Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Bertemu Keluarga Ans



Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30, tapi Lissa belum juga tidur. Hanny sudah terlelap di sampingnya.


Tiba-tiba bayangannya mengarah pada ibu dan adik kecilnya. Pikirannya membayangkan, bagaimana rasanya jika ibu dan adiknya pun ada bersamanya. Apa mungkin dia bisa mengajak adik dan ibunya tinggal bersamanya. Tidak, ia merasa tidak enak dengan Ansel. Dia akan semakin menyusahkan Ansel.


Lissa memyalahkan layar di ponselnya, ia hendak mengirim pesan pada adiknya. Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk.


"Kau belum tidur?" pesan dari Ansel


Lissa mengkerutkan dahinya. Kenapa dia bisa tahu kalau dirinya belum tidur.


"Belum. Belum ngantuk" balas Lissa


"Apa kau masih mengobrol dengan Hanny?"


"Tidak. Hanny sudah tidur"


"Lalu kenapa kau belum mengantuk??"


"Tidak tahu, aku belum mengantuk saja"


"Tidurlah. Kasihan si baby kalau kau tidur tengah malam"


Lissa merasa canggung tiap kali Ansel menyinggung tentang kehamilannya. Dia sendiri kadang tidak sadar kalau dirinya tengah berbadan dua.


"Iya"


"Kau sudah minum susu?"


"Sudah"


"Kau tidak berbohongkan"


Mata Lissa tercengang, kenapa Ansel bisa tahu kalau dia belum minum susu. Aneh, seperti peramal saja! kesal Lissa


"Ans, aku boleh gak ajak Hanny tinggal denganku? Aku kesepian di rumah, aku juga jadi cepat bosan"


"Bukannya kamu dengan bi Nani di rumah?"


"Bukan itu maksudku. Ini teman yang benar-benar bisa diajak ngobrol"


"Kalau kau kesepian kenapa tidak pernah memintaku menemanimu?"


"Aku tidak mau!!"


"Kenapa ??"


"Ya tidak mau saja"


"Kamu takut denganku?"


"Tidak"


"Baik besok aku akan menemanimu" jahil Ansel


"Kalau tidak boleh ya sudah tidak usah" Lissa menjadi menggerutu


Lalu ia menutup applikasi messagenya. Ansel melihat di layarnya kalau Lissa sudah offline.


"Jangan marah, aku tidak mau si baby akan mewarisi sikap marahmu nanti" Ansel masih menggoda Lissa.


Tapi terlihat Lissa tidak membuka applikasi messagenya lagi.


"Iya Chalissa, aku mengijinkan Hanny tinggal bersamamu. Asal kamu merasa senang. Tapi selama kita belum menikah saja"


Ansel senang ketika melihat kalau Lissa sudah membaca pesannya.


"Terima kasih" pesan balasan Lissa yang singkat


"Ya sudah tidurlah sekarang. Ingat besok sore aku akan menjemputmu untuk bertemu keluargaku"


"Iya"


Saat ingin mencoba tidur, Lissa ingat pesan Ansel. Ia segera keluar dari kamarnya menuju dapur. Di dapur ia membuat susu untuk si baby. Ia sengaja minta pada bibi supaya jangan membuatkannya susu, karena dirinya takut kalau Hanny akan bertanya-tanya. Selesai meminum susu, ia kembali ke kamar.


Lalu mereka berdua di tempat yang berbeda mencoba untuk mencari posisi tidur yang nyaman, hingga mereka tertidur pulas.


* * * * *


Pagi hari


Usai menikmati sarapan, Hanny harus segera berpisah dengan Lissa karena ia harus berangkat ke kantor tempat ia magang.


"Kapan kamu mau datang lagi Han?" tanya Lissa merasa sedih harus berpisah dengan temannya


Hanny memeluk Lissa, ia terlihat murung


"Sudahlah jangan begitu. Kita kan akan ketemu lagi" bujuk Hanny


Ansel dengan sengaja meminta Harrys menjemput Hanny di rumah Lissa. Dan Harrys sudah menunggunya 15 menit yang lalu.


Lissa melihat mobil yang ditumpangi sahabatnya pergi sampai tidak terlihat lagi.


* * * * *


Pagi itu tidak seperti biasanya, Lissa merasa tubuhnya lemas, lelah, dan pegal. Sejak memasuki usia kehamilannya minggu kelima, sudah tiga hari ini Lissa mengalami morning sickness. Bahkan tadi pagi, dia terpaksa mencari-cari alasan untuk tidak menemani Hanny sarapan. Karena ia takut akan reflek mengalami mual di depan Hanny. Beruntung tadi subuh saat Lissa merasa perutnya mual dan ingin memuntah isi perutnya, ia segera keluar dari kamar, jadi tidak diketahui oleh Hanny.


"Bi" panggil Lissa


"Iya non"


"Bibi sudah lama ya kenal keluarga Ansel?" tanya Lissa. Bukan tanpa alasan Lissa ingin bertanya tentang keluarga Ansel, karena nanti sore ia akan bertemu dengan keluarga besarnya. Jujur saja, saat ini Lissa sangat cemas dan nervous.


"Sudah hampir 7 tahun non. Kenapa nona Chalissa?"


"Apa mereka baik bi?" Lissa cemas kalau kehadirannya nanti akan ditolak. Bi Nani mulai memahami maksud dari pertanyaan Lissa.


Chalissa tersenyum tipis. Meskipun sangat manusiawi kecemasannya tidak berkurang.


Siang hari setelah makan siang, Ia membaringkan tubuhnya di sofa panjang di ruang tengah hingga dirinya tertidur pulas di sofa itu. Bibi yang sedang sibuk di dapur tidak tahu kalau Lissa tertidur di sofa.


Sekitar pukul 2 siang Ansel sengaja keluar dari kantor lebih cepat, ia ingin memastikan kalau nanti sore Lissa siap untuk bertemu dengan keluarganya. Ansel sengaja tidak membunyikan klakson mobilnya, ia memarkirkan mobilnya di depan pagar.


CEKLEKKKK


"Chalissa" panggil Ansel duduk di samping Lissa.


Karena kasihan melihat Chalissa yang tertidur di sofa, Ansel berinisiatif memindahkannya ke kamar.


"Loh tuan Ansel sudah datang" kata Bi Nani saat berpapasan dengan majikannya. Ansel segera memberi kode, Ansel tidak mau Lissa yang saat ini dalam gendongannya akan terbangun.


Dengan penuh hati-hati Ansel meletakkan Chalissa di kasur. Ia mengusap rambut dan pipinya dengan lembut. Kemudian ia keluar.


"Bi, apa hari ini dia baik-baik saja?" tanya Ansel sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.


"Sepertinya nona sedang tidak enak badan tuan"


"Ooo, apa kehamilan mengganggu kesehatannya?"


"Tentu tuan. Sudah 3 hari ini tiap subuh nona mengalami muntah tuan, sebenarnya itu hal wajar sih tuan dialami oleh semua wanita hamil" jelas bibi


"O begitu ya bi" ucap Ansel, lalu ia masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamarnya Ansel mencari tahu gejala-gejala yang dialami oleh wanita hamil.


* * * * *


Di rumah Ansel


"Nona Monique untuk jamuan makan malam kira-kira apa lagi yang harus kami persiapkan. Apa ada menu makanan yang ingin kami buat secara spesial?" tanya bi Wati kepala assisten.


Monique terdiam, jujur dia tidak pernah paham dalam mengurus masalah jamuan makan malam. Mamanya lah yang selalu konsen dalam hal itu.


"Apa bi Wati sudah bertanya kepada mamah?" tanya Monique berbalik, ia masih sibuk dengan ponselnya.


"Sudah non, tapi sepertinya jamuan makan malam ini nyonya besar tidak seperti biasanya, non" ungkap bi Wati


"Kenapa?"


"Saya tidak paham non. Nyonya besar tidak berkomentar apapun"


"Oh, ya sudah bi. Lakukan saja apa menurut bibi itu terbaik" sambil berkata itu, Monique meninggalkan bi Wati, ia pergi menemui mamanya.


"Mah" panggil Monique dari balik pintu kamar mamanya.


Bu Myra hanya menoleh ke arah Monique, ia terlihat sedang bersiap-siap di depan cermin meja riasnya.


"Apa mamah merasa badmood hari ini?"


"Tentu saja"


"Ayolah mah, kita juga harus memikirkan Ansel. Bagaimana pun ini keputusannya mah" ucap Monique berdiri di belakang mamanya sambil mengusap-usap bahu mamahnya itu.


Monique memberi senyuman kepada mamanya.


"Haaa, baiklah!" suara Bu Myra terdengar tidak ikhlas.


"Mamah sudah terlihat cantik. Okay, Monique akan bersiap-siap" Monique membungkukkan badannya lalu mencium pipi mamanya sebelum ia keluar dari kamar mamanya.


Bu Myra mematung di depan cermin riasnya. Hatinya sungguh tak ikhlas kalau anak laki-laki satu-satunya itu akan menikah dengan wanita yang belum dia kenal. Perasaan kesal dan curiga memenuhi hatinya.


* * * * *


Tiba di rumah keluarga besar Ansel.


"Kau sudah siap?" tanya Ansel yang duduk di bangku kemudi.


Sungguh hari ini Chalissa sulit sekali untuk menggerakkan tubuhnya. Rasanya semua tubuhnya mengeras dan membeku. Apalagi saat Lissa melihat rumah Ansel yang sangat megah, ia merasa minder. Bahkan untuk mengangkat wajahnya saja ia merasa berat. Ansel memahami kecemasan dan kenervousan yang sedang dialami Lissa.


"Ayo kita turun" ajak Ansel, tapi Chalissa tidak bergeming.


Setelah Ansel turun dari mobilnya, ia segera membantu Lissa untuk turun. Ia membukakan pintu mobil dari arah Lissa.


"Kalau kau takut, kau pegang terus tanganku" Ansel mengulurkan tangannya, dan saat Lissa menerima uluran tangan Ansel. Tangan Lissa terasa sangat dingin.


Ansel dan Lissa berjalan beriringan, bahkan Ansel terus saja mengusap-usap tangan Lissa untuk mengalirkan rasa hangat pada tangan Lissa.


"Ansel" Lissa menghentikan langkahnya, saat akan memasuki pintu yang sudah terbuka.


"Kenapa?"


"Emmmm, aku benar-benar cemas" tanpa Lissa mengutarakannya pada Ansel, sebenarnya semua sudah terlihat di mimik wajahnya.


Ansel menyeringai Lissa dengan senyuman yang meyakinkan. "Percayalah padaku. Itu hanya untuk awal bertemu saja"


Lalu akhirnya mereka masuk. Nampak di dalam sudah menunggu ada Pak Richard, Bu Myra, dan Monique. Wajah mereka terlihat datar dan tatapan mereka penuh selidik menatapi Lissa membuat Lissa semakin cemas. Tapi Ansel tidak sedikitpun merenggangkan tangannya menggandeng btangan Chalissa.


-


-


-


-


-


Happy reading 😍