Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Kerja Sama



๐ŸŒนLike and Vote gaes๐ŸŒน


Pagi hari Chalissa sudah bangun lebih dulu. Sementara Ansel dan putranya masih tidur, Chalissa memanfaatkan waktunya untuk menyiapkan keperluan Ansel.


"Pagi non Chalissa" sapa bi Nani sedang menyajikan hidangan untuk sarapan.


"Pagi bi" balas Chalissa.


Seperti biasa Chalissa memastikan bahwa sarapan sudah siap. Lalu ia masuk ke kamar Rissa untuk memastikan adiknya yang akan berangkat ke sekolah.


"Pagi adikku sayang" Chalissa muncul dari balik pintu.


"Wah sudah cantik nih" goda Chalissa yang sudah menghampiri adiknya yang sedang bersiap-siap di depan cermin yang lumayan besar.


"Hari ini pulang jam berapa dek?"


"Seperti biasa kak"


"Gak ada main-main dulu kan?" Chalissa berdiri membelakangi adiknya, ia membantu Rissa menyisir rambutnya.


"Gak ada kak"


"Yaudah kakak tinggal ya, mau bantu kak Ansel siap-siap"


"Kak"


Chalissa menghentikan langkahnya.


"Iya dek"


"Hari ini aku berangkat bareng pak Niman kan?" sambil melebarkan senyumnya.


"Okay"


Lalu Chalissa masuk ke dalam kamarnya. Di sana ia mendapati suaminya yang sudah tidak ada di ranjang.


Chalissa dengan cepat segera menyiapkan pakaian kerja untuk Ansel, sebelum bayi gantengnya terbangun dan bermanja ria padanya.


"Pagi istriku cantik" sapa Ansel membuat Chalissa tertawa geli.


Saat ingin memeluk dan mencium istrinya, terdengar suara tangisan Killian.


"Haaa, ya ampun sayang. Gak mau ngalah banget deh sama papa" Ansel menjadi salah tingkah. Ia mendekati box bayinya lalu menggendong putranya yang menangis.


"Udah sini aku aja yang gendong. Nanti handuk kamu melorot lagi" Chalissa meraih bayinya dari gendongan Ansel.


"Kan gak papa sayang kalau handuknya melorot, kan kamu juga mau kan" mencubit manja dagu istrinya.


"Ihh papa gak sopan ya sayang" ucap Chalissa mengarah pada anaknya.


"Kok kamu ngomong gitu sih sayang, Killiankan jadi dengar" Raup wajah Ansel menjadi sendu.


Chalissa tertawa ke arah suaminya.


"O iya sayang nanti siang jangan lupa kita mau bawa Killian imunisasi ya" sambil membaringkan Killian di kasur.


Ansel menghentikan tangannya yang sedang mengancing kemejanya.


"Bukannya nanti setelah usia Killian 2 bulan sayang?"


"Kan Killian sudah 2 bulan..." saat mengucapkan kalimatnya Chalissa terdiam ada sesuatu yang dia ingat.


Ansel mendekatinya dan berdiri di hadapan istrinya yang duduk di tepi ranjang.


"Berarti kamu bohongi aku dong sayang"


Chalissa terkekeh melihat raut muka suaminya. Ia berdiri menggantikan suaminya mengancingin kemejanya.


"Benar semalam kamu membohongiku?" tanya Ansel kesal


"Bukan begitu sayang" tanpa menoleh pada wajah suaminya, tangannya terus mengancingi kemeja suaminya hingga selesai.


Ansel menarik dagu istrinya dan mengarahkan wajah istrinya agar tatapan mereka bertemu.


"Lalu maksudnya apa membohongiku? Kau menghindariku?"


"Ihh kok marah sih sayang"


Ansel menarik sudut bibirnya dengan kesal melihat tingkah istrinya yang merasa tak bersalah telah mempermainkan dirinya.


Tak mau pusing dan lama ia mendaratkan bibirnya pada istrinya membuat Chalissa kaget mendapat serangan mendadak dari suaminya.


Ia mendorong dada suaminya, "Ihh ada Killian sayang"


"Kenapa? Killian gak masalah melihat papa dan mama nya bermesraan"


Ansel kembali melumatkan bibirnya pada istrinya. Chalissa tak berani mendorong suaminya lagi, apalagi tangan Ansel sudah mengunci pinggang dan lehernya.


Ansel benar-benar kesal dibuat istrinya, ia tidak melepaskan istrinya dalam ciumannya. Hingga ia merasa kehabisan oksigen.


"Sayang sudah" Chalissa menghentikan Ansel yang hendak menciumnya lagi.


Ansel tersenyum puas.


"Nanti malam bersiaplah" bisik Ansel membuat Chalissa salah tingkah lalu mencubit perut Ansel.


Bukannya merintih kesakitan, Ansel malah tertawa puas karena sudah membuat wajah istrinya memerah malu.


"Sudah buruan sarapan" titah istrinya.


* * * * *


Di kantor


"Pagi pak Ansel"


"Pagi Davina"


Tok... tok... tok...


"Permisi pak, maaf ini ada surat pengajuan kerja sama dari salah satu perusahaan milik Tuan Davidson Joseph"


Ansel berhenti dari kegiatannya.


"Siapa yang mengajukan?" Ansel menduduki kursi kerjanya.


"Nona Bellvania, pak"


"Berikan berkasnya"


Davina menyerahkan berkas yang sudah ia print out dari email perusahaan.


"Sepertinya perusahaan itu dipimpin oleh nona Bellvania, pak" ungkap Davina, ia masih berdiri dari samping meja kerja Ansel.


"Apa Harrys sudah datang?" tanya Ansel sambil membaca isi berkas pengajuan kerja sama yang ada di tangannya.


"Sudah pak"


"Baik pak" Davina segera keluar dan menghubungi Harrys.


Beberapa menit kemudian


"Rys tolong kau handle pengajuan kerja sama ini" menyerahkan berkas pada Harrys yang duduk di depannya.


Harrys menerima berkas itu lalu membacanya.


"Ini perusahaan tuan Davidson Joseph?"


"Iya"


"Tapi itu perusahaan yang baru saja dibangun"


"O ya?"


"Dan kau tahu siapa direktur dari perusahaan itu?"


"Siapa? Jangan bilang Bellvania"


"Yup, benar sekali"


Harrys tersenyum getir, menggelengkan kepalanya.


"Apa ada unsur kesengajaan?" nada suara Harrys yang mengejek.


"Menurutmu bagaimana?"


"Aku rasa wanita itu berbahaya atau mungkin dia sakit" Harrys menarik kedua alisnya ke arah berlawanan.


"Maka itu, aku ingin kau yang menghandle kerja sama ini"


Ansel diam memikirkan maksud kerja sama dari Bellvania. Ia meletakkan dagunya diatas kepalan tangannya.


"Tenang saja bos, saya akan urus masalah ini"


Ansel mengangguk percaya.


Tak lama ada pesan masuk ke dalam ponsel Harrys. Harrys membukanya di depan Ansel. Terlihat binar matanya yang merekah.


Ansel memang tak suka mencampuri urusan pribadi orang. Namun melihat tingkah Harrys yang mereka membuat tanda tanya dalam pikirannya, dan itu tertangkap oleh sorot mata Harrys ketika ia sadar bahwa bos sekaligus temannya itu sedang mengamatinya.


"Ini hanya pesan menggilakan"


Ansel berdehem sambil tersenyum dengan kekonyolan temannya.


"Apa kau masih berpetualang?" Ansel berucap sambil membuka sebuah dokumen lain yang sebelumnya sudah dibawa oleh sekretarisnya.


Mendengar pertanyaan Ansel, Harrys tertawa hambar.


"Aku rasa ini akan jadi petualangan terakhir temanmu ini bos"


Raut wajah Harrys terlihat selalu bercanda sehingga sulit bagi Ansel untuk memastikan keseriusan dari ucapannya.


Ansel cukup lama mengamati wajah Harrys. Hingga membuat Harrys terkekeh.


"Aku tidak minta kau percaya bos" mematahkan tatapan Ansel yang akhirnya membuat bosnya itu mengalihkan pandangannya sambil berdecih.


"Aku harap itu memang benar" canda Ansel


"Dia wanita yang menarik"


"Bukankah sebelumnya juga menarik?"


"Yahhhh... tapi aku rasa ini jauh membuatku tertantang. Dia sulit dikencani" ucap Harrys di akhir kalimatnya ia mengeluarkan suara berbisik.


Ansel memicingkan pandangannya diikuti senyuman tawarnya.


Seolah mengingat sesuatu wajah Ansel berubah, ia sebenarnya ingin memastikan rasa penasaran istrinya mengenai sahabatnya, Hanny. Namun ia merasa tak pantas menanyakannya.


"Jangan terlalu banyak mengencani seorang wanita apalagi sampai berurusan dengan ranjang" nasihat Ansel yang sebenarnya sudah gerah dengan kelakuan temannya yang merupakan assistennya.


"Apa kau sedang menasihatiku?" Harrys menjawab pertanyaan Ansel dengan nada menyindir.


"Anggap saja begitu" Ansel mengangkat kedua bahunya.


"Kau mengingatkanku pada Hanny"


"Hanny" Ansel mengerutkan keningnya seketika saat mendengar nama Hanny disebutkan.


Harrys berdecih, "Setiap dia bicara selalu terdengar seperti orang tua yang sedang menasihati anaknya" lalu suara tawa Harrys terdengar lepas tanpa beban.


"Oya, sepertinya kalian sangat dekat"


"Mungkin bisa seperti itu"


"Buktinya dia nyaman menasihatimu"


Harrys kembali tertawa lepas tanpa beban.


Padahal aku menganggapnya sebagai adikku, tapi justru dia berlagak seperti kakak"


"Apa menurutmu dia menganggapmu sebagai kakak?"


Kali ini Ansel mengambil kesempatan untuk membahas rasa penasaran istrinya.


Harrys tak langsung menjawab. Ia sejenak menahan tatapannya dari Ansel, ia mencoba menafsirkan maksud dari pertanyaan Ansel. Hingga akhirnya ia memilih menarik salah satu bibirnya tanpa jawaban.


Harrys menghela napas.


"Aku akan segera memberitahumu setelah aku menyelesaikannya"


Harrys memilih berdiri dan berpindah topik pembicaraan sambil menunjukkan berkas pengajuan kerja sama yang dipercayakan padanya.


"Segera kau urus"


"Baiklah" Kemudian ia berlalu dari ruangan Ansel.


Ansel sejenak terdiam. Hingga ia melakukan kegiatannya untuk bekerja.


*


*


*


*


*


Happy Reading ๐Ÿ˜


๐Ÿ™