
Siang hari, Ansel mengundang Hanny untuk datang ke kantornya. Sudah beberapa hari, diam-diam Ansel dan Hanny menyusun sebuah acara untuk Chalissa. Tepatnya hari ini. Ini pertama kalinya, Ansel akan merayakan hari ulang tahun istrinya. Di mana, moment saat ini adalah yang tepat, karena keluarga Chalissa telah berkumpul bersama.
Hanny dan Ansel, fokus mendengarkan penjelasan EO yang akan bertanggung jawab dalam acara nanti malam.
"Bapak tidak usah khawatir, saya dan tim saya akan bekerja dengan semaksimal mungkin" ucap Nadia selaku ornag bertanggung jawab dari EO nya.
"Saya harap nanti malam akan menjadi moment indah untuk istri saya" pinta Ansel. Ia duduk memangku salah satu kakinya, dan dagu bertumpu pada salah satu tangannya.
Setelah semua penjelasan untuk acara nanti malam selesai, Nadia pun pamit.
"Pak Ansel, pasti tidak sabar ya untuk acara nanti malam" ucap Hanny memaklumi sikap Ansel.
Ansel menghembuskan napasnya, ia berjalan ke kursi kerjanya.
"Ini kali pertama aku merayakan ulang tahunnya, Han. Aku ingin surprise ini akan berhasil" harapan Ansel.
"Chalissa pasti bahagia dan bangga memiliki suami seperti pak Ansel" puji Hanny.
Tak lama Harrys datang.
Hanny terdiam ketika Harrys masuk ke ruangan Ansel.
"Hai Hanny" sapa Harrys yang kemudian ia duduk berhadapan dengan Ansel. Hanny sendiri hanya tersenyum membalas sapaan Harrys.
Lama sekali mereka tak bertemu. Tapi sepertinya, itu tak berarti bagi seorang Harrys. Setelah menyapa Hanny, ia justru membicarakan pekerjaan dengan Ansel. Hingga Hanny merasa risih berada diantara mereka berdua.
"Pak Ansel, kalau begitu saya ijin pergi. Saya akan meninjau lokasi untuk nanti malam" ucap Hanny.
"Baiklah, Han. Kabari jika ada kendala ya Hanny" balas Ansel masih duduk di kursinya. Hanny tersenyum dengan memberi anggukan kepala. Lalu ia pun berlalu hanya dengan senyuman perpisahan kepada Harrys.
Malam pun tiba.
Di rumah Chalissa merasa sedih, karena di hari ulang tahunnya itu sang suami belum juga memberinya ucapan selamat ulang tahun. Dia pikir bahwa pagi, saat membuka mata ia akan mendapatkan surprise pagi atau setidaknya yang biasa dilakukan orang banyak di malam hari menjelang pagi dini selalu ada kejutan, di mana sang suami membawa kue dan membangunkan istrinya. Tapi ternyata hari yang ditunggu di moment ulang tahunnya, si pujaan hati tak kunjung memberi ucapan.
Bahkan, saat siang hari. Chalissa tak mendapatkan pesan ucapan dari suaminya, atau pun panggilan video pun tak ada. Hatinya bertanya-tanya, mungkinkah suaminya tak tahu hari ulang tahunnya.
Dan kini, Chalissa berusaha untuk berpikir jernih. Dia mengambil kesimpulan bahwa suaminya tidak tahu tanggal lahirnya. Dia membuang pikirannya dengan menyibukkan diri mengurus Killian.
Tut...tuttt...tuttt
"Iya Han, ada apa?" tanya Chalissa mengangkat panggilan dari sahabatnya.
"Selamat ulang tahun sahabat cantikku, mama Killian" ucap Hanny dengan riang.
Chalissa tersenyum bahagia, karena sahabatnya ternyata tak pernah lupa akan hari ulanh tahunnya.
"Thanks Hanny, I love you" balas Chalissa terharu.
Tak lama Chalissa kembali pada wajahnya yang mengingat bahwa suaminya belum menghubunginya.
"Kenapa Lissa?" tanya Hanny mendapati ekspresi sahabatnya berubah.
Chalissa menggelengkan kepalanya.
"Pak Ansel belum ucapin ya?" tanya Hanny lagi dengan pelan. Chalissa mengangguk.
"Mungkin, pak Ansel masih sibuk. Jangan sedih ya" hibur Hanny.
"Kita ketemuan yuk, dinner gitu" ajak Hanny bermaksud untuk menghibur sahabatnya.
"Tapi, aku ijin dulu ya"
"Iya, aku tunggu. Cepetan jangan lama" desak Hanny.
Panggilan pun terputus.
Di tempat lain Hanny menahan tawanya bersama dengan Ansel.
Notifikasi pesan masuk.
"Sayang"
Ansel tersenyum mendapati pesan dari istrinya.
"Iya, ada apa sayang?" tanya Ansel.
"Sibuk?"
Ansel masih tersenyum.
"Iya sayang. Sebentar lagi, mau ada rapat sayang"
Tubuh Chalissa merosot lemas di atas sofa. Ia sedih karena benar suaminya sedang sibuk. Ansel, terdiam ekspresinya datar dan ia menerka mengapa istrinya lama tak membalas pesannya lagi.
Ia kembali mengirim pesan kepada istrinya.
"Ada apa sayang?"
Terlihat Chalissa sedang mengetik pesannya.
"Sayang, malam ini Hanny mengajakku makan malam. Boleh gak?"
Ansel kembali tersenyum, namun kini ia lebih bersemangat.
"Boleh sayang. Tapi diantar pak Niman ya."
"Tapi, pak Niman belum pulang sayang. Tadi sedang pergi mengantar Clarissa ke rumah temannya"
"Tunggu pak Niman, sayang. O iya, Killian ikut?"
"Atau gausah deh sayang. Kasihan juga Killian, sudah malam"
Chalissa berniat mengurungkan keinginannya untuk ajakan Hanny.
"Bawa aja sayang"
Bola mata Chalissa melebar mendapat pesan dari Ansel.
"Baik sayang. Terima kasih ya, muahh"
"Hati-hati di jalan ya sayang"
Chalissa mengakhiri pesannya. Ia segera bergegas untuk menyiapkan perlengkapan Killian.
Di tempat lain, Ansel tak sabar menunggu kedatangan istrinya.
Chalissa sudah dalam perjalanan ke arah tujuan yang sudah dikirim oleh Hanny. Sebenarnya, Chalissa tak menyadari semuanya. Bahkan, kini Chalissa sedang menggunakan dress, hadiah yang diberikan adiknya tadi sebelum pergi dengan alasan ke rumah temannya. Clarissa sendiri yang minta pada kakaknya supaya memakai dress itu. Dia tidak tahu, kalau sebenarnya dress itu sudah disiapkan oleh Ansel.
Tiba di tempat tujuan.
"Pak Niman, yakin ini tempatnya?" Chalissa terheran.
Selama dalam perjalanan sebenarnya Chalissa bertanya-tanya terus, karena untuk mencapai lokasi itu membutuhkan waktu perjalanan selama 1 jam lebih.
"Iya, nyonya. Ini sesuai kok dengan petunjuk jalan yang nyonya muda berikan" Pak Niman menunjukkan ponselnya yang menampilkan map perjalanan mereka.
Pak Niman keluar dan membantu Chalissa membuka pintu dan membawakan tas berisi perlengkapan Killian dan juga stroller.
"Sepertinya kita masih jalan ke dalam nyonya" ucap pak Niman yang sebenarnya tahu lokasi itu. Chalissa hanya menurut saja kepada pak Niman, dan mengikuti langkah pak Niman.
Terlihat Hanny sudah berdiri menunggu kedatangan sahabatnya.
"Hai, selamat ulang tahun sayangku" ucap Hanny memeluk sahabatnya dengan gembira.
Hanny mengambil Killian dari dalam strollernya. "Duh, gantengnya keponakan aunty Hanny ini" gemas Hanny.
"Tempatnya jauh banget Han. Kamu gak salah cari tempat yang sejauh ini" gerutu Chalissa.
Hanny terkekeh, "Iya iya maaf. Yaudah, ayo kita ke dalam" Hanny mengajak Chalissa untuk masuk ke lokasi yang sebenarnya. Mereka melewati lorong yang lumayan panjanh, Chalissa terus merasa bingung dengan lokasi yang dituju oleh mereka.
Tiba di tempat, Chalissa dikagetkan dengan ledakan yang berasal dari confetti party.
Duarrrr... disusul dengan nyanyian ulang tahun yang berasal dari speaker yang sudah terpasang di area itu.
Tak lama, terdengar suara Ansel.
"Hai, mama Killian. Aku tahu hari ini, adalah hari istimewamu, di mana ibu sudah membawamu ke dunia ini. Sayang, aku berterima kasih kepada Tuhan karena sudah mengijinkan kamu lahir dan menjadi bagian dalam hidupku. Aku sangat bahagia dengan kehadiranmu dalam hidupku, dan aku bahagia kau memberiku Killian, putra yang sangat tampan dan menggemaskan"
Chalissa berusaha mencari keberadaan Ansel.
Tempat itu, tidak cukup terang. Hanya ada sebuah meja panjang dengan kursinya. Sebuah bunga yang berhambur di atas meja dan lilin kecil tak banyak seolah menjadi penghangat di atas meja tersebut. Tempat itu, hanya diterangi dengan empat obor yang berada di setiap sudut area tempat terbuka.
Chalissa berjalan ke tengah hingga mendekati meja yang sudah terhias. Kemudian matanya mengarah pada sebuah lilin. Lilin itu berusaha menyalakan lilin lainnya yang akhirnya terlihat sebuah cake birthday.
"Selamat ulang tahun istriku, mama Killian. Ini adalah kuemu" Ansel berdiri di samping kue dengan ukuran sedang.
Chalissa melangkah mendekati Ansel, wajahnya sudah basah akibatnya air matanya yang terus menetes haru.
"I love my wife, Love you forever" ucap Ansel sudah berhadapan dengan istrinya.
Chalissa tak sanggup menahan harunya, ia memeluk suaminya dengan menangis sesenggukan. Ansel tersenyum, ia membelai punggung istrinya sambil memberikan ciuman di pundak kepalanya.
Ia dikejutkan lagi. Lampu menyala berlahan menampakkan kehadiran mama dan papa mertuanya, Clarissa, Keenan, Harrys, Monique, Davina, dan beberapa tamu undangan Ansel.
"Clarissa" kaget Chalissa melihat adik kecil ternyata ada di situ.
Clarissa mengulum senyumnya. "Selamat ulang tahun kakakku, sayang." memeluk kakaknya.
"Selamat ulang tahun dek" ucap Keenan bergantian dengan Clarissa memeluk Chalissa. Dilanjutkan dengan mertua dan kakak iparnya.
Chalissa bahagia, ia sanagt terharu dengan kejutan yang diberikan oleh Ansel. Ternyata, suaminya sudah menyiapkan semuanya untuk dirinya. Di sesi hangat, mereka saling berbincang-bincang.
"Dek, kenalin ini kekasih kakak" ucap Keenan dengan seorang wanita yang berdiri di samping.
"Kau..." mata Chalissa terbeliak. Ia tak percaya, Cindy kini berdiri di samping kakaknya, sebagai kekasih Keenan.
"Chalissa" ucap Cindy pelan. Wajahnya beku sama dengan Chalissa tak menyangka jika adik Keenan adalah Chalissa, perempuan yang pernah dijebaknya.
Hanny ikut diam terpaku.
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍
Kalau suka jangan lupa like dan vote seikhlasnya ya gaes... Terima kasih 🙏