Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Cinta Monyet



Bellvania sangat marah karena Ansel menyerahkan kerja samanya kepada assistennya yaitu Harrys. Padahal ia yang sebenarnya tak tertarik untuk mengurus salah satu perusahaan ayahnya akhirnya memutuskan untuk memenuhi keinginan ayahnya yaitu menjadi pemimpin di salah satu perusahaannya. Iming-iming menjadi pemimpin di perusahaan baru yang sudah dibuat oleh ayahnya, Bellvania sengaja membuat kerja sama dengan perusahaan Ansel agar ia memiliki alasan jika bertemu dengan mantan pacarnya yang sudah berstatus suami orang.


"Arghhh... sial!! brengsek kau Ansel, kau berani mempermainkan aku!" amuk Bellvania di dalam kamarnya, segala barang yang ada di kamarnya menjadi pelampiasannya.


ART yang bekerja di rumahnya sudah menjadi biasa dengan keributan yang ditimbulkan majikan mudanya di dalam kamarnya. Mereka tetap bekerja tanpa merasa terganggu.


Tok... tok... tok


"Nona, nona" panggil salah satu ART di balik pintu kamar Bellvania yang tertutup rapat dan terkunci.


"Ada apa?!!" jawabnya dengan suara yang keras.


"Tuan memanggil anda nona"


CLEKKKK


Bellvania membuka kamarnya dan berlalu dengan langkah marah. Penampilannya terlihat berantakan dengan riasan mata yang sudah luntur akibat tangisan dan amukannya.


"Papa memanggilku?" tanya Bellvania setelah berada di ruang santai khusus milik ayahnya.


"Apa kau ada masalah? kenapa kau selalu melampiaskan amarahmu dengan mengacak dan merusak semua barang-barangmu?!" Tuan Davidson terduduk dengan rokok elektrik di tangannya.


"Pa, bisakah papa mendesak Ansel untuk bekerja sama dengan perusahaanku?"


"Jadi Ansel penyebabnya?" Tuan Davidson menatap putrinya dengan tatapan tajam. Iabtak abis pikir mengapa putrinya selalu keras kepala untuk mendekati pria yang sudah menjadi milik orang lain.


"Ini bukan masalah Ansel, Pa. Tapi perusahaanku memang membutuhkan kerja sama di bidang software dan menurutku perusahaan milik Ansel memiliki aplikasi yang dapat mendukung kebutuhan perusahaan yang kupimpin ini" Bellvania berusaha mencari alasan lain untuk meyakinkan papanya. Karena meskipun hubungannya dengan Ansel tak berakhir di pelaminan, namun kerja sama perusahaan milik ayahnya masih berlanjut dengan perusahaan milik Ansel.


"Bukankah Ansel sudah menyetujui kerja sama dengan perusahaanmu?" Tidak ada yang tidak diketahui oleh tuan Davidson. Dia memiliki mata-mata untuk menyelidiki tentang putrinya sendiri. Bahkan ia tahu masalah Ansel yang menyerahkan kerja sama itu untuk dihandle oleh Harrys yang adalah tangan kanan Ansel sendiri.


"Kau butuh kerja sama atau Ansel?" tanpa basa-basi tuan Davidson langsung menyerang pertanyaan kepada putrinya.


"Baik papa tahu semuanya. Aku butuh dua-duanya!" ucap Bellvania tak peduli dengan pendapat papanya.


Tuan Davidson berdiri menghampiri putrinya. Ia memegang kedua bahu putrinya.


"Jangan mempersulit dirimu sendiri. Bukankah kau yang sudah melepaskannya, sudah cukup kau bersikap seperti nak"


"Papa tidak tahu perasaanku" tatapannya sendu dan penuh penyesalan.


"Kalau kau terus seperti ini, kau hanya akan semakin menyakiti dirimu sendiri. Lihatlah pria yang dulu kau tinggalkan sudah bahagia dengan keluarga kecilnya"


"Hanya Ansel yang begitu mencintaiku dengan tulus pa. Bahkan Papa dan mama tidak pernah bisa memahamiku, saat kalian tidak ada untukku Ansel yang sudah mengisi hatiku dengan cintanya"


Tuan Davidson paham dengan perasaan putrinya. Sejak Bellvania lahir ia memang sangat sibuk dengan bisnisnya. Apalagi perceraiannya juga berdampak pada putrinya. Ia semakin menghabiskan waktunya pada pekerjaannya, sedangkan mantan istrinya dengan waktu yang cepat telah menikah dengan selingkuhannya dan berpindah negara. Hal itu membuat putrinya terabaikan.


"Pa, aku ingin Ansel kembali padaku" wajah Bellvania memohon, ia memegang kedua tangan papanya. Tubuhnya terjuntai ke lantai. Ada penyesalan besar yang tak mampu ia pahami. Bellvania menyesal meninggalkan Ansel, dan mengkhianatinya.


Tuan Davidson berjongkok lalu memeluk putrinya dengan belas kasihan.


"Papa ingin kamu melupakannya nak" tuan Davidson mengangkat wajah putrinya dan menyeka air mata itu dipipi mulus putrinya.


Bellvania menggelengkan kepalanya menunjukkan kalau dia tak akan melupakan Ansel.


"Aku harus mendapatkannya pa" masih keras kepala.


Tuan Davidson merubah ekspresinya. Sungguh putrinya sangat keras kepala.


"Kalau tetap seperti ini papa tak akan pernah memperdulikanmu" ancam tuan Davidson.


Bellvania menjauhkan tubuhnya dari tuan Davidson. Hubungan anak dan ayah itu memang tak sebaiknya hubungan anak dan ayah lainnya.


"Aku sudah biasa. Dan aku tak peduli jika papa tidak memperdulikanku" Bellvania berjalan keluar setelah ia mengeluarkan kalimat kekecewaannya itu.


Tuan Davidson menatap kepergian putrinya hingga ia lenyap.


"Aku akan memgawasimu nak, kau tidak akan pernah bisa menyakiti keluarga Ansel, apalagi Chalissa" guman tuan Davidson setelah putrinya menghilang dari manik matanya.


* * * * *


"Pagi cantikku, kesayanganku" gombal Ansel memeluk wanitanya yang sedang menyiapkan keperluannya.


"Pagi Mr. gombal sedunia" balas Chalissa menyinyir.


Ansel mengangkat alisnya, "Sayang ini bukan gombal"


"Lalu"


"Ini tulus dari hatiku"


"Hemmm"


"Kau tidak percaya?"


"Kalau iya, kenapa?" tantang Chalissa


Ansel frustasi.


"Ya sudahlah aku mandi saja" Ansel berlalu ke kamar mandi. Chalissa hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan suaminya yang meninggalkan dirinya.


Chalissa dan Clarissa sudah berada di ruang makan menunggu kedatangan Ansel.


"Dek, siapa Gavin itu?" tanya Chalissa sambil menyiapkan kopi untuk suaminya.


Clarissa yang mendengar pertanyaan dari kakaknya spontan tersedak.


"Ya ampun hati-hati dek" menyerahkan segelas air di hadapan adiknya.


Clarissa menerimanya dan langsung meminumnya. Wajahnya terlihat tegang.


"Kamu tersedak begini gara-gara nama Gavin?" Chalissa memusatkan wajahnya pada adiknya.


"Semalam kakak ke kamarmu ternyata kamu sudah tidur"


"Trus" Clarissa memotong.


Chalissa mengerutkan dahinya karena ucapannya sudah dipotong adiknya.


"Trus kakak lihat ada pesan dari nomor yang gak ada namanya, kakak penasaran jadi kakak buka..."


"Ihh kakak" rengek Clarissa tak suka dengan kekepoan kakaknya.


"Jangan memotong!" timpal Chalissa kesal.


"Jadi" Clarissa sudah memberenggutkan wajahnya.


"Pesannya kau tidak boleh mendekati Gavin" ucap Chalissa sambil menyiapkan sarapan suaminya.


"Siapa Gavin?" tanya Ansel yang menimpali ucaoan istrinya yang tidak sengaja mendengarnya.


"Bukan siapa-siapa" ketus Clarissa jengkel.


Ansel dan Chalissa bersamaan melihat ke arah Clarissa.


Ansel duduk di samping istrinya menghadap adik iparnya.


"Masih sekolah jangan pacaran" tembak Ansel melihat adiknya yang menunduk kesal.


"Kan aku tadi bilang bukan siapa-siapa" umpatnya geram memegang sendok dan garpu.


"Dek nanti pecah loh piringnya" Chalissa memperingati.


"Kamu boleh dekat dengan siapapun, kak Ansel gak melarang. Tapi jangan berani-berani berpacaran"


"Waktu SMA kak Ansel pernah gak pacaran?"


"Uhuk... uhuk" Ansel terperanjat dengan pertanyaan adik iparnya membuatnya batuk.


"Kakak batuk artinya pernah ya" goda Clarissa mengulum senyumnya berlahan mengembang.


Kini Chalissa mengarahkan manik matanya pada suaminya.


"Kamu ya dek!" Ansel balik kesal kepada adik iparnya.


"Jadi kamu pertama pacaran waktu SMA?" tanya Chalissa menegaskan.


"Maaf ya kak, aku gak ikutan" Clarissa meringis lalu mengalihkan fokusnya pada makanan di depannya.


Ansel mengumpat kesal pada adik iparnya. "Itu cuma monyet-monyetan sayang"


"Ih monyet disalahin" goda Clarissa, ia menahan tawanya agar tak mendapat makian dari kakak iparnya itu.


"Jadi kamu cintanya sama monyet" Chalissa mencibir tak melihat pada suaminya.


Clarissa hanya tergelak menyaksikan sikap kedua kakaknya.


"Aduhhh" Clarissa mengusap keningnya yang disentil oleh Ansel. Ia meruncingkan tatapannya ke arah kakaknya.


"Ayok cepat sudah jam berapa? Nanti kamu terlambat lagi" titah Ansel tidak melihat adik iparnya yang kesakitan akibat ulahnya.


Pak Niman sudah menunggu untuk mengantar Clarissa ke sekolah.


"Kak, aku pamit berangkat ya" seperti biasa Clarissa mencium kakak perempuannya, kemudian dia mengambil tangan kakak iparnya menyalaminya.


"Clarissa" panggil Ansel


Gadis belia itu membalikkan tubuhnya menghadap kepada Ansel. "Iya kak, kenapa?"


"Ingat jangan pacaran, sama siapa itu tadi namanya"


"Gavin" timpal Chalissa


"Nah itu dia"


"Iya" dengan mimik wajah cemberut. Padahal dia pun tidak mengidolakan laki-laki bernama Gavin itu, apalagi menyukainya.


"Hemm.. kak, kalau pacaran sama monyet boleh ya?" goda Clarissa dengan ekpresi menahan senyumnya.


Ansel melotot geram, sedangkan Chalissa tertawa.


*


*


*


*


*


Haii... readers, apa kalian merasa bosan ya dengan novel author ini. Kalau iya plis kasih masukan dong kira-kira author harus bagaimana ya supaya novelnya jadi menyenangkan menurut kalian.


Author frustasi nih dengan jumlah like yang amat sedikit, apalagi vote yang author dapatkan sangat menyedihkan readers...


Author akan sangat senang mendapatkan saran dan kritikan dari kalian, karena itu akan membangun semangat author untuk nulis. Apalagi ini adalah novel pertama author yang pengin author selesaikan samapai tamat.


Makasih ya reader....


Happy Reading 😍