
* * * * *
"Aku sudah membayarmu untuk malam ini. Jadi malam ini kau harus membuatku senang".. pria tersebut menunjukkan senyum mesumnya
"Jangan mendekatiku!!!".. teriak Lissa
"Nonaa kau semakin membuatku tidak sabar untuk menerkammu"... tangannya berusaha menakuti Lissa dengan mencoba terus menyentuh dagu Lissa.
"ARGHHHH... Pergi!!!!. Jangan menyentuhku!!!
"Marilah nona, aku tahu ini pengalaman pertamamu. Aku akan menjadi pelanggan setiamu"... ucapan pria tua itu semakin membuat Lissa muak dan jijik. Lissa memukul pria tua itu dengan tasnya. Hingga pria tua itu menarik tas Lissa dan melemparnya hingga ke arah pintu.
Lissa membolak balik pandangannya. Ia berusaha mencari sesuatu yang dapat ia raih. Hingga pria tua itu menarik tangannya mendekati sebuah rangjang yang berada di dalam kamar hotel tersebut.
"Ja... Jangan sentuh. To... tolong!!" Lissa terus memohon pada pria tua itu
Ia menundukkan kepalanya dan bersujud pada pria tersebut. "Tuan... Usia... Sa.. Saya... Mungkin... Se.. Seumuran dengan putrimu, huuu... huuu.." Lissa tak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir.
Suasana menjadi hening, hanya suara tangisan Lissa terus terdengar. Pria tua itu berdiri menatapi Lissa yang masih bersujud di hadapannya. Pria tua itu memegang dan menarik bahu Lissa. Lissa reflek mendorong pria tua itu dengan keras hingga ia terjatuh ke lantai. Lissa dengan cepat berlari mendekati pintu, ia mengambil tasnya. Sebelum Cindy keluar Lissa melihat cara Cindy membuka pintu kamar hotel. Dia segera mengambil cardlock dan menempelkannya pada sebuah sensor pintu.
Lissa sangat panik dan bingung. Terlihat seorang wanita keluar dari sebuah kamar. Tanpa pikir panjang, Ia segera memasuki pintu yang terbuka tanpa di ketahui wanita tersebut. Lissa segera mengunci pintu tersebut. Ia berlari memasuki kamar hotel berusaha mencari persembunyian. Di dalam sebuah ruangan tempat tidur Lissa berusaha menenangkan hati dan tubuhnya yang masih gemetar.
"Arghhhh... Bellvaaaaa"... teriak seorang pria dari ruang yang tidak jauh dari tempat tidur. Seorang pria mengamuk dalam bathroom.
PRAKKKK
Suara barang yang terdengar berhamburan
Lissa kembali pada ketakutannya. Ia merasakan kecemasan yang sudah berhasil dia redam. Kini ia semakin takut, rasanya ia sudah tidak memiliki kekuatan lagi, tenaga sudah terkuras.
"Aku harus keluar dari. Ta... Tapi bagaimana Ji... Jika pria tua itu menemukanku?!!"... pikirannya sangat kalut
Lissa memberanikan diri untuk keluar dari area bedroom. Ruangan kamar hotel ViP tersebut terbagi dari area tamu atau area santai, area bedroom, bathroom, dan dapur mini. Lissa berdiri dan berlari untuk keluar dari area bedroom.
"Kau siapa?!!!"... Ansel tersentak melihat sosok wanita berlari dari hadapannya
"Ak.. Ak... Aku... Aku..." Lissa belum menyelesaikan ucapannya.
"Bellva.." pria itu mendekati Lissa, Lissa berniat untuk menghindar. Tiba-tiba, ia tersungkur. "Jangan tinggalkan aku Bellva. Please marry me!!"... Ansel sepertinya sudah mabuk. Ia menciumi tangan Lissa.
"Ma.. Ma.. Maaf. A.. Aku bukan Bellva"... ucap Lissa kemudian meneruskan niatnya untuk keluar dari kamar hotel itu.
Melihat Lissa yang dipandangnya adalah Bellvania membuat Ansel murka. Ia sangat geram dengan sikap Lissa.
"Auwwww"... pekik Lissa ketika dirasa ada seseorang yang mendorongnya hingga menabrak batas dinding. Tubuhnya terbentur pada dinding, dan Ansel menguncinya dalam pelukannya.
"Apa kau tidak melihatku! HAHH!!!"... suara Ansel meninggi, tangan kanannya mengepal dan membenturkannya pada tembok di sisi kiri Lissa. "Jangan!!!"... Lissa menjerit ketakutan saat Ansel hendak meninjukan tangannya.
"Tolong jangan tinggalkan aku Belvaaa, huu... huuu..." Ansel seorang direktur utama perusahaan Netware Corporation tempat di mana Hanny magang terlihat sangat rapuh.
"Tolong, tolong biarkan aku pergi"... Lissa berusaha berbicara dengan tenang.
Ansel memegang tangan Lissa, ia menarik paksa tangannya. Ansel membawanya kembali ke bedroom dan menghempaskannya di atas kasur. Belum sempat Lissa menghindar, tapi Ansel sudah mengunci dan me****** tubuhnya. Kedua tangannya berada pada genggaman Ansel, Lissa berusaha melepaskan tangan itu namun tangan itu sangat kuat. Kali ini ketakutannya melewati ambang kekuatannya. Tubuhnya meronta ketakutan.
Ansel menciumi lehernya. Terlihat amarah yang meledak membuat Ansel memiliki kekuatan untuk tidak melepaskan Lissa. Ansel mencium dan me***** bibirnya dengan sangat kasar dan brutal. Lissa terus menghindari ciuman itu, kedua tangan Ansel segera bergerak, satu tangannya menahan kepala Lissa dan tangan satunya mencengkeram wajah Lissa. Ansel terus menciumi Lissa. Tangan Lissa meronta menjauhi tubuh Ansel. Birahi Ansel memuncak, ia terbakar!!
Ciuman itu berpindah pada leher Lissa. Tangan Ansel merangkul tubuhnya, melingkarkan tangannya pada leher dan pinggang Lissa. Ciuman yang berpindah pada lehernya, hingga Ansel mengarah pada dada Lissa. Ia tidak sabar membuka pakaian Lisa. Pakaian Lissa dress mini sangat mudah bagi Ansel untuk melepaskan pakaian itu. Ansel merobek kain bagian dadanya dan melepaskan pengait yang menutupi dadanya. Hingga terlihat sangat jelas, menonjol.
"To.. Tolong jangan perkosa saya!!".. suara tangis permohonan Lissa tak digubris oleh Ansel
"Jangan lakukan ini. Toloooooong.... toloooooong!!!"... Lissa terus berteriak, berharap pertolongan akan datang. Namun, sepertinya ketakutannya membuat ia sadar tidak akan ada yang menolongnya. Ia merasa sesuatu akan terjadi padanya.
Telinga dan mata Ansel dibutakan oleh gairah yang terbakar. Ia tidak memperdulikan tangisan dan permohonan Lissa. Ansel terus melanjutkan aktifitasnya.
Lissa mulai merasa pasrah, ia kehabisan kekuatan. Suaranya sudah memberat hingga sulit baginya untuk berteriak. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu.
"Ibuuuuuu..." tangisnya
Dirasa sudah tidak ada perlawanan, Ansel segera melepaskan pakaian Lissa yang menghalanginya. Ia pun melepaskan pakaiannya. Bak kesetanan, Ansel melancarkan aksinya. Ia menciumi tiap jengkal tubuh Lissa. Ansel benar-benar tidak menghiraukan tangisan Lissa yang semakin lirih.
"AHHHHH... Ibuuuuu..." Lissa merasakan kesakitan yang luar biasa, tubuhnya menggeliat ketika Ansel menghentakkan tubuhnya pada Lissa. Beberapa kali suara Lissa terus memekik ketika Ansel terus menghentakkan tubuhnya. Semakin dalam Ansel terus menikmati kegiatan bercintanya.
Ansel berhasil menguasai tubuh Lissa. Ansel terus barpacu pada kenikmatan birahinya, sesekali ia mengerang. Dalam kesakitannya pun tanpa disadari Lissa terus mendesah. Malam itu dunianya terasa runtuh. Hanya air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. Tubuhnya tak dapat memungkiri, kenikmatan dalam kesakitannya.
"Akkhhhh"... Ansel mengerang, ia hampir mendekati batas kenikmatannya. Entah malam itu seperti, sebuah cinta yang tak tertahan bagi Ansel. Jujur saja, sebenarnya ini bukan yang pertama kali bagi Ansel. Ia sudah pernah berkali-kali melakukannya dengan Bellvania. Tapi entah, rasanya malam ini menjadi malam panjang yang berbeda baginya. Ada rasa nikmat yang tak dapat ia ungkapkan. Mendekati batas kenikmatannya Ansel mempercepat gerakannya.
Hingga Dirinya dan Lissa saling mengerang melepas kenikmatan itu. Lissa masih menangis, tubuhnya sangat lemas. Ansel terus memberikan ciuman kepada Lissa dan memeluknya dengan erat. Hingga ia kembali pada kesadarannya. "SIAPA DIA" gumannya dalam hati. Sontak ia berdiri dan menjauhkan dirinya pada Lissa.
-
-
-
-
Jangan lupa FOLLOW, LIKE, VOTE dan KOMENT yah Reader