Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Jatah



🌹Follow, Like, dan Vote ya gaes🥰


Entah berapa lama mereka saling memeluk. Yang mereka tahu, hari itu adalah hari yang sudah lama mereka nantikan.


Kini mereka berada di dalam tenda. Mereka saling bercerita, menceritakan masa-masa saat mereka tak bersama.


Tersirat penyesalan di wajah Keenan. Ia merasa durhaka karena sudah melalaikan perasaan orang tuanya. Tak ada yang bisa diperbuatnya kini selain menangis meratapi keegoisannya sendiri.


Seharusnya ia memberi kabar, agar ayahnya tak menyusulnya ke Jakarta. Seharusnya ia memberi kabar agar ibunya sehat di masa-masa sakitnya, dan mungkin ia bisa meringankan beban adik perempuannya Chalissa. Dan yang tidak diketahui oleh Keenan adalah seharusnya dia memberi kabar, agar adik perempuan, Chalissa tak terjebak oleh ulah Cindy, yang adalah kekasihnya.


Namun, semua sudah menjadi bubur. Seharusnya sudah tak perlu lagi diungkit dan memikirkan yang seharusnya. Keenan hanya perlu memperbaiki semua yang sudah pernah ia lewatkan, semua kesedihan yang pernah ia timbulkan.


Ansel tak mau mengganggu pertemuan kakak beradik itu. Ia dengan sabar menggendong Killian dan mengajaknya menikmati permandangan pagi hari di tempat itu. Sedangkan Hanny memutuskan untuk menunggu mereka dengan duduk di tikar yang sudah digelar di samping tenda.


***


"Apa aku boleh menggendongnya?" pinta Keenan kepada Ansel.


Ansel mengangguk kemudian dengan pelan ia memindahkan posisi Killian yang sedang tertidur ke pangkuan pamannya, yaitu Keenan.


"Dia sangat tampan, sama seperti papanya" puji Keenan tersenyum haru melihat bayi yang kini ada dalam gendongannya, bayi yang adalah keponakannya.


Sungguh tak pernah terpikir bahwa dirinya sudah menjadi seorang paman.


"Apa kau sangat mencintai adikku?"


Ansel tersentak dengan pertanyaan kakak iparnya. Jujur saja, ia masih merasa canggung karena hari itu adalah hari pertama dirinya bertegur sapa dengan Keenan.


Ansel menarik garis bibirnya ke atas, "Iya, aku sangat mencintai dan menyayanginya istriku" ucap Ansel menggelengkan kepalanya pelan.


"Terima kasih karena kau sudah peduli pada keluargaku, Ans. Aku dengar cerita tentang dirimu dari paman Rusdi dan bibi Hera"


Keenan, mengelus perut keponakannya yang tertidur pulas dalam gendongannya.


"Jujur saja. Aku malu untuk bertemu denganmu" imbuh Keenan melihat ke arah Ansel dengan tatapan sendu.


"Chalissa adalah istriku, ibu dari anakku. Apa yang kulakukan itu semua untuk Chalissa"


"Tapi tetap saja, Ans. Aku berterima kasih padamu"


"Anggap saja, apa yang kulakukan adalah bagian dari tugasku sebagai iparmu dan juga menantu" ucap Ansel menepuk pundak Keenan.


"Sekarang kau sudah kembali. Kau masih punya banyak kesempatan untuk memperbaiki semua yang sudah berlalu" tambahnya.


"Kak Ansel" panggil Clarissa berjalan menghampiri mereka.


"Kak, sebentar lagi siang. Aku sudah lapar kak" rengek Clarissa mengaduk pada kakak iparnya.


Ansel tertawa melihat ekspresi adiknya yang lucu.


"Dasar, masa pertumbuhan ya. Baru makan sudah lapar lagi" Ansel mengacak-acak rambut adik iparnya itu.


Clarissa mengulum bibirnya.


"Kak, di sini banyak tempat makan. Gimana kalau aku dan kak Hanny cari makanan" tawar Clarissa.


"Boleh"


Clarissa menengadah tangannya sambil meringis. "Uangnya mana kak?"


Ansel segera mengeluarkan dompetnya sambil tersenyum kepada Clarissa.


"Ans, pakai uangku saja" Keenan berusaha menahan Ansel untuk tidak memberikan uang pada Clarissa.


"Tidak apa-apa" sambil mengeluarkan uang dan meletakkannya pada tangan adiknya.


"Kalau kak Keenan mau tambahin juga gak apa-apa" ucap Clarissa mendapat sentilan dari Ansel, "auwww, sakit kak." meringis kesakitan.


"Udah sana, beli makanan yang kamu mau. Ingat jangan lama" seru Ansel.


"Okay" sambil berlari ke arah Hanny dan mengajak Hanny menemaninya.


Ansel tersenyum melihat tingkah adik ipar kecilnya itu. Sedangkan Keenan sedari tadi melihat ke arah Ansel. Ia merasa tak enak hati sekaligus ada rasa bahagia melihat keakraban adik iparnya dengan adik bungsunya.


Malam ini Chalissa sedang membantu suaminya mengemasi perlengkapan pakaian yang akan digunakan oleh suaminya selama berada di Bali.


Ansel sendiri sedang menemani Killian tidur di ranjangnya.


"Sayang, kalau semua pekerjaanmu sudah selesai cepat pulang ya" tutur Chalissa yang sibuk merapikan pakaian suaminya ke dalam koper. Ini adalah kepergian Ansel kedua dalam urusan pekerjaan.


Padahal waktu Ansel pergi pertama kali, saat dirinya sedang mengandung Killian, ia tak seberat ini. Mungkin karena saat itu, Chalissa belum menerima Ansel sepenuhnya.


Ansel tersenyum melihat istrinya yang terlihat berat hati harus mengemasi perlengkapannya. Ia turun dari ranjang dan menghampiri istrinya yang merapikan koper yang akan dibawanya di ujung ranjang.


Ansel menyematkan kedua tangannya dari belakang, melingkar di bahu istrinya, menghentikan tangan istrinya dari aktivitasnya.


"Aku janji akan segera pulang sayang. Aku pergi untuk bekerja, dan aku pun bekerja kan untuk mencukupi kebutuhanmu dan juga anak kita sayang" tutur Ansel dengan suara lembut, yang kemudian disusul dengan ciuman di puncak kepalang istrinya.


"Iya, maafkan aku. Aku hanya merasa berat kalau kamu pergi bekerja di luar kota, sayang." Chalissa menggenggam tangan suaminya yang berada di depan dadanya.


Ada ketakutan tak beralasan dalam hatinya. Mungkin, ia sedang takut kalau Ansel tak kan kembali. Namun, ia selalu berusaha untuk menepisnya.


Chalissa menciumi punggung tangan suaminya berkali-kali, membuat Ansel yang merasakan ciuman istrinya menjadi tersenyum.


Ansel membalas menciumi ceruk leher istrinya, ia menyingkap rambut istrinya yang tergerai supaya dengan mudah melihat leher Chalissa yang putih.


"Sayang, cukup. Geli tahu" Chalissa berucap sambil menahan tawa gelinya karena ulah suaminya.


"Hem" Ansel hanya berdehem tanpa menghentikan aksinya. Suara tawa kegelian yang keluar dari mulut istrinya, tak membuatnya berhenti. Justru, ia semakin ketagihan.


Chalissa tergelak saat dirasa bahwa tangan suaminya telah menyusup ke dalam kaos yang dikenakannya, dan berusaha meremas sesuatu yang ada di dalamnya.


Setiap melakukan kegiatan manja dengan istrinya. Ansel selalu sulit untuk menghentikannya. Ansel memejamkan matanya sejenak, merasakan sesuatu yang nikmat yang membuat di bawah sana menegang. Matanya terbuka dan ia tersenyum nakal, saat suara lenguhan berhasil lolos dari bibir istrinya.


Ia membalikkan tubuh istrinya, sehingga mereka berdiri berhadapan.


"Sayang, seminggu ke depan aku pasti merindukanmu" goda Ansel setelah kembali menciumi leher istrinya.


Meskipun Ansel berucap dengan lirih, namun kalimat itu sangat jelas di telinga Chalissa. Wanita itu melingkarkan tangannya pada pinggang suminya, seolah memberikan kode pada apa yang diinginkan suaminya.


Ansel tersenyum dan menjauhkan wajahnya dari leher istrinya. Ia melihat mata istrinya yang sendu dan terlihat ada gairah dari mata itu. Hingga akhirnya, ia mendaratkan bibirnya menyatu pada wanita yang dicintainya sekarang.


"Ans" Chalissa menahan dada suaminya, matanya mengarah pada Killian yang tertidur di ranjang mereka, diikuti oleh mata Ansel.


Ansel paham maksud istrinya. Ia terkekeh dan segera melepaskan tautan tubuh mereka. Dengan cekatan dan hati-hati, ia mengangkat tubuh Killian, memindahkannya ke dalam box tidurnya.


Setelah itu, ia kembali melanjutkan aksinya. Sambil membuka kaos yang membungkusi tubuhnya, Ansel sudah menindih istrinya.


"Sayang, ini jatah aku buat seminggu ke depan ya" ucap Ansel dengan tawa menghiasi wajahnya.


Chalissa tersenyum malu, wajahnya memerah.


Kini, mereka telah berada dalam bertempuran malam mereka. Sebelum esok pagi Ansel akan pergi ke Bali selama seminggu dalam urusan pekerjaan.


Cukup lama mereka bertempur, hingga kedua sampai pada puncak pelepasan mereka. Ansel tumbang, ia tersenyum puas. Chalissa tak sepolos dulu dalam hal bercinta. Ia sudah lebih luwes dalam mengimbangi dirinya.


Ansel membawa Chalissa mendekap dalam pelukannya.


"Sayang, apa kita kasih adik buat Killian secepatnya?" goda Ansel, menciumi pipi Chalissa.


"Gak mau" Chalissa mencubit perut suaminya. Namun, hanya cubitan manja.


Kemudian mereka terlelap dalam lelahnya setelah melakukan kegiatan panas di malam hari.


*


*


*


*


*


Happy Reading 😍