
SESSION 2
Hallo gaes, author senang sekali karena cerita novel ini telah masuk ke SESSION kedua. Author berharap kalian akan semakin menyukai ceritanya...
Terima kasih telah setia mengikuti setiap chapternya ya.
🤗
🌹HAPPY READING🌹
*
*
*
Tiga hari setelah kelahiran Killian. Chalissa masih berada di ruang rawatnya. Kamar itu hampir selalu didatangi pengunjung yang ingin melihat Killian.
Bu Myra juga tidak pernah melewatkan waktunya untuk menemani menantu dan cucunya di rumah sakit. Hampir setengah hari bahkan bisa seharian Bu Myra betah berada di dalam ruangan Chalissa.
Selama di rumah sakit, Ansel pun tidak pernah meninggalkan istrinya. Ia dengan setia menemani istrinya, bahkan ia juga dengan sabar membantu istrinya yang kerap kali ingin ke toilet atau pun menginginkan sesuatu.
Dengan sangat hati-hati Ansel menimang putranya di bangkuannya.
Chalissa begitu tersentuh dengan tiap kali melihat suaminya yang dengan sabar menimang putranya.
"Killian sudah tidur sayang?" tanya Chalissa yang sedang berbaring di ranjangnya.
"Husss... jangan berisik" bisik Ansel, kemudian ia berlahan ingin membaringkan putranya pada box nya.
Mereka menahan tawa bersama ketika dirasa putranya akan menangis lagi, namun ternyata dia hanya tergugas sebentar kemudian tertidur lagi.
"Sepertinya dia sangat manja sekali dengan papanya" guman Chalissa tersenyum
"Apa kau cemburu pada Killian?" goda Ansel membuat Chalissa mendelik.
"Ya sudah, aku akan keluar sebentar" pamit Ansel, Chalissa mengangguk karena tak lama lagi Hanny pun akan datang menjenguknya.
# #
Beberapa jam kemudian
"Maaf ya, aku baru bisa berkunjung kemari" dengan wajah memelas Hanny memohon pada sahabatnya.
Chalissa menggoda sahabatnya dengan menunjukkan wajah cemberut, "Bisa-bisanya kau melewatkan waktumu untuk melihatku! sahabat macam apa kamu?" maki Chalissa menahan tawanya karena melihat wajah Hanny semakin merasa bersalah.
"Chalissa jangan seperti itu dong" rengek Hanny menggoyang lengan Chalissa, "Beberapa hari ini skripsi sudah banyak menyita waktuku. Jadi aku belum bisa menyempatkan waktuku untuk melihat keponakanku" jelasnya.
"Iya aku hanya bercanda" ucap Chalissa tak tega bersandiwara pada temannya.
Hanny pun sontak memeluknya, lalu ia tersadar dengan tidak adanya kehadiran Killian di ruangan itu.
"Mana bayimu? aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya" ucap Hanny.
"Memang kau bisa menggendong bayi?" tanya Chalissa meragukan Hanny.
Hanny hanya tersenyum tipis, ia sendiri meragukan dirinya untuk menggendong seorang bayi.
Tak lama suster membawa Killian masuk ke ruangan ibunya.
"Wahhh... lucu sekalia dia" gemes Hanny, "jauhkan tanganmu!" titah Chalissa seketika membuat Hanny menghentikan aksinya yang hendak ingin mencubit pipi Killian.
"Ihh pelit sekali sih ibu, Killian" cebik Hanny menatap wajah Killian yang masih memerah.
"Cuci dulu tanganmu baru kau boleh menyentuhnya!" perintah Chalissa yang tak tega melihat sahabatnya menahan kegemarannya pada Killian.
Kini Killian tertidur pulas didekapan mamanya. Usai mencuci tangan, Hanny duduk di sebelah Chalissa sambil sesekali mengeluskan jari telunjuknya pada pipi Killian.
Terdengar suara pintu terbuka. Hanny dan Chalissa bersamaan mengarahkan matanya pada pintu. Dilihat mereka ternyata Ansel dan Harrys yang datang.
"Loh ternyata kamu datang kemari Hanny?" tanya Harrys kaget, karena beberapa jam lalu justru mereka tak sengaja bertemu tadi.
Hanny tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Tahu begitu harusnya tadi kita sama-sama aja" ujar Harrys.
Setelah itu, mereka asyik mengobrol bersama. Saat asyik mengobrol, Chalissa merasa menangkap sesuatu yang aneh. Dia menebak sesuatu dipikirannya.
Beberapa menit kemudian, Hanny terlihat merapikan dirinya.
"O iya, aku pamit pulang ya Chalissa" tutur Hanny.
"Yah, cepat sekali Hanny" rengek Chalissa
"Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan Lis" jelas Hanny.
"Kalau begitu kita bisa pulang sama-sama saja" tawar Harrys.
Tapi Harrys tetap memaksa, selain itu Ansel dan Chalissa pun menyuruhnya agar pulang bersama Harrys saja. Akhirnya Hanny pun mengiyakan ajakan Harrys.
# # #
"Sayang, sepertinya Hanny menyukai assistenmu deh" tutur Chalissa
"Maksudmu Harrys?" tanya Ansel membuat Chalissa mendelikkan matanya "ya tentu saja, memang siapa lagi?"
Ansel tersenyum malu.
"Menurutmu bagaimana dengan Harrys sayang?" Chalissa mencari tahu apakah yang dipikirkannya sesuai atau tidak.
"Harrys sedang dekat dengan seseorang sayang, kalau gak salah wanita itu adalah anak rekan papanya" jelas Ansel membuat Chalissa kecewa.
Ansel yang melihat ekspresi istrinya merasa bingung, "Ada masalah sayang?" tanyanya.
"Aku jadi yakin, pria yang dikagumi Hanny itu adalah Harrys" kini Chalissa sudah bisa menebak apabyang dipikirkannya.
"Emang Hanny menyukai Harrys?" tanya Ansel yang tak menahu.
"Hanny sering curhat tentang pria yang sedang ia kagumi, trus dia bilang pria itu sedang mendekati wanita lain. Jadi aku rasa tebakanku benar" ucap Chalissa
Ansel tersenyum mendapati istrinya sudah seperti detektif yang baru memecahkan sebuah misteri, "Bagaimana kalau bukan?" tanya Ansel
Chalissa terdiam, lalu "Tapi perasaanku bilang benar" ucapnya tegas.
"Sudah biarkan saja mereka mengurus diri mereka masing-masing. Lebih baik kau fokus mengurusku yang sudah lama kamu lalaikan" goda Ansel
"Lihatlah nak, papamu begitu sangat manja meskipun sudah ada kamu" lapor Chalissa kepada Killian.
Ansel terkekeh dengan tingkah istrinya.
* * * * * *
Hari ini, di ruangan kamar Chalissa nampak Bu Myra sedang asyik menggendong cucunya.
Bi Nani pun yang sudah beberapa hari selalu datang sedang membantu Chalissa berkemas-kemas, karena hari ini Killian akan segera pulang ke rumahnya.
"Apa semuanya sudah rapi sayang?" tanya Ansel yang mengangetkan Chalissa karena mendadak ia sudah berdiri memeluk dirinya dari belakang.
"Ans, aku malu" bisik Chalissa
Bi Nani yang melihat kemesraan majikannya hanya diam-diam tersenyum.
"Aku sudah tak sabar ingin segera berada di kamar kita sayang" bisik Ansel tepat di telinga istrinya.
Chalissa mendelikkan matanya pada suaminya.
"Padahal mama sangat berharap kalian mau tinggal di rumah Ans, supaya mama bisa setiap saat melihat cucu grandma yang jagoan ini" pinta Bu Myra menimang-nimang Killian.
"Kalau mama merindukan Killian, mama bisa datang ke rumah untuk melihatnya" ucap Ansel.
Bu Myra menarik napas dan melepaskannya dengan kasar. Harapannya ingin selalu berada dekat dengan cucunya tak terpenuhi.
"Tuan semua sudah rapi" lapor bi Nani
"Baiklah Killian saatnya kamu harus kembali ke rumah nak" gemes Ansel mencolek puncak hidung mancung putranya.
Chalissa segera mengambil alih menggendong putranya, sedangkan Ansel dibantu oleh bi Nani membawa tas serta perlengkapan lainnya.
Selama di perjalanan Killian sangat patuh. Bayi mungil itu sama sekali tak menangis atau pun merengek. Hingga mereka tiba di halaman rumah. Pak Doni dan pak Niman segera membantu bi Nani membawa segala perlengkapan yang di bawa dari rumah sakit. Bi Suti membantu Bu Myra memasuki rumah.
"Welcome to home Killian" teriakan kecil penyambutan Killian ke rumah di hari pertama.
Hampir semua orang ada di situ kecuali Pak Richard yang memang sedang berada di luar kota.
Monique dengan lihai segera mengambil alih Killian dari Chalissa, sedangkan Rissa yang sejak kemarin ingin sekali menggendong keponakannya tidak memberanikan diri karena usianya yang masih belia dan tidak lihai dalam menggendong bayi. Jadi dia hanya tertawa bahagia menyambut keponakannya itu. Bersamaan dengan Hanny juga.
Siang itu hingga malam mereka membuat acara kecil-kecilan di rumah Ansel. Mereka nampak sangat bahagia, apalagi Ansel dan Chalissa.
Ansel sendiri dalam hatinya tersenyum saat melihat putra mungilnya telah lahir. Bayi yang berada dalam perut Chalissa yang sempat membuatnya kacau. Terbesit rasa malu ketika ia harus mengingat kejadian di mana benihnya itu tumbuh. Kini benih itu telah lahir dan membawa kebahagian baginya menjadi seorang papa.
*
*
*
*
*
Okay gaes jangan lupa ya kasih like dan komentar ya untuk cerita novel ini 🤗
Dan gak bosen author minta kalau kalian punya koin dan poin, bisa bantu author dengan kasih vote buat novel ini gaes... Matur Nuwun gaes 🙏