Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Kegirangan Clarissa



🌹🌹🌹


Pagi hari yang cerah, secerah wajah Chalissa.


Ia lebih dulu bangun sebelum Ansel. Saat ia bangun, dirinya masih saja terkaget melihat kehadiran Ansel di sampingnya. Kali ini dia lebih kaget ketika dilihatnya Ansel tidur dengan dada terbuka, karena ia tidak mengenakan bajunya. Mungkin malam itu Ansel membutuhkan hawa dingin untuk menetralkan suhu hasratnya sudah sempat memanas.


Chalissa dengan cepat mandi. Ia tidak mau Ansel menemuinya saat sedang mandi. Hari ini Chalissa merasa malu sekali saat mengingat kejadian malam yang mereka lewati.


Alaram ponsel Ansel berbunyi... Alaram pengingat.


"Jadwal Chalissa Periksa Kandungan"


Ansel membaca pengingat yang muncul di layar ponselnya.


CLECKKK


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Chalissa muncul sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil di salah satu tangannya.


Saat Chalissa duduk di depan cermin riasnya, ia melihat pantulan Ansel sedang bersandar pada headboard ranjang. Ansel nampak sedang mengecek isi ponselnya. Mata Chalissa memandangi suaminya dari balik cermin, di rasa Ansel kalau Chalissa sedang melihatnya, ia pun melirik ke arah cermin melihat pantulan mata Chalissa. Dengan gugup Chalissa yang tertangkap sedang memandangi suaminya segera mengakhiri tatapannya. Hal itu membuat Ansel tertawa geli. Tapi tidak ia tunjukkan.


Ansel ingin sedikit jual mahal tidak mau duluan menghampiri Chalissa. Ia membiarkan dirinya ditatapi oleh istrinya, tanpa membalas tatapannya. Karena Ansel tahu kalau ia membalas Chalissa pasti menghindar.


Bukannya menghampiri suaminya di pagi hari, memberikan ucapan selamat pagi sebagai seorang istri. Chalissa malah buru-buru keluar dari kamar meninggalkan Ansel. Setelah Chalissa keluar, Ansel sedikit kecewa. Ia tersenyum miring menanggapi tingkah istrinya.


"Lihat saja nanti bagaimana aku menerkammu" dengan memicingkan sebelah matanya.


******************


"Non, mau ngapain?" tanya bi Suti merasa segan saat Chalissa masuk ke dalam dapur utama.


"Mau bantuin bi" jawab Chalissa lembut


"Duh gausah non. Ini kan kerja bi Nani dan bi Suti" ucap bi Nani yang paham kalau nonanya itu memang suka membantunya. Tapi karena berhubung sudah ada rekan yang membantunya di dapur jadi bi Nani tidak menginginkan Chalissa membantunya.


"Saya kan udah biasa bi bantu bi Nani" sungut Chalissa


"Iya non bibi tahu. Tapi kan sudah ada bi Suti di sini. Atau gak nona membuatkan kopi saja buat tuan, bagaimana?" usul bi Nani


"Yaudah deh bi" pasrah Chalissa


"Di dapur mini aja non buatnya" ucap bi Suti.


Chalissa pun naik ke lantai 2 yang terdapat dapur mini.


"Kakak buat apa?" tanya Rissa yang menghampiri kakaknya


"Kopi dek"


"Untuk kak Ansel?"


"Iya"


Clarissa memperhatikan kakaknya, ia melihat kalau kakaknya itu sangat telaten. Pikirnya pantaslah Ansel menikahinya. Bagi Clarissa, kakaknya itu adalah wanita yang cantik, baik hati, dan sangat telaten. Sama seperti dulu saat kakaknya merawat ibu dan dirinya.


"Morning" sapa Ansel muncul menggunakan celana jins dan kemeja biru dongker yang pas di tubuhnya.


"Eh kak Ansel" meringis Rissa melihat kehadiran kakak iparnya. Ansel tersenyum dan mengusap kepala adiknya itu.


"Kamu buat apa sayang?" tanya Ansel kepada istrinya.


"Kopi"


Ansel hendak menyeruput kopi yang dibuat istrinya.


"Jangan langsung minum kopi Ans, makan roti dulu" perhatian Chalissa


Ansel menuruti kata-kata istrinya.


"Nanti sekitar jam 10 kita cek ya sayang" ucap Ansel


"Aku boleh ikut gak kak??" ucap adiknya sambil mengatupkan tangan memohon


Ansel tersenyum gemes melihat Rissa yang lucu dan memang menggemaskan juga.


"Aku janji kak Lissa tidak akan mengganggu, suerrr" menunjukkan dua jarinya.



"Kak Ansel memang mau kamu ikut" Ansel tidak tega melihat adik kecilnya.


"Makasih kakk" terkekeh sambil melingkarkan tangannya di bahu kakak iparnya.


Sudah lama Clarissa tidak memeluk kakak laki-lakinya, sejak Kenan memutuskan pergi dan tidak ada kabar. Saat dulu masih ada Kenan, dialah yang sangat memanjakan Rissa. Jadi tidak aneh jika Rissa merasa sedikit manja pada Ansel yang sudah menjadi kakaknya juga. Ansel pun tidak butuh waktu lama sudah terpikat dengan kelucuan adiknya. Mungkin karena dia tidak memiliki adik.


"Tapi kakak pergi sebentar dulu ya, ada sedikit urusan"


"Okay kakakku yang hebat" puji Rissa mengacungkan ibu jarinya.


Ansel menjauh dari Rissa hingga tak terlihat, Ia juga menggandeng tangan istrinya.


"Kamu mau ke kantor?" tanya Lissa, curiga kalau Ansel akan menemui Bellva.


"Sayang, aku minta maaf. Semalam aku menemui Bellva, dia nekat menggugurkan kandungannya. Tapi kamu harus percaya aku tidak akan berlebihan" ucap Ansel berusaha jujur agar Chalissa tidak terluka nantinya.


Chalissa kaget mendengar penjelasan Ansel


"Tidak dapat ditolong"


"Aku hanya sebentar setelah itu aku akan segera kembali, okay" Ansel mengusap kedua pipi istrinya.


"Pergilah, aku akan percaya padamu, Ans" Chalissa terlihat tegar, Ansel menatap mata Chalissa dengan tatapan dalam.


Ia berlalu.


**************


Saat tiba di rumah sakit, Ansel membatalkan niatnya untuk turun. Ansel tidak membawa mobil, tapi Ia sengaja minta Harrys menjemputnya.


"Gak jadi turun boss?" tanya Harrys yang lama menunggu bossnya tidak bergerak membuka pintu.


Tersirat keraguan di wajah Ansel. Tatapan Chalissa yang dilihatnya tadi, membuatnya tidak tega menemui Bellva lagi. Chalissa lebih penting seharusnya. Chalissa jauh lebih berhak menerima perhatiannya.


"Kita pergi saja" ucap Ansel tanpa menoleh pada Harrys.


Harrys pun menancap gas mobil, melaju meninggalkan rumah sakit.


"Jadi kita kemana nih?" tanya Harrys sudah seperti supir untuk Ansel.


Lama menunggu jawaban dari bossnya. Harrys menoleh ke samping jog di mana Ansel duduk.


"Pulang aja deh Rys"


"Whatssss" Harrys mengacak rambutnya.


Tanpa seijin Ansel dia menghentikan laju mobilnya ke kiri.


"Bos, Lo lagi ragu ya?" nada suara Harrys terdengar agak menyindir.


"Mulaikan sok tahu" tutur Ansel membalas sindiran Harrys.


"Semua karena istri ya? hehehe" canda Harrys, tapi ucapan Harrys memang benar.


"Sudah buruan jalan, gw gak mau lama-lama sama Lo. Bisa tertular pikiran kotor nanti. Hahaha" tembak Ansel meledek Harrys.


"Hemm pikiran kotor. Jangan-jangan sampai rumah boss langsung menerkam istri" tidak mau kalah dari Ansel.


Ansel langsung menatap Harrys dengan melotot dan sinis.


**********


"Okay boss, langsung cabut ya" pamit Harrys


"Emang ada yang tawarin mampir??!" canda Ansel


"SIALL" membanting stir mobil, lalu menyisahkan suara tawa mereka yang keras.


Setelah Harrys pergi, Ansel segera masuk.


Ia melihat di ruang keluarga lantai dua, ibu, adik, dan istrinya sedang berkumpul. Ansel ikut bergabung duduk di samping Chalissa.


"Loh kamu udah pulang?" heran Chalissa


"Iya"


"Berarti kita mau pergi jam berapa kak?" tanya Rissa menyosor.


"Rissa" tegur Bu Dewi


Rissa langsung menunjukkan wajah cemberut. Ansel dan Chalissa tertawa.


"Iya maaf Bu"


"Kakak sudah buat janji jam 10" jelas Ansel.


"Kakk, besokkan aku dan ibu akan pulang. Aku ingin beli oleh-oleh buat temanku" polos Rissa


"Rissa jangan menyusahkan kak Ansel" tegur Bu Dewi lagi


Lagi-lagi Rissa menunjukkan wajah cemberutnya membuat Ansel kembali tertawa.


"Gak apa-apa bu. Yaudah pulang dari dokter kita langsung belanja ke mall" ucap Ansel.


"Yeee makasih kakak tergantengku" girang Rissa menggoyang-goyang tubuh Ansel.


Chalissa hanya terpaku sambil menunjukkan tawa bagaianya melihat ulah adiknya yang sangat girang. Sebelum ibu menegurnya, ia segera kabur ke kamar untuk menyibukkan diri pada ponselnya.


"Ya ampun Rissa! Maafkan sikap Rissa ya nak Ansel" Bu Dewi merasa tidak enak pada menantunya.


"Gak apa-apa Bu. Mungkin karena dia begitu senang" Ansel terkekeh.


.


.


.


.


.


Yeeeeee happy reading 😍