Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Hadiah Untuk Chalissa



"Ayo, menikahlah denganku, hmmm" ucap Ansel mengusap bibir Lissa yang basah karena ulahnya.


Chalissa memberikan jawaban dengan menganggukkan kepalanya. Seperti seorang atlet yang meraih kemenangan setelah mengikuti turnamen. Inilah yang dirasakan oleh Ansel. Ia mengepalkan tangannya sebagai simbol kemenangannya, karena akhirnya Chalissa mengakui kekalahannya dan bersedia menikah dengan dirinya.


"Hallo baby, kamu senang gak" ucap Ansel dengan mengusap bagian perut Chalissa. Kemudian ia melihat ekspresi Lissa yang hanya bisa tersenyum tipis dan meraihnya ke dalam pelukannya.


"Ans" lirihan Chalissa


"Hmmm" jawaban Ansel mendengus


"Kalau kau menikah denganku. Lalu bagaimana dengan Bellva??!" kata-kata Chalissa membuat Ansel tertegun. Ia menelan salivanya berlahan.


Ansel melonggarkan pelukannya dan melongokkan kepalanya untuk melihat wajah Chalissa.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" heran Ansel


"Dua kali kamu mabuk, kamu selalu menyebutkan nama Bellva, Ans" terang Chalissa membuat ekspresi Ansel terdiam.


"Apa mulai hari ini kamu mau percaya padaku?"


Chalissa terdiam ia tak ingin terburu-buru menjawab pertanyaan Ansel. Ia menatap mata Ansel dengan tatapan menyelidik.


"Aku akan mencoba Ans"


"Aku akan jujur Chalissa. Tentang Bellva, dia adalah kekasihku. Kami menjalin hubungan selama 4 tahun. Dan hubungan kami berakhir saat makan malam di hotel, di mana kita bertemu malam itu" Ansel diam sejenak, sedang Chalissa mengatur napasnya berlahan.


Ansel melanjutnya penjelasannya


"Sebenarnya kedua pihak keluarga kami sudah membahas masalah rencana pertunangan kami. Tapi ternyata dia menolak karena ia mencintai pria lain, dia selingkuh. Aku mencintai dia, jadi aku mencoba melamar dia sekali lagi di hotel itu. Tapi ternyata dia benar-benar mengakhir hubungan kami. Dia pergi malam itu meninggalkanku dalam keadaan hancur. Dan saat itulah kamu hadir di sana"


Sekali lagi Ansel terdiam sebelum melanjutkan penjelasannya lagi. Ia menatap Chalissa dengan tatapan tidak beralih. tangan kirinya melingkar pada pundak wanita itu, sedangkan tangan kanannya terus menggenggam tangan Chalissa yang sesekali memainkan jari-jari lentik wanita itu.


"Hubungan kami sudah berakhir Chalissa! Dan dia memang datang kembali. Tapi sejak malam itu, meskipun aku dibawah pengaruh alkohol aku sudah mengambil jalan untuk memilihmu jadi pendampingku" ucap Ansel dengan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan yang tersirat di wajahnya.


"Apa kamu masih mencintainya??!" untuk pertama kalinya tatapan Chalissa tajam.


Ansel menarik tatapannya dan menoleh pada tangannya yang sedang memainkan jari lentik Chalissa. Dia tidak berani membalas tatapan Chalissa dengan harus menjawab pertanyaannya.


"Mungkin saat ini dia masih ada dihatiku. Tapi, aku tidak akan menjaga perasaan ini lagi untuknya" ucap Ansel tanpa menoleh ke arah Chalissa


"Aku ingin belajar menjaga hatiku untukmu dan untuk si baby, Chalissa" Ansel beralih lagi pada tatapan Chalissa.


"Apa kamu juga mau belajar menjaga hatimu untukku??" Tersirat keseriusan di wajah Ansel.


Chalissa memberikan senyum terbaiknya kepada Ansel. Hingga senyuman itu memikat hati pria itu. Itu adalah senyum terindah yang pertama kali diberikan oleh Chalissa padanya. Tanpa aba-aba, Ansel sekali lagi mencium bibir Chalissa penuh dengan kelembutan. Jujur Chalissa selalu canggung jika harus membalas ciuman Ansel. Karena Ansel adalah pria pertama yang berhasil menciumnya dengan sesuka hati. Jadi Chalissa belum mahir dalam hal berciuman.


Tapi untuk mewakili perasaannya saat itu, entah itu perasaan bahagia dalam arti yang tidak diketahui. Chalissa mencoba mengikuti gerakan bibir Ansel. Ansel melepaskan ciumannya. Ia menatapi Chalissa, dirinya bisa merasakan kalau sepertinya Chalissa belum pernah berciuman.


"Apa sekarang kamu suka kalau aku menciummu?" pertanyaan Ansel mambuat Chalissa malu.


"Sudah Ans" Chalissa menahan bibir Ansel yang hendak menciumnya lagi.


Ansel beralih pada pelukan, ia menarik tubuh Chalissa dengan erat dalam pelukannya.


"Aku gemas sekali melihatmu" ucap Ansel sambil terkekeh.


"Hari ini kamu ingin melakukan apa? Apa ada yang kamu inginkan??" tanya Ansel seperti ingin memberi hadiah kepada Chalissa


"Tidak ada" ucapnya singkat


"Kapan kita akan mencerita semuanya pada keluargamu?" tanya Ansel lagi, Chalissa menarik mundur tubuhnya dari pelukan Ansel.


"Apa kamu yakin?? Aku takut, Ans" wajah wanita itu kalut saat harus mendengar tentang keluarganya yaitu ibu dan adik kecilnya.


"Bagaimana pun kita harus ceritakan pada mereka Chalissa. Aku tidak hanya bertanggung jawab padamu, tapi pada keluargamu juga. Bukannya aku harus minta restu juga untuk mengambilmu sebagai istriku, hahh" Ansel tersenyum sedikit nakal membuat Chalissa tersipu.


"Aku terserah kau saja Ans" ucapan menyerah yang membuat wajah Chalissa terlihat memerah.


"O iya. Apa aku boleh tahu berapa usiamu?" tanya Ansel yang sebenarnya ia sudah tahu dari KTP Chalissa yang pernah ia pegang saat Chalissa depresi.


"22 tahun. hmmmm...." ucap Chalissa, ia diam bingung untuk melanjutnya kata-katanya.


"Kamu mau tanya apa? usiaku??" Ansel seolah tahu apa yang tersirat pada wajah calon istrinya itu. Chalissa mengangguk pertanda tebakan Ansel benar.


"Usiaku 30 tahun. Sudah sangat matangkan untuk menikahimu dan menjadi seorang ayah kelak" kata-kata Ansel dengan tawa khasnya. Chalissa membalas hanya dengan senyuman kecil.


Hari itu mereka cukup lama berada di dalam kamar Ansel. Membuat bi Nani terheran, melihat-lihat nonanya belum keluar-keluar juga dari dalam kamar Ansel. Mereka menyusun rencana pernikahan mereka. Chalissa lebih banyak menyerah pada Ansel, tapi Ansel tetap memberikan hak pada Chalissa karena menurut Ansel pernikahan ini juga harus menjadi pernikahan impian Chalissa seumur hidupnya kelak.


* * * * *


1 Minggu setelah hari kesepakatan Ansel dan Chalissa untuk menikah.


"Bi, Ansel tidak ada telpon ya?" tanya Chalissa datar.


"Tidak ada non" jawab bi Nani


Bi Nani tersenyum melihat ekspresi kecewa nonanya. Ekspresi itu pertanda kalau nonanya itu sudah merindukan tuannya. Karena memang sudah 1 Minggu Ansel tidak menampakan diri. Setelah hari di mana mereka sepakat, esoknya Ansel berangkat ke Singapura untuk urusan pekerjaan. Ansel berjanji akan segera kembali tapi sampai 1 minggu dirinya belum juga muncul.


"Han"


"Hmmm"


"Emang Ansel masih ada urusan pekerjaan ya di tempat lain?" tanya Lissa dengan tatapan mengharapkan jawaban.


"Kamu udah kangen sama pak boss? Hehehe" goda Hanny membuat Lissa kesal.


"Sudah tenang saja, pak boss pasti menepati janjinya Lisssa. Sabarlah" ucap Hanny menebarkan senyum pada Lissa.


"Okay, aku jalan ya. Kayaknya mobil pesananku sudah sampai. O Iya jangan lupa sarapan dan minum susu untuk calon keponakanku ini. Aku tidak mau pak boss marah padaku, karena sudah menitipkanmu padaku" ucap Hanny lalu ngacir sambil melambaikan tangannya pada sahabatnya dan bi Nani.


* * * * *


Sepanjang hari Lissa mencoba menghubungi Ansel. Ia benar-benar kesal pada Ansel. 1 minggu tidak memberi kabar pada dirinya. membalas pesannya juga tidak. Chalissa kecewa. Ia beberapa kali menangis uring-uringan. Jadi bi Nani dan Hanny lah yang harus berusaha terus menghiburnya, meyakinkan kalau Ansel pasti sedang sibuk.


Chalissa tetap merasa kecewa, merasa dirinya sama sekali tidak penting bagi Ansel hingga tidak ada waktu sedikit yang diberikan Ansel baginya setidaknya membalas pesannya.


Sore itu dia bermalas-malasan di atas ranjangnya, sesekali setiap mengingat Ansel pasti dia menggerutu. Di tengah kebosanannya karena menunggu Ansel, Rissalah yang menjadi sahabatnya. Adik kecilnya seolah mengerti perasaan yang sedang dirasakan kakaknya itu.


"Hallo dek"


"I... Iya kakk" jawab Rissa terbata-bata


"Kamu di mana dek? Kamu gak aneh-aneh kan??" curiga Lissa takut kalau adiknya itu akan membuat ulah.


"Yaelah kakak curiga amat sama adiknya sendiri. Aku lagi sama ibu kok kak" jawab Rissa sambil tertawa


"Mana ibu?" tanya Lissa masih curiga adiknya akan bersandiwara. Rissa menyerahkan ponselnya pada ibunya.


"Iya nak, kenapa? Rissa lagi sama ibu kok nak" terdengar suara Bu Dewi membuat hati Lissa menjadi lega.


Setelah beberapa menit mengobrol dengan ibunya, tiba-tiba Rissa mengambil ponselnya.


"Kakk udah dulu ya" Rissa mendadak memutuskan panggilan ponselnya. Lissa bersungut kesal pada adiknya yang sepihak.


CLECKKK


"Non makanan sudah siap" tutur bi Nani dari pintu kamar.


"Iya bi nanti saja, ini masih sore. Saya juga belum lapar" ungkap Lissa, lalu bi Nani meninggalkan wanita itu di dalam kamarnya.


Lissa memilih membaca buku di atas ranjangnya sambil mendengarkan lagu kesukaannya, hingga dirinya tertidur.


"Sayang... hei bangunlah" terdengar suara samar-samar di telinga Lissa. Suara yang tidak asing.


Pelan-pelan Lissa membuka matanya, ia mengernyitkan keningnya melihat sosok Ansel sudah berada di depannya.


Bug... bug...bug


Lissa memukuli dada Ansel, meluapkan kemarahannya pada pria yang sudah membuatnya uring-uringan beberapa hari ini.


Ansel tertawa terkekeh melihat kelakuan calon istrinya itu. "Maafkan aku, baby"


Chalissa masih tidak terima, air matanya mengalir membasahi pipinya. Ansel tidak menyangka kalau tindakannya mendiami Chalissa akan membuat calon ibu dari anaknya itu sampai sesedih itu. Ia membawa tubuh Chalissa pada pelukannya, setelah dirasa Chalissa mulai tenang, Ansel baru melepaskannya.


"Aku tidak ada kabar karena sedang menyiapkan hadiah untukmu" tutur Ansel membuat kedua mata Lissa menyipit.


"Kamu gak percaya?" tanya Ansel tertawa kecil.


"Hadiah apa?" tanya Lissa bersungut


"Bi, bawa hadiahnya masuk" teriak Ansel. Mata Lissa spontan mengarah pada pintu kamarnya.


Sungguh ia tak percaya, bagaikan mimpi di langit yang sangat tinggi (waktu jatuh rasanya gimana tuh reader, hehehe). Lissa menangis terharu, tak terbendung kerinduannya pada adik dan ibunya.


"Ibu, Rissa" suara Lissa dengan nada suara yang tak dapat dijelaskan.


Ansel memberikan hadiah terindah untuk calon istrinya yaitu kehadiran ibu dan adik kecilnya.


.


.


.


.


.


Happy Reading 😍


Jangan lupa like, vote, komen, dan follow author ya Readerkuuuu...


Makacihhhhh ❤️