadi yang membuat kopi nona Chalissa" ujar bi Nani.
"Kata nona Chalissa, dia ingin sekali menghirup aroma kopi. Jadi sekalian nona membuatkan kopi untuk tuan" jelas bi Nani lagi.
Ansel terperangah mendengar penjelasan dari bi Nani. Ia tidak percaya, ternyata Chalissa bisa membuat kopi sesuai dengan seleranya. Tatapannya beralih pada pintu kamar wanita yang sedang mengandung anaknya.
Selesai menghabiskan sarapannya, Ansel bersiap-siap untuk berangkat. Sebelum berangkat ia lebih dulu menemui Chalissa di kamarnya.
"Tuan" panggil bi Nani, saat melihat tuannya hendak menuju kamar Chalissa.
Ansel menengok ke arah bi Nani. "Iya"
"Nona sedang ada di taman" terang bi Nani. Lalu Ansel berganti arah menuju taman kecil yang ada di belakang melewati kitchen room.
Ia melihat Lissa sedang setengah berbaring di atas bean bag panjang. Terlihat dirinya sedang memakai headset berwarna white dan sebuah buku di tangannya.
Chalissa melihat Ansel sudah duduk di bangku dekatnya, ia melihat Ansel yang sedang memandang dirinya sambil tersenyum.
"Kau akan baik-baik saja kan?" tanya Ansel setelah melepas headset dari telinga Chalissa. Ansel ingin memastikan saat ia bekerja tidak akan ada yang terjadi pada wanita di depannya.
Chalissa mengangguk. Ansel meraih kedua tangan Chalissa dan memberi sentuhan lembut di punggung tangannya. Ia mengamati tiap jari Chalissa yang lentik dan panjang, sepertinya Ansel menyukai jari-jari yang ada pada tangan Lissa.
Lissa tertegun dengan cara Ansel menyentuh tangannya. Baru kali ini ada pria yang memegang tangannya. Selama hidup, Lissa belum pernah berpacaran, jangankan berpacaran melirik saja tidak ada waktu baginya. Saat itu, waktunya hanya tersita untuk bekerja, memperhatikan ibunya yang sakit, dan mengawasi tindak tanduk adik kecilnya.
Chalissa mulai canggung, ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Ansel.
"Aku cuma mau pegang sebentar" ucap Ansel lembut tetap mempertahankan tangan Lissa pada tangannya.
"Aku akan tetap menjagamu. Apa kau percaya itu?" tatapan Ansel membuat Lissa semakin bingung, semu merah di wajahnya mulai terlihat. Ia tidak memiliki keberanian untuk menatap mata Ansel.
Ansel memegang dagu Lissa mencoba untuk menuntun wajah itu agar terlihat jelas. Wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Ansel bisa melihat semu merah di pipi Lissa dan mata Lissa bertingkah mencoba terus mengalihkan sorot matanya.
Cup...
Entah apa yang membuat Ansel tidak mengendalikan keinginannya untuk mencium bibir Chalissa. Ciuman singkat yang mampu membuat Chalissa berdebar tidak karuan. Wajah Chalissa berubah menjadi pucat pasi. Melihat pemandangan di wajah Chalissa membuat Ansel tersenyum tipis. Lalu Chalissa memalingkan wajahnya.
"Kamu tidak suka aku cium?" panik
"Apa kamu marah?" tanya Ansel lagi mencoba memancing tatapan Chalissa.
Chalissa hanya menggeleng. Ansel kembali tersenyum lega.
"Aku akan pergi bekerja. Tolong jaga dirimu baik-baik ya, terutama tolong jaga si baby untukku. Tolong jangan menyakitinya lagi, kau bisakan??" permintaan Ansel penuh dengan harapan.
Perasaan apa yang saat ini ada dalam hati Lissa???. Hingga rasanya ia tidak dapat menolak permintaan Ansel. Ia menganggukan kepalanya sambil melihat mata Ansel, ia melihat pancaran mata Ansel yang penuh dengan harapan pada dirinya.
Sebelum beranjak dari duduknya, Ansel memberikan pelukan pada tubuh Chalissa. Ia seolah sedang mentransferkan kepercayaan pada diri wanita itu. Meskipun tidak ada balasan dari pelukannya. Lalu ia mencium puncak kepala Chalissa.
"Selesai bekerja aku akan kembali lagi ke sini. Mungkin aku akan lebih sering menginap di sini" ucap Ansel
"Kenapa?" tanya Lissa pelan
"Karena aku ingin kamu selalu ada di dekatku. Aku tidak mau jauh darimu dan dari anak kita" kata-kata Ansel membuat Lissa seolah sedang terbang.
Dia merasa laki-laki di hadapannya itu terus mencoba menggodanya.
"Okay, sampai ketemu nanti sore ya. Jangan lupa sarapanlah, aku tidak mau kau dan si baby sakit" pamit Ansel lalu melangkah meninggalkan dirinya.
Sepeninggalan Ansel, mood membacanya jadi hilang. Ada perasaan yang tidak jelas di dalam hatinya. Cara Ansel yang sabar memperlakukan dirinya, membuatnya terenyuh.
.
.
.
.
.
Happy Reading 😍
Jangan lupa ya reader dukung author.
Berikan like, vote, komen, dan follow author.
Ikuti terus cerita novel DON'T HATE ME BABY!
Terima kasih 🙏