Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Malam Yang Berbeda



Setelah Ansel memutuskan untuk pulang, Harrys pun memilih untuk kembali ke apartemennya.


Saat menelusuri jalan menuju apartemen, tidak sengaja ia melihat seorang wanita yang sepertinya ia kenal. Wanita itu sedang berjalan kaki di tepi jalan area pejalan kaki.


Ragu menghentikan mobilnya, Harrys memilih terus melintas melewati wanita itu.


"Hanny" gumannya setelah ia coba menyelidik matanya ke arah sosok wanita itu.


Harrys mengurangi kecepatan mobilnya.


"Kenapa dia berjalan kaki di jalan seperti ini?" tanya Harrys dalam hati.


Jalan yang sering dilewati Harrys ke arah apartemennya itu memang bukan jalan yang dilewati oleh angkutan umum. Tapi seharusnya Hanny menaiki kendaraan online.


Hanny terheran ketika dilihatnya ada mobil yang menghalangi langkahnya.


Nampak sosok yang dikenalnya keluar dari mobil.


"Pak Harrys" ucapnya pelan


Harrys mendekati Hanny, begitupun dengan Hanny.


"Rumahmu lewat sini?" tanya Harrys


"Mmmm, gak pak" ucap Hanny terasa segan.


"Jadi kamu mau ke mana?" tanya Harrys penasaran


"Sa, saya mau ke rumah teman pak. Ma, mau pinjam buku" terang Hanny lalu menunduk.


"Kalau begitu saya akan antar kamu ke rumah temanmu" ujar Harrys mengajak Hanny masuk ke dalam mobilnya.


"Tidak usah pak. Saya jadi merepotkan bapa nanti" merasa sungkan dengan assisten bosnya.


"Tidak masalah Hanny. Yang masalah kalau kamu berjalan kaki sendiri sudah jam 10 malam. Ayo masuk" ajak Harrys, akhirnya Hanny pun menuruti ajakan Harrys.


Selama perjalanan mereka tidak banyak mengobrol. Karena Harrys sendiri bingung harus mengobrol apa dengan wanita berusia 8 tahun lebih muda darinya. Apalagi Hanny nampak seperti wanita baik dan polos. Tidak seperti dirinya yang agak liar dan memang lebih dewasa.


"Jadi temanmu kos di tempat ini?" tanya Harrys melihat-lihat area kosan wanita yang terlihat elit.


"Iya pak" jawab Hanny sangat santun.


"Terima kasih kasih pak Harrys sudah mengantarku" ucap wanita berlesung pipi itu lagi.


"Hanny" panggil Harrys seketika saat Hanny mulai berlalu darinya.


"Iya pak. Ad, ada apa pak?" tanya Hanny mulai berpikir apakah ada sesuatu yang tertinggal atau yang salah.


"Apa kamu yakin nanti akan pulang menaiki kendaraan online?" tutur Harrys


"Eeee... I, iya pak" jawab Hanny terlihat raut wajahnya yang sebenarnya ragu untuk menjawab.


Harrys yang menduga kalau Hanny kehabisan uang segera mengeluarkan dompetnya. Hanny menggigit bawah bibirnya, menerka apakah assisten bosnya akan memberinya uang.


"Ambilah ini. Pesan taksi online saat pulang" ucap Harrys menyodorkan tiga lembar uang berwarna merah.


"Aaa, Ti-tidak perlu pak" tolak Hanny merasa malu.


"1 minggu lagi kamu akan menerima hakmu sebagai karyawan magang. Jadi kamu bisa menggantinya nanti" terang Harrys.


Akhirnya, Hanny pun menerima pemberian Harrys dengan menganggapnya sebagai pinjaman. Lalu Harrys berlalu menjauhi Hanny.


"Aku memang butuh uang sih. Tapi jadi gak enak sama pak Harrys, huft" ucapnya mengeluarkan napas dengan kasar. Lalu ia mulai berjalan ke arah kosan teman perempuannya.


-------------------------------------------


Setelah menenangkan Chalissa. Ansel memilih untuk membersihkan tubuhnya.


Di bawah guyuran air shower Ansel meredakan perasaannya yang bergejolak.


Apakah setiap laki-laki pasti seperti dia ketika berada di dekat wanita???. Apalagi wanita itu sedang mengandung anaknya. Apakah ada hormon tertentu yang membuatnya sering bergairah bila berada di dekat Chalissa??!... Ansel begitu bingung dengan dirinya sendiri. Di sisi lain, ia merasa kalau di hatinya masih ada sosok mantan kekasihnya. Tapi mengapa saat Bellva bertingkah nakal padanya, ada perasaan takut dan kalut membayangi pikirannya?!!, Mungkinkah itu perasaan trauma??! Ia takut kalau dia menuruti Bellva, akan berujung pada kehamilan. Selain itu, wajah Chalissa pun terus mengikuti pikirannya. Atau, kehadiran Chalissa dan bayinya mulai mengikis relung hatinya pada sosok Bellvania?!!!


Entahlah!!! Ansel masih terus mematung, membiarkan guyuran air shower terus membasahi tubuhnya mulai dari atas kepalanya. Hingga ia merasa reda.


"Kenapa kamu belum tidur??" tanya Ansel yang telah berdiri di sisi ranjang belakang Chalissa.


Wanita itu nampak berbaring dengan memiringkan tubuhnya ke arah sisi ranjang di mana Ansel biasa berbaring.


"Aku belum bisa tidur" tutur Chalissa masih membelakangi suaminya yang berdiri di tepi sisi ranjangnya.


Ansel mengeringkan rambutnya dengan handuk kering. Ia melihat di meja rias terdapat hair dryer, jadi ia menggunakan alat itu mengeringkan rambutnya supaya cepat kering. Setelah itu, ia keluar dari kamar meninggalkan Chalissa yang melihatnya keluar.


Tidak lama Ansel kembali dengan membawa segelas susu. Ternyata di dapur mini ia baru saja membuatkan susu ibu hamil untuk istrinya.


"Minumlah ini, setelah itu bersiap-siap untuk tidur" ucap Ansel.


Chalissa segera meminum susu yang terasa hangat itu. Dan Ansel segera mengembalikan gelas itu ke dapur mini. Lalu masuk lagi ke kamar.


"Tidurlah. Ini sudah tengah malam" tutur Ansel yang sudah berbaring terlentang dengan selimut yang menutup tubuhnya dan istrinya.


"Ans" panggil Chalissa pelan


"Hmmmm" jawab Ansel sudah menutup matanya.


"Kenapa masih bertanya hal seperti itu?" jawab Ansel tidak membuka matanya.


"Aku melihat kau begitu khawatir padanya" kata-kata itu keluar tanpa ada rasa sungkan lagi di hati Chalissa.


Ansel mencermati maksud dari pembicaraan istrinya. Namun, ia tetap menutup matanya.


Melihat Ansel tak bergeming, Chalissa memberanikan diri mendekati Ansel. Ansel merasakan seperti ada pergeseran dari tubuh Chalissa. Ansel tetap menutup matanya.


Entah keberanian yang berasal dari mana??! Mungkin hormon dari kehamilannya! Chalissa merangkul pinggang suaminya, dan mengeratkan pelukannya mendekap tubuh suaminya. Ansel tersentak merasakan tubuh Chalissa yang menempel pada tubuhnya. Tiba-tiba seperti bermain halilintar jantungnya memacu dengan cepat.


"Bukankah kita sudah berjanji akan belajar menjaga hati kita, Ans" ucap Chalissa memeluk Ansel.


Ansel hanya diam mengatur pernapasan yang dipengaruhi oleh pacuan jantung yang tak karuan.


Biasanya saat ia menciumi Chalissa, jantungnya memang berdetak tidak beraturan. Tapi kali ini saat Chalissa lebih dulu mendekatinya, rasanya jantungnya seperti akan copot. Ansel terus berusaha mengatur ritme kerja jantungnya.


Dia mulai mengulurkan lengan kananya, dan menuntun kepala Chalissa untuk berbaring di bahunya. Lalu berusaha mengelus lembut rambut hitam wanita itu. Mungkin saat ini, wanita itu sedang ingin dimanja olehnya. Mungkin itu bawaan bayi yang menuntut untuk diperhatikan.


"Ans, maaf sepertinya si baby ingin dipeluk" ungkap Chalissa menyembunyikan wajahnya pada dada Ansel.


Ansel tersenyum miring, ia menciumi puncak kepala Chalissa terus menerus.


"Apa si baby tidak merindukanku?" tanya Ansel dengan senyuman nakal.


"Dia pasti rindu padamu, Ans" ucap Chalissa polos, tidak memgerti kelanjutan dari pembicaraan Ansel.


Ansel membangunkan tubuhnya miring sedikit berada di atas Chalissa.


"Benarkah dia rindu padaku??" tanya Ansel lagi, ada maksud di balik pertanyaannya.


Chalissa menganggukan kepalanya dengan polos. Sungguh pemandangan yang ada di wajah Chalissa membuatnya menjadi gemas. Ingin rasanya ia menerkam wanita itu.


"Baby apa kau benar-benar merindukan papa?" sambil mendekati telinganya pada perut Chalissa


"Iya papa" ucap Chalissa dengan meniru suara layaknya anak kecil.


Ansel tersenyum-senyum, memberi tanda tanya pada Chalissa.


"Kau kenapa melihatku seperti itu??" tanya Ansel mendapati wajah istrinya membeku.


"Ans"


"Hmmm"


"Kau... kau sedang tidak memikirkan hal lain kan?" wajah Chalissa terlihat panik.


"Contohnya hal seperti apa?" tanya Ansel menduga kalau Chalissa mulai membaca pikirannya.


Chalissa cepat-cepat ingin menyingkir dari tubuh Ansel.


"Hei, kamu mau menghindar lagi?!" Ansel menahan tubuh wanita itu. Ia mengungkungnya dengan kedua tangan yang menahan pinggang Chalissa.


"Kau harus tanggung jawab karena sudah membuatku sampai seperti ini" goda Ansel


Ia melihat wajah Chalissa pucat dan membeku.


"Tenanglah, aku tidak akan berbuat kasar seperti yang lalu" ucap Ansel mengusap wajah istrinya.


Sungguh tantangan itu semakin berat dirasa oleh Ansel. Ia sudah tidak dapat menahan gelora hasrat yang sudah membuat tubuhnya semakin panas. Ia bermaksud untuk menciumi wajah istrinya, tapi Chalissa menahannya.


"Ak, aku..." Chalissa terdiam tidak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Bukankah si baby merindukan papanya. Lalu apa mamanya tidak merindukan papanya juga?" bisik Ansel membuat bagian leher Chalissa bergidik.


Dengan rasa takut, panik, dan napas yang tidak beraturan membuat sekujur tubuh Chalissa dingin seperti es.


"Apa kamu merasa dingin sayang. Aku akan membuatmu menjadi hangat" ucap Ansel mengandung unsur sangat nakal.


Malam itu, Chalissa seolah pasrah. Seperti ia kehilangan seluruh kekuatannya. Tubuhnya sulit untuk bergerak, untuk menahan hasrat pada diri Ansel. Malam itu Ansel sudah tidak memikirkan masalah waktu yang tepat untuk Chalissa. Baginya Chalissa lah yang memulai semua. Ia sudah susah payah meredam hasrat yang bergejolak, justru Chalissa membangunkannya lagi.


Dengan lembut dan pelan-pelan mengingat istrinya sedang hamil, Ansel puas mencumbui istrinya. Malam ini, ia benar-benar melihat tiap inci tubuh Chalissa dengan sadar. Ia tidak melewati tiap inci tubuh wanita itu. Terlihat perutnya yang mulus yang masih datar, ia menciumi perut itu seolah sedang menciumi bayinya yang ada di dalam perut Chalissa.


Dengan pacuan yang lembut, pelan dan pasti Ansel menikmati malam itu, begitu pun dengan Chalissa yang dibuat suaminya tidak melewati kenikmatan malam mereka. Ansel terus berusaha menyalurkan kenikmatan itu pada Chalissa. Dia tidak mengijinkan Chalissa hanya terdiam tanpa menikmatinya.


Hingga pada puncak kenikmatan mereka, akhirnya malam itu berlalu dan Ansel telah menghentikan kegiatannya. Ia pun memeluk tubuh istrinya dengan erat tanpa ada batas sehelai benang yang membatasi mereka.


.


.


.


.


.


Happy Reading 😍


Hai readerssssku, jangan lupa berikan dukungan kalian ya supaya author terus semangat menyelesaikan novel


DON'T HATE Me,Baby!