Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Menggila



Jika ada wanita yang selalu ingin kulihat itu hanyalah dirimu, calon ibu dari anakku!


~ Ansel


🌹🌹🌹


Selesai melakukan pemeriksaan Ansel bermaksud ingin memanjakan istrinya.


"Sayang, hari ini apa yang kamu inginkan? katakanlah??" tanya Ansel menggandeng tangan istrinya berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit.


"Aku tidak menginginkan apapaun, kecuali!" ucap Chalissa terhenti tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kecuali apa??!" Ansel menghentikan langkahnya, ia memegang kedua bahu istrinya sehingga berhadapan dengannya.


"Aku merindukan rumahku di kampung" ucap Chalissa dengan wajah seraya memohon.


"Tapi sayang, kau sedang hamil" ungkap Ansel menunjukkan kekhawatirannya.


"Tapi dokter Claudia bilang di usia kehamilanku tidak bermasalah jika aku harus berpergian jauh. Apalagi keadaan bayiku sehat" ucap Chalissa mempertahankan keinginannya.


"Bayi kita!!" tegas Ansel tidak suka mendengar pengakuan sepihak dari bibir Chalissa.


Tatapan Chalissa berubah memaku.


"Apa kau tidak kasihan padanya jika kita seolah sedang merebutnya" ucap Ansel melanjutkan kalimatnya.


"Ya sudah. Jadi bagaimana Ans?" tanya Chalissa lagi, menggiring pembicaraannya pada keinginannya.


"Nanti akan aku pikirkan" Ansel kembali menggenggam tangan Chalissa, membiarkan jari-jarinya menyelinap di sela-sela jari lentik istrinya. Kemudian melanjutkan langkahnya.


"Aku akan ke lobby mengambil mobil. Kamu tunggu saja di sini" ujar Ansel yang mengantar istrinya di pintu utama dan memintanya menunggu.


* * * * *


"Kita mau ke mana Ans? Inikah bukan jalan ke rumah kita!" kata Chalissa celingak-celinguk


"Aku ingin mengajakmu ke tempat lain" ujar Ansel


"Aku lelah! Aku mau pulang!!" ketus Chalissa.


"Di sana kita akan beristirahat" tutur Ansel.


Chalissa berdecak kesal, lalu ia terdiam pasrah pada Ansel. Mungkin hari ini dia tidak akan banyak berdebat dengan suaminya itu.


Tiba di tempat tujuan.


"Ans, kita mau ngapain di hotel ini?!!"


"Aku ingin menghabiskan hari ini berdua denganmu, sayang" ucap Ansel dibarengi senyuman usilnya.


Chalissa mengerutkan dahinya, setelah mendengar perkataan suaminya. Masih ada rasa kesal semalam yang belum ia lupakan.


"Kalau kamu mau tetap di sini, aku akan pulang sendiri!!" berusaha membuka pintu dengan marah.


Ansel segera menarik pintu yang hampir terbuka dan menahannya.


"Sampai kapan kamu marah seperti ini??!" Ansel menatap tajam dan dengan nada suara sedikit menggertak.


Chalissa tidak mau kalah. Dia pun membalas tatapan Ansel dengan tajam. Menerima reaksi dari istrinya, Ansel menarik napas dan membuangnya dengan kasar.


"Aku minta maaf sayang untuk kejadian semalam"


"Ayolah kita selesaikan semuanya dengan baik. Aku ingin kita menikmati hari ini tanpa ada perdebatan" ungkap Ansel meraih tangan istrinya.


Ansel memaksa Chalissa mengikutinya masuk ke dalam hotel.


Di dalam hotel, mereka langsung di sambut oleh petugas hotel yang mengantar mereka menuju kamar yang sudah dipesan oleh Ansel.


Tiba di dalam kamar, Chalissa sudah melihat ada sebuah hidangan di atas meja. Tatapan Chalissa berputar mengamati kamar hotel yang dipesan oleh suaminya. Kamar itu sepertinya dengan sengaja dipersiapkan dengan nuansa romantis dan hangat.


"Apa kau suka??" tiba-tiba Ansel memeluknya dari sisi tubuh Chalissa.


Chalissa yang terkejut dan dengan cepat menyadari tangan Ansel yang sudah melingkari di perutnya langsung melepaskannya.


"Aku lapar Ans" ucap Chalissa melengos.


Ada guratan kecewa yang muncul dari wajah pria itu.


"Baiklah sayang. Memang sudah waktunya kita harus makan siang" tutur Ansel mencoba memahami keadaan istrinya yang masih menyimpan rasa kesal padanya.


Ansel tersenyum tipis menatapi istrinya dengan intens. Ansel melebarkan senyumnya melihat betapa lahapnya istrinya itu makan. Pikirnya mungkin itu karena bayi mereka yang menuntut nutrisi lebih dari ibunya.


Chalissa menyadari tatapan suaminya lalu berdehem. "Aku sudah selesai!" masih dengan suara ketus.


Selesai menikmati santapan siang. Ansel menelpon petugas hotel yang sepertinya adalah petugas kebersihan. Ansel membuka pintu, terlihat pelayan hotel datang. Ia segera membersihkan meja makan.


* * * * *


"Kapan kita akan pulang?!!" sepertinya siang itu Chalissa malas berlama-lama terkurung dalam kamar hotel bersama dengan Ansel.


"Apa kamu segitu marahnya denganku? Atau.." diam, karena Chalissa memotong ucapannya.


"Atau apa???" matanya mendelik


"Karena kamu begitu mencintaiku???" senyuman Ansel yang memikat mencoba mencairkan hati wanitanya.


Chalissa terdiam, mencoba menjawab kalimat Ansel yang membuatnya gusar. "Aku tidak mencintaimu!!" berusaha melontarkan kalimat itu tanpa terdengar ragu.


Ansel berdecih, seolah ia merasa kalau wanita di hadapannya sedang membohongi dirinya sendiri.


"Aku akan sangat senang, kalau kau marah karena mencintaiku, Sayang"


"Lalu, bagaimana denganmu?!!" Chalissa balas bertanya, ia pun ingin mengetahui apakah pria yang menjadi suaminya itu menyimpan rasa padanya atau tidak.


Ansel terdiam, mimik wajahnya bingung.


Chalissa berdecak. Ia menebak dihatinya masih ada mantan kekasihnya itu. Ada pemandangan kecewa yang ia paparkan. Ia pergi ke arah ranjang hendak membaringkan tubuhnya yang terasa lelah.


Ansel terpaku dalam diamnya. Ia masih belum bisa menyimpulkan isi hatinya pada wanita yang sedang mengandung anaknya.


Ansel menghampiri istrinya yang sedang berbaring di ranjang. Ternyata istrinya sudah tertidur.


Ansel ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Ia merentangkan salah satu tangannya dan meraih kepala istrinya di lengannya. Posisi itu membuat Ansel lebih mudah untuk memeluk istrinya dari sisinya sambil membelai perut buncit istrinya.


"Ans, Ansel" panggil Chalissa dengan mata tertutup membuat hati pria itu berdesir. Lalu wanita itu seolah ingin mengeratkan pelukan suaminya.


"Hmmmm, apa kau merindukanku, sayang" bisik Ansel menciumi wajah istrinya yang tertidur.


Lama Ansel menatapi wajah istrinya. Hingga ia pun ikut tertidur.


* * * * *


4 jam kemudian, hari mulai petang.


Tutttt... tutttt... tutttt


Dering ponsel Ansel.


Ansel terbangun dari tidur siang. Ia masih melihat istrinya dalam posisi tertidur. Dengan gerakan sangat pelan, Ansel melepaskan pelukannya dari istrinya. Dan ia meraih ponsel yang terdapat di atas nakas.


Ternyata Monique yang menghubunginya.


Monique menanyakan keberadaan mereka, karena saat ini dia bersama mamanya sudah berada di rumah Ansel. Dengan perasaan tidak enak Ansel menjelaskan kepada kakaknya dan meminta tolong untuk menyampaikan rasa maafnya kepada mamanya.


"Iya, pasti akan kusampaikan"


Telpon terputus.


Setelah telpon terputus, pandangan Ansel beralih pada wanita di sampingnya yang sedari tadi sudah mengamatinya.


"Kau sudah bangun?... Bagaimana tidur siangmu? Sepertinya kamu lelah sekali?" tanya Ansel sambil mendekati tubuh istrinya.


"Sudah lebih baik" ucapnya tidak bergairah untuk menjawab.


Lalu Chalissa mulai menyandarkan tubuhnya di headboard. Tanpa instruksi Ansel segera menuntun istrinya yang setengah berbaring.


Ansel turun dari tempat tidur menuju pantry.


"Minumlah sayang" membantu Chalissa untuk meneguk air mineral dengan hati-hati.


Lalu meletakkan gelas tersebut di atas nakas.


"Ans, apa malam ini kita tidak pulang??" tanya Chalissa tatapannya sendu.


"Kita akan bermalam di sini. Apa kamu keberatan??!" tanya Ansel sembari menciumi puncak kepala Chalissa.


"Apa kamu sangat mencintai wanita itu Ans??!" entah sudah berapa kali pertanyaan itu selalu dilontarkan istrinya padanya semenjak mereka memutuskan menikah.


"Kenapa kamu selalu membahas ini?!" rasanya Ansel sudah merasa bosan dengan pertanyaan semacam ini.


"Apa setelah aku melahirkan kamu akan berubah?? Karena yang aku rasa, kamu perhatian padaku karena aku sedang mengandung anakmu!! Kamu akan kembali pada wanita itu?? Katakan Ans?!!" titah Chalissa, ada kecemasan yang selama ini dia pendam.


"Apa kamu tidak merasakan kalau aku berusaha untuk mencintaimu? Apa kurang cukup perhatian dan tanggung jawabku untukmu?!! Apa aku terlihat hanya peduli pada anakku saja?!!" jawab Ansel sembari melemparkan pertanyaan. Terdengar nada suaranya yang sedikit jengkel


Pria itu menunjukkan tatapan teduhnya, membuat Chalissa yang terdiam menjadi bungkam.


Lalu Chalissa menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah dan matanya yang sudah membendung buliran air bening.


Ansel menyoroti kediaman Chalissa. Sejenak ia menutup matanya mencoba mendinginkan keadaan yang mulai terasa tidak menyenangkan.


Diraihnya dagu istrinya yang hampir tertutup oleh rambut hitamnya dan diarahkan padanya. Wajahnya terpegun setelah dilihatnya kalau wajah itu sudah basah oleh buliran air bening.


Dengan lembut tangannya menyeka abis buliran bening yang membasahi wajah istrinya. Ia mendekat lebih dekat pada tubuh istrinya, lalu mencondongkan wajahnya untuk menciumi wajah istrinya yang sempat basah itu.


Ansel menciumi setiap inci pada wajah istrinya, lalu berhenti pada bibir yang hampir mengisi hari-harinya. Ia mencium bibir istrinya mencoba untuk menstimulasi bibirnya dengan mencium sekilas lalu melepaskannya dan mengulangnya lagi. Chalissa sempat menolak ciuman itu, karena otaknya dipenuhi bayangan saat Ansel mencium mantan kekasihnya.


Tapi Ansel tetap bertahan, ia terus menstimulasi mencoba untuk merangsang agar Chalissa tertarik untuk menciumnya juga. Usaha Ansel tak sia-sia, ciuman yang sekilas mulai terasa ada balasan. Ketika dirasa ciumannya tidak sepihak, Ansel segera memberikan ******* lebih lama dan lebih lembut dari biasanya. Hingga Chalissa lah yang terkesan menuntut.


Hati Ansel terasa seperti tersenyum mendapati istrinya yang mulai lebih bergairah. Mungkin ini yang dimaksud oleh dokter Claudia, bahwa pada usia kehamilan istrinya terjadi peningkatan libido.


Ciuman mereka saling tarik menarik, lidah mereka bermain saling memberi. Sembari terus merespon permainan bibir istrinya, tangan Ansel sudah menyusup ke bagian sensitif istrinya. Terdengar lenguhan dari bibir Chalissa yang sempat tersentak ketika bagian sensitifnya tersentuh oleh jari-jari Ansel. Ansel bermain dibagian itu, berusaha terus menaikkan hasrat istrinya. Kali ini Ansel ingin istrinya lah yang akan terus menuntut padanya.


"Anssss" desahnya


"Iya sayaaaang" desah Ansel membalas


"Ahhhhhhhh...Ansssss" deru napasnya terdengar ngos-ngosan menanggapi permainan jari dari suaminya.


"Nikmati sayanggg" Ansel tak kalah terbuai


Lenguhan demi lenguhan terus terdengar hingga menciptakan desahan. Hal itu membuat Ansel pun semakin bergairah. Tapi ia terus berusaha bertahan untuk tidak segera mengakhiri permainannya. Setelah dirasa istrinya tidak sanggup lagi mempertahankan ciumannya, Ansel mendaratkan bibir pada leher Chalissa. Kini tangan Ansel berlahan menyusup ke bagian punggung istrinya menemukan sebuah pengait untuk dibuka. Lalu tangannya terarah pada bagian dadanya, kini tangannya sudah berpindah pada permainan yang lain.


"Plissss... Anssss"


"Sebentar lagi ya sayaaaang"


"Anssss, aku gak tahaann" tubuh Chalissa menggeliat hebat.


"Iya sayaaaang"


"Ahhhhhhh... haaaaaa, Auwwwwe" desahan Chalissa makin menjadi, menciptakan pikira-pikiran baru di otak Ansel.


Merasa kasihan pada istrinya yang sepertinya sudah tidak tahan lagi. Ansel segera melepas seluruh pakaiannya kemudian ia juga melepaskan pakaian yang menutupi tubuh istrinya hingga terlihat polos. Dilihatnya perut istrinya yang membuncit, ia memberi sentuhan dan menciumi perut buncit yang berisi anaknya itu. Seakan dia pun memberi belaian pada anaknya.


"Sayang kamu di atas yaaa"


Chalissa mengangguk, Ansel membantu istrinya untuk duduk di atas bagian intimnya.


Entah mendapat instruksi dari mana, Chalissa hanya berusaha menggoyang tubuhnya di atas keintiman Ansel. Mencari kenikmatan didalam goyangannya.


"Haaaaaaaa, sayaaaang" kini Ansel yang dibuat meracau dengan desahannya.


Kali ini Ansel yang dibuat tidak tahan.


"Ooohhhh gilaaaaa...." seru Ansel, benar-benar dibuat melayang oleh pelayanan istrinya.


Mereka saling melempar desahan, hingga ruangan keintiman mereka benar-benar menjadi panas.


Terlihat Chalissa mulai lelah, Ansel mengganti posisi permainan mereka.


"Sayaaaang ganti posisi ya" ucap Ansel. Kini Ansel lah yang memimpin permainan.


Sekarang Chalissa yang berada di bawah. Ansel mulai memberi sentakan yang lembut dan menggoyangnya di kedalaman sana. Sedangkan tangannya memberi belaian pada anaknya.


Hingga mencapai klimaks pelepasan. Mereka pun menjadi lunglai. Ansel rubuh, berbaring di samping istrinya.


Ansel memeluk tubuh istrinya berhadapan. Ansel memberikan senyuman merekah. Seolah memberi isyarat, bahwa dirinya benar-benar dibuat puas oleh permainan istrinya.


30 menit, Ansel membiarkan istrinya berbaring sejenak. Karena setelah itu Sebenarnya ada permainan lain yang sudah ia siapkan. Ia sudah meminta kepada petugas hotel untuk menyiapkan kamar dengan fasilitas jaccuzzi.


"Aku ingin mengajakmu berendam" bisik Ansel terus menciumi puncak kepala Chalissa.


Tidak menunggu lama, Ansel segera menggendong tubuh istrinya memasuki sebuah kolam yang sudah dipersiapkan. Tubuh mereka yang sama-sama polos sudah siap untuk menikmati kehangat air di dalam jaccuzzi itu.


Betapa cozy-nya berendam di Jacuzzi dengan panorama kota Jakarta dari ketinggian. Sejenak mereka merelaksasikan tubuh mereka yang sudah lelah dengan permainan yang sudah berlalu. Hingga Ansel kembali mengajak Chalissa bermain lagi dalam rendaman mereka.


Merasa kurang leluasa. Ansel menggendong tubuh istrinya pada sofa yang terdapat di dekat jaccuzzi. Lalu mereka puas bermain lagi, hingga mencapai klimaks kenikmatan mereka. Ini adalah kali keduanya Ansel dibuat gila oleh Chalissa, setelah yang pertama saat ia mengambil keperawanan wanita itu cukup yang lama ia bermain.


.


.


.


.


.


Happy Reading 😍


Anak di bawah umur dan yang belum nikah, plisss stoppp 🙈🙈🙈🙊🙊🙊


Author gak mau ya kalian jadi kebablasan 😂😂😂


Semangat ya reader untuk mengikuti kisah Ansel dan Chalissa selanjutnya...


Jangan lupa berikan LIKE dan VOTE kalian reader...


Dan Author berharap kalian juga mendukung dengan memberikan KOMENTAR kalian akan tingkat kesukaan dan kepuasan kalian saat membaca novel karya Author


Jangan lupa klik FAVORITE


Terima kasih readerku 🙏